
“Mama bisa bantu aku kan?” tanya Delano dengan mata menyipit.
“Kenapa Mama harus membantumu?” tanya Monic dengan sebelah alis terangkat. “Ini kan masalahmu dan keinginanmu, jadi lakukan sendiri.”
“Tapi aku kan belum terlalu kenal dengan para petinggi kepolisian,” desis Delano terlihat sangat kesal. “Mereka belum tentu mau mendengarkanku, apalagi membantu.”
“Kata siapa?” tanya Monic dengan suara yang lebih tinggi. “Kau hanya perlu mengeluarkan sedikit uang dan menyebut nama perusahaan kita dan mereka pasti akan membantumu. Kenapa hal semudah itu saja kau tidak bisa?”
Delano menghela nafas pelan. Yang dikatakan sang mama memang benar, tapi rasanya dia masih sangat canggung dengan semua ini. Mungkin ini karena Delano sudah terlalu lama tidak mengurusi hal seperti ini, jadi dia merasa canggung.
“Sudahlah, nanti aku minta nomor telepon mereka saja.” Pada akhirnya, Delano mengalah.
“Lagi pula, kau mau apa sih?” Monic yang belum tahu apa-apa, tentu saja akan bertanya.
“Aku mau menangkap Bella.” Delano tidak keberatan untuk jujur. “Dia sudah mendorong papanya Adelia, sampai jatuh dari tangga dan sampai harus operasi.”
“Astaga!” Monic yang sedang bekerja, langsung bangkit dan memukul meja. Anaknya sampai kaget karena itu. “Kenapa kau tidak bilang? Kapan itu terjadi?”
“Kemarin pagi dan aku tidak bilang karena sedang sibuk menemani Adelia,” jawab Delano setelah agak tersadar dari rasa terkejutnya.
“Kalau begitu, kau kerjakan semua ini. Mama mau pergi menjenguk dulu dan jangan lupa beritahu alamat dan kamarnya.”
Delano baru ingin protes, tapi tidak bisa. Sang mama bergerak lebih cepat dari bibirnya, saking terkejutnya dia dengan perintah tiba-tiba itu. Padahal Delano ingin kembali ke rumah sakit, untuk menemani Adelia. Sudah ada Oma Tessa di sana, tapi tetap saja dia merasa tidak tenang.
“Mungkin aku menelepon saja.” Pada akhirnya, Delano hanya bisa mengeluarkan ponselnya saja.
“Halo, Adelia?” Lelaki yang tertinggal seorang diri dalam ruang kerja sang mama, berseru riang ketika teleponnya dijawab dengan cepat.
__ADS_1
“Adelia sedang tidur.” Sayangnya, bukan yang empunya ponsel yang menjawab. “Kau mau apa? Nanti kusampaikan.”
“Oma Tessa ya?” Delano langsung jadi lemas mendengar suara yang dia kenali itu. “Apa Adelia baik-baik saja?”
Walau agak kecewa tidak bisa bicara dengan kekasihnya, Delano tetap bertanya. Biar bagaimana, yang paling penting baginya adalah kesehatan dan kebahagiaan Adelia. Secara mental, maupun secara fisik. Lainnya, dia tidak terlalu peduli.
“Dia baik.” Oma Tessa menjawab, setelah menghela nafas. “Dia tertidur setelah kondisi Aditya dinyatakan stabil. Pendarahannya berhasil ditangani dengan cukup baik dan tinggal menunggu dia sadar.”
“Syukurlah kalau begitu.” Giliran Delano yang menghela nafas lega. “Setidaknya dia masih selamat.”
“Kenapa kata-katamu terdengar agak kasar ya?” tanya Oma Tessa dengan tawa pelan. “Tapi kau benar, setidaknya Aditya selamat dan Adelia tidak perlu jadi yatim piatu. Tapi, bagaimana dengan Bella? Kudengar kau yang mau mengurusnya?”
“Ya, tapi aku belum mulai. Soalnya ada beberapa hal yang harus kuselesaikan dulu di kantor. Tapi tenang saja, aku akan mulai bergerak hari ini juga.”
“Baguslah kalau begitu dan kerja saja sana. Biar kau bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan menemani Adelia di sini. Orang tua ini tidak bisa terus-terusan menginap di rumah sakit.”
“Baik, Oma. Aku akan mengusahakan agar cepat selesai.” Delano tersenyum mendengar hal yang sebenarnya benar itu.
Delano hanya bisa tertawa dan mengiyakan saja. Tentu saja dia tidak begitu sadar dengan perubahan ini, tapi tidak masalah. Biar bagaimana, itu hal bagus dan dia juga akan segera menjadi keluarga dengan Oma Tessa.
“Ayo, Delano. Kerjakan dengan cepat, agar kau bisa kembali pada Adelia dan selesaikan juga masalah Bella dengan cepat. Setelah itu, kami bisa menikah dengan tenang,” gumam lelaki itu dengan senyum cerah.
***
__ADS_1
Bella menggigit kukunya, sembari berjalan mondar-mandir dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar hotel. Perempuan yang tengah hamil itu, tampak begitu cemas dan tidak tampak begitu baik.
Dia terlihat sehat, tapi tampak berantakan. Warna hitam di bawah mata Bella terlihat makin jelas karena tidak tidur selama beberapa hari. Wajah perempuan itu juga jadi lebih kusam dan bajunya juga tampak kusut karena tidak disetrika. Tubuhnya juga tampak kurus. Benar-benar berbeda dengan Bella beberapa hari lalu.
“Kenapa belum ada berita kematian?” gumam perempuan hamil itu dengan gelisah. “Harusnya, dia sudah mati kan?”
Tentu saja yang dimaksud Bella adalah suaminya. Siang dan malam, ibu hamil itu memikirkan soal Aditya yang tidak dia tahu keadaannya dan itu yang membuatnya jadi tampak seperti zombie.
“Jangan terlalu dipikirkan, Bella.” Perempuan itu kembali bicara pada diri sendiri. “Tidak apa-apa membunuh orang lain, selama kau mendapatkan harta.”
Tiba-tiba saja Bella mengangguk dengan senyum yang menyeramkan. “Benar sekali. Kalau Aditya mati, pastinya dia akan memberikan warisan padaku kan?”
“Adelia harusnya tidak perlu mendapat apa-apa lagi karena dia sudah mendapat banyak warisan dari mamanya.” Bella kembali mengangguk yakin. “Harta Aditya, hanya ada untukku dan bayiku saja.”
Senyum Bella jadi menjadi makin mengerikan ketika dia mengelus perutnya yang sudah cukup besar. Dia meyakini semuanya akan baik-baik saja karena dia melakukan semua ini demi kehidupannya dan bayinya yang belum lahir.
“Kau tidak boleh menderita seperti mama, Nak,” gumam Bella sambil mengelus perutnya dengan gerakan memutar. “Setelah ini, kita berdua akan hidup nyaman dan aman. Kau tenang saja di dalam sana dan jangan lupa tumbuh jadi anak baik. Mama akan mengurus semuanya untukmu.”
Entah bagaimana, Bella tiba-tiba menggigit bibirnya. Cukup keras sampai berdarah. Kilasan kejadian beberapa hari lalu yang muncul tiba-tiba, membuat perempuan itu jadi merinding. Dia tiba-tiba saja membayangkan yang tidak-tidak.
“Tidak.” Bella menggeleng cukup keras. “Kurasa Aditya tidak boleh mati. Kalau dia mati, pasti hantunya akan datang mencariku dan mungkin akan mencelakai anak ini. Ini tidak boleh terjadi.”
“Tapi bagaimana dengan harta warisan?” Bella kembali bicara dengan dirinya sendiri, sambi kembali mondar-mandir dalam kamar. “Kalau dia hidup, kami akan cerai dan belum tentu aku bisa dapat apa-apa.”
Bella kini dilanda dilema. Dia bingung apa yang harus dia lakukan kalau ternyata Aditya tidak mati. Dia juga merasa sedikit takut, kalau misalnya sang suami ternya benar-benar meninggal. Dua hal itu yang terus Bella pikirkan beberapa hari ini dan membuatnya gila.
Atau mungkin, Bella sudah benar-benar gila. Perempuan hamil itu, pada akhirnya mengambil keputusan yang membuat semua orang terkejut.
__ADS_1
***To be continued***