
Adelia dan Delano berlarian di sepanjang koridor rumah sakit yang menuju ruang IGD dengan langkah panik. Mereka tentu saja akan ditegur, walau lorong itu juga sebenarnya tidak terlalu panjang.
“Pasien atas nama Aditya Lesmana.” Adelia langsung mengatakan itu, setelah tiba di meja para perawat duduk.
“Oh, kebetulan sekali, Mbak.” Seorang perawat segera datang menghampiri. “Pak Aditya baru saja selesai di periksa setelah dibawa oleh pembantunya dan sepertinya beliau butuh penanganan lebih lanjut. Kami perlu tanda tangan anggota keluarga, untuk proses operasi.”
“Memangnya apa yang terjadi?” Delano yang bertanya, sambil memegangi kekasihnya yang terlihat makin pucat saja.
“Ada perdarahan di dalam kepalanya, kemungkinan akibat jatuh terguling-guling dari tangga dan itu bersifat cukup fatal. Walau tidak bisa langsung, tapi kami harus segera bersiap untuk operasi.”
Penjelasan dari si perawat membuat Adelia tiba-tiba saja jadi pusing. Dia yang sejak tadi sudah merasa tidak nyaman karena mendengar kabar dari satpam rumahnya, kini menjadi lebih parah dan sudah siap pingsan. Biar bagaimana, Adelia tidak siap kehilangan orang tua lagi.
“Adelia.” Melihat keadaan sang kekasih, mau tidak mau Delano harus melakukan sesuatu. “Kamu harus tanda tangan dulu, biar operasinya bisa segera disiapkan. Kamu mau papamu selamat kan?”
“Tentu saja aku mau Papa selamat.” Adelia mengangguk lemah. “Dia masih papaku.”
“Kalau begitu, bertahanlah sedikit. Tanda tangan suratnya dan setelah itu kau bisa istirahat. Aku akan mengurus sisanya,” pinta Delano dengan begitu lembut.
Adelia yang tidak berdaya, tentu saja hanya bisa mengangguk pelan. Lagi pula, dia juga tidak punya pilihan lain lagi untuk menyelamatkan sang papa.
Jadi ketika Delano pergi mengurus administrasi, Adelia memaksakan diri untuk membubuhkan tanda tangannya pada selembar kertas, yang bahkan tidak dia tahu apa isinya. Setelahnya, perempuan muda itu hanya bisa duduk termenung begitu saja di tempat duduk terdekat yang bisa dia temukan.
“Adel.” Delano rupanya kembali dengan cukup cepat. “Apa kau sudah mengabari Oma Tessa?”
“Belum.” Tentu saja Adelia akan menggeleng pelan. “Aku sepertinya tidak bawa ponsel.”
“Kalau begitu, biar aku saja yang memberi tahu.” Delano langsung mengambil inisiatif karena memang sang oma perlu tahu. Biar bagaimana, Oma Tessa masih keluarga Adelia dan Aditya. Dia mungkin bisa membantu sesuatu.
“Bagaimana kalau papaku tidak bisa diselamatkan?” Tiba-tiba saja, kalimat itu terdengar dari bibir mungil Adelia.
__ADS_1
“Jangan mengatakan sesuatu yang buruk, Adelia.” Delano dengan cepat menegur. “Yakinlah Om Aditya akan sembuh, walau dia mungkin tidak akan sempurna seperti dulu.”
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya Adelia tampak begitu nelangsa.
“Karena berharap yang positif, tidak akan membuat hasil yang kita harapkan berubah negatif,” jawab Delano dengan sangat yakin. “Lagi pula, berharap dan mimpi tidak akan dipungut biaya kan?”
Sedikit senyum berhasil diperlihatkan oleh Adelia. Hanya sesaat, tapi kalimat yang diucapkan oleh kekasihnya benar-benar membuatnya sedikit lebih baik dari tadi.
“Om Aditya itu kuat,” lanjut Delano yang kini merengkuh tubuh sang kekasih. “Aku yakin dia bakal baik-baik saja karena itu, mungkin kita harus memikirkan hal yang lain saja.”
“Hal apa lagi yang harus kupikirkan?” tanya Adelia dengan suara pelan, tapi masih bisa didengar Delano dengan sangat baik.
“Apa yang menyebabkan Om Aditya seperti ini.” Delano mengatakan hal itu, sembari menatap seorang perempuan yang sepertinya berumur awal empat puluhan. Perempuan yang sejak tadi menatap mereka dengan gelisah.
“Mbok Darmi?” Panggil Adelia yang mengenali perempuan itu.
“Mbok yang bawa Papa ke rumah sakit?” tanya Adelia dengan lebih lembut.
“Iya, Non. Dibantu sama Pak Satpam, tapi dia pulang duluan karena tidak ada yang jaga rumah. Tadi juga naik taksi,” jawab yang ditanya dengan suara bergetar.
“Kalau begitu, Mbok pasti tahu apa yang terjadi pada Om Aditya kan?” tanya Delano dengan mata menyipit.
“Bukannya Papa jatuh dari tangga?” Adelia terlihat agak bingung, bahkan keningnya berkerut.
“Tuan memang jatuh dari tangga, Non. Tapi ....”
Mbok Darmi terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Dia menatap Adelia dan Delano secara bergantian terlebih dulu. Setelah melihat keteguhan di mata Delano, Mbok Darmi pun mengangguk pelan. Dia yakin kalau lelaki itu, mampu melakukan sesuatu.
“Saya gak tahu pastinya gimana, tapi Nyonya Bella dan Tuan bertengkar hebat di lantai dua. Lumayan lama, jadi saya tidak berani naik dan hanya menunggu di dekat tangga karena harus membersihkan lantai atas.” Mbok Darmi mulai bercerita.
__ADS_1
“Tapi tidak lama kemudian, saya mendengar suara keras dan melihat Tuan jatuh berguling. Sementara Nyonya ....” Mbok Darmi tampak tidak tega meneruskan. “Dia hanya melihat dari atas tangga dan segera pergi tidak lama setelahnya.”
Adelia menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia terlampau terkejut karena bisa membayangkan apa yang telah terjadi di rumahnya itu. Bella kemungkinan besar sudah mendorong sang ayah dan langsung kabur, entah karena takut atau apa.
“Saya tidak mengejar karena berpikir Tuan harus dibawa ke rumah sakit dulu.” Mbok Darmi menyelesaikan ceritanya dengan kepala tertunduk. “Maaf.”
“Gak perlu minta maaf, Mbok.” Delano yang berbicara. “Mbok Darmi sudah melakukan yang benar. Sekarang, Mbok sudah bisa pulang dan istirahat saja.”
Tidak ada lagi yang bisa dikatakan perempuan yang bekerja di rumah Adelia itu, ketika menerima sejumlah uang untuk ongkos transportasi. Dia yakin kalau Delano cukup untuk menjaga nonanya. Lelaki itu bahkan sudah mendekap Adelia dengan erat.
“Bagaimana mungkin dia setega itu, sampai mencelakai dua orang yang kusayangi,” gumam Adelia merasa tidak percaya. “Padahal ada anak papaku yang dia kandung.”
“Orang jahat, akan selalu jahat, Del. Mereka tidak akan memandang siapa itu,” gumam Delano mengelus pelan lengan kekasihnya.
“Tapi memangnya aku salah apa?” Kali ini, Adelia terlihat marah. “Aku salah apa, sampai dia tega berbuat yang seperti itu?”
“Orang jahat, tidak punya alasan untuk menyakiti orang lain. Mereka akan menyakiti, hanya karena mereka ingin.” Delano kembali menjelaskan dengan sangat tepat.
“Sekarang, kamu hanya perlu mengatakan apa yang kamu mau.” Delano melonggarkan pelukannya, agar bisa menatap sang kekasih tepat di mata. “Kamu mau aku menemukan Bella dan menghukumnya?”
Adelia tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir dengan sangat gelisah. Satu sisi, dia ingin balas dendam karena Bella sudah merebut banyak hal dari dirinya. Tapi dia juga kasihan dengan bayi yang perempuan itu kandung. Biar bagaimana, itu saudaranya juga.
Namun, setelah berpikir agak lama, Adelia akhirnya menjawab, “Ya.” Perempuan itu mengangguk dengan sangat yakin. “Aku ingin menangkapnya.”
***To be continued***
__ADS_1