
“Itu tadi apa?” gumam Adelia seorang diri, setelah dia berlari kencang dan mengunci diri di dalam kamar.
Ya. Setelah tiba-tiba saja dicium, Adelia refleks berlari ke kamarnya. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa sedikit pun dan langsung berbalik, lalu pergi begitu saja. Adelia terlalu panik.
“Oh, my God.” Adelia menutupi bibirnya yang tadi bersentuhan dengan bibir sang tunangan. “Kami berciuman,” lanjutnya dalam pekikan tertahan, bahkan dia sudah melompat histeris.
“Tenang, Adelia.” Kini perempuan mungil itu mengelus dadanya. “Ini bukan yang pertama kali, walau yang pertama itu tidak terlalu kuingat karena mabuk.”
Mengingat kejadian yang dulu membuat Adelia jadi lebih tenang. Dia berusaha mengingat dengan tepat apa yang dulu terjadi, tapi sayangnya sulit. Alkohol membuatnya kehilangan sebagian ingatan.
“Astaga!” Tiba-tiba saja Adelia terlonjak ketika mendengar derum motor yang terdengar pelan dan membuatnya segera berlari ke jendela.
“Adelia bodoh.” Perempuan mungil itu mengetuk kepalanya cukup keras. “Kenapa kau malah lari meninggalkan Daddy? Nanti dia salah paham.”
“Aduh gimana ini?” Adelia jadi makin panik. “Aku gak tahu harus menjelaskan seperti apa.”
***
“Mas Bos sudah pulang?” Galih menyambut rekan kosnya, bahkan sampai membawakan barang-barang Delano.
“Kok lesu sih?” Lelaki tambun itu kembali bertanya.
“Gak ada apa-apa.” Delano yang jarang ingin dilayani, kali ini memberikan semua barangnya pada lelaki tambun yang selalu mengikutinya sejak lama.
“Aku mau sendirian ya. Jangan ganggu,” gumam lelaki yang masih menggunakan kemeja dan terlihat sangat lelah itu.
Si tambun Galih tertegun melihat lelaki yang dia panggil Mas Bos itu. Seumur-umur, baru kali ini Delano terlihat begitu lesu. Walau lelah, biasanya si Mas Bos akan tetap tersenyum. Sayangnya, kali ini berbeda.
“Dasar bejat.” Delano memukul kepalanya cukup keras, setelah mengunci pintu kamarnya.
“Bagaimana kau bisa tiba-tiba main nyosor saja tanpa minta izin.” Lelaki itu kembali memukul kepalanya. “Adelia itu masih anak-anak.”
Walau mengatakan hal seperti itu, tapi pada kenyataannya Delano kepikiran. Dia tadi memang hanya memagut sekali, tapi Adelia terlihat tidak begitu senang.
“Apa ciumanku sepayah itu?” tanya Delano meragukan dirinya sendiri. “Sudah lama memang, tapi ... masa iya kemampuanku berkurang?”
Delano memang lelaki baik-baik, tapi bukan berarti tidak pernah ciuman. Jarang, tapi dia pernah melakukannya.
__ADS_1
“Tidak.” Delano yang bertanya, dia juga yang menjawab.
“Hanya sekali dan tidak perlu teknik sedikit pun. Hanya beberapa detik, tapi kenapa Adelia terlihat tidak senang? Apa dia tidak suka? Atau mungkin dia merasa dilecehkan?”
Bohong kalau Delano tidak kepikiran. Walau rasanya aneh dan sedikit tidak etis bagi lelaki itu, dia tetap kepikiran sampai tidak bisa tidur. Itu jelas membuatnya makin lesu.
“Ada apa denganmu?” Salah satu rekan kerja Delano bertanya pada keesokan harinya.
“Hanya kurang tidur.” Delano menjawab seadanya karena tidak mungkin mengatakan kebenarannya.
“Paling-paling bertengkar dengan pacarnya.” Kepala divisi menebak dengan sangat benar, sampai membuat Delano yang sedang minum tersedak.
“Bagaimana?” Delano tidak menyelesaikan kalimatnya karena sadar dirinya baru keceplosan.
“Hanya menebak saja sih.” Si kepala divisi mengedikkan bahu dengan santai. “Tapi ternyata benar.”
“Wah, ternyata Delano bisa juga galau karena bertengkar dengan pacarnya ya.” Rekan kerja yang lain jelas saja akan mengejek.
“Bukan bertengkar kok, Ras.” Delano segera mengoreksi. “Cuma salah paham saja.”
“Bedanya apa ya? Rasanya sama aja. Salah paham dan jadi diam-diaman. Itu sama aja dengan bertengkar.” Perempuan yang dipanggil Ras alias Raras kembali mengejek.
“Tanpa diejek pun, pekerjaannya tidak akan beres karena kepikiran pacar.”
“Bu Feli.” Delano menyebut nama atasannya untuk menegur agar tidak terus diganggu. Inginnya sih menggeram kesal, tapi itu tidak sopan.
Alhasil, Delano hanya bisa mendesah lelah saja. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain itu. Ingin menelepon Adelia pun dia tak tahu harus mengatakan apa, tanpa membuatnya terlihat atau terdengar seperti lelaki mesum.
Sayangnya, Delano juga tidak bisa diam saja. Dia tidak tenang ketika Adelia juga tidak memberi kabar atau sejenisnya. Akhirnya, Delano hanya bisa mengirim pesan pada temannya.
[Delano: Bro. Kalau perempuan lari setelah dicium, maksudnya apa sih?]
[Farhan: What the?]
[Farhan: Kau nyium Adelia?]
[Farhan: Wow. Tapi kok rasanya kau jadi kayak pedofil ya.]
[Delano: SIALAN. Aku bertanya bukan untuk diejek.]
[Farhan: OK. Sorry.]
__ADS_1
[Farhan: Menurutku sih alasannya hanya ada dua.]
[Farhan: Kau memang payah atau dia terlalu kaget dengan hal itu. Biar bagaimana, Adelia itu masih sangat muda.]
[Farhan: Mungkin pengalaman pacarannya belum sebanyak diriku.]
[Delano: Jangan samakan Adeliaku dengan dirimu. Tapi terima kasih informasinya.]
Setelah mendapatkan sedikit pencerahan dari sang sahabat, Delano beralih pada ruang chat bersama Adelia. Awalnya dia ingin langsung menelepon saja, tapi tersadar kalau mungkin Adelia belum ingin bicara dengannya. Alhasil, Delano hanya mengirimkan pesan terlebih dulu.
[Daddy Delano: Apa kamu sibuk? Boleh bicara sebentar gak?]
“Loh? Kok belum dibaca sih?” Setelah agak lama menunggu, Delano mengeluh. Dia berpikir sesaat, sebelum akhirnya mengirimkan pesan lanjutan.
[Daddy Delano: Aku tahu kamu mungkin marah dengan kejadian yang kemarin. Maaf karena membuatmu terkejut.]
“Eh, emang harus minta maaf ya?” Lelaki itu agak kebingungan, sebelum menekan tombol kirim. Namun, kebingungan itu hanya sesaat dan dia tetap mengirim pesannya.
“Permintaan maaf itu hanya karena membuatmu terkejut. Aku tidak akan meminta maaf untuk ciumannya karena itu bukan kesalahan.” Delano mengucapkan apa yang dia ketik dalam bisikan yang sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.
Delano mengedipkan matanya beberapa kali, sembari membaca pesan yang barusan dia membaca dua pesan yang baru dia kirim. Rasanya agak aneh, tapi itulah yang memang ingin dia katakan.
“Tunggu dulu.” Kini Delano baru tersadar akan satu hal. “Aku tidak minta maaf untuk ciumannya?” Mata lelaki itu membulat karenanya.
“Aku menginginkan hal itu?” tanya Delano pada dirinya sendiri, dengan suara yang agak besar.
“Kamu kenapa sih, No?” Lelaki yang duduk di samping Delano langsung menegur. “Kalau kangen sama pacarnya, langsung video call saja. Biar bisa cepat baikan.”
“Sorry.” Tentu saja Delano akan meringis pelan, sebelum kembali menatap ponselnya.
Kali ini, lagi-lagi matanya membulat karena terkejut. Pesan yang dikirimkan pada Adelia, kini sudah dibaca dan jujur saja, itu membuat Delano sangat panik. Makin panik lagi ketika melihat balasan yang datang tak lama setelahnya.
[Adelia Lesmana: Tunggu aku. Aku sedang perjalanan ke tempat Daddy dan jangan lari.]
“Delano.” Baru juga yang empunya nama ingin menulis balasan, seseorang memanggil.
“Kenapa banyak sekali perempuan yang mencarimu sih?” tanya orang yang memanggil terlihat agak kesal. “Kali ini ada anak SMP yang datang mencari Daddy Delano,” lanjutnya yang membuat semua orang di dalam ruangan terkejut.
***To be continued***
__ADS_1