Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Tidak Bisa Menahan Diri


__ADS_3

 “Tenang saja,” Aditya menghela nafas pelan. “Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuat drama di sini, jadi silakan lanjutkan saja apa yang ingin kau katakan.”


 “Oh, tentu saja.” Delano sedikit terlonjak karena tidak menyangka Aditya tiba-tiba bicara padanya. “Aku hanya ingin bertanya pada Adelia soal pernikahan, tapi tentu saja aku tidak memaksa.”


 “Eh? Kenapa tiba—tiba aku?” Adelia juga jadi ikut terkejut karena tiba-tiba semua orang melihat padanya.


 “Seorang lelaki baru saja melamarmu, Adelia.” Oma Tessa menghela nafas pelan melihat cucunya yang terlihat tidak begitu fokus. “Bukankah kau seharusnya menjawab, berhubung semua orang sudah ada di sini.”


 Mendengar hal itu, Adelia jadi makin merasa canggung. Jujur saja, dia merasa tertekan dengan semua mata yang tertuju padanya. Itu membuat Adelia menjadi tidak bisa berpikir dengan jernih.


 “Maaf, tapi bolehkan beri aku kesempatan untuk berpikir dulu?” tanya Adelia benar-benar terlihat sangat tertekan. “Aku butuh berpikir sendiri.”


 


 ***


 


 “Kurasa kau terlalu menekannya.” Monic mengatakan hal itu, ketika dia dan putranya sudah sampai di rumah dan tengah bersantai.


 “Benarkah?” Delano menghela nafas lelah. “Padahal aku hanya ingin menunjukkan dengan jelas apa yang kurasakan.”


 “Tidak semua orang senang dengan yang seperti itu, Nak.” Monic ikut menghela nafas. Dia benar-benar tidak berpikir kalau anaknya sangat bodoh dalam hal percintaan. “Kau harus tahu apa yang disukai oleh Adelia lebih dulu.”


 “Apa yang disukai Adelia ya?” Delano memikirkan apa yang terjadi selama ini dan masih tidak menemukan apa-apa.


 Selama ini, Delano hanya bersikap seperti biasanya. Tidak ada yang begitu istimewa, tapi Adelia menempel padanya karenanya. Tidak benar-benar menempel, tapi setidaknya perempuan itu lebih dekat dengan dirinya dibanding sekarang ini.


 “Apa aku harus jadi OB lagi saja ya?” gumam Delano dalam hati.


 “Kurasa bukan itu deh, apa mungkin aku harus sering-sering menjenguk Adelia saja ya?” Delano yang bertanya, tapi dia yang menjawab sendiri. “Mungkin memang aku lebih sering memperhatikan dia. Besok aku akan mencoba mengunjungi Adelia.”


 Itulah yang membuat kini Delano berdiri di depan rumah kecil yang asri di pinggir kota. Ini adalah tempat di mana Adelia seharusnya tinggal, selama beberapa waktu terakhir. Setidaknya, itu yang dikatakan Oma Tessa.

__ADS_1


 “Daddy Delano?” Adelia muncul di depan pintu dengan raut wajah terkejut.


 “Hai.” Tiba-tiba saja, Delano jadi canggung. “Apakah aku mengganggumu?”


 “Tidak sih, tapi kenapa tiba-tiba datang?” tanya Adelia yang melebarkan pintu, membiarkan tamunya masuk. “Aku kaget loh.”


 “Maaf.” Delano menggaruk lehernya yang tidak gatal karena merasa canggung. “Aku hanya mau memberi kejutan untukmu.”


 “Lalu ... apa yang kau sembunyikan di balik punggungmu?” tanya Adelia yang tengah memiringkan kepalanya untuk melihat ke belakang Delano. “Apa itu juga bagian dari kejutannya.”


 Dengan wajah memerah, Delano mengeluarkan benda yang sejak tadi dia sembunyikan. Itu adalah sebuah buket bunga yang tidak terlalu besar, tapi terlihat begitu manis bagi Adelia. Terutama karena perpaduan warna pink dan putih yang sangat indah.


 “Aku tidak tahu apa kau suka bunga atau tidak, tapi aku tetap membawanya,” gumam Delano setelah buket bunganya berpindah tangan. “Kuharap kau suka atau setidaknya menjaga bunga itu sampai waktunya layu.”


 “Aku suka kok.” Tanpa diduga, Adelia tersenyum lebar. “Kebetulan sekali ini warna favoritku semua.”


 “Syukurlah kalau begitu. Aku khawatir kalau kau tidak menyukai apa yang kubawa.”


 “Dari pada itu, aku lebih penasaran bagaimana Daddy bisa ada di sini?” balas Adelia yang sedang mencoba untuk menata bunga yang dia terima ke dalam vas.


 “Bukan itu maksudku.” Adelia dengan cepat menyerah pada bunga-bunga cantik itu. “Maksudku, bukannya ini jam kerja? Memangnya Daddy tidak kerja?”


 “Oh, itu. Aku sudah minta izin pada Mama dan dia mengizinkan dengan mudahnya. Bahkan Mama tidak keberatan kalau aku bolos hari ini.”


 “Tante Monic masih bekerja? Aku pikir dia akan berhenti karena kau sudah kembali.” Untuk hal yang satu ini, Adelia memang bingung.


 “Tidak. Mama tidak akan membiarkanku pegang kendali sepenuhnya di perusahaan, kalau aku belum memenuhi syarat yang dia berikan,” jawab Delano, tanpa peduli kalau dia akan diejek.


 “Eh? Ada yang seperti itu juga?” tanya Adelia agak penasaran. “Memang apa syaratnya?”


 “Itu ....”


 Delano kesulitan untuk menjawabnya. Bukan tidak ingin memberi tahu, tapi ini pasti akan membuat Adelia sedikit tertekan atau bahkan malu. Biar bagaimana, ini masih berhubungan dengan dia. Setidaknya, itu yang diharapkan oleh Delano.

__ADS_1


 “Mama minta cucu.” Setelah berpikir lama, akhirnya Delano mengatakannya juga. Berharap Adelia mau membantu.


 “Oh, minta .... Maaf?” Awalnya Adelia tidak terlalu memperhatikan, tapi rupanya itu sesuatu yang agak ... diluar dugaannya.


 “Tenang saja.” Delano tertawa melihat reaksi perempuan mungil di depannya. “Aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun kok. Kamu tidak perlu melindungi diri seperti itu.”


 Kedua tangan Adelia yang menyilang di depan dada perlahan turun. Ini agak memalukan, tapi tubuhnya refleks bergerak begitu saja. Biar bagaimana, Delano sudah melamarnya. Jadi ketika lelaki itu berbicara soal anak, Adelia pasti akan merasa kalau dirinya yang diajak.


 “Aku memang ingin menikah denganmu, tapi aku tidak akan memaksa,” gumam Delano yang dengan sengaja mengelus pelan pipi perempuan cantik yang dia sukai itu. “Kamu bebas menentukan pilihan.”


 “Bagaimana kalau aku menolakmu?” tanya Adelia hanya sekedar ingin tahu.


 “Maka Mama harus bersabar untuk punya cucu atau mungkin harus ikhlas kalau dia tidak akan mendapat cucu,” jawab Delano seolah itu bukan apa-apa.


 “Kenapa begitu?” Jujur saja, Adelia sangat terkejut dengan jawaban sang Daddy. “Daddy kan harus tetap menikah.”


 “Kurasa aku tidak akan menikah kalau itu bukan denganmu. Kurasa kali ini, aku benar-benar jatuh cinta.” Delano mengatakannya dengan suara lembut yang membuat Adelia dengan mudahnya terlena.


 “Daddy pasti hanya menggombal.” Walau menyangkal, tapi nada suara Adelia terdengar ragu. “Tidak mungkin Daddy lebih suka aku dibanding Kak Natasnya.”


 “Tapi itu kenyataannya. Memang sulit dibuktikan, tapi itulah kenyataan Adelia. Aku jauh lebih suka padamu, dibanding dia.” Delano masih terus mengelus pipi perempuan yang dia sukai itu, membuat Adelia makin merona.


 “Karena itu, kumohon jangan terlalu menggemaskan seperti ini. Aku takut tidak bisa menahan diri.”


 Jujur saja, Delano tidak tahan melihat wajah memerah Adelia. Biar bagaimana, dia juga lelaki normal. Jika perempuan yang dia suka memasang wajah menggemaskan, Delano jadi ingin merengkuh dan mencecap bibir yang pastinya akan terasa sangat manis.


 “Kalau aku meminta Daddy untuk tidak menahan diri, memangnya apa yang akan Daddy lakukan?” Adelia bertanya masih dengan wajah merona.


 “Kau sungguh ingin tahu?” Delano menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak mungkin akan berhenti kalau sudah mulai loh.” Itu jelas saja ancaman, tapi bukan berarti Delano tidak bisa melaksanakan ancaman itu.


 “Lakukan saja apa yang ingin Daddy lakukan.” Tanpa diduga, Adelia memberikan izin. “Aku tidak akan keberatan.”


 

__ADS_1


***To be continued***


__ADS_2