
“Jadi ini ceritanya kau bakal punya dua pekerjaan gitu?” Marcel bertanya, seraya menatap formulir yang harus dia tanda tangani.
“Dua kerjaan gimana?” Adelia yang sudah lebih dulu mengumpulkan berkas untuk semester baru bertanya dengan bingung.
“Kau bakal jadi mahasiswa, sekaligus ibu rumah tangga,” jawab Marcel dengan bola mata berputar gemas. “Itu jelas dua pekerjaan kan?”
“Ya ampun, Cel!” Poppy yang menyahut karena gemas. “Kirain apa.”
“Lah, emang benar kan?” tanya Marcel agak kesal juga.
“Benar juga sih, tapi ya gak gitu juga konsepnya.” Adelia terkikik geli dengan apa yang dimaksud sahabatnya itu.
Hari ini, akhirnya Adelia pergi mengurusi berkas untuk kuliah semester berikutnya. Perempuan mungil itu pada akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan masa cutinya lebih cepat, walau dia jadinya tidak bisa mengambil beberapa mata kuliah pada semester berikut.
Ada mata kuliah lanjutan dari semester lalu dan jelas saja Adelia tidak bisa mengikutinya karena semester lalu dia cuti mendadak di tengah semester. Ini membuatnya mungkin akan lulus lebih lama, tapi apa boleh buat.
“Gak mau nunggu lulus saja?” tanya Poppy setelah mereka berjalan ke arah kantin untuk sekedar duduk dan ngemil. Kebetulan, kantin tetap buka walau masih libur karena cukup banyak mahasiswa yang datang mengurus beberapa hal.
“Masalahnya, Daddy itu sudah agak tua.” Adelia mengatakan kenyataan. “Biar bagaimana, dia tidak mungkin menunggu terlalu lama.”
“Siapa suruh kau mau sama orang tua,” ejek Marcel dengan bibir mencebik. “Ganteng dan kaya sih, tapi kalau harus nikah muda ... apa gak sayang?”
“Aku rasa tidak juga,” balas Adelia setelah berpikir untuk sesaat. “Soalnya Daddy tidak melarangku kuliah atau melakukan apa pun yang kumau.”
“Itu mah hanya omongan saja. Mana ada yang tahu kalau nanti dia berubah pikiran dan melarangmu kuliah dan meminta mau cepat punya anak.” Kali ini Poppy yang berpendapat.
“Kami sudah bicarakan itu juga.” Adelia tidak keberatan bercerita, tapi harus dijeda untuk memesan makanan.
“Kami sepakat menunda punya anak, setidaknya sampai aku selesai ujian akhir,” lanjut Adelia penuh keyakinan. “Berubah pikiran mungkin terjadi sih, tapi kami bakal buat perjanjian pranikah dan aku akan mencantumkan soal kuliah itu nanti.”
“Kalau begitu bagus.” Poppy langsung setuju. “Memang paling bagus begitu, buat antisipasi aja. Apalagi dia orang kaya.”
__ADS_1
“Heh.” Marcel langsung menepuk tangan sahabatnya dengan gemas. “Yang namanya perjanjian pranikah itu bukan hanya untuk orang kaya aja. Semua orang harusnya punya begituan, biar sama-sama secure dan bukan malah insecure karena pelakor dan lain-lain.”
Semua orang tertawa mendengar omongan si melambai. Diucapkan dengan nada bercanda dan ekspresi lucu, tapi yang dikatakan Marcel rata-rata berisi kebenaran yang memang harus dilakukan. Padahal kalau dipikir, lelaki melambai itu yang paling tidak masuk akal, tapi ucapannya kerap kali mendidik.
“Serius? Marcel ngomong gitu?” tanya Delano yang hari ini sengaja meluangkan waktu untuk menjemput tunangannya.
“Iya.” Adelia tentu saja mengangguk. “Aneh kan? Gayanya gitu, tapi dia yang paling bijak kalau soal hubungan.”
“Jangan-jangan dia pernah ditinggal pacar gay-nya ya? Makanya jadi bijak gitu?” Delano masih saja bingung, sampai tidak sadar kalau pertanyaannya agak kurang ajar.
“Marcel emang selalu memuja cowok tampan dan berotot, tapi sepertinya dia belum pernah pacaran deh.” Adelia mencoba untuk mengingat-ingat.
“Kalau begitu, sepertinya aku benar-benar harus menjauhi temanmu yang satu itu.” Delano langsung bergidik karena ingat kalau tadi Marcel sempat merangkul dirinya.
Tentu saja Adelia juga melihat hal itu tadi dan kini tertawa karena melihat ekspresi ngeri di wajah sang tunangan. Dia jadi punya keinginan untuk menjahili Delano dengan meminta bantuan Marcel. Rasanya itu bakal seru.
“Tenang saja, Dad.” Sayangnya, Adelia belum cukup tega untuk itu. “Gitu juga Marcel anaknya setia kawan loh. Dia gak mungkin menggoda pacarku.”
Adelia tersenyum lebar mendengar itu, kemudian menatap cincin yang sudah melingkar di jari manisnya. Itu adalah tanda keseriusan mereka di depan semua orang, terutama di depan keluarga besar mereka berdua.
Delano sudah melamar secara resmi. Kejadian itu terjadi tepat seminggu lalu. Acaranya diadakan secara sederhana saja atas permintaan Adelia. Hanya ada acara makan-makan dan dilaksanakan di rumah tempat Adelia tumbuh besar.
“Rasanya gak sabar nunggu liburan semester.” Adelia mendesah mengingat kalau hari itu masih cukup lama.
“Udah gak sabar jadi Nyonya Widjaja ya?” tanya Delano untuk sekedar mengejek.
“Ya.” Siapa sangka Adelia malah menyambut pertanyaan itu dengan serius. “Gak sabar dipanggil Mommy sama Daddy,” lanjutnya dengan senyum manis dan membuat Delano agak kesulitan menahan diri.
“Tolong jangan berekspresi seperti itu,” gumam lelaki yang memilih fokus pada jalanan karena sedang menyetir mobil. “Nanti kau menyesal.”
“Ah, masa sih?” tanya Adelia, gantian mengejek. “Rasanya aku gak bakal menyesal deh.”
__ADS_1
“Jangan memancing Adelia.”
Perempuan mungil itu malah tertawa mendengar jawaban sang tunangan. Dia merasa senang karena sudah sukses membuat lelaki itu kalang kabut, tapi hanya sebentar saja karena teringat sesuatu yang penting dan membuatnya resah.
“Tapi nanti Bella gimana ya?”
“Kenapa malah jadi Bella?” Tentu saja Delano bingung mendengar pertanyaan sang tunangan.
“Daddy lupa?” tanya Adelia dengan sebelah alis terangkat. “Dia seharusnya melahirkan dalam minggu ini.”
“Oh, iya juga. Aku benar-benar lupa.” Delano meringis pelan.
Sebenarnya hal ini bukan urusan mereka juga, tapi anak yang dikandung Bella itu adik Adelia. Semua orang hanya takut kalau perempuan yang sudah tidak terlalu waras itu punya kesempatan menyakiti bayinya.
Bisa saja sih bayinya langsung diambil, tapi rasanya itu terlalu kejam juga. Biar bagaimana, Bella itu ibunya. Mereka ingin melihat dulu bagaimana reaksi perempuan itu pada anaknya. Jika tidak baik, maka bayinya akan segera diambil. Berisiko, tapi lebih manusiawi.
“Apa mau jenguk dia dulu?” Tiba-tiba saja Delano memberi ide. “Mumpung aku lagi senggang nih.”
“Boleh juga.” Adelia mengangguk setuju. “Kebetulan aku belum pernah menjenguk dia.”
“Mau ajak Papa gak?” tanya Delano yang sudah mulai memanggil ayah sang tunangan dengan sebutan papa. “Dia sudah lama gak jenguk kan?”
“Biar kutanya dulu.” Adelia dengan cepat mencari ponselnya di dalam tas yang dia bawa.
Tapi belum juga menemukan benda pipih itu, suara dering sudah terdengar. Itu membuat Adelia lebih mudah menemukan benda yang dia cari itu dan ternyata sang papa yang menelepon.
“Halo, Pa.” Adelia menyapa dengan sopan dan menyalakan speaker. “Padahal aku barusan mau nelpon ....”
“Bella sudah melahirkan, Del.” Aditya dengan cepat memotong kalimat sang putri. “Dan dia mendorong bayinya.”
__ADS_1
***To be continued***