
“Apa-apaan ini?” gumam Adelia dengan pelan, ketika melihat berita yang baru saja dia terima lewat aplikasi pesan.
“Delano anak orang kaya?” gumam perempuan muda yang baru saja terbangun dari tidurnya itu. “Selama ini dia hanya pura-pura saja?”
Tidak mau langsung percaya dengan apa yang dia baca, Adelia membaca ulang tautan yang dikirim orang tidak di kenal. Tautan itu sepertinya cukup terpercaya, tapi bisa saja salah kan? Bisa saja ada orang bernama dan berwajah sama dengan Delano yang dia kenali.
“Tidak mungkin kebetulan seperti ini.” Adelia akhirnya menggeleng, ketika selesai membaca dan melihat ulang foto yang ada di layar ponselnya.
“Jadi selama ini aku ditipu?” Adelia mendengus mengingat apa yang telah terjadi selama ini. “Daddy bukan office boy, tapi pemilik perusahaan besar.”
“Adelia?”
Yang empunya terlonjak dan segera menoleh mendengar namanya dipanggil. Rupanya, Aditya yang memanggil. Lelaki paruh baya itu sudah terbangun dari tidurnya, walau hari masih cukup pagi.
“Ada apa?” tanya Adelia, masih belum melupakan kekesalannya pada sang ayah.
“Papa mendengarmu bergumam sendiri dan hanya ingin memastikan kalau kau sudah bangun.”
Perempuan mungil itu tidak langsung menjawab. Dia tampak mendengus pelan, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Tapi, Adelia kini tidak ingin lagi duduk di sofa rumah sakit. Dia harus melakukan sesuatu.
“Karena hari sudah pagi, aku harus pergi.” Adelia tentu saja akan pamit pada sang papa. Biar bagaimana, lelaki itu sedang sakit. “Tidak masalah ditinggal sendiri kan? Nanti aku akan meminta Oma Tessa mengirim seseorang untuk datang.”
“Tidak perlu.” Aditya menggeleng lemah. “Cukup panggilkan Bella saja. Kurasa dia sudah cukup.”
“Aku tidak mau bicara dengannya. Jadi kalau mau dipanggil, silakan telepon sendiri.” Walau menolak, Adelia masih sempat mengambil dan meletakkan ponsel sang papa di tempat yang mudah dijangkau pria itu.
“Satu lagi.” Adelia berhenti, tepat sebelum dia membuka pintu kamar rumah sakit. “Aku mungkin batal menikah dengan Delano, tapi aku juga tidak akan menikahi Pak Aris. Jadi tolong jangan memaksa lagi.”
Mendengar hal itu, senyum terbit di wajah Aditya. Walau belum diperlakukan dengan baik, dia cukup senang karena sang putri mau mendengarnya. Itu saja sudah cukup. Soal pasangan, nanti Adelia bisa memilih sendiri kalau sudah siap.
__ADS_1
Sayang sekali, apa yang ada dipikirkan Adelia tidak sejalan dengan sang papa. Perempuan mungil yang tengah marah karena merasa dibohongi itu, kini enggan lagi memikirkan soal pernikahan. Setidaknya, tidak dalam waktu dekat.
“Halo.” Adelia berhenti berpikir dan memilih untuk mengangkat ponselnya yang berdering.
“Apa kau sudah melihat berita?” Rupanya Oma Tessa yang menelepon.
“Kalau yang Oma maksud adalah berita soal Delano, maka ya. Aku sudah melihatnya,” jawab Adelia setela menghembuskan anfas lelah.
“Pantas saja Om Bayu merasa pernah melihat anak itu entah di mana. Rupanya dia memang pebisnis yang pernah bekerja sama dengan kita. Pantas saja pekerjaannya sangat bagus.” Oma Tessa tentu saja akan mengeluh karena dia juga merasa dibohongi.
“Jadi sekarang Oma mau apa?” tanya Adelia untuk basa-basi saja. “Dia sudah tahu data perusahaan Oma loh.”
“Delano belum terlalu lama kerja, tapi kau benar. Dia pintar dan bisa saja mengambil data perusahaan, jadi mungkin Oma pecat saja dia.”
“Baguslah.” Adelia mengangguk seolah dia senang, walau ekspresi wajahnya tidak tampak senang. “Kurasa aku juga ingin memutuskan hubungan dengan dia.”
Oma Tessa bisa mendengar helaan nafas dari seberang sambungan telepon. Dia tahu ini sangat sulit bagi sang cucu, tapi tetap saja tidak bisa diputuskan dalam waktu singkat. Oma Tessa bukan orang buta yang tidak bisa melihat kalau Adelia punya perasaan pada Delano.
“Mungkin kau harus bicara dulu padanya.” Oma Tessa memberikan saran paling masuk akal. “Cari tahu dulu, sebelum memutuskan.”
“Mungkin Oma benar.” Setelah berpikir sesaat, Adelia pun mengiyakan. “Aku memang perlu untuk berbicara dengannya, walau itu mungkin tidak akan mengubah keputusanku.”
“Tapi boleh Oma saja yang membuat janji?” lanjut perempuan mungil yang kini berhenti di lobi rumah sakit. “Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun dalam waktu dekat ini.”
“Tentu saja, Nak. Nanti Oma akan mengatur segalanya, ketika kau sudah cukup siap.”
“Kalau begitu, apa Oma punya tempat yang bisa kutinggali sementara waktu?” tanya Adelia sudah terlihat lebih lega.
Ketika Adelia mengatakan tidak ingin berbicara dengan siapa pun, dia benar-benar menginginkannya. Perempuan mungil itu ingin benar-benar menyendiri selama beberapa waktu. Setidaknya, sampai dia cukup siap untuk menghadapi semuanya lagi.
__ADS_1
***
“Yang benar saja!” Bella memukul meja dengan kepalan tangannya, ketika melihat berita yang ada di media sosial.
Dia sama sekali tidak peduli dengan sang suami yang sedang tidur. Untung saja Aditya tidak terbangun karena suara bising itu. Sepertinya pria paruh baya itu sudah terlalu lelah.
“Delano yang jadi pacarnya Adelia itu putra konglomerat? Lelucon apa lagi ini?” Bella tertawa ketika mengatakan itu, tapi hanya sebentar saja.
Wajah ibu hamil itu segera berubah menjadi kesal dan marah. Dia benar-benar merasa kalah dari anak tirinya itu dan kekalahan jelas bukan hal yang menyenangkan bagi Bella. Dia sama sekali tidak suka kekalahan dan kemiskinan.
“Tidak bisa begini.” Ibu hamil itu dengan cepat menggeleng. “Aku harus cari cara untuk membuat Adelia menjauh dari Delano. Dia tidak boleh mendapat lelaki kaya, muda dan tampan sekaligus.”
“Aku saja harus bersusah payah merayu si tua Aditya itu, tapi hanya mendapat sedikit uang. Mana aku sampai hamil begini lagi. Aku tidak akan membiarkan Adelia yang mendapat semuanya. Aku akan merebut Delano juga kalau perlu,” gumam Bella dengan senyuman lebar. “Aku harus mendapatkan dia.”
“Aku akan menghancurkanmu Adelia. Lihat saja, aku akan membuat wajah angkuhmu itu berubah jadi rengekan minta ampun.”
Bella kemudian menatap ke arah sang suami yang masih tertidur. Wajahnya berubah kesal karena mengingat apa yang sudah dia korbankan untuk mendapatkan harta dari lelaki itu dan hasilnya sama sekali tidak sepadan.
“Apa kita mulai dari dirimu saja?” bisik Bella dengan senyum jahatnya. “Kebetulan aku sudah muak melihatmu dan kalau kau mati, hartamu pasti akan jatuh padaku kan?”
“Ya.” Bella mengagguk pelan, sembari mendekati ranjang tempat sang suami tertidur pulas. “Harusnya harta itu jatuh padaku, terutama karena aku gagal mendapat harta Adelia."
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini Aditya Lesmana.” Bella berbisik pelan di telinga sang suami.
***To be continued***
__ADS_1