Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Undangan Makan Malam


__ADS_3

 “Sudah sampai.” Delano mengatakan itu dengan senyum lebar. “Ini rumah Pak Dosen kan?”


 Aris tidak menjawab. Lelaki itu malah keluar dari mobil, tanpa mengucapkan terima kasih. Lelaki yang lebih muda itu, malah membanting pintu mobil dengan kasar.


 “Astaga!” Adelia menggeleng pelan melihat itu dari kursi penumpang. “Haruskah dia seperti itu?”


 “Biarkan saja dia seperti itu.” Delano hanya bisa tersenyum saja. “Kita lebih baik pulang saja.”


 Adelia tidak banyak bicara lagi. Dia hanya menuruti apa yang dikatakan Daddy-nya. Kebetulan  dia juga sudah lelah.


 “Tapi omong-omong, Daddy beneran dulunya sopir angkot?” tanya Adelia penasaran.


 “Tidak.” Delano menggeleng pelan. “Kebetulan saja pernah belajar dari seorang sopir handal.”


 Tidak ada lagi yang dikatakan oleh perempuan mungil di kursi penumpang itu. Dia percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh lelaki itu.


 Sekarang, Adelia malah memikirkan hal lain. Ini soal perjodohan dan wasiatnya.


 “Daddy beneran tidak mau menikah denganku?” tanya Adelia begitu serius.


 “Tapi kamu kan sudah dijodohkan?” Delano balas bertanya.


 “Orang tadi itu yang dijodohkan denganku dan seperti yang Daddy lihat, dia bukan orang yang baik.” Gadis mungil itu mengedikkan bahunya dengan santai.


 “Tapi bisa saja itu hanya karena dia merasa canggung.” Tanpa bisa disangka, Delano malah membela.


 “Oh, yang benar saja.” Adelia mendesah pelan. “Setelah apa yang terjadi dan kamu masih membelanya?”


 “Siapa tahu saja kan.” Delano mengedikkan bahunya, sembari tetap fokus di jalan raya.


 “Aku tidak tahu apakah Daddy terlalu baik atau hanya pura-pura baik.” Adelia masih tidak bisa mengerti.


 “Saya hanya manusia biasa. Tidak luput dari kesalahan dan hal buruk lainnya,” jawab Delano malah sok bijak.


 Pada akhirnya, Adelia memilih untuk mengalah saja. Dia sedang tidak ingin mendengar ceramah apa pun dan hanya ingin tidur saja. Setidaknya, untuk sekarang ini dia ingin berpikiran tenang.


 ***


 “Loh?” Adelia menatap ponselnya dengan kedua alis terangkat.

__ADS_1


 “Apaan sih?” Galih bertanya dengan penasaran.


 “Aku dapat undangan dari Oma aku,” jawab Adelia terlihat begitu terkesima.


 “Lah, Non Adel ini.” Lelaki gempal rekan Delano itu berdecak kesal. “Kiraiin habis dapat undian atau apa gitu. Tahu-tahu cuma diajak makan malam.”


 “Tapi ini luar biasa banget loh, Om Galih. Soalnya Oma gak pernah ngundang keluarga kami.”


 “Loh, kok bisa?” Lelaki yang dipanggil Om itu tentu saja bingung.


 “Iya, soalnya kan Oma dan keluarga kami tidak akrab.” Perempuan mungil yang tengah duduk di sofa ruang tamu lantai tiga itu meringis.


 Sejujurnya, mulut Galih sudah gatal ingin bertanya lebih detail. Tapi lelaki itu tahu diri kalau bukan kapasitasnya untuk melakukan hal tersebut. Alhasil, dia hanya mengangguk saja.


 “Tapi gimana ya?” Adelia kini terlihat bingung. “Aku disuruh datang sama Papa, tapi aku lagi males.”


 “Jangan begitu, Non. Biar bagaimana, itu bapakmu.” Tanpa bisa diduga, Galih malah memberi nasihat.


 “Mau gimana lagi, Om? Soalnya papa sudah jahat sama aku dan mama,” jawab Adelia dengan jujur.


 Galih benar-benar gemas dengan perempuan di depannya itu. Ingin sekali dia mengunci mulut Adelia, agar tidak bicara terlalu jujur. Biar bagaimana, dia kan hanya orang luar saja.


 “Daddy sudah pulang.” Adelia berjingkrak senang melihat lelaki yang sedari tadi memang dia tunggu. “Bawa makanannya kan?”


 “Iya ini.” Delano memperlihatkan bungkusan yang sebenarnya sejak tadi sudah dia pegang.


 Untuk sesaat, Adelia melupakan persoalan undangan makan malam besok. Dia lebih memilih untuk makan malam terlebih dahulu, sampai tidak sadar kalau ponselnya berdenting sebanyak dua kali.


 [Papa: Besok oma kamu ajak makan malam.]


 [Papa: Nanti papa jemput saja ya.]


 Sayang sekali, yang empunya ponsel tidak membaca pesan itu. Adelia langsung bersih-bersih dan pergi tidur setelah makan, tanpa peduli dengan ponselnya. Baru keesokan paginya baru dia membaca, tapi sang ayah juga tidak membalas.


 “Nyebelin banget sih.” Perempuan bertubuh mungil itu menggerutu. “Padahal dibaca, tapi gak dijawab sama sekali.”


 “Siapa? Daddy-mu?” Marcel yang bertanya.


 “Belum dapat uang bulanan kali, makanya dia ngambek.” Poppy langsung mencibir.

__ADS_1


 “Bukan. Kalau Daddy kemarin sudah kutransferkan duit buat beli makanan. Ini yang kubicarakan adalah papa kandungku yang durhaka.” Adelia tidak segan untuk mengutuk.


 “Hush! Bapak sendiri kok dibilang durhaka?” Si kemayu langsung menampar pelan bibir sahabatnya itu. “Dosa.”


 “Lah, kan dia duluan yang berbuat dosa. Jadi gak masalah dong disebut durhaka.” Sayangnya, Adelia tidak begitu peduli.


 “Emang kenapa kalau papamu gak balas chat?” Poppy yang bertanya.


 Adelia tentu saja dengan cepat menceritakan apa yang terjadi dengan sang oma. Perempuan itu pun tidak lupa meminta pendapat soal dengan siapa dia harus pergi ke rumah omanya sebentar malam. Untuk masalah Pak Aris, Adelia belum ingin cerita dan mungkin tidak perlu juga.


 “Pergi dengan papamu saja. Biar dibilang anak berbakti sama oma. Siapa tahu nanti kamu dapat dukungan,” gumam Poppy merasa yakin sekali dengan omongannya itu.


 “Tapi gimana kalau ternyata papa bawa Bella juga?”


 “Gak mungkin.” Giliran Marcel yang berbicara, sambil melambaikan tangannya. “Papamu kan sudah pernah di-blacklist sama omamu. Mana berani dia malah bawa simpanan yang lagi hamil?”


 “Siapa yang tahu kan?” Adelia mengedikkan bahunya dengan santai. “Kalau seperti itu, lebih baik aku bawa Daddy juga kan?”


 “Jangan gila dong. Dia kan hanya orang luar.” Poppy kembali protes.


 “Tapi dia kan pacarku.” Adelia jelas saja akan membantah. “Oma tidak melarang membawa pacar kok.”


 Kedua sahabat Adelia hanya bisa mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Mereka berusaha untuk memberikan solusi yang terbaik, tapi rupanya Adelia enggan mendengar. Perempuan mungil itu, sepertinya sedang berada dalam masa pemberontakan. Dia bahkan sudah mengirim pesan untuk Delano dan untungnya diiyakan.


 “Terserah saja deh. Yang jelas kami sudah memberi tahu,” ucap Marcel, agak gemas juga dengan sahabatnya yang keras kepala itu.


 Tapi untung saja kali ini Adelia memberontak karena ternyata apa yang dia takutkan menjadi kenyataan. Aditya Lesmana, tanpa terduga membawa Bella datang ke acara sang oma. Bahkan berbalut salah satu gaun kesayangan mama Adelia.


“Kenapa dia bisa ada di sini?” tanya Adelia dengan kening berkerut, tanda tidak suka. “Lalu kenapa dia pakai gaun mama?”


 “Karena kamu mulai memberontak, maka Papa juga tidak akan mau lagi mendengarmu dan akan melakukan sesuka hati Papa.” Tanpa bisa diduga, Aditya mengatakan hal itu pada putrinya.


 “Maksud Papa apa?” tanya Adelia makin bingung saja.


 “ Mulai sekarang, Papa tidak akan membiarkanmu bebas lagi, Adelia.” Aditya mengatakan hal itu dengan raut wajah yang keras.


 


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2