
“Hah? Apa maksudmu?” Farhan menyerukan kekagetan itu. “Aku memang sudah mendengarnya, tapi belum menyiapkan apa pun.”
“Ada seseorang dari kantormu yang meneleponku seperti itu.” Tentu saja Delano makin bingung dengan apa yang barusan dia dengar dari sahabatnya yang berprofesi sebagai pengacara itu.
“Tunggu dulu. Biar aku bertanya pada Betsy.”
Setelah mengatakan hal itu, ada jeda sebentar. Delano bisa mendengar temannya itu berbicara lewat interkom dan menunggu dengan sabar.
“Betsy katanya baru setengah jalan menyiapkan prenup itu. Dia belum selesai, jadi tidak mungkin ada yang meneleponmu.” Farhan memberitahu apa yang dikatakan rekan notaris yang bernaung di bawah kantornya.
“Lalu siapa yang menelepon itu?” tanya Delano jelas saja makin bingung. “Tidak ada yang tahu soal masalah ini, selain keluarga inti dan kalian.”
“Ya, tapi yang mengerjakan berkas saja belum selesai. Bagaimana bisa ada yang menelepon dan menipumu seperti itu?” Farhan menghela nafas. “Apa kau punya musuh atau apa?”
Delano terdiam mendengar hal itu. Dia tiba-tiba saja kepikiran sesuatu, ketika sang sahabat menyebut musuh. Dia mungkin tidak punya musuh, tapi Adelia punya. Bukan benar-benar musuh baginya, tapi tetap saja Bella dan Adelia tidak akur. Apalagi Bella dengan terang-terangan mengincar harta sang tunangan.
“Sepertinya aku tahu .... Lebih tepatnya curiga dengan seseorang.” Setelah terdiam agak lama, Delano akhirnya mengatakan itu.
“Siapa?” Tentu saja Farhan akan bertanya.
“Ibu tirinya Adelia. Bella.”
“Yang benar saja.” Farhan langsung mendesis. “Memangnya dia punya dendam apa?”
“Bukan dendam, tapi rakus. Dia ingin harta Adelia, bahkan menawarkan kerja sama denganku.” Delano dengan tenangnya menyebutkan kejujuran.
“Wow. Dia memintamu bekerja sama untuk menguras harta warisan Adelia?” tanya Farhan untuk lebih memastikan.
“Kurang lebih seperti itu.” Delano mengangguk, walau lawan bicaranya tidak bisa melihat karena mereka berbicara lewat sambungan telepon.
“Gila. Kupikir yang seperti itu hanya ada dalam sinetron saja.” Si pengacara terkekeh pelan.
“Jangan sok lugu. Kau tahu ada orang yang menghalalkan segala cara untuk jadi kaya. Kau pernah menangani kasus serupa kan?”
Kekehan Si Pengacara makin lantang karena apa yang dikatakan Delano memang benar. Dia sudah beberapa kali menangani kasus yang berhubungan dengan ingin cepat kaya. Orang-orang lain bahkan melakukannya dengan cara yang lebih sadis.
“Jadi kau mau apa?” Farhan bertanya, setelah tawanya sedikit mereda. “Mau aku selidiki siapa yang bekerja sama dengan Bella dan memecatnya?”
__ADS_1
“Itu bisa ditebak dengan mudah, Far. Tidak semua orang yang tahu apa yang kalian kerjakan, selain sekretaris dan asisten kalian atau tim.”
“Tapi berhubung ini hanya prenup, aku yakin Betsy tidak perlu membentuk tim. Apalagi aku juga meminta menjaga kerahasiaan, jadi pasti hanya dia sendiri yang tahu atau orang yang membantunya,” lanjut Delano panjang lebar menjelaskan.
Mendengar itu, tentu saja Farhan akan meringis. Itu berarti, ada pengkhianat di kantornya. Padahal, dia sudah benar-benar melatih pekerjanya agar bisa menjaga rahasia.
“Ini kesalahan pegawaiku, maka aku akan mencari tahu dan mengeluarkannya.” Pada akhirnya, Farhan yang mengambil keputusan.
“Tidak perlu seperti itu.” Delano tanpa diduga menolak ide temannya. “Biarkan saja dia menganggap kalau kita tidak tahu. Aku ingin melihat apa yang akan dia lakukan.”
***
“Eh? Mau tanda tangan hari ini?” tanya Adelia pada ponsel yang tertempel di telinganya.
“Ya. Anda punya waktu kan?”
Adelia mengernyit mendengar helaan nafas yang terdengar dari ponselnya. Orang yang mengaku dari kantor notaris itu, terdengar seperti enggan dan lelah berbicara dengannya. Entah kenapa.
“Aku selesai kuliah jam dua.” Pada akhirnya, Adelia menyerah juga. “Jadi mungkin jam tiga aku ke kantormu.” Perempuan mungil itu enggan sopan pada orang menyebalkan.
“Oh, tidak perlu ke kantor. Biar saya saja yang mendatangi Anda. Di mana kira-kira kita bisa bertemu?” Tiba-tiba saja, si penelepon jadi ramah.
“Kalau begitu, nanti aku chat lokasinya. Aku harus bertanya pada Daddy dulu.” Adelia mengerutkan kening dengan perubahan itu.
“Oh, ini tidak perlu persetujuan ayah Anda. Anda sudah cukup dewasa untuk menandatangani surat itu sendirian.”
“Aku bukan sedang membicarakan ayahku, tapi calon suamiku.” Desisan kesal mengikuti ucapan Adelia.
“Oh, maaf. Saya tidak tahu.” Si penelepon terdengar agak terkejut. “Kalau begitu, anda bisa datang sendiri saja. Nanti Pak Delano bisa menyusul.”
Kening Adelia berkerut mendengar itu. Aneh karena seharusnya itu ditandatangani berdua, tapi masih bisa menerima. Dengan cepat, sang mahadiswi mengiyakan.
“Kau mau ke mana?” Poppy dengan cepat mencibir. “Pakai alasan kuliah lagi, padahal masih pengangguran.”
__ADS_1
Adelia meringis mendengar hal itu. Dia tadi memang sengaja berbohong karena kesal dengan yang menelepon. Perempuan yang mengaku dari kantor notaris dan pengacara itu terdengar sombong.
“Aku tetap saja sibuk kan?” tanya Adelia dengan kedua bahu terangkat. “Nongkrong dengan kalian itu penting.”
“Memangnya mau ke mana? Tadi itu bukan Daddy-mu deh.” Marcel tentu saja akan mengejek.
“Bukan.” Adelia tentu akan menggeleng dengan cepat. “Itu dari kantor notaris. Kami akan membuat prenup.”
“Oh, itu langkah yang sangat bagus.” Marcel menepuk tangan dengan gembira. “Dia tidak akan mencuri uang warisanmu. “
“Daddy tidak akan mencuri atau sejenisnya.” Tentu saja Adelia akan membela calon suaminya.
“Ya, tapi masa depan kan tidak ada yang tahu.” Giliran Poppy yang mengungkapkan pikirannya. “Orang bisa berubah.”
“Iya juga sih .... Tapi aku tetap yakin Daddy tidak seperti itu.”
Dua sahabat Adelia memutar bola mata ketika mendengar pernyataan barusan. Mereka benar-benar merasa kalau sahabatnya sudah kena pelet.
“Terserah kau saja.” Akhirnya Marcel menyerah saja. “Tapi kalau memang punya janji, kami tidak keberatan ditinggal.”
“Tidak. Aku harus bertanya pada Daddy dulu soal ini.” Adelia dengan cepat mengambil lagi ponselnya. “Aku merasa harus konfirmasi dulu.”
“Memangnya kenapa?” Giliran Poppy yang bertanya dengan bingung.
“Kami membuat prenup itu berdua, masa iya tanda tangan sendiri-sendiri? Lagian, ini baru kemarin juga di minta.” Tentu saja Adelia tidak keberatan memberi tahu.
“Masuk akal.” Marcel mengangguk pelan.
“Tapi masalahnya, telepon Daddy Delano sibuk terus.” Perempuan mungil itu tidak segan untuk mengeluh. “Chat yang aku kirim juga belum dibaca.”
“Cuma prenup kan?” Poppy bertanya dengan kening berkerut. “Kurasa tidak masalah kalau kau pergi sendiri. Yang penting, dibaca baik-baik apa isinya dan jangan lupa koreksi kalau ada yang aneh.”
“Kurasa kau benar.” Adelia mengangguk yakin. “Kalau begitu, aku akan meminta orangnya datang sekarang saja dan aku akan memeriksa dengan baik semua berkasnya.”
Niatnya seperti itu, tapi pada kenyataan tidak. Setelah kedua temannya pergi untuk kuliah, Adelia hanya membaca sedikit dan langsung menandatangani berkasnya.
__ADS_1
***To be continued***