Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Batal Nikah


__ADS_3

 “Daddy.” Adelia memanggil dengan tatapan tajam menusuk pada lelaki yang duduk di depannya. “Sampai kapan Daddy mau menghindari tatapanku.”


 “Aku tidak menghindari tatapanmu.” Itu yang dikatakan Delano, tapi dia tidak menatap tunangannya.


 Delano menoleh ke samping, sementara Adelia berada di depannya. Tentu saja itu akan membuat Adelia kesal setengah mati. Saking kesalnya, perempuan mungil itu sampai memukul meja dan berdiri untuk menarik kerah leher lelaki di depannya.


 “Kalau begitu lihat aku, Brengsek.” Adelia bahkan mengumpat karenanya.


 “Maaf. Aku hanya ....” Kalimat Delano terputus karena tiba-tiba saja melihat wajah Adelia sangat dekat. Membuatnya refleks menatap ke arah bibir sang tunangan yang sedikit terbuka.


 “Kau terlalu dekat.” Pada akhirnya, Delano kembali menoleh dengan wajah yang sedikit memerah.


 Tadinya lelaki itu tidak sampai benar-benar kepikiran dengan kejadian kemarin. Delano hanya terpikir tentang Adelia yang tiba-tiba lari. Tapi begitu bertatapan dengan perempuan mungil yang menjadi tunangannya, mata Delano refleks menatap bibir yang juga mungil dan berwarna pink itu. Ingin sekali kembali memagutnya dengan lebih lama.


“Kenapa kau aneh sekali?” Adelia makin kesal, tapi tetap melepas cengkeramannya. Dia juga merasa mereka terlalu dekat. “Menyebalkan juga. Padahal harusnya Daddy minta maaf padaku.”


 “Oh, iya. Soal maaf itu.” Delano dengan cepat kembali pada kesadarannya dan kini dengan mudah menatap sang tunangan.


 “Aku sudah membacanya. Daddy minta maaf karena membuatku terkejut, tapi tidak minta maaf untuk ciumannya karena itu bukan kesalahan.” Sebelum sang tunangan sempat melanjutkan, Adelia dengan cepat menyela.


 “Apa maksudnya itu?” lanjut perempuan mungil itu, memberanikan diri menatap lelaki di depannya. “Apa itu berarti memang Daddy ingin menciumku?”


 “So-soal itu ....” Delano terbata ketika berbicara dan juga tidak tahu harus menjawab seperti apa. Dia sendiri bingung kenapa dirinya mengirimkan pesan seperti itu.


 “Apa aku boleh berpikiran kalau Daddy menyukaiku?” Walau merasa malu menanyakan ini di ruang tamu kantor, Adelia tetap memberanikan diri bertanya.


 “Karena kalau memang seperti itu, aku akan merasa se ....”


 “Itu tidak mungkin.” Delano dengan cepat memotong entah hal apa yang akan dikatakan perempuan muda di depannya. Membuat Adelia benar-benar terkejut.

__ADS_1


 “Ah, maaf. Mungkin kalimatku agak salah.” Delano meringis dan dengan cepat memperbaiki kesalahannya.


 “Aku bukan tidak menyukaimu. Kamu gadis periang yang sangat manis. Kurasa semua orang dengan mudah menyukaimu, tapi untukku. Aku hanya menyukaimu sebagai .... katakan saja asik?” Delano sedikit bingung mengungkapkan hal itu.


 “Tapi kau tidak menolak saat aku ajak menikah.” Ini jelas saja sangat membingungkan bagi Adelia.


 Mana ada orang yang mau mencium seorang perempuan, tanpa punya perasaan. Setidaknya bagi Adelia, itu mustahil. Jadi dia jelas bingung dengan apa yang dikatakan Delano sekarang. Walau sedikit, harusnya lelaki itu punya perasaan padanya kan?


 “Ya. Untuk yang satu itu aku memang tidak punya bantahan.” Delano kembali meringis. “Tapi walau aku bilang hanya menganggapmu sebagai adik, aku pastikan kamu akan menjalani kehidupan pernikahan yang normal dan bahagia.”


 “Apa itu berarti kita akan tidur bersama dan juga punya anak?” tanya Adelia dengan ekspresi wajah yang kini terlihat makin tidak baik.


 “Soal itu ....” Delano jelas tidak punya jawaban untuk hal seperti itu. Dia sama sekali belum memikirkan sampai ke sana. Setidaknya sampai dia teringat sesuatu.


 “Kalau soal anak, rasanya tidak perlu sampai tidur bersama. Ada bayi tabung kan? Kalau kamu ingin anak, kita bisa program dari ....”


 Delano tidak menyelesaikan kalimatnya karena tersentak ketika perempuan mungil di depannya memukul meja. Meja itu terbuat dari kayu dan bunyi yang terdengar tadi sangatlah keras. Delano tak menyangka kalau Adelia sekuat itu, sampai dia berhalusinasi mendengar mejanya patah.


 “Atau kamu ingin pakai ibu pengganti saja?” tanya Delano terlihat agak ragu. “Di luar negeri, surogate mother cukup populer.”


 “Kalau kau menginginkan sesuatu yang seperti itu, kenapa tidak menikah saja dengan perempuan lain?” tanya Adelia makin terlihat. “Atau mungkin kau bisa menikahi mantanmu yang cantik dan bahkan mungkin lebih kaya dariku itu.”


 “Adelia.” Delano terlihat bingung dengan sikap tunangannya itu. “Ada apa denganmu?”


 “Ada apa denganku?” Tiba-tiba saja Adelia menghardik cukup keras, tidak peduli kalau mungkin ada yang mendengar karena pintu ruang tamu besar itu tidak tertutup. Untung hanya ada mereka di sana.


 “Kau yang menciumku kemarin dan sekarang tiba-tiba saja bilang aku hanya adik?” tanya Adelia masih dengan suara yang cukup keras. “Memangnya ada kakak yang mencium adik perempuannya di usia seperti ini?”


 “Itu ... memang agak ....” Delano jelas tidak punya penjelasan.

__ADS_1


 “Aku sekarang jadi ragu ingin menikah denganmu.” Perempuan mungil itu akhirnya mengambil tas yang dia letakkan dengan asal di sofa. “Mana mungkin aku menikah dengan lelaki yang menganggapku adik, tapi punya pikiran tidak sehat.”


 “Adelia bukan begitu.”


 Tahu sang tunangan akan pergi, Delano mencegahnya. Dia berniat minta maaf agar suasana tidak lagi canggung, tapi malah jadi makin runyam. Delano jelas tidak akan membiarkan Adelia pergi dalam keadaan marah seperti ini.


 “Aku tidak pernah punya pikiran aneh tentangmu.” Delano berusaha untuk menjelaskan. “Yang kemarin itu .... Katakan saja khilaf.”


 Delano ingin mengatakan itu kesalahan, tapi jelas tidak mungkin lagi. Tadi dia sudah menyebut kalau ciuman itu bukan kesalahan karena dia juga menginginkannya. Jelas saja, kini Delano tidak bisa menjilat ludahnya sendiri.


 “Khilaf?” tanya Adelia disertai dengan dengusan kesal. “Aku jadi khawatir kau akan khilaf dengan setiap perempuan yang lebih muda darimu.”


 “Itu tidak mungkin.” Delano dengan cepat membantah. “Aku jadi seperti itu karenamu.” Kalimat itu refleks keluar dari mulutnya.


 “Kenapa malah aku yang disalahkan?” Kali ini Adelia melotot saking kesalnya. “Ini kesalahanmu, jadi jangan bawa-bawa aku.”


 “Aku tidak menyalahkanmu dan yang kemarin itu bukan kesalahan.” Delano yang terbawa emosi, kini mulai menaikkan intonasi suaranya. Hanya sedikit dan masih berusaha ditahan, tapi tetap saja.


 “Kalau bukan kesalahan lalu apa? Jangan sebut soal hubungan kakak adik dan khilaf karena itu akan terdengar aneh sekali. Alasan yang kau berikan itu terlalu aneh.” Adelia mengatakan itu sembari berusaha melepas tangan Delano.


 “Kalau begitu apa yang harus kulakukan agar kamu tidak marah lagi?” Delano benar-benar frustrasi.


 Lelaki itu merasa kalau Adelia adalah adik yang harus dia jaga dan itu benar adanya. Tapi herannya, Delano benar-benar tidak senang dengan Adelia yang marah dan ingin membatalkan pernikahan. Ini sangat aneh dan dia tidak tahu harus melakukan apa.


 Sayang sekali. Ketika Adelia ingin menjawab, ponsel perempuan itu berdering dengan tidak sabaran. Lalu karena ingin menghindari percakapan soal perasaan dengan Delano, dia memilih mengangkat telepon. Bahkan Adelia tidak terlalu memperhatikan siapa yang menelepon.


 “Apa kau bilang?” Adelia terdengar agak kaget ketika mendengar si penelepon. “Papa pingsan?”


 

__ADS_1


***To be continued***


 


__ADS_2