Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Dosenku Jodohku


__ADS_3

 “Apa yang akan kamu lakukan, kalau ada perempuan yang tiba-tiba mengajak nikah?” Delano bertanya pada rekan sekamarnya, begitu dia sampai di tempat kos.


 “Jangan bilang Non Adel ngajak nikah?” Si tambun Galih melotot ketika mengatakan hal itu.


 “Iya.” Yang empunya kamar mengangguk pelan. “Tadi siang dia memang ngajak nikah.”


 “WOW.” Tanpa bisa diduga, Galih berteriak. “Bos Delano pakai pelet ya?”


 “Sembarangan.” Tentu saja lelaki yang empunya kamar itu langsung menghardik. “Memangnya aku setidak laku itu?”


 Galih dengan cepat menggeleng. Bukannya dia merendahkan rekan sekamarnya itu, tapi lelaki yang dia panggil bos itu tipe orang yang tidak akan diajak menikah.


 Bukan karena lelaki itu tidak pantas, tapi karena Delano tidak pernah peka pada perempuan. Banyak yang suka padanya, tapi pada akhirnya menyerah karena dia tidak peka.


 “Diajak nikah, tapi nikah kontrak.” Pada akhirnya, Delano menjelaskan. “Cuma untuk satu atau dua tahun saja.”


 “Lah? Memangnya Non Adel tidak keberatan janda di usia yang masih muda begitu?”


 Delano hanya bisa mengedikkan bahu mendengar pertanyaan itu. Dia juga sudah menanyakan hal yang sama pada Adelia, tapi perempuan itu pun tidak bisa menjawab.


 “Sepertinya dia hanya berpikiran pendek.” Hanya itu yang bisa disimpulkan oleh Delano.


 


 ***


 


 “Bisa ulangi sekali lagi?” Marcel melotot ketikan mengatakan hal itu.


 “Aku baru bisa menerima wasiat mama, kalau aku sudah menikah.” Adelia tentu tidak keberatan mengulang, walau dalam kalimat yang lebih singkat.


 Mendengar jawaban itu, Poppy sudah membuka mulut. Sayangnya, Marcel segera menutup mulut perempuan itu dengan tangannya. Mencegah si tomboy untuk mengumpat kata-kata kasar yang bisa membuat Adelia tersinggung.


 “Tidakkah itu keterlaluan?” tanya Poppy setelah merasa sedikit lebih tenang. “Bagaimana mungkin menikah di usia semuda ini dan dengan orang yang tidak dikenal. Ini bukan zaman Sitti Nurbaya.”


 “Karena itu sekarang aku merasa bingung.” Adelia mendesah pelan. “Aku ingin mengajak Daddy-ku menikah kontrak, tapi sepertinya dia tidak terlalu senang dengan itu.”


 “Apa kau gila?” Marcel berteriak cukup keras. Untung saja sekarang ini mereka sedang ada di kantin.


 “Bagaimana mungkin kau mengajak orang asing menikah kontrak?” Kali ini si kemayu bertanya dalam bisikan.

__ADS_1


 “Bukankah itu yang selalu terjadi di dalam novel?” tanya Adelia dengan polosnya. “Pemeran utama lelaki, meminta nikah kontrak pada pemeran utama perempuan, walau mereka baru saja berkenalan.”


 Mendengar kepolosan Adelia, dua orang sahabat perempuan itu mendesah keras. Mereka jadi khawatir ketika Adelia menerima warisannya nanti. Perempuan mungil itu pasti akan mudah tertipu.


 “Dengar.” Poppy memijat pangkal hidungnya dengan cukup keras. “Biar bagaimana, novel hanyalah novel. Belum tentu ada hal seperti itu yang terjadi di dunia nyata.”


 “Begitukah?”


 Pertanyaan polos, disertai ekspresi muka yang sama polosnya membuat dua sahabat Adelia ingin sekali memukul perempuan itu. Sepertinya Adelia benar-benar tidak bisa ditinggalkan sendiri. Setidaknya, itu yang mereka pikirkan.


 “Intinya, jangan percaya pada lelaki yang baru dikenal!” Marcel memberi tahu.


 “Kalau begitu, apakah aku perlu bertemu dulu dengan lelaki yang dijodohkan denganku?” tanya Adelia terlihat sedikit bingung. “Mama kan sepertinya sudah mengenal orang itu sejak lama.”


 “Sepertinya itu lebih baik.” Poppy mengangguk setuju. “Setidaknya, almarhum mamamu pasti tidak akan sembarangan mencarikan putrinya jodoh.”


 “Tapi tetap saja, jangan terlalu percaya padanya. Kau harus mencari tahu apa dia benar-benar baik atau tidak,” lanjut Marcel memberikan nasihat.


 Adelia tidak menjawab kedua temannya. Mata cokelat cantiknya, beralih menatap ponsel yang ada di meja. Benda pipih itu, baru saja berdenting dan menampilkan pesan masuk.


 “Panjang umur,” gumam Adelia setelah membaca isi pesannya. “Pengacara mama ngajak ketemuan dengan cowok itu.”


 “Beneran?” Poppy dan Marcel langsung mendekat, untuk ikut membaca apa yang tertera di ponsel.


 “Jadi gimana nih? Ketemu saja?” tanya Adelia melirik kedua temannya.


 “Dia gak kirim foto dulu gitu? Atau mungkin saling chat dulu. Masa langsung ketemuan.”


 “Eh, Pop. Zaman sekarang itu foto bisa diedit, jadi sudah bener langsung ketemuan.” Marcel langsung menegur.


 Poppy langsung mengangguk pelan mendengarnya. Adelia pun merasa setuju dengan teman lelaki kemayunya itu. Foto bisa menipu.


 Karenanya, perempuan mungil berambut cokelat itu langsung mengiyakan si pengacara. Kebetulan, dia juga sudah tidak ada kuliah lagi setelah ini dan tidak masalah bertemu jam berapa pun. Toh, dia sedang kabur dari rumah juga.


 “Kalau begitu, aku pergi dulu ya.” Adelia mengangkut barang-barangnya karena dia akan langsung pergi ke tempat janjian.


 “Kau sudah mau pergi sekarang?” Walau bingung, tapi si tomboy tetap melambai mengantar kepergian temannya itu.


 Adelia pun berjalan santai ke tempat parkiran, tapi di tengah jalan bertemu dengan dosen killernya. Lebih tepatnya, si dosen tiba-tiba saja memanggilnya.


 “Kamu hari ini bawa mobil?”

__ADS_1


 “Iya, Pak. Ada apa ya?” tanya Adelia yang tentu saja bingung dengan pertanyaan dosennya itu.


 “Saya bisa nebeng? Kebetulan mobil saya rusak.” Aris si dosen ganteng menjawab dengan entengnya.


 “Tapi saya ada janji, Pak.”


 “Memangnya kamu mau ke arah mana? Kebetulan juga saya ada urusan di luar. Kalau searah, kita bareng saja,” jawab Aris masih terlihat begitu santai, seolah yang dia minta bukanlah hal serius.


 Mendengar itu, makin melongolah Adelia. Apalagi setelah dia mengatakan tujuannya dan si dosen menjawab, “Saya juga ke arah sana. Kita bisa bareng. Kemarikan kunci mobilnya.”


 “Hah? Buat apa, Pak?” Adelia makin bingung saja melihat uluran tangan si dosen.


 “Saya yang nyetir dan kamu harus mau. Kalau tidak, nanti saya kasih nilai E.”


 Dengan ancaman seperti itu, tentu saja Adelia akan menyerahkan kunci mobilnya. Dia mau tidak mau, harus pasrah membiarkan sang dosen menyetir. Ini tentu adalah hal yang paling canggung yang pernah Adelia lakukan bersama dengan dosennya.


 Yang membuat Adelia sebal adalah, mereka jadi tontonan beberapa orang. Tidak banyak orang memang, tapi itu akan mudah menjadi gosip dengan bantuan media sosial. Mana ada mahasiswa yang disupiri dosennya kan?


 “Tidak usah tegang begitu. Saya gak makan orang kok.” Aris mengatakan hal itu, ketika melihat mahasiswinya merasa canggung.


 “Habisnya, saya takut jadi bahan gosip dan di-bully.” Yang empunya mobil, menjawab dengan jujur.


 “Kenapa harus takut? Tidak ada yang terjadi di antara kita.” Aris menjawab, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.


 “Tetap saja, saya khawatir.” Hanya itu yang dikatakan Adelia, sebelum memilih untuk menghubungi Delano. Lelaki itu mungkin sedang bekerja, tapi dia tidak ingin mengantar Aris pulang juga nantinya.


 “Omong-omong, kamu ngapain ke cafe? Gak langsung pulang ke rumah?” Tiba-tiba saja Aris bertanya.


 “Saya ada janji dengan orang, Pak. Biasa blind date.” Adelia menjawab dengan jujur, berharap kalau si dosen akan merasa terusir.


 “Oh, ya? Sama dong.”


 Kening Adelia berkerut mendengar hal itu. Entah kenapa, dia merasa tidak nyaman dengan apa yang barusan dikatakan oleh sang dosen. Makin merasa tidak enak, ketika si dosen memarkir mobilnya tepat di cafe yang Adelia tuju. Padahal, perempuan itu belum memberitahu lokasi detailnya.


 “Saya dijodohkan, tapi anehnya yang menghubungi orang tua saya itu seorang pengacara,” ucap Aris menjelaskan secara detail.


 “Nama panjak Bapak Aris Wisesa bukan?” tanya Adelia, setelah melihat ponselnya.


 “Iya. Aris Wisesa itu nama panjang saya.”


 

__ADS_1


***To be continued***


__ADS_2