
“Selamat malam, Oma.” Delano menjabat tangan yang empunya rumah dan para tamu. “Perkenalkan saya Delano.”
Oma Tessa menatap lelaki tiga puluhan tahun di depannya dengan mata memicing. Dia menatap Delano yang terlihat cukup rapi dengan saksama, tapi tidak menemukan cela sama sekali.
“Habis pulang kerja ya?” tanya Oma basa-basi saja. “Kok masih segar banget?”
“Saya hanya sempat pulang ganti baju, Oma.” Delano menjawab dengan senyum lebar.
“Omong-omong, ini saya ada bawa sedikit bingkisan,” lanjut Delano sambil menyodorkan kantongan yang sepertinya berisi kue. “Bukan sesuatu yang spesial, tapi saya harap cukup berkenan.”
“Dari mana kamu tahu kalau Oma suka makan brownies?” Sebelah alis perempuan tua itu terangkat.
“Hanya kebetulan saja, Oma,” ucap Delano malu-malu.
“Nah, gimana Oma?” Adelia dengan cepat merangkul lengan kekasih bayarannya. “Daddy Delano baik banget kan?”
Oma Tessa tidak mengatakan apa-apa dan hanya bisa mengangguk pelan. Sangat pelan sampai tidak terlihat, tapi itu sudah cukup bagi Adelia.
“Baik bagaimana kalau mengajak anak orang tinggal bersama.” Aditya dengan cepat menuduh.
“Cuma datu tempat kost kok, Om. Beda kamar.” Delano tentu saja akan menjelaskan dengan sopan.
“Siapa yang tahu kalau kalian saling mengunjungi di malam hari.” Bella tanpa sungkan ikut menghina.
“Yang jelas aku tidak hamil di luar nikah,” balas Adelia yang tentu saja membuat Bella menggeram marah.
Oma Tessa sebenarnya agak menikmati perdebatan ini. Dia cukup senang melihat cucunya tidak mudah direndahkan seperti itu, sayang sekali tidak mungkin juga mereka terus dibiarkan bertengkar.
“Baiklah.” Oma Tessa menepuk tangan sekali. “Oma yakin semua orang sudah lapar dan Oma juga tidak sabar untuk meniup lilin ulang tahun.”
“Oma ulang tahun?” Bella memekik mendengar itu. “Kok gak bilang sih. Aku kan tidak menyiapkan hadiah.”
“Aku tidak mengundangmu, jadi aku sama sekali tidak membutuhkan hadiahmu.” Tanpa terduga Oma Tessa mengatakan itu. “Sekarang, mari ke ruang makan saja.”
Dengan menahan wajah kesal, Aditya terpaksa menggiring istri barunya itu. Padahal Bella sudah diperingatkan untuk tidak banyak tingkah, tapi sepertinya sulit.
__ADS_1
Lalu kini, semua orang duduk di ruang makan yang punya dua meja makan itu. Cukup untuk menampung dua puluh orang. Adelia, Aditya, Delano dan Bella, duduk bersama dengan Oma Tessa. Om dan tante bersama pasangan juga di meja yang sama.
“Jadi sudah berapa lama pacaran?” Om Bayu yang pertama kali bertanya.
“Tidak lama.” Bella dan Adelia menjawab bersamaan, sampai membuat semua orang menoleh.
“Aku bertanya pada Adel.” Om Bayu mengatakan itu, sembari melirik tidak suka. Membuat Bella jadi tersipu malu.
“Belum terlalu lama.” Akhirnya Adelia menjawab, setelah ikut melirik kesal pada pengacau tadi.
“Belum terlalu lama itu berapa lama?” Giliran Oma Tessa yang ingin tahu.
“Belum sebulan, Oma.” Delano yang menjawab karena pasangannya terlihat sedikit bingung. “Kenalannya tentu sudah lebih lama dari itu.”
“Kamu terlihat lebih tua dari Adelia, apa sudah bekerja?” Sang tante ikut-ikutan bertanya.
Nafas Adelia sempat tertahan mendengar itu. Jujur saja, dia agak takut juga kalau Delano diusir hanya karena pekerjaannya. Berbanding terbalik dengan Bella yang terlihat sangat senang.
“Sudah. Saya sudah kerja.” Delano menjawab dengan sopan dan tidak canggung sama sekali. “Yah, walau mungkin pekerjaannya hanya sesuatu yang remeh.”
Tidak ada yang membalas kalimat Delano, tapi semua orang menatapnya. Bahkan para sepupu yang di meja sebelah pun ikut penasaran. Itu membuat Delano menjelaskan lebih lanjut lagi.
“Oh, apakah cinlok di kantor saat Adelia datang berkunjung?” Seorang sepupu menyeletuk dari meja sebelah.
“Bukan.” Kali ini, Adelia yang menjawab. “Daddy Delano menyelamatkanku saat ke klub malam.”
“Bagaimana itu bisa terjadi?” Oma Tessa bertanya, sembari melirik mantan mantunya. Seolah menuduh Aditya tidak becus menjaga anak gadis.
“Intinya ada orang yang berbuat jahat sama Adel, terus Daddy Delano yang lagi kerja bantuin. Padahal Adel mabuk loh, tapi Daddy langsung pulang setelah bantu pesan kamar.”
“Kau sungguh tidak diapa-apakan?” tanya Oma Tessa dengan mata melotot.
Mendengar hal itu, Delano jadi merasa canggung sendiri. Sesungguhnya dia tidak ingin mengatakan bagian yang kamar, tapi sudah terlanjur juga.
“Apa pun yang mereka katakan, aku sama sekali tidak percaya.” Sebelum ada yang menjawab, Aditya menyela. “Mana ada lelaki suci begitu?”
__ADS_1
“Lagi pula, kalau memang seperti itu, kenapa juga Adelia tidak dipulangkan,” tambah lelaki empat puluhan tahun itu.
“Saya bukan tidak ingin memulangkan, Om. Adelia yang tidak mau,” jawab Delano dengan sopan.
“Kan bisa dipaksa.” Bella yang membalas.
“Saya bukan seseorang yang senang memaksa.” Tanpa diduga, Delano mengatakan hal itu dengan tegas. “Kalau memang Adelia ingin tinggal setelah dinasihati, itu adalah keputusannya.”
“Yang penting saya sudah memberikan masukan. Adelia mau terima atau tidak itu tergantung dia. Walau masih muda, Adelia punya hal untuk menentukan apa yang dia inginkan. Terutama menentukan kebahagiaannya.”
“Jadi kau mengatakan Adelia tidak bahagia tinggal bersama ayahnya?” tanya Aditya mulai kehilangan kontrol.
“Pasti ada alasan yang membuat putri anda tidak betah di rumah.” Hanya itu yang dibalaskan Delano, tapi sudah cukup membuat Aditya dan Bella terlihat kesal.
Jujur saja, yang dikatakan Delano juga tidak salah. Walau mungkin tidak semua orang yang bisa setuju dengan hal itu. Tapi bagi Adelia dan Oma Tessa, itu sangat mengesankan.
“Oma jadi penasaran.” Sebelum perdebatan kembali terjadi, yang empunya acara berbicara. “Delano sekolah sampai mana? Masuk universitaskah?”
“Ya, Oma. Saya lulus kuliah jurusan manajemen.” Delano memberikan jawaban yang tidak diduga semua orang.
“Kalau lulus sarjana, kenapa malah jadi office boy?” Oma tentu saja penasaran.
“Walau terdengar sangat klise dan tidak masuk akal, tapi saya juga ingin merasakan bagaimana susahnya kerja benar-benar dari nol.”
“Saya ingin benar-benar berjuang dari bawah dan pelan-pelan merangkak naik,” lanjut Delano yang membuat semua orang kagum.
Oma Tessa bahkan sudah tersenyum lebar dan sudah memiliki rencana di kepalanya. Lelaki dengan pemikiran seperti Delano adalah langkan dan dia tak ingin menyia-nyiakan orang seperti itu.
“Oma mau menawarkan pekerjaan untukmu.” Pernyataan itu membuat banyak orang kaget. “Tentu saja ada syarat dan ketentuannya, kalau mau kamu bisa meminta Adelia mengantar ke kantor Oma.”
“Akan saya pertimbangkan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan oleh Delano dan itu sudah cukup.
Hanya saja, ada hal yang mengganjal bagi Om Bayu. Lelaki yang sedikit lebih tua dari Aditya itu, sejak tadi tampak menatap Delano dengan saksama. Bahkan sejak sang office boy memperkenalkan diri.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Akhirnya Om Bayu tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
__ADS_1
***To be continued***