
“Harusnya aku tidak usah menghiraukannya.” Delano menghela nafas pelan, ketika sampai di kafe tempat janjian.
“Dasar Delano bodoh.” Lelaki yang baru pulang dari kantor itu, kini dengan terpaksa melangkahkan kaki masuk ke dalam.
[Pacarnya Adelia: Aku sudah sampai di tempat janjian. Kalau bisa, tolong jangan terlalu lama.]
Delano menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Urusan ini benar-benar membuatnya sakit kepala. Dia rasanya sedikit menyesal karena memutuskan untuk membantu Adelia dulu. Padahal, dia bukan orang yang akan sembarangan membantu orang.
“Tapi kalau tidak dibantu juga gimana ya.” Delano bergumam dalam hati. “Rasanya tidak tega juga, apalagi setelah kejadian penculikan kali lalu.”
“Delano?”
Baru juga yang empunya nama ingin melamun, seseorang memanggilnya. Betapa terkejutnya lelaki itu, ketika dia menemukan mantannya berdiri di sana. Itu membuat Delano refleks bangkit dari kursi yang dia duduki.
“Natasya?”
“Hai, apa kabar?” Perempuan itu mengulurkan tangan, tapi segera menariknya.
“Maaf, mungkin tunanganmu akan marah kalau kita berjabat tangan,” lanjut Natasya, seraya melihat ke sekeliling. “Kamu sama dia kan?”
“Tidak.” Delano meringis ketika mengatakan itu. “Hari ini aku ada janji dengan orang lain. Klien.” Dengan terpaksa lelaki itu berbohong.
“Oh, kamu sudah tidak kerja jadi ... office boy?” Natasya bertanya dengan sangat ragu-ragu. Perempuan itu takut kalau dia akan menyinggung Delano.
“Tidak. Aku sudah meninggalkan pekerjaan itu.” Untung saja Delano sama sekali tidak tersinggung. Dia malah memberikan senyuman tipis.
Mereka berdua kemudian terdiam. Baik Delano maupun Natasya, keduanya tampak canggung. Yang paling canggung tentu saja adalah Natasya. Perempuan itu tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi dia bingung harus mulai dari mana.
“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?” Pada akhirnya, justru Delano yang bertanya.
“Kalau boleh, aku ingin berbicara sebentar. Kebetulan kita bertemu di sini.”
Delano tidak mengatakan apa pun, tapi dia mempersilakan perempuan di depannya untuk duduk. Bella juga belum datang, jadi dia merasa tidak masalah untuk berbicara sebentar. Lagi pula, ini hanya kebetulan saja.
“Maaf karena aku dulu salah sangka padamu.” Natasya mulai berbicara, setelah sempat terdiam sesaat. “Aku benar-benar merasa bersalah.”
“Yang lalu biarlah berlalu. Tidak perlu terlalu dipikirkan karena kita berdua pun sudah memiliki kehidupan masing-masing kan?” Alih-alih sedih atau marah, Delano malah terlihat cukup iklhas.
__ADS_1
“Tapi mungkin hanya kamu yang punya masa depan.” Natasya terlihat meringis pelan. “Aku mungkin tidak.”
Delano mengerutkan kening mendengar hal itu. Dia jelas saja bingung dengan perkataan sang mantan.
“Aku baru saja bercerai.” Akhirnya Natasya mengatakannya juga.
“Waktu aku pergi meninggalkanmu, aku sebenarnya menikah. Dijodohkan dan tidak berjalan baik. Belum satu tahun dan kami bercerai,” lanjut perempuan berambut sebahu itu.
“Bagaimana bisa?” Tanpa disadari, Delano menanyakan hal itu.
“Dia selingkuh.” Entah bagaimana, Natasya tidak keberatan untuk curhat. “Aku juga dipukuli, bahkan sampai keguguran.”
Delano terdiam mendengar hal itu. Dia cukup terkejut mendengar berita pernikahan, tapi lebih terkejut mendengar berita setelahnya. Ini adalah sesuatu yang tidak terduga, tapi dia jelas tidak bisa melakukan apa-apa.
“Aku turut berduka.” Hanya itu yang bisa dikatakan Delano. Itu pun terdengar sangat canggung.
“Terima kasih, tapi sebenarnya ... akuingin minta tolong padamu,” balas Natasya terlihat ragu-ragu.
“Apa itu? Kalau bisa, aku akan membantu.” Delano tanpa ragu mengatakan hal itu.
“Sebenarnya ....” Natasya terlihat sangat ragu dengan apa yang akan dia katakan. “Aku berharap kita bisa kembali bersama.”
“Aku tahu ini terdengar sangat kurang ajar karena kamu sudah punya tunangan, tapi ... aku rasa perlu mengatakannya,” lanjut Natasya benar-benar terdengar dan terlihat canggung.
“Maaf.” Kata itu refleks keluar dari mulut Delano. “Permintaanmu itu ... terlalu berat untukku.”
“Tentu saja kamu tidak mungkin mengabulkannya.” Natasya meringis pelan. “Aku hanya ingin mengatakannya saja.”
Delano tidak tahu harus mengatakan apa lagi, jadi dia hanya tersenyum tipis saja. Itu malah membuat suasana makin canggung saja, apalagi mereka berdua tidak bicara selama beberapa menit.
“Walau tidak bisa bersama lagi, kita masih bisa berteman kan?” Natasya yang duluan buka suara.
“Tentu saja.” Delano tidak ragu untuk mengangguk. “Nomorku masih sama, kamu bisa menghubungi kalau memang perlu.”
“Aku masih menyimpan nomormu. Nanti aku akan kirim chat, tapi sekarang mungkin aku harus pergi.” Natasya buru-buru bangkit dari duduknya. “Aku tadi masuk ke sini hanya karena melihatmu.”
Delano kembali meringis pelan, ketika mendengar pernyataan sang mantan. Dia pun membiarkan sang mantan pergi begitu saja, sementara dirinya harus menunggu Bella. Untung saja dia tidak perlu menunggu lama.
__ADS_1
“Bagaimana?” Bella yang baru datang langsung bertanya tanpa basa-basi. “Sudah kamu pikirkan ulang tawaranku?”
“Tentu saja sudah dan kurasa tidak ada yang berubah.” Delano menjawab dengan sangat tegas, tapi tetap sopan. “Saya menolak.”
“Yakin mau menolak uang milyaran?” tanya Bella terlihat agak kesal.
“Saya sama sekali tidak tertarik dengan uang.” Delano masih terlihat tegas.
“Jangan sok tidak butuh.” Kali ini, Bella tidak segan mencibir. “Saya tahu kamu butuh uang, terutama ketika kamu memang bukan orang mampu.”
“Maaf, bukannya mau sombong. Sayangnya, saya tidak sebutuh kamu soal uang.” Kali ini, giliran Delano yang mencibir.
“Apa maksudmu?” Tahu dirinya diejek, Bella mendesis kesal.
“Saya tidak merasa perlu uang, jadi saya tidak menerima tawaran kamu. Sebaliknya, kamu sangat butuh uang, sampai kamu mengemis pada saya untuk menerima tawaran kamu. Kalau begitu, bukankah yang orang miskin?”
Bella menggeram marah. Dia sama sekali tidak terima disebut orang miskin, tapi sama sekali tidak punya balasan untuk membela diri. Setidaknya untuk sesaat.
“Oh, aku tahu.” Bella akhirnya mengangguk dengan senyum kemenangan dan kalimat yang santai. “Kau pasti mau menguasai harta Adelia seorang diri kan?”
“Karena itu kau mau menikahi dia saja dan mungkin membuatnya cacat atau bahkan membunuhnya sekalian. Setelah itu, baru kau menguasai hartanya,” lanjut Bella dengan senyum sinisnya.
“Apa kau gila?” Kali ini Delano tidak segan menghardik, bahkan enggan menggunakan bahasa sopan. “Kurasa kau terlalu banyak nonton film.”
“Siapa yang tahu kan?” Bella hanya mengedikkan bahunya dengan santai.
“Kurasa tidak ada gunanya juga aku datang ke sini.” Pada akhirnya Delano bangkit berdiri. “Sebagai informasi, aku sudah membayar minumanku.”
Setelah mengatakan itu, Delano beranjak begitu saja. Dia meninggalkan minuman yang bahkan belum dia minum setengahnya itu. Dia sama sekali tidak punya niat lagi untuk menghabiskan minuman mahal yang tadi sempat dia beli itu.
“Daddy?” Panggilan tiba-tiba itu, membuat Delano tersentak.
“Adelia? Kenapa ada di sini?” tanya Delano dengan raut wajah terkejut.
“Itu pertanyaanku. Untuk apa Daddy di sini bersama dengan Bella?”
__ADS_1
***To be continued***