Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Ide Bella


__ADS_3

 “Menegangkan,” gumam Delano dalam bisikan pelan.


 “Apanya yang menegangkan?” tanya Adelia yang duduk di sebelah sang daddy.


 “ Tidak ada apa-apa.” Delano dengan cepat menggeleng dan bergegas menyalakan mesin mobil.


 Acara di rumah Oma Tessa telah selesai. Delano yang memang sudah diminta untuk tidak membawa motor, kini duduk cantik di belakang kemudi. Tentu saja akan mengantar Adelia pulang. Lebih tepatnya, mereka yang pulang ke kost.


 “Maaf ya.” Perempuan berambut cokelat yang duduk di kursi penumpang meringis. “Pasti tadi Daddy merasa tidak nyaman.”


 “Tidak masalah. Saya harusnya berterima kasih karena kini malah mendapat kesempatan bekerja.” Delano menjawab, setelah dia menutup jendela mobil, setelah menyapa satpam.


 “Jadi Daddy mau terima tawaran oma?”


 “Sedang dipertimbangkan, tapi kemungkinannya enam puluh persen akan saya terima.” Delano mengangguk dengan cukup yakin.


 “Tapi ada satu hal yang membuat saya heran,” lanjut Delano melirik sekilas ke sebelahnya. “Kenapa tadi kamu tidak mau menginap?”


 Adelia langsung meringis mendengar pertanyaan itu. Memang tadi oma Tessa memintanya menginap saja, tapi langsung ditolak.


 “Walau tadi kami terlihat cukup akrab, sebenarnya keluarga kami dan keluarga besar mama tidak seakrab itu.”


 Tentu saja Delano bingung mendengar itu dan untungnya perempuan di sampingnya tidak keberatan menceritakan. Lagi pula, Adelia cukup senang bercerita dengan lelaki yang menyopirinya itu.


 “Kenapa saya merasa kalau kamu punya banyak masalah?” Sang office boy yang tengah menyetir itu tak segan berkomentar.


 “Aku mau bagaimana lagi?” Adelia mengedikkan bahunya. “Itu juga bukan keinginanku kan? Terutama soal oma Tessa dan keluarga lain.”


 “Tapi saya rasa, kamu tetap harus mencoba untuk kembali menjalin silaturahmi. Biar bagaimana, mereka juga keluargamu.”


 Adelia mendesah mendengar itu. Dia juga ingin akur lagi dengan keluarga dari pihak ibu, tapi rasanya sangat canggung. Tadi saja jantung Adelia terus berdebar kencang.


 “Nanti akan kuusahakan, tapi sekarang boleh aku ganti topik pembicaraan?”


 “Silakan?” Delano menjawab dengan cepat.


 “Pertama, bagaimana kalau Daddy berhenti bicara sesopan itu?” Adelia memulai dengan mengeluh. “Rasanya aku sudah mengatakan hal itu sebelumnya.”


 “Maaf.” Lelaki yang duduk di belakang kemudi, meringis pelan. “Sa .... Aku suka lupa karena sudah terbiasa.”

__ADS_1


 “Maka sekarang Daddy harus terbiasa bicara santai denganku.”


 Tak ada yang bisa dikatakan Delano, selain mengangguk pelan. Walau  dia tidak punya banyak pengalaman pacaran, tapi bicara sopan pada pacar (sekalipun pacar bayaran), tetap saja terasa sangat aneh.


 “Lalu yang kedua.” Kali ini Adelia terlihat bicara dengan hati-hati. “Apa Daddy sudah memikirkan soal menikah kontrak itu?”


 “Sudah.” Delano mengangguk, didahului dengan ******* pelan. “Dan aku tetap merasa itu tidak masuk akal.”


 “Anggap saja Daddy membantuku. Aku mohon.” Perempuan yang duduk di kursi penumpang itu, kini berbalik  dengan tatapan memelas.


 “Masalahnya, ini sesuatu yang serius.” Delano masih saja menghindar, walau bisa melihat wajah memelas itu sekilas.


 “Maksudku, pernikahan itu seharusnya terjadi sekali sumur hidup saja.” Lelaki dengan profesi office boy itu kembali menjelaskan.


 “Lebih tepatnya, aku hanya ingin menikah sekali saja seumur hidupku. Karena bagiku itu pernikahan adalah sesuatu yang serius, bukan dijadikan taruhan atau jaminan dan sejenisnya.”


 “Kalau begitu, kita menikah sungguhan saja.” Adelia tanpa terduga mengatakan hal itu, nyaris tanpa berpikir.


 “Maksudnya?”


 Delano yang sempat terkejut, langsung menoleh dengan cepat. Lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, membuat lelaki itu bisa menatap perempuan di sebelahnya cukup lama.


 


 ***


 


 Kening Aris berkerut melihat rumah di depannya. Dia sudah cukup lama parkir di depan pintu pagar, tapi masih merasa bimbang untuk masuk. Setidaknya, sampai seorang satpam menghampiri.


 “Mas cari siapa ya?” tanya si satpam, setelah Aris membuka kaca jendela.


 “Adelia ada gak, Pak?” Mau tidak mau, Aris bertanya juga.


 “Gak ada, Mas. Non Adel sudah semingguan gak pulang.”


 Aris hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecut mendengar itu. Apa yang bisa dia harapkan terhadap Adelia, ketika perempuan itu malah berpacaran dengan seorang office boy. Tentu saja Delano akan dengan senang hati membawa gadis polos itu kabur kan?


 “Atau Mas-nya mau ketemu sama nyonya saja dulu?” Si satpam kembali bertanya, setelah dia sempat kembali ke pos jaganya sebentar.

__ADS_1


 “Nyonya? Bukannya ibunya Adelia sudah meninggal ya?” tanya Aris terlihat sangat bingung.


 “Maksud saya, nyonya yang baru.” Si satpam meringis ketika mengatakan hal itu.


 “Boleh deh.” Walau masih agak ragu dan bingung, Aris memutuskan untuk menemui si nyonya yang dimaksud ini.


 Aris turun setelah memarkir mobilnya secara asal di teras. Dia toh tidak berniat untuk tinggal lama dan hanya mengucap salam saja.


 “Kamu tadi cari Adelia?” Seorang perempuan dengan dress selutut menyambut lelaki yang hari ini memakai kacamatanya itu.


 “Ya, tapi saya dengar dia tidak di rumah. Walau saya heran kenapa kamu mengajak saya masuk, tapi setidaknya saya harus masuk demi sopan santun kan?” Aris tidak merasa perlu berbasa-basi.


 “Saya suka orang yang terus terang seperti kamu. Omong-omong, nama saya Bella. Ibu tirinya Adelia.”


 Aris tidak langsung menerima uluran tangan di depannya karena merasa cukup terkejut. Tadinya dia pikir perempuan di depannya itu sepupu Adelia atau mungkin saudara tirinya, tapi malah ibu tiri? Ini agak mengejutkan.


 “Mungkin terlihat mengejutkan, tapi itulah kenyataannya,” lanjut Bella ketika dia tidak mendapat respon. “Lalu kamu sendiri siapa?”


 “Aris.” Akhirnya, lelaki berkacamata itu mengulurkan tangan juga. “Saya tidak tahu apakah kamu tahu ini atau tidak, tapi saya yang dijodohkan dengan Adelia.”


 “Oh, itu kamu rupanya.” Bella terlihat begitu senang. “Selama ini saya sudah penasaran dan sekarang kamu muncul di depan saya.”


 Kening Aris berkerut melihat keceriaan di wajah perempuan di depannya. Rasanya ada yang aneh dengan senyum Bella. Tapi ketika melihat tonjolan kecil di balik dress sempit yang Bella pakai, dia mulai berpikir positif.


 “Omong-omong, saya ini benar-benar keterlaluan ya.” Bella tertawa dengan tangan menutupi bibirnya. “Masa tamu dibiarkan berdiri di luar. Masuk dulu yuk.”


 “Maaf, mungkin lain waktu saja.” Si dosen dengan cepat menolak. “Saya masih ada keperluan lain.”


 “Oh, ayolah.” Tanpa bisa diduga, Bella menarik tangan sang tamu. “Masuk saja dulu.”


 Aris tidak bisa melakukan apa-apa, ketika dirinya ditarik begitu saja. Inginnya sih menepis tangan yang memegangnya, tapi dia takut kalau terjadi kesalahan dan perempuan hamil itu malah terluka.


 “Karena sepertinya kamu tidak suka basa-basi.” Bella langsung berbicara ketika mereka sudah duduk di ruang tamu. “Saya akan langsung saja ya.”


 “Saya sebenarnya ingin mengatakan dan mengajukan permintaan yang berkaitan dengan Adelia,” lanjut Bella dengan senyum yang sangat lebar.


 


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2