Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Ingin Berkunjung


__ADS_3

 “LEPAS.”


 Adelia dan Delano masih bisa mendengar suara teriakan itu dari dalam ruangan kamar rawat inap. Padahal Bella baru saja melahirkan dan jelas saja ada jarum dan benang jahit ikut berkontribusi, tapi perempuan itu masih bisa mengamuk.


 “BIAR AKU LENYAPKAN SAJA ANAK SIALAN ITU.”


 Kening Adelia berkerut mendengar teriakan itu. Mana ada ibu yang mau melenyapkan anaknya setelah dilahirkan, apalagi sejak awal Bella tampak menerima saja kehadiran bayinya. Tidakkah itu kejam karena Bella tiba-tiba berubah pikiran?


 “Bagaimana bisa?” Delano yang bertanya pada calon ayah mertuanya.


 “Dia melahirkan normal.” Aditya mulai menjelaskan. “Semuanya baik-baik saja. Tapi ketika bayinya diletakkan di dada untuk proses inisiasi menyusu dini, Bella tiba-tiba saja mendorong bayinya. Cukup keras, tapi untung para perawat cukup sigap.”


 Adelia yang menjadi orang pertama yang merasa lega. Dia bersyukur adiknya masih hidup, walau mungkin terluka sedikit. Biar bagaimana, bayi itu tubuhnya masih sangat sensitif. Kemungkinan terluka sangatlah besar.


 “Jadi bagaimana? Papa langsung ambil dia kan?” tanya Adelia dengan tatapan yang lebih serius.


 “Tentu saja. Bagaimana mungkin aku membiarkan anakku diasuh ibu seperti itu?” Aditya menyahut dalam nada tanya.


 “Maaf kalau menyinggung ya, Pa.” Delano yang baru terpikir sesuatu, memberanikan diri untuk bertanya. “Apa Papa tidak meragukan bayi ini? Maaf, tapi bisa saja ini bukan adiknya Adelia.”


 Aditya terlihat tertegun. Dia sama sekali tidak terpikir hal seperti itu dan baru terpikir ketika calon menantunya memberi tahu. Alih-alih marah, Aditya merasa kalau itu adalah hal yang masuk akal juga.


 “Papa rasa tidak masalah.” Setelah merenung cukup lama, Aditya akhirnya menjawab. “Mau itu anakku atau bukan, bukankah kasihan kalau pada akhirnya anak itu jadi tidak punya orang tua?”


 Delano dan Adelia terhenyak mendengar hal itu. Yang dikatakan Aditya benar-benar membuat keduanya banyak berpikir. Memang sangat kasihan kalau pada akhirnya anak itu harus jadi yatim piatu karena ibunya punya pikiran tidak sehat.


 “Papa akan merawatnya.”


 


 ***

__ADS_1


 


 Tanpa diduga, waktu berjalan cukup cepat. Bayi yang dulunya dilahirkan dengan penuh drama, kini sudah berumur tiga bulan. Itu berarti makin dekat pula Adelia dengan tanggal pernikahannya dengan Delano. Kurang dari setengah tahun lagi dan itu membuat calon pengantinnya sakit kepala.


 “Main ke tempat Adimas yuk.” Adelia yang baru menghempaskan diri ke kursi penumpang mobil sang tunangan, langsung memberi ide. Dia baru pulang kuliah sore dan minta dijemput karena lelah.


 “Kenapa?” tanya Delano yang terdengar mengejek, bahkan lelaki itu tersenyum miring. “Suntuk karena harus ngurus kuliah dan nikahan?”


 “Kalau udah tahu, ngapain tanya?” Adelia mendengus kesal.


 “Makanya aku bilang nanti Mama saja yang urus.” Bukannya menghibur, Delano malah makin mengejek.


 “Tapi aku kan gak enak kalau semuanya Mama yang ngurus. Apalagi Papa juga gak bisa bantu karena ada Adimas, bahkan perusahaan Papa juga kamu yang pegang.”


 Yang dikatakan Adelia adalah kenyataab. Walau sudah ada pengasuh, tapi Aditya  ikut mengurus putranya dari Bella. Anak yang kian lama kian mirip Aditya itu, sungguh aktif walau masih bayi dan membuat ayahnya kewalahan sendiri.


 Alhasil, Aditya hanya bisa fokus mengurus anak. Selebihnya dia minta tolong pada calon mantu. Lebih tepatnya, Delano yang berinisiatif sendiri. Tentu saja dengan tujuan mulia agar calon mertuanya tidak perlu keluar uang lebih untuk membayar orang lain. Delano bahkan melakukannya secara cuma-Cuma, walau dia sebenarnya sibuk.


 “Hei, adikku yang ganteng.” Adelia menempelkan pipinya pada pipi gembil sang adik.


 “Pa, aku kan belum nikah dan cuma nginap di rumah Oma Tessa.” Adelia memutar matanya karena gemas. “Baru juga dua minggu, tapi Papa sudah seperti akunya udah nikah dan tinggal bareng Daddy Delano saja.”


 “Kalau sudah nikah, kita tinggal di sini juga gak masalah.” Tiba-tiba saja Delano memberi ide. “Atau Papa bisa tinggal bareng kami.”


 Jujur saja, pernyataan itu membuat Adelia terharu. Sang tunangan tidak membiarkan dirinya melupakan sang papa yang pernah jahat, tapi malah merangkul Aditya untuk hidup bersama. Padahal ada Adimas yang mungkin akan merepotkan. Ingin sekali Adelia mengiyakan, sayangnya sang papa tidak sependapat.


 “Terima kasih ajakannya, tapi tidak.” Lelaki paruh baya itu menjawab dengan tegas. “Sudah sewajarnya Adelia tinggal denganmu dan Papa tidak mau membebani. Papa mau menemani Dimas saja.”


 “Sebenarnya itu tidak membebani kok. Tapi kalau papanya gak mau, Aku juga gak akan memaksa,” jawab Delano terdengar begitu bijak.


 “Aduh! Aku kok baper ya?” Tiba-tiba saja Adelia nimbrung. “Jadi pengen nangis.”

__ADS_1


 “Tidak usah manja gitu.” Aditya dengan cepat menegur. “Suatu hari kau bakal jadi ibu. Jangan terlalu manja, kalau tidak nanti bakal repot ngurus anak. Dikit-dikit nanti ngeluh.”


 “Makanya aku sering bantuin ngurus Dimas.” Tentu saja Adelia akan mengelak dengan mudahnya. “Hitung-hitung buat latihan kalau punya anak nanti. Yah, walau gak tahu kapan.”


 “Jangan nunda punya momongan.” Sang papa kembali memberi nasihat. “Kau memang masih muda, tapi Delano tidak. Kasihan dia nanti kalau lama baru punya anak. Jangan seperti Papa. Sudah jompo, tapi masih harus gendong bayi. Pegal.”


 Semua orang tergelak mendengar kenyataan bernada canda itu. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dipikirkan Delano, tapi rupanya dipikirkan oleh semua orang. Termasuk juga Adelia yang sebenarnya sudah sekian kali memikirkan ini.


 Adelia memang pernah bilang ingin menunda punya anak. Tapi setelah melihat Adimas, dia tidak ingin melakukannya lagi. Adelia jadi punya ingin bayi berpipi seperti bakpau dan berwajah lucu, juga mirip Delano. Rasanya pasti sangat menggemaskan.


 “Gimana rasanya jadi seorang ibu ya?” Tiba-tiba saja Adelia menanyakan itu, ketika mereka sudah dalam perjalanan ke rumah Oma Tessa. Adelia masih menginap di sana karena Om Bayu yang biasa menemani, sedang ada urusan di luar kota sampai besok.


 “Bagaimana rasanya mengurus adikmu?” Alih-alih menjawab, Delano malah balik bertanya.


 “Walau dia rewel dan pup-nya bau, tapi rasanya menyenangkan,” jawab Adelia dengan sangat serius, tapi kalimatnya terdengar seperti candaan.


 “Oh, ya?” tanya Delano dengan senyum lebar. “Jadi sekarang gak mau nunda punya anak nih?”


 “Gak mau. Kalau bisa, dipercepat aja deh.”


 “Hei, jangan mancing dong,” balas Delano dalam suara menggeram.


 “Maksudku bukan buat mancing, Dad.” Adelia jadi ikut menggeram karena tahu apa yang dimaksud sang tunangan. “Maksudnya itu setelah sah digas aja.”


 “Noted.” Delano tanpa sungkan mengangguk.


 “Padahal bayi begitu lucu, tapi kenapa masih ada ibu yang jahat ya?”


 Kali ini Delano mendengus pelan. Dia tahu siapa yang tunangannya itu maksud. Sudah pasti itu adalah Bella yang kini sudah dirawat di rumah sakit jiwa.


 “Aku jadi penasaran deh,” lanjut Adelia kini terlihat makin serius. “Apa kita berkunjung ke sana saja ya?”

__ADS_1


 


***To be continued***


__ADS_2