Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Kutukan


__ADS_3

 “Kau yakin mau melakukan ini?” tanya Delano untuk yang kesekian kalinya.  


 “Amat sangat yakin, Dad.” Adelia menjawab tanpa ada keraguan. “Dan aku bakal baik-baik saja.”


 “Aku akan menemanimu,” putus Delano dengan tegas dan enggan dibantah sedikit pun.


 Tentu saja Adelia akan menurut karena memang itu yang paling aman. Banyak perawat di rumah sakit jiwa itu, tapi akan lebih aman membawa Delano. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi.


 Coba lihatlah berapa banyak orang yang berjalan dengan tatapan hampa. Pun dengan suara tawa tak jelas dan amukan yang mengerikan.


 “Ibu Bella dirawat di sebelah sini.” Seorang perawat menuntun mereka untuk berbelok.


 Tempat yang mereka kunjungi terasa sedikit lebih sepi. Bukan karena tidak ada pasien, tapi karena kebanyakan dari mereka terlihat tenang dan hanya menatap hampa. Bahkan ada yang terlihat cukup normal.


 “Memangnya Bella sudah ada kemajuan ya?” Adelia bertanya dalam bisikan. “Kok ditempatkan di bagian yang setenang ini? Kupikir dia akan ditempatkan di sel.”


 “Kejiwaan Bu Bella memang terganggu, tapi saat ini dia cenderung stabil. Jadi di sinilah dia dirawat.” Perawat yang menjawab dengan senyum ramah, bahkan ketika sang pasien jauh lebih muda.


 “Oh, begitu ya.” Adelia meringis karena merasa malu.


 “Silakan. Dia ada di sini.” Sang perawat membuka kamar yang hanya berisi satu orang saja.


 “Ini ruang VIP ya?” tanya Adelia lebih leluasa karena rupanya ruangan itu kosong dan perawatnya berjaga di luar.


 “Tentu saja VIP. Dia punya perawat sendiri seharusnya, tapi di mana mereka?” Delano melirik kiri dan kanan untuk mencari.


 “Loh, ada tamu ya?” Seorang perawat keluar dari ruangan kecil yang sepertinya adalah kamar mandi.


 “Pak Delano kan?” tanya si perawat, sebelum menoleh ke dalam. “Mbak, ini ada tamu loh.”


 “Hah? Tamu dari mana lagi?” Suara melengking itu membuat telinga semua orang pengar. “Aku kan baru mau perawatan.”


 Sebelah alis Adelia dan Delano terangkat bersamaan. Rasanya aneh mendengar ada pasien rumah sakit jiwa yang mau perawatan kecantikan? Memangnya ada?


 Inginnya sih bertanya, tapi yang empunya kamar sudah keluar dari kamar mandi. Bella dengan santainya hanya menggunakan bathrobe dengan handuk bergelung di atas kepala.


 “Ini siapa sih?” tanya Bella seolah dia tidak mengenali kedua tamunya.

__ADS_1


 “Kau tidak mengenaliku?” tanya Adelia tentu saja bingung.


 “Kau terlihat mirip perempuan sialan yang aku benci, tapi jelas bukan dia.”


 Bella menatap sang tamu, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seolah tengah menguliti perempuan mungil yang berada di depannya, tapi masih tidak mengenalinya.


“Dia kenapa?” Pada akhirnya, Adelia tidak tahan untuk tidak bertanya pada perawat.


 “Depresi berat yang berujung pada skizofrenia,” jawab si perawat dengan tenang. “Dia berhalusinasi tentang dirinya yang menjadi kaya setelah memperdaya seseorang.”


 “Hei, itu bukan halusinasi.” Bella langsung menghardik. “Aku beneran menikah dengan konglomerat.”


 “Tentu saja.” Si perawat menjawab dengan senyuman ramah, seolah sudah biasa menangani hal seperti ini.


 Adelia yang tadinya datang dengan niat konfrontasi, kini jadi ragu dengan keputusannya. Dia tidak yakin bisa bicara baik-baik dengan Bella yang kepalanya sudah tidak begitu baik lagi.


 Tapi dia sudah terlanjur datang, masa iya harus pulang lagi? Rasanya sangat sia-sia kalau seperti itu. Alhasil, perempuan mungil itu memilih untuk duduk di sofa.


 “Bagaimana kalau kita ngobrol dulu?” tanya Adelia berusaha untuk tenang.


 “Mau ngobrol apa sih?” tanya Bella terlihat agak kesal, tapi pada akhirnya ikut di satu-satunya sofa. “Jangan terlalu lama ya.”


 “Ya. Namanya Adelia.” Bella tidak segan bercerita. “Padahal dia tidak luar biasa, tapi dia malah mendapatkan semua yang aku inginkan.”


 Tidak ada yang terkejut ketika mendengar nama Adelia disebut, walau si pasien tidak menyadari kehadiran perempuan yang dia sebut namanya. Mereka sudah mengeti kalau Bella mulai kehilangan ingatan dan hanya ingin hidup di dalam dunia khayalannya saja.


 “Oh, ya?” Adelia pura-pura terkejut. “Memangnya apa yang kau inginkan?”


 “Banyak,” desis Bella tanpa sadar membicarakan semuanya.


 “Padahal dia gak pintar, gak cantik. Tapi herannya semua orang di sekolah menempel sama dia.” Bella melanjutkan dengan apa yang membuatnya kesal.


 “Keluargaku problematik semua, tapi keluarganya malah harmonis. Itu yang bikin aku mau rebut ayahnya. Sialnya, dia malah mendapat lelaki luar biasa.”


 Alis Delano terangkat mendengar hal itu. Bukannya ingin sombong, tapi dia yakin yang dibicarakan Bella adalah dirinya.


 “Lalu?” Berbeda dengan sang tunangan yang agak kaget, Adelia malah sangat serius.

__ADS_1


 “Aku sudah berhasil merayunya,” jawab Bella yang tiba-tiba saja tersenyum. “Yah, belum benar-benar tergoda sih. Tapi setelah ini aku pasti berhasil mengambil lelaki itu dari Adelia.”


 “Tinggal selangkah lagi. Makanya hari ini aku harus scrub, biar kinclong. Biar dia tertarik sama bodi seksiku,” lanjut Bella begitu berbinar.


 Adelia mengangkat satu alis dan melirik pada sang tunangan. Walau tahu Delano itu setia, tapi dia hanya ingin memastikan saja. Embusan nafas lega Adelia, langsung terdengar ketika sang tunangan menggeleng dengan wajah panik.


 “Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi lelaki itu tidak akan tertarik padamu.” Pada akhirnya, Adelia memberanikan diri untuk mengatakannya.


 Walau terindikasi gangguan jiwa, tapi Adelia ingin Bella mendengar yang sebenarnya. Dia tidak ingin perempuan itu terus hidup dalam delusi yang tidak masuk akal. Rasanya jauh lebih baik kalau Bella dipenjara saja dalam keadaan sehat.


 “Apa maksud kalimatmu itu?” Sesuai dugaan, Bella langsung berdiri dan mendelik. Si perawat bahkan sudah siap sedia di belakangnya.


 “Aku bilang, lelaki yang ingin kau goda itu sudah memilih Adelia. Mereka bahkan akan menikah sebentar lagi.”


 “Jangan sembarangan ngomong ya kamu.” Bella dengan refleks menunjuk-nunjuk wajah Adelia.Perempuan sialan itu tidak akan menikah dengan siapa pun.”


 Bella yang mulai mengamuk, segera ditahan. Delano pun segera merangkul dan meminta sang tunangan untuk menjauh saja. Adelia menurut, tapi itu tidak membuat sumpah serapah Bella terhenti.


 “Dengar ya. Aku akan menyumpahi dia tidak bisa menikah dan punya anak.” Suara Bella begitu menggelegar, bahkan sampai di luar ruangan pun Adelia masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


 Kutukan Bella, seolah titah dari Tuhan yang membuat Adelia sakit kepala. Kalimat itu tidak bisa keluar dari kepalanya, seberapa pun kerasnya Adelia mencoba untuk melupakan. Kalimat itu terlalu menyakitkan untuknya yang akan segera menikah.


 “Tidak perlu dipikirkan.” Tahu sang tunangan sedang bersusah hati, Delano dengan cepat menenangkan. Bahkan ketika mereka belum benar-benar keluar dari area parkir rumah sakit.


 “Aku habis kena kutukan loh,” gumam Adelia dengan tawa miris nan kecut.


 “Bukankah semua putri dalam dongeng juga terkena kutukan?” tanya Delano tidak sedang bercanda. “Dan mereka semua bebas dari kutukan itu dengan true love kiss.”


 “Elsa dan Anna tidak berciuman,” sanggah Adelia dengan cepat. “Mereka saling berkorban.”


 “Tapi intinya kan tetap true love, jadi kau tidak perlu cemas. Ada aku di sini.”


 Adelia tersenyum masam mendengar kalimat menghibur yang seharusnya lucu itu. Dia benar-benar berharap, apa yang dikatakan Delano benar adanya. Segala kutukan bisa dipatahkan dengan cinta sejati.


 


***To be continued***

__ADS_1


 


__ADS_2