
“Itu kenapa Pak Aris terus lihatin kamu sih?” Marcel berbisik dengan sangat pelan karena kelas masih sementara berlangsung.
“Mana aku tahu.” Adelia ikut berbisik, sambil mengedikkan bahunya.
Hari ini, kebetulan saja ada jadwal mata kuliah dengan Aris. Dosen yang mengajar tentang audit itu, sedari awal pelajaran memang menatap Adelia dengan intens. Tentu saja Adel menyadari itu, tapi memilih untuk diam.
“Jangan-jangan, kalian ternyata sudah diam-diam pacaran ya?” Kali ini Poppy yang berbisik.
“Hush.” Mahasiswi mungil berambut cokelat itu, langsung menyikut teman yang duduk di sebelahnya. “Jangan menyumpahi hal jelek begitu ya, Pop.”
“Hal jelek apa coba?” Marcel kembali berbisik. “Dia itu lebih baik dari Daddy-mu.”
Adelia menggeram mendengar hal itu. Dia sudah ingin berteriak dan mengatakan pada kedua temannya, kalau Aris Wisesa adalah psikopat bertopeng.
“Adelia Lesmana.”
“Ya, Pak.” Yang empunya nama terlonjak ketika tiba-tiba mendengar kalau dia dipanggil. Itu membuat beberapa orang tertawa.
“Nanti kalau kuliah hari ini sudah selesai, tolong menghadap.” Hanya itu yang dikatakan Aris dengan wajah datarnya, sebelum akhirnya dia keluar dari kelas.
“Loh? Sudah selesai?” Adelia mengatakan itu, ketika dia tersadar kalau sebagian besar orang sudah bersiap untuk berganti kelas.
“Apa sih yang kau lamunkan?” Poppy menggeleng melihat sahabatnya itu. “Jangan bilang kau mengingat Daddy-mu lagi?”
“Tidak juga sih, tapi terima kasih sudah mengingatkan,” balas Adelia dengan senyum cerah. “Kebetulan sekali tadi Daddy suruh kabarin kalau aku sudah punya waktu.”
“Adelia.” Baru juga yang empunya nama mau melihat ponsel, tapi Delano sudah memanggil duluan.
“Daddy? Kok bisa ada di sini?” Tentu saja Adelia akan merasa bingung.
“Tadi ada karyawan yang minta tolong dibelikan makanan sekitar sini.” Delano tentu tidak keberatan menjelaskan. “Sekalian saja aku beli camilan untuk kamu. Suka pao keju kan?”
“Aduh, baik banget sih.” Tentu saja Adelia akan menerimanya dengan senang hati. “Makasih banyak loh.”
“Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Soalnya masih ada kerjaan.” Delano mengatakan itu, sembari memamerkan kantongan yang dia pegang.
“Eh? Masa cuma segini saja?” tanya Adelia terlihat cemberut. “Padahal aku mau berduaan dulu dengan Daddy.”
__ADS_1
“Tapi aku ada kerjaan.” Delano meringis ketika mendengar rengekan dar kekasih palsunya itu.
“Kalau gitu, boleh kasih aku semangat gak?” tanya Adelia dengan senyuman lebar. “Di sini.”
Kedua bola mata lelaki yang memakai jaket itu membulat ketika melihat apa yang ditunjuk oleh Adelia. Perempuan muda itu dengan terang-terangan menunjuk ke arah bibir, ingin sekedar dikecup. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh
“Daddy jangan lama-lama dong.” Adelia mengatakan itu dengan tidak sabaran. “Aku sudah tutup mata loh ini.”
“Ini kan di tempat umum.” Sang office boy masih mencoba untuk menawar.
“Cepetan.” Sayangnya, Adelia enggan mendengar penolakan.
Mau tidak mau, Delano maju juga. Tapi, dia hanya mau mengecup pipi pacar pura-puranya itu dan segera berlari pergi.
“Aku harus pergi.” Delano masih sempat mengatakan itu, sebelum benar-benar lari.
Tidak ada lagi yang bisa dikatakan oleh Adelia karena kekasih bayarannya itu sudah agak jauh. Perempuan bertubuh mungil dengan outer kotak-kotak itu hanya bisa melambai dengan senyum lebar. Setidaknya, sampai dua orang sahabatnya datang mendekat.
“Itu pacar bayaranmu?” Marcel yang duluan buka suara.
“Ya. Bagaimana menurut kalian?” Perempuan berambut cokelat itu bertanya dengan sangat antusias.
Adelia tersenyum bangga mendengar itu. Walau bukan pacar sungguhan, tapi dia senang ada yang memuji Delano seperti itu. Rasanya seperti seseorang memuji keluarganya sendiri.
“Aku sebenarnya masih ingin mendengar pujian kalian, tapi maaf. Aku dengan terpaksa harus pergi menemui Aris Wisesa yang menyebalkan itu,” desis Adelia, kentara sekali kalau dia tidak suka.
“Aku bingung deh.” Marcel jelas saja akan protes. “Kenapa sekarang kau terlihat sangat membenci Pak Aris? Dia ngapain sih?"
“Untuk sekarang, aku tidak akan memberi tahu kalian. Nanti saja ya kalau aku sudah mood bercerita.”
Setelah mengatakan itu, Adelia segera meninggalkan kedua sahabatnya. Dia tidak peduli dengan teriakan protes dua orang itu dan memilih untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Aris. Lebih cepat selesai, lebih baik.
“Permisi, Pak.” Adelia mengetuk ruangan dosen yang sedang kosong itu, semata-mata hanya demi kesopanan.
“Oh, kamu sudah tidak ada kuliah?” Aris bertanya, setelah melihat siapa yang datang. “Kalau boleh, tunggu sebentar ya. Saya bereskan ini dulu.”
“Kebetulan saya masih punya janji lain, Pak. Kalau bisa disegerakan.”
__ADS_1
Aris yang tadinya sedang menyusun beberapa makalah, kini terhenti dan memilih untuk menatap murisnya itu. Tatapannya terlihat sedikit heran, tapi langsung mengerti setelahnya. Rupanya, Adelia benar-benar menjaga jarah. Sekalipun itu di kampus.
“Padahal saya tidak berniat memakan kamu. Tidak perlu tegang begitu,” gumam Aris akhirnya menghentikan apa yang dia kerjakan dan menatap perempuan mungil di depannya.
"Saya hanya menjaga jarak,” balas Adelia dengan senyum lebar yang dibuat-buat.
“Oke.” Sang dosen mengangguk paham. Dia juga tidak bisa berlama-lama karena takutnya dosen yang lain akan segera datang. “Kalau begitu saya minta maaf.”
“Sorry?” Adelia cukup terkejut mendengar apa yang barusan dikatakan oleh dosennya itu.
“Aku minta maaf soal kejadian tempo hari.” Aris menumpukan kedua tangan di atas mejanya. “Tapi itu tidak berarti kalau aku akan menyerah.”
Mendengar kalimat sambungan sang dosen, Adelia langsung menggeram kesal. Apa gunanya si dosen menyebalkan itu meminta maaf, kalau dia tidak mau mundur? Ini sangat menyebalkan.
“Hanya itu saja yang Pak Aris mau katakan?” tanya Adelia yang sudah ingin melangkah pergi.
“Kemarin saya ke rumah kamu dan ketemu dengan ibu tiri dan ayah kamu.” Tanpa disangka, Aris mengatakan hal itu.
“Maaf, tapi Bella bukan ibu tiriku. Dia hanya seorang pelakor tidak tahu diri,” bantah perempuan mungil itu dengan berani.
“Terserah apa katamu, yang jelas aku bertemu mereka.” Aris mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Dia tidak ingin berdebat soal keluarga orang lain.
“Lalu?”
“Kami membicarakan soal perjodohan kita.”
Kening Adelia berkerut mendengar hal itu. Entah kenapa, rasanya ada yang aneh dengan hal itu. Perasaannya tidak enak.
“Saya berniat serius dengan kamu, jadi saya langsung bertemu dengan keluargamu,” lanjut Aris menatap perempuan di depannya dengan serius.
“Sayangnya, saya tidak berniat selingkuh dan saya sudah bosan mengatakan ini.” Adelia kembali menegaskan.
“Dan saya tidak akan menyerah. Apa pun yang terjadi, saya akan datang melamarmu.” Aris juga tidak mau kalah.
“Lebih tepatnya, saya sudah melakukan itu secara pribadi. Nanti, keluargaku akan datang secara resmi,” lanjut sang dosen penuh percaya diri.
__ADS_1
***To be continued***