
“Jadi, kenapa kau mengumpulkan semua orang?” Natasya menanyakan hal itu, sembari menatap penasaran Adelia yang sejak tadi terus menunduk.
Adelia tidak bisa menegakkan kepalanya. Dia terus menunduk, tidak berani menatap orang-orang yang hadir di perjamuan ini. Ada Oma Tessa dan juga ayahnya di ruang VIP sebuah restoran mahal itu, tapi tetap saja Adelia merasa tertekan dengan kehadiran Natasya dan keluarganya.
“Saya hanya ingin menegaskan beberapa hal yang berkaitan dengan gosip yang belakangan ini beredar.” Delano menjawab, sembari menggenggam tangan Adelia yang terkepal di bawah meja.
Jujur saja, itu membuat Adelia sedikit terkejut. Padahal dia berpikir kalau Delano akan mempermalukan dirinya dengan membatalkan lamaran dan memilih kembali pada Natasya, tapi lelaki itu malah menggenggam tangannya.
“Jadi kenapa dengan gosip yang beredar itu? Apa sekarang kau ingin menyombong?” Kini giliran Aditya yang berbicara dengan nada kesal. Dia merasa kalah.
“Bukan menyombong, tapi mempertegas,” jawab Delano dengan nada tegas.
“Pertama-tama, izinkan saya untuk memaparkan beberapa hal yang tim saya temukan dalam beberapa minggu belakangan.” Delano memulai penjelasannya yang akan sangat panjang itu.
“Semua dimulai dari seseorang yang menyebar identitas asliku.” Lelaki yang sebenarnya adalah orang kaya itu, kini melirik sang mantan. “Di zaman teknologi canggih seperti ini, tentu mudah melacak IP orang yang pertama kali menyebar. Terutama dengan bantuan polisi.”
Delano menyipitkan mata, ketika melihat sang mantan terlonjak pelan. Rupanya, apa yang dia duga selama ini benar. Bahkan sebelum Delano bekerja sama dengan polisi, dia sudah bisa menebak.
“Jadi Natasya, kenapa kau menyebar berita itu?” tanya Delano enggan basa-basi dan enggan sopan pada sang mantan.
“Apa maksudnya? Aku tidak tahu?” Tentu saja orang yang dituduh akan mengelak.
“Seperti yang kukatakan.” Delano menghela nafas lelah. “Teknologi sekarang canggih. Walau butuh waktu beberapa hari, tapi aku bisa menemukan kalau kau yang pertama kali menyebar berita itu. Jangan menyangkal lagi.”
“Aku ... aku ....” Perempuan yang ditanya langsung tergagap karena semua orang menatap ke arahnya. Termasuk Adelia.
“Astaga!” Monic mengeluh karena rupanya mantan calon mantunya penakut. “Benar-benar pengecut ya. Atau kau berpikir Delano tidak mungkin menyelidikimu? Sadarlah Nona. Kau bukan siapa-siapa.”
__ADS_1
“Bagaimana mungkin aku bukan siapa-siapa?” Tiba-tiba saja Natasya mengamuk. “Aku ini perempuan yang dicintai Delano. Dia berjanji untuk menikahiku.”
“Berhentilah berdelusi.” Sebelum sang mantan bisa melanjutkan kalimatnya, Delano dengan cepat memotong. “Kau bukan lagi siapa-siapa bagiku dan jelas janji itu akan otomatis batal, terutama setelah kau yang pergi. Lalu perlu kuingatkan lagi, aku sudah punya tunangan.”
“Bagaimana mungkin kau bertunangan dengan anak kecil?” tanya Natasya yang berdiri, sabil memukul meja. “Lagi pula, aku hanya melakukan satu kesalahan kecil.”
“Kesalahan kecil?” tanya Delano dengan kening berkerut tidak senang. “Aku juga melakukan kesalahan yang sama saat ini dengan berbohong, tapi aku tidak pengecut sepertimu yang terus menghindar. Aku mengakui kesalahanku.”
“Cukup.” Kali ini Oma Tessa yang menginterupsi Natasya. “Aku datang bukan untuk mendengar kisah cinta orang lain yang gagal. Jadi bisa aku tahu ada apa kami semua dipanggil di sini?”
“TIDAK SEPERTI ITU.” Sayangnya, Natasya malah berbuat onar. “Aku tidak gagal. Aku dan Delano tetap akan menikah."
“Hei! Apa kau tuli atau gila?” Monic yang memang punya kesabaran setipis tisu, kini menghardik dengan keras. “Delano sudah mengatakan dengan jelas kalau bukan siapa-siapa dan kini putraku sudah punya tunangan yang lain.”
“Sebaiknya kau segera serahkan dia ke polisi atau rumah sakit jiwa.” Kali ini perempuan paruh baya itu berbicara pada putranya. “Aku heran kenapa kau masih mau mengundangnya ke sini.”
“Aku mengundang dia dan keluarganya, untuk memperjelas situasi, Ma.” Delano jelas saja akan mengeluh karena tidak berpikir akan terjadi kekacauan.
Padahal tadi Adelia sudah berpikir yang tidak-tidak, tapi ternyata semua itu salah. Yang terjadi malah sebaliknya, walau tadi sempat Natasya berbuat keonaran. Untung saja orang tua perempuan itu tahu diri dan berusaha keras untuk menyeret putrinya pergi.
“Itu tadi apa?” Giliran Bella yang bertanya dengan nada bingung. “Kami tidak diundang kemari untuk menonton pertunjukan tadi kan?”
“Tidak, tapi karena ada yang ingin kukatakan berhubungan dengan Adelia.” Delano menjawab dengan tegas.
“Aku sudah bilang padamu.” Aditya ikut berbicara. “Itu semua terserah pada Adelia. Dia yang memutuskan bukan aku.”
“Maksudnya Papa apa?” Jelas saja Adelia akan merasa bingung karena dia tidak tahu apa yang dua lelaki itu bicarakan.
__ADS_1
“Aku sudah bicara pada papamu, tentang kita.” Delano yang menjawab perempuan mungil yang duduk di sebelahnya itu. “Aku sudah memutuskan akan terus berjuang untuk mendapatkanmu lagi dan tidak akan pernah menyerah. Lamaran pernikahanku itu bukan main-main.”
Wajah Adelia memerah, ketika mengingat lamaran yang memang tidak main-main itu. Mana ada lamaran pernikahan yang disiarkan secara langsung seperti itu? Bahkan para selebriti saja rasanya kalah.
“Ta ... tapi, bukankah Adelia masih terlalu muda?” Bella yang tidak mau Adelia lebih unggul darinya, tentu berusaha untuk mencegah apa pun yang membuat perempuan itu bahagia.
“lalu? Memangnya kau tidak terlalu muda?” Oma Tessa jelas saja akan mendengus mendengar alasan tidak masuk akal itu. “Aditya bahkan jauh lebih tua dari Delano dan kau bahkan sampai hamil.”
“Maksudku.” Bella jadi kebingungan karena kalimatnya dengan mudah dibalikkan. “Berbeda denganku, Adelia kan masih belum berpikiran dewasa.”
“Mungkin yang benar itu adalah otakmu hanya penuh dengan uang.” Tanpa diduga, Aditya yang mengeluarkan kalimat disertai dengan dengusan.
“Kenapa Daddy malah mengejekku seperti itu?” Bella memekik marah. Dia benar-benar kesal dengan pria paruh baya yang duduk di sebelahnya.
“Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini di depan umum dan ingin menahan diri sampai kau melahirkan, tapi sepertinya tidak bisa lagi.” Lagi dan lagi, Aditya hanya bisa menghela nafas atau mendengus saja.
Adelia, Delano dan Bella menunggu apa yang ingin dikatakan pria paruh baya itu. Jelas sekali kalau Aditya belum selesai bicara dan hanya sedang mengumpulkan tenang untuk itu. Mungkin dia terlalu lelah atau tertekan, tapi seperti yang tadi dia bilang. Tidak bisa lagi ditunda.
“Aku mendengar kalau kau ingin merebut warisan Adelia.” Akhirnya Aditya mengatakan itu juga. “Aku juga mendengar kau tidak suka melihat putriku bahagia dan akan berusaha untuk merebut tunangannya.”
“Bagaimana ....”
“Aku mendengarnya, Bella.” Aditya memotong dengan tatapan tajam.
“Oh, yang benar saja.” Monic langsung mengeluh. “Apa kita akan melihat drama percintaan gagal orang lain lagi?”
__ADS_1
***To be continued***