
“Ini semuanya?” tanya Bella dengan mata dan mulut membulat.
“Ya. Ini semuanya,” jawab Betsy dengan tenang. “Hanya ada satu rumah biasa, satu rumah kos dan satu apartemen. Sejumlah deposito, tabungan, emas dan juga sedikit saham dengan total sekitar beberapa puluh milyar.”
“Beberapa puluh milyar itu banyak.” Tanpa diduga Bella memekik cukup keras.
“Itu bahkan tidak sampai lima puluh milyar, bagaimana kau bisa menyebutnya banyak?” tanya Betsy terlihat begitu sombong. “Ibu Paula adalah klien dengan harta yang paling sedikit.”
Bibir Bella makin membuka. Dia tidak pernah menyangka kalau ibunya Adelia bisa punya harta sebanyak itu untuk anaknya. Tahu begitu, dia lebih memilih menempel pada Adelia saja dari pada harus tidur dengan lelaki yang jauh lebih tua darinya.
Jangankan Bella, Adelia saja sampai terkejut mendengarnya. Dia tahu ibunya berasal dari keluarga kaya, tapi hubungan mereka kurang baik. Ayahnya memang lumayan berada, tapi dia memulai dari nol dan sepertinya tidak punya harta sebanyak itu. Belasan milyar pun sudah banyak.
“Jadi, saudari Adelia akan menerima semua ini di umur dua puluh tahun.” Sang notaris kembali menjelaskan. “Sebelum itu, uangnya boleh dikelola oleh yang kamu percaya,”
“Dalam hal ini adalah pasangan.” Farhan si pengacara menambahkan. “Apa kamu sudah punya pacar mungkin? Yang siap menikah tentu saja.”
“Aku punya pacar, tapi ....”
“Isi surat wasiat ini konyol.” Tiba-tiba saja Aditra menyela. “Aku bisa mengerti kalau Paula memberikan semuanya pada Adelia, tapi pada pasangan? Adelia baru sembilan belas tahun.”
“Itu adalah keinginan nyonya Paula.” Kali ini Farhan yang mengambil alih pembicaraan. “Kami, lebih tepatnya perusahaanku hanya membantu untuk mengesahkan dokumen wasiat itu.”
“Tapi bukankah lebih baik menyerahkan pada orang terdekat. Pada ayahnya Adelia mungkin,” tambah Bella yang tidak mau melewatkan kesempatan.
“Yang membuat wasiat adalah Nyonya Paula.” Betsy kembali bersuara. “Hanya dia yang menentukan apa isinya. Kami bisa memberi saran, tapi tetap tidak bisa memaksakan.”
Bella terdiam mendengar hal itu. Dia benar-benar merasa kesal mendengar semuanya. Aditya mungkin punya banyak uang, tapi kini Adelia jelas lebih banyak. Setidaknya, itu yang dia ketahui saat ini.
“Adelia.” Bella dengan cepat memasang wajah sedih. “Jangan percaya pada sembarang lelaki, terutama pacarmu itu. Dia pasti hanya mengincar hartamu saja, soalnya dia kan miskin.”
“Kalau begitu, aku bisa mengatakan hal yang sama denganmu kan?” tanya Adelia dengan wajah meringis. “Kau mendekati papaku demi harta.”
__ADS_1
“Adelia.” Aditya tentu saja akan menegur putrinya.
“Maaf, tapi tolong jangan berdebat di sini.” Farhan segera menengahi, sebelum Adelia atau Bella buka mulut. “Lebih tepatnya, sebelum berdebat, mari kita selesaikan dulu prosesi pembacaan wasiat ini."
Tentu saja yang dikatakan Farhan itu hanya sekedar untuk membuat semuanya diam. Yang dia katakan berikutnya adalah untuk membahas soal pasangan Adelia dan jujur, itu membuat Adelia bingung sekali. Perempuan mungil dengan rambut kecokelatan itu, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Kalau kamu tidak begitu yakin, bagaimana kalau bertemu dulu dengan calon dari ibumu?” tanya Farhan memberi ide. “Setelah itu, kamu bisa membandingkan mana yang paling cocok.”
“Bagaimana bisa kalian meminta anak sembilan belas tahun untuk menikah?” tanya Aditya tidak setuju. “Dia masih anak-anak.”
“Dalam undang-undang, umur sembilan belas tahun sudah boleh menikah.” Farhan dengan cepat membantah.
“Boleh aku pikir-pikir saja dulu?” tanya Adelia masih terlihat begitu bingung.
Kepala perempuan muda itu sudah penuh dan saat ini dia perlu waktu untuk sendiri. Adelia sedang tidak ingin mendengar perdebatan apa pun itu. Dia butuh tempat tenang untuk berpikir.
“Tentu saja.” Kali ini Betsy yang menjawab. “Kamu juga boleh meminta pendapat orang lain kalau berkenan.”
Adelia hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia kemudian dengan cepat berdiri untuk bisa segera pulang, bahkan sampai lupa pamit. Semua ini terlalu rumit untuk dirinya yang memang tidak tahu hukum sama sekali. Sayangnya, tidak semudah itu.
“Hei, tunggu dulu.” Tidak mendapat jawaban, Bella menarik tangan perempuan yang dia panggil.
“Lepaskan aku.” Tentu saja Adelia akan menepis tangan itu. “Aku mau pulang.”
“Kamu boleh pulang setelah aku bicara,” gumam Bella berusaha selembut mungkin. “Ini demi kebaikanmu dan demi masa depanmu.”
“Sejak kapan kau peduli dengan masa depanku?” tanya Adelia dengan dengusan keras. “Yang kau pedulikan hanya dirimu sendiri.”
“Adel, tolonglah.” Sang papa pada akhirnya ikut menasihati putrinya itu. “Kurasa kali ini Bella benar. Kamu harus mendengar kami dulu.”
“Oke baiklah.” Adelia melipat tangan di depan dadanya. “Katakan saja aku mau dengar.”
__ADS_1
“Tapi ini di lobi kantor orang, Del. Mungkin kita bisa berbicara di tempat yang lebih nyaman.” Bella dengan cepat menolak ide temannya itu.
“Aku ingin bicara di sini karena aku ingin ada saksi yang mendengar. Aku ingin semua orang mendengar, bagaimana kau hanya peduli dengan harta dan karena harta itu pula kau merebut papaku dari mama.”
Mendengar hujatan itu, Bella melirik ke kiri dan kanan. Mereka sudah di lobi dan di sana ada beberapa orang yang mendengar. Dia tidak suka dengan pandangan orang-orang itu pada dirinya.
“Adelia, bisakah kita membicarakan masalah ini di tempat lain?” tanya Aditya yang juga sudah mulai merasa tidak nyaman. “Biar bagaimana, ini bukan sesuatu yang harus diumbar ke publik.”
“Lah? Yang duluan ngajak bicara di sini siapa?” Adelia jelas akan merasa aneh. “Dia duluan yang tarik tangan aku dan bicara soal masa depan.”
Aditya mendesah mendengar hal itu. Yang dikatakan oleh putrinya tidak salah juga, walau sebenarnya Adelia juga mendesak untuk bicara di tempat.
“Sudahlah. Kita pulang saja dulu.” Kali ini, Aditya memilih untuk mengalah.
“Loh, kok gitu sih.” Sayangnya Bella enggan melakukan itu. “Ini kan demi kebaikan bersama loh, Dad.”
“Lantas kamu mau ngomong di sini? Di depan umum?” tanya lelaki yang jauh lebih tua dari kekasihnya itu dengan mata melotot.
Bella mendengus kesal. Dia tentu saja tidak ingin berdiri di lobi dan berbicara banyak hal dengan Adelia yang mau mempermalukannya. Apalagi, si notaris dan pengacara baru saja sampai di lobi. Mau tidak mau, Bella terpaksa menurut untuk pergi.
Adelia tentu saja akan ikut pergi, tapi menunggu dua orang paling menyebalkan baginya itu pergi. Namun, dia malah melihat seseorang yang tidak seharusnya ada di firma hukum itu.
“Delano.”
Mendengar nama itu diteriakkan, membuat Adelia makin bingung. Apalagi yang berteriak itu adalah si notaris, Betsy. Makin bingung lagi karena sapaan itu terdengar akrab.
“Daddy?” Adelia memanggil, ketika lelaki yang dia kenal itu sudah mendekat.
“Adelia?” Delano pun terlihat bingung.
“Kenapa Daddy Delano bisa di sini?”
__ADS_1
***To Be Continued***