Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Surat Wasiat


__ADS_3

 “Adelia ya?” Seorang lelaki tiga puluhan tahun menyapa perempuan mungil yang sedang termenung itu.


 “Oh, maaf.” Yang empunya nama langsung tersentak.


 “Saya Farhan.” Lelaki tadi mengulurkan tangan dengan sopan. “Saya pengacara, sekaligus yang punya kantor ini. Saya juga yang memanggil kamu.”


 Walau terlihat agak bingung, Adelia pada akhirnya mengulurkan tangan juga. Dia tentunya harus bersikap sopan, pada orang yang lebih tua darinya. Apalagi orang itu adalah pengacara sang mama.


 “Kamu sendiri saja?” Farhan kembali bertanya, sembari melihat ke sekeliling.


 “Iya. Saya sendiri,” jawab Adel dengan tegas. “Tapi, kenapa saya dipanggil ke sini ya?”


 “Loh? Bukannya sudah diberitahu ya?” Si pengacara malah balik bertanya. “Ini soal warisan mama kamu.”


 Beberapa waktu lalu, Adelia memang pernah menerima pesan soal warisan. Hari ini, adalah hari di mana dia diminta datang ke kantor milik Farhan.


 Sayangnya, gadis sembilan belas tahun itu masih bingung. Makin menjadi bingung karena sedang banyak pikiran dan berakhir melamun di lobi gedung kantor milik si pengacara.


 “Sudah diberitahu, tapi saya masih gak ngerti, Om.”


 “Tolong jangan panggil om.” Farhan segera menegur. “Walau kita beda jauh, tapi aku belum setua itu dan kamu bukan keponakanku.”


 “Kenapa semua lelaki seperti itu sih?” tanya Adelia bingung. “Pacar saya juga ngomong seperti itu waktu pertama kali bertemu.”


 “Memangnya kamu pacaran dengan orang seusia saya?” Si pengacara bertanya dengan kening berkerut.


 Kerutan itu makin bertambah ketika perempuan mungil di depannya mengangguk. Farhan pun ingin bertanya lagi, tapi rupanya sudah tidak bisa. Kebetulan, ayah Adelia dan juga Bella sudah datang.


 “Adelia.” Aditya terlihat cukup senang melihat putrinya. “Syukurlah kamu bisa datang.”


 “Kenapa juga dia harus ada di sini?” Adelia tidak segan menunjuk selingkuhan ayahnya itu.


 “Nona Bella, juga diundang.” Sang pengacara yang menjawab. “Lalu karena semua sudah terkumpul, ayo kita naik ke kantor saya. Kebetulan notaris kami juga sudah tiba sejak tadi,” ajak lelaki itu dengan senyuman lebar.

__ADS_1


 Tidak ingin dekat dengan mantan sahabatnya, Adelia memilih untuk mendekat pada si pengacara. Dia bahkan memilih untuk bercerita dengan Farhan, walau sebenarnya semua itu hanya omong kosong belaka.


 Namun, itu tidak berlangsung lama. Setelah tiba di ruang tamu kantor Farhan, Adelia dipaksa duduk berhadapan dengan dua orang yang dia benci itu. Bahkan mereka ditinggal bertiga saja.


 “Beberapa hari ini kamu tinggal di mana?” Aditya membuka pembicaraan.


 “Di suatu tempat yang nyaman dan bersih,” jawab Adelia, sengaja terdengar ambigu.


 “Bagaimana kalau kau pulang saja ke rumah?” tanya Aditya berusaha untuk tidak marah. “Lebih aman kalau kamu di rumah.”


 “Lebih aman juga di tempat pacarku. Setidaknya di sana tekanan darahku tidak naik,” jawab Adelia acuh.


 “Kamu tinggal dengan pacarmu?” Kini giliran Bella yang bersuara. “Tidakkah itu sangat berbahaya? Lagi pula, mana mungkin rumah pacarmu bisa bersih, aman dan nyaman.?”


 Aditya merasa bingung mendengar kalimat terakhir kekasihnya. Sayangnya, dia tidak sempat lagi bertanya karena yang empunya kantor telah datang, bersama dengan seorang perempuan lain.


 “Perkenalkan ini Betsy, notaris kami.” Farhan mengenalkan.


 “Karena semua sudah di sini, mari kita mulai saja.” Betsy rupanya tidak ingin basa-basi.


 “Anda semua dikumpulkan di sini sehubungan dengan surat wasiat yang dibuat oleh almarhumah Paula Santoso, terkait dengan harta yang dia miliki secara pribadi.”


 “Maaf, sebelumnya.” Aditya langsung menyela. “Memangnya istri saya punya harta sendiri?”


 “Tentu saja mendiang istri anda punya harta sendiri. Ada perjanjian pisah harta saat anda berdua menikah,” jawab Betsy dengan memberi penekanan pada kata mendiang.


 Kelakuan Aditya sudah diketahui oleh si pengacara dan notaris. Walau belum tahu kebenarannya seperti apa kala bertemu dengan ibunya Adelia, tapi kini mereka mengerti. Terutama ketika melihat Bella datang dengan percaya dirinya.


 “Saya lanjutkan lagi.” Betsy tersenyum, setelah tidak mendengar pertanyaan lain.


 “Ibu Paula Santoso, sudah membuat surat wasiat. Itu terjadi ketika beliau masih dalam keadaan yang cukup sehat. Ini adalah surat salinannya.”


 Betsy menyodorkan map dan mengambil pointer berbentuk seperti remot kecil di atas meja dan Farhan segera menurunkan tirai jendela, juga mematikan lampu utama.

__ADS_1


 Ternyata, ada proyektor yang menyorot ke kain putih di tengah ruangan. Di sana, terlihat video proses penulisan wasiat oleh mamanya Adelia. Bahkan ada juga video sang mama yang sedang berbicara.


 “Saya Paula Santoso. Dengan ini menyatakan masih sehat jasmani dan rohani. Dengan ini pula, saya ingin menyampaikan surat wasiat saya.”


 Mendengar suara dan wajah sang ibu, membuat Adelia ingin menangis. Dia merindukan ibunya. Berbeda dengan Aditya dan Bella yang terlihat tegang.


 “Saya menyatakan, kalau semua harta atas nama saya pribadi, akan diberikan kepada putri tunggal saya Adelia Lesmana.”


 “Omong kosong apa itu.” Bella langsung menyela ketika mendengar apa yang dikatakan Paula di dalam video.


 “Maaf, tapi bisa anda diam sampai video berakhir?” Betsy bertanya dengan nada ketus.


 Bella jelas tidak terima ditegur seperti itu. Dia sudah siap menegur balik, tapi Aditya sudah melotot padanya. Dengan terpaksa, Bella memilih untuk diam dan membiarkan sang notaris melanjutkan videonya.


 “Jika pada saat saya pergi saya belum cukup cakap untuk mengelola semuanya, saya berharap dia bisa segera menemukan pasangan yang cocok untuknya. Sudah ada pasangan yang saya pilihkan, tapi kalau Adelia punya pilihan lain, tentu bisa dipertimbangkan.”


 “Adelia.” Yang empunya nama makin berkaca-kaca ketika melihat pesan yang ditinggalkan sang ibu untuknya.


 “Kamu anak yang manja dan tidak tahu apa-apa. Bahkan mungkin setelah punya KTP pun kamu masih manja, jadi mulailah belajar hidup mandiri. Jangan bergantung pada lelaki, walau pun itu suamimu.”


 Adelia tetap menatap layar di depannya penuh penghayatan. Dia tidak peduli pada sang papa yang terbatuk dengan pesan almarhum istrinya.


 “Mama harap, nanti saat dua puluh tahun kamu sudah bisa mengurus semua harta ini sendiri. Tapi kalau mama pergi lebih cepat dari itu atau kamu masih belum mampu, mama harap kamu bisa mencari pasangan atau menerima pasangan yang mama pilihkan untukmu.”


 “Mama tidak akan memaksa, tapi tentu saja akan lebih baik seperti itu. Setidaknya, harta itu tidak akan jatuh pada orang yang salah. Mama sayang kamu.”


 Sampai di situ saja video yang diperlihatkan oleh Betsy. Setelahnya, perempuan itu mengeluarkan map putih lainnya, yang merupakan kelengkapan surat wasiat.


 “Inti surat wasiatnya sudah kita dengar bersama.” Betsy mulai berbicara lagi. “Sekarang mari kita lihat, seberapa banyak harta yang akan diwarisi oleh Adelia Lesmana.”


 


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2