Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Pertemuan Besar


__ADS_3

 “Tidak ada yang mengenaliku kan?” tanya Adelia, sambil melihat ke kiri dan kanan.


 “Tidak akan ada yang mengenalimu kalau kau berpakaian seperti itu.” Marcel yang menjawab dengan tatapan mengejek. “Tapi jelas saja kau akan menarik perhatian.”


 “Bagaimana mungkin aku bisa menarik perhatian?” Adelia berdesis pelan. “Aku jelas-jelas sudah menggunakan baju yang sangat tertutup dan biasa saja.”


 “Kalau kau menggunakan turtle neck sambil menenggelamkan pada kerahnya wajahmu, kaca mata hitam, topi dan masker di dalam ruangan. Tentu saja kau akan menarik perhatian.” Kali ini Poppy yang berbicara dengan tatapan tidak habis pikir.


 “Ini untuk perlindungan diri.” Adelia membela diri. “Aku tidak mau ada yang mengenaliku.”


 “Tapi pakaian seperti itu di ruangan tertutup dan cuaca panas, jelas akan sangat menarik perhatian. Kalau begitu, lama-lama kau juga akan ketahuan.” Marcel kembali bersuara.


 Adelia menghela nafas ketika mendengar apa yang dikatakan sang sahabat. Walau mereka di dalam ruangan ber-AC, tapi memang cuaca di luar sedang sangat panas. Akan aneh jika ada orang yang menggunakan pakaian lengan panjang dan agak tebal, ditambah aksesoris mencurigakan itu.


 “Mau bagaimana lagi.” Kini Adelia melepas kacamata hitam yang dia pakai. “Aku perlu bertemu dengan Daddy.”


 “Katanya marah dan tidak mau panggil Daddy lagi.” Kini Poppy mulai mengejek. “Tapi barusan kok panggil Daddy.”


 “Itu tidak sengaja.” Adelia menghardik, bahkan memukul meja karena kesal.


 Yah, Adelia memang sudah membuat keputusan. Untuk sementara waktu, dia ingin break dari hubungannya dengan Delano. Itu yang membuat Adelia memutuskan untk bertemu dengan Delano di tempat umum.


 “Padahal kalau tidak mau ketahuan, kau harusnya memesan restoran dengan ruang VIP. Rasanya itu lebih mudah, dibanding harus menyamar seperti di film-film.”


 “Aku tidak kepikiran sampai sana, Marcel. Jadi tolong berhentilah menggodaku.” Tentu saja Adelia akan merasa kesal karena sejak tadi, dia terus-terusan diganggu oleh dua sahabatnya.


 “Oh, sepertinya Daddy-mu sudah sampai.”


 Hal yang dikatakan oleh Poppy membuat Adelia menoleh. Dia bisa melihat seorang lelaki dewasa baru saja masuk dari pintu utama kedai es krim yang jadi tempat pertemuan mereka. Hanya saja, kali ini Delano terlihat berbeda dari biasanya.


 Tidak terlihat lagi Delano yang memakai kaos atau kemeja kerja biasa. Kini lelaki itu menggunakan jas mahal yang terlihat rapi dan rambut yang juga disisir dengan lebih rapi dari biasanya. Dia terlihat berkilau.


 “Wow.” Mau tidak mau, Poppy pun terpesona. “Apa dia malaikat yang jatuh dari langit?”

__ADS_1


 “Apa maksudmu?” Adelia menghardik dengan mata melotot pada temannya dan saat itulah dia sadar.


 Nyaris semua perempuan yang ada di dalam kedai itu menatap Delano dengan tatapan yang sama dengan Poppy. Jujur, Adelia tidak suka itu.


 “Hai.” Bukan hanya Poppy, tapi Marcel juga terpukau dan menyapa lelaki yang baru datang itu dengan genit. “Kamu Daddy-nya Adelia ya. Kenalin, saya Marcel. Temannya Adelia.”


 “Poppy.” Si perempuan tomboy mengikuti sahabat kemayunya dan mengulurkan tangan untuk berkenalan.


 “Apa-apaan sih ini?” Belum juga ada yang berjabat tangan, Adelia langsung menepis tangan kedua sahabatnya.


 “Kau itu kenapa sih, Del?” Jelas saja Marcel akan segera protes. “Kita kan juga mau kenalan.”


 “Tidak ada yang namanya kenalan. Kami harus pergi karena ada hal penting yang harus diurus.” Tanpa berpikir panjang, Adelia langsung menarik tangan Delano untuk pergi.


 Karena semua terjadi dengan tiba-tiba, Delano yang belum sempat bicara dari tadi asal ikut saja. Lagi pula, dia lebih senang untuk tidak bicara di tempat seramai itu. Tapi, mereka jelas tidak mungkin terus berjalan kan?


 “Adelia.” Akhirnya Delano memanggil, setelah mereka berjalan cukup jauh. Hal itu jelas membuat yang empunya nama tersentak.


 “Aku ... aku merasa tidak nyaman bicara di sana.” Akhirnya, hanya itu saja yang bisa Adelia katakan.


 “Aku tadi agak buru-buru, jadi lupa bilang kalau mau pindah tempat.” Tidak ingin terlihat terlalu bodoh, Adelia memberikan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal.


 “Kalau begitu, bagaimana kalau naik mobilku saja?” tanya Delano masih semanis dan sesopan biasanya. “Aku tidak mungkin membiarkanmu berjalan kaki di bawah terik matahari begini. Itu membuat kulitmu jadi rusak.”


 Yang dikatakan Delano adalah fakta, tapi entah kenapa terasa membakar di telinga Adelia. Perempuan muda itu terlihat makin malu dan merona karenanya. Sesuatu yang sangat disenangi oleh Delano.


 “Ternyata kau punya mobil yang barus.” Adelia bergumam tanpa sadar, ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.


 “Benarkah? Padahal biasa saja.” Delano mengatakan itu, sembari mencondongkan tubuhnya ke arah kursi penumpang.


 “Kau mau apa?” pekik Adelia agak panik.


 “Kamu belum pakai sabuk pengaman, Adelia,” jawab yang empunya mobil dengan senyum lebar.

__ADS_1


 “Aku bisa melakukannya sendiri.” Dengan cepat, Adelia menepis tangan besar itu dengan kasar. Untungnya hal itu tidak membuat Delano tersinggung.


 “Apa kabar?” Delano akhirnya bertanya, setelah mereka melaju di atas aspal. “Sudah lama kita tidak bertemu ya.”


 Adelia tidak langsung menjawab. Dia terlebih dahulu menatap lelaki yang sedang menyetir itu dengan seksama, sebelum kembali menatap ke jalan raya di depannya. Delano tidak banyak berubah, selain penampilannya yang lebih baik saja dan satu hal lainnya.


 “Aku baik-baik saja, tapi ... Daddy terlihat lebih kurus.” Kalimat Adelia terjeda karena dia kesulitan memanggil Daddy.


 “Masa sih?” Delano menjawab tanpa menoleh. “Rasanya sih biasa saja, walau memang beberapa jasku terasa lebih besar. Mungkin karena selama beberapa minggu ini, aku kurang tidur dan makan akibat seseorang mengabaikanku.”


 “Kau menyalahkanku?” tanya Adelia tahu kalau dirinyalah yang dimaksud.


 “Apa aku menyebut namamu?” Sayangnya, Delano malah membuat pertanyaan Adelia terdengar seperti sangat bodoh. Padahal itulah kebenaran.


 “Dari pada itu ... kenapa menyetir sendiri?” Merasa malu, Adelia dengan cepat mengalihkan pembicaraan. “Memangnya Daddy tidak punya sopir.”


 “Untuk kali ini aku ingin menyetir sendiri,” jawab Delano tanpa ragu. “Soalnya aku sudah lama tidak berduaan saja denganmu.”


 Yang dikatakan Delano, sukses membuat perempuan mungil di sebelahnya merona. Adelia bahkan tidak berani lagi menatap lelaki itu karena jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Apalagi, sekarang tangan besar Delano melingkupi tangannya yang diletakkan di atas paha.


 “Maaf ya.” Setelah terdiam cukup lama, Delano kembali bersuara. “Aku merasa bersalah padamu. Aku bodoh karena terus-terusan berbohong padamu, padahal nanti kita akan menikah.”


 “Bagaimana aku bisa menikah dengan lelaki yang susah move on dan suka berbohong?” Debaran jantung Adelia langsung menjadi tenang, setelah Delano berbicara.


 “Karena itu aku meminta maaf dan mengatur pertemuan ini. Aku ingin semuanya menjadi jelas, makanya aku mengundang semua orang untuk datang.” Delano dengan entengnya memberitahu apa yang sudah dia rencanakan.


 “Semua orang?” tanya Adelia dengan raut wajah bingung.


 “Ya, termasuk papamu yang sudah keluar dari rumah sakit dan Bella.”


 Kening Adelia makin berkerut saja mendengar itu. Dia makin bingung ketika sudah sampai ke tempat mereka tuju dan menemukan Natasya dan keluarganya juga ada di sana.


 “Apa-apaan ini?” bisik Adelia sangat terkejut.

__ADS_1


 


***To be continued***


__ADS_2