
“Apa kalian pikir tidak akan ketahuan karena rumah ini jauh dari kota?” Oma Tessa menanyakan hal itu dengan tatapan penuh amarah. “Apa kalian pikir aku tidak akan berkunjung?”
“Maaf.” Adelia dan Delano mengucapkan itu secara bersamaan.
“Untung saja Oma datang tepat waktu, sebelum setan datang di antara kalian. Yah, walau mungkin sudah datang juga.” Oma Tessa kembali menyindir, sembari menatap dua orang yang sejak tadi berlutut di lantai.
Tadi, dua sejoli itu memang berciuman. Jenis ciuman yang tidak pernah dibayangkan oleh Adelia dan membuatnya mabuk, sampai harus berpegangan erat pada Delano. Saking mabuknya, Adelia bahkan tidak sadar telah diangkat dan didudukkan di atas counter top, dengan kedua kakinya yang melingkar erat di pinggang Delano.
Saat sebentar lagi mereka akan melewati batas di pagi hari yang cerah itulah, Oma Tessa datang. Benar-benar tepat waktu dan tentu saja memalukan. Saking malunya, wajah Adelia masih memerah sampai detik ini.
“Kalau sudah begini, kalian pasti akan menikah kan?” Lagi-lagi, Oma Tessa melempar pertanyaan. Kali ini, dikhususkan untuk Adelia.
“Harus kah?” cicit perempuan muda itu dengan pelan.
“Tentu saja harus.” Oma Tessa jelas saja akan menghardik. “Mana ada yang tahu kapan kalian akhirnya akan melewati batas. Apa kau mau bernasib sama dengan si Bella?”
“Tidak.” Lagi-lagi, Adelia menjawab dengan suara kecil.
“Oma.” Tidak tahan melihat kekasihnya dihardik terus, Delano akhirnya angkat bicara. “Ini semua salahku, jadi marahi saja aku. Lagi pula, aku juga tidak mau memaksa Adelia. Kalau dia tidak mau, aku akan berusaha menjaga jarak.”
“Aku bukannya tidak mau.” Kali ini giliran Adelia yang menghardik. “Hanya saja tidak dalam waktu dekat.”
“Oh, benarkah?” Wajah Delano menjadi cerah seketika. “Soalnya tadi ucapanmu seperti menolak, tapi tidak masalah. Aku masih bisa menunggu lagi.”
“TIDAK BISA.” Suara tegas dan cukup keras dari Oma Tessa, kembali membuat semua orang terlonjak.
“Dengan apa yang kulihat sekarang, Oma tidak mau menunda lebih lama lagi. Kalau bisa, minggu depan menikah saja,” lanjut perempuan tua itu, tanpa mengurangi nada tegasnya.
“Tapi, Oma. Adelia kan masih mau kuliah.” Sang cucu berusaha untuk memohon. “Adelia janji tidak akan ada lagi yang seperti ini.”
“Aku juga berjanji,” lanjut Delano dengan penuh keyakinan. “Kali ini, aku akan menjaga Adelia dengan lebih baik.”
__ADS_1
Oma Tessa tidak langsung menjawab. Dia terlihat menatap dua orang di depannya dengan seksama, mencoba memikirkan apakah ucapan mereka berdua bisa dipegang atau tidak. Agak sulit sih, tapi pada akhirnya Oma Tessa mengangguk.
“Kalau begitu, pernikahan kalian akan dilangsungkan sesuai rencana sebelumnya saja.” Rupanya Oma Tessa masih ingin buru-buru. “Setahun itu sudah cukup lama, Adelia. Jadi Oma tidak akan mau menerima komplain lagi. Kau juga masih bisa kuliah setelahnya.”
“Tentu saja.” Delano dengan cepat mengiyakan. “Adelia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan.”
“Tapi aku tidak bisa masak.” Perempuan mungil yang tengah berlutut itu tampak cemberut. “Aku juga tidak yakin bisa mengurus bayi dalam waktu dua atau tiga tahun ini.”
“Tenang saja.” Delano memamerkan senyumnya. “Semua itu bisa ditunda dan juga aku tidak akan membiarkanmu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ingat, kamu bebas mau melakukan apa pun.”
Adelia tidak banyak bicara lagi setelahnya. Dia hanya bisa memeluk sang kekasih sebagai bentuk rasa terima kasihnya. Delano begitu perhatian dan itu sudah lebih dari cukup untuk meluluhkan Adelia. Pemandangan itu, jelas saja membuat Oma Tessa geleng-geleng kepala.
***
“Tunggu dulu.” Bella memekik tidak percaya. “Apa maksudnya itu?”
“Tidak bisa seperti itu.” Dengan gerakan refleks, Bella memeluk perutnya yang sudah membuncit cukup besar. “Aku tidak mau cerai.”
“Kalau kau tidak mau cerai, harusnya kau bersikap lebih baik pada putriku,” jawab Aditya dengan tatapan tajam.
“Tidak.” Tiba-tiba saja, Aditya menggeleng pelan. “Aku yang salah. Bisa-bisanya aku tergoda dengan perempuan yang sejak awal tidak punya niat baik pada putriku. Harusnya dari awal, aku mendengar Adelia.”
“Tapi ini memang kesalahannya.” Sayang sekali, Bella sama sekali tidak sadar. Atau mungkin, dia memang tidak bisa sadar sama sekali. “Dia merebut segalanya dariku.”
“Apa yang dia rebut darimu?” Aditya kembali menghardik. “Adelia bahkan tidak melakukan apa pun.”
Nafas Bella menjadi berat memikirkan apa yang terjadi dulu. Memikirkan bagaimana semua orang lebih memperhatikan Adelia dibanding dirinya sendiri.
__ADS_1
Padahal, selama ini Bella berjuang keras. Padahal Adelia tidak pernah berusaha sama sekali. Bukankah ini sangat tidak adil? Lalu, Bella pun tak keberatan mengatakan itu.
“Absurd.” Sayang sekali, Aditya tidak bisa menerima alasan itu. Baginya tidak masuk akal.
Oke. Katakan saja Bella sudah berusaha. Tapi kalau dia tetap tidak diperhatikan, itu bukan salah Adelia. Adelia kan tidak melakukan sesuatu untuk mencari perhatian juga. Perhatian itu datang dengan sendirinya. Itu yang ada di pikiran Aditya.
“Bagiku alasanmu tetap tidak masuk akal.” Aditya menggeleng cukup keras. “Menurutku kau saja yang berpikiran terlalu jauh dan jelas kau butuh dokter.”
“AKU TIDAK GILA!” Tiba-tiba saja Bella berteriak.
“Siapa yang bilang kau gila?” tanya Aditya dengan suara lebih keras. “Aku hanya bilang kau perlu dokter, tidak semua orang yang bertemu psikolog itu gila. Kau hanya perlu tempat untuk curhat.”
“Aku tidak perlu hal seperti itu karena aku masih sangat waras.” Sayang sekali, Bella tidak mau tahu.
“Sudahlah.” Aditya menghela nafas lelah. “Rasanya percuma saja menjelaskan padamu. Yang jelas aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan.”
“Kau masih boleh tinggal di sini sampai anak itu lahir. Tapi setelah dia cukup besar, kau harus keluar dari sini. Aku tidak ingin anakku yang masih bayi itu menjadi terlaku dekat denganmu.”
“AKU IBUNYA,” teriak Bella benar-benar tidak terima.
“Kau tidak pantas menjadi seorang ibu kalau kau seperti ini.” Aditya membalas dengan suara yang cukup keras juga. “Sebaiknya kau patuh, agar masalah tidak bertambah runyam. Kau tidak mau hidup menggelandang dalam keadaan hamil kan?”
Mendengar itu, Bella hanya bisa menggeram marah. Dia yang juga mementingkan uang, jelas membuat Bella tak berkutik. Namun, itu jelas membuatnya makin marah.
Saking marahnya, pikiran Bella menjadi kacau. Bukan hanya kacau, tapi benar-benar mengerikan.
“Dasar pengganggu,” gumam Bella, sebelum sang suami turun ke lantai dasar. Tadi, mereka memang bertengkar di ruang keluarga lantai dua.
“Kau barusan bilang sesuatu?” tanya Aditya tanpa menoleh ke belakang.
“Kubilang kau mengganggu rencanaku,” balas Bella yang sudah berjalan mendekat. “Alangkah baiknya kalau kau hilang saja.”
__ADS_1
***To be continued***