Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Bertemu


__ADS_3

 “APA-APAAN DIA?” Adelia memekik, sembari menutupi sebagian besar wajahnya dengan kedua tangan, sembari terus menatap ke arah televisi layar datar di depannya.


 Tadi, Oma Tessa menelepon dan meminta cucunya menyalakan televisi. Adelia pikir ada apa, tapi rupanya itu adalah konferensi pers yang diadakan oleh Delano. Awalnya dia hanya membicarakan apa yang beredar di media sosial, tapi kemudian terkejut mendengar yang dibahas setelahnya.


 “Saya memang melakukan kebodohan karena perempuan, tapi kali ini saya kembali melakukan kebodohan karena hal yang sama.” Itu kata-kata awal yang dikatakan Delano tanpa keraguan sedikit pun.


 “Saya sebenarnya akan menikah sebentar lagi, tapi membuat kekacauan karena kebohongan yang saya buat pada masa lalu. Karena itu, saya akan meminta maaf pada tunangan saya.” Kalimat inilah yang akhirnya membuat Adelia berteriak karena malu.


 “Jangan berani-berani mengatakan sesuatu lagi.” Adelia kembali memekik, walau tahu itu akan percuma saja.


 “Adelia. Aku minta maaf karena membuatmu marah, jadi kembalilah padaku,” ucap Delano setelah menarik nafas cukup panjang karena merasa tegang.


 “DASAR GILA!” Adelia kali ini melempar ponselnya, nyaris saja mengenai layar televisi. “BAGAIMANA KAU BISA MENGATAKAN HAL MEMALUKAN ITU, UNTUK DIDENGAR SELURUH NEGARA?”


 “Aku salah. Aku mengaku salah dan kau bisa menghukumku semaumu, tapi tolong jangan tinggalkan aku.” Suara Delano kembali terdengar dan itu membuat Adelia makin histeris saja.


 Tidak tahan dengan semua itu, Adelia memutuskan untuk mematikan televisinya. Dia benar-benar tidak tahan mendengar apa yang mungkin dikatakan Delano berikutnya. Ini memalukan karena seluruh negara akan mendengarnya, bahkan mungkin sudah tahu bagaimana rupanya.


 “HALO.” Saking malu dan kesalnya, Adelia sampai mengangkat telepon dengan suara kesal.


 “Hei, kau seharusnya bahagia setelah mendengar pernyataan cinta dan lamaran di depan umum begitu. Kenapa malah marah-marah?” Rupanya, Oma Tessa yang menelepon setelah cukup lama Adelia meratapi rasa malunya.


 “Apa yang Oma maksud?” tanya Adelia makin merasa horor saja.


 “Kau mendapat pernyataan cinta dan lamaran secara live.” Oma Tessa jelas saja tidak keberatan untuk mengulang.


 “DASAR LELAKI GILA!” Lagi dan lagi, Adelia kembali berteriak keras, nyaris saja membuat sang Oma tuli.


 “Bagaimana ini?” Setelah selesai dengan rasa histerisnya, Adelia kembali bergumam dengan wajah merah. “Bagaimana aku bisa keluar kalau seperti ini? Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di depan publik?

__ADS_1


 “Berjalan saja seperti biasa,” balas Oma Tessa sambil menahan tawanya. “Tidak akan ada yang tahu bagaimana wajahmu.”


 “Apa Oma lupa?” hardik Adelia tidak peduli kalau dia tidak sopan. “Netizen di negara kita itu lebih hebat dari detektif. Hanya dalam hitungan jam atau puluhan menit, media sosialku pasti ketahuan.”


 “Kalau begitu, bukankah lebih baik kau harus mengamankan media sosialmu?”


 Yang ditanyakan sang oma langsung membuat Adelia tersadar. Dia secara refleks mematikan teleponnya dan pergi ke media sosialnya, tapi terlambat. Sudah banyak yang memberi komentar pada postingan yang menyematkan namanya, bahkan mengikuti akunnya yang tidak terkunci.


 “Sialan.” Adelia dengan cepat mengunci akunnya, baru beralih pada postingan yang menyematkan namanya itu.


 “Kenapa dengan lelaki yang katanya tidak pernah pacaran ini?” tanya Adelia setelah benar-benar melihat apa yang diunggah Delano. “Lagian, sejak kapan dia punya akun medsos?”


 Yang diunggah Delano benar-benar di luar perkiraan Adelia. Lelaki itu mengunggah foto cincin berlian yang lumayan besar dan memberikan tulisan serupa lamaran di bawah foto itu. Makin menegaskan kalau Adelia memang Adelia yang Delano maksud adalah dia.


 “Aku tidak mungkin akan bisa keluar lagi.” Adelia menenggelamkan wajahnya di bantal.


 “Tapi kesalahan Daddy kan kesalahan besar,” gumam Adelia masih sambil memeluk bantalnya.


 Adelia yang masih ingin meratapi nasib, malah terganggu dengan denting telepon. Salah satu dari sahabatnya, kini mengirimkan video. Video yang rupanya sudah diedit, hanya pada bagian Delano yang sedang menyatakan cinta dan melamarnya.


 “Perlu kau ketahui, aku menyukaimu. Aku cinta padamu Adelia Lesmana, jadi ayo kita menikah.” Itu yang terdengar dari video potongan konferensi pers tadi.


 “DASAR GILA!” Adelia kembali melempar ponselnya yang kali ini jatuh cukup keras di lantai.


 Sayang sekali. Baru juga Adelia baru ingin memaki lagi, tapi kini ponselnya berdering. Kali ini dia langsung tahu kalau itu salah satu dari sahabatnya karena sudah memberikan nada dering yang berbeda. Tentu saja Adelia akan mengangkat teleponnya.


 “WOW. Daddy-mu itu luar biasa sekali.” Marcel yang paling pertama berbicara dengan sangat antusias.


 “Berhenti bicara kalau kau hanya ingin mengejekku,” desis Adelia dengan wajah merah. “Aku akan membenci kalian kalau ikutan mengejek.”

__ADS_1


 “Sorry, tapi itu memang hal yang luar biasa sekali. Dia bahkan memberikan tag pada aku media sosialmu.” Kali ini, Poppy berbicara dengan lebih sopan. “Kami tahu dari sana.”


 “Aku tahu, tapi tetap saja memalukan. Ini satu negara loh yang tahu, apalagi akunku sudah ketahuan juga.” Adelia menghela nafas lelah. “Bagaimana aku menghindari mulut jahat netizen yang mengerikan itu?”


 “Hei, Delano itu bukan orang sembarangan.” Marcel memberi semangat. “Dia pasti bisa mengatasi hal seperti itu. Artis saja bisa mengatasi netizen, apalagi orang kaya kan?”


 Adelia menghela nafas cukup panjang. Dia juga tahu itu, tapi rasanya akan aneh. Biar dirinya cukup kaya, tapi sepertinya hidup dengan Delano akan cukup merepotkan untuknya. Bukankah orang kaya itu banyak aturannya?


 “Aduh! Siapa lagi sih yang menelepon?” Adelia mengeluh ketika mendengar dering ponselnya, padahal dia baru saja mematikan telepon dari dua.


 [Daddy Delano: Angkat teleponmu atau aku akan melakukan sesuatu yang lain lagi.]


 Pesan itu masuk setelah Adelia mengabaikan telepon dari Delano. Dia sesungguhnya belum cukup siap untuk bicara lagi dengan lelaki itu, tapi sepertinya tidak ada pilihan lain. Delano bisa melakukan hal gila lain lagi.


 “Ada apa?” Hanya itu yang dikatakan Adelia, ketika ponselnya berdering lagi dan akhirnya mengangkat, tepat pada dering kedua.


 “Setelah kau mengabaikanku selama berminggu-minggu, kamu hanya bilang ‘ada apa?’” Delano nyaris saja menghardik.


 “Lalu aku harus mengatakan apa?” tanya Adelia dengan helaan nafas lelah. “Bukan aku loh yang membuat kerusuhan di sini, tapi kau.”


 “Karena itu aku meminta maaf.” Kali ini Delano melunak. “Aku bahkan melakukan hal gila karena kau tidak mau bicara denganku. Aku hanya ingin bicara berdua denganmu, tanpa ada gangguan.”


  “Bagaimana aku bisa keluar, ketika semua orang sekarang mengenaliku? Apa kau gila?” desis Adelia kembali mengingat apa yang terjadi.


 “Biar aku yang mendatangimu. Aku yang mengacau, jadi biar aku yang datang ke tempatmu untuk bicara empat mata,” gumam Delano benar-benar terdengar nelangsa.


 


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2