Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Masalah Lain


__ADS_3

 “Tumben sekali kau mengajak bertemu duluan.” Farhan menarik kursi yang ada di sebelah temannya.


 “Makin luar biasa lagi karena dia mengajak bertemu di klub malam.” Betsy menambahkan, seraya menarik kursi yang lainnya.


 “Soalnya ini tempat yang cocok untukku saat ini,” gumam Delano terlihat sangat lelah dan frustrasi. “Kebisingan mungkin bisa membuatku sedikit tersadar dari tidur panjang, layaknya putri tidur.”


 “Oh, apa itu berarti kau sudah mau keluar dari persembunyian?” Farhan agak terkejut mendengar itu, sekaligus juga senang.


 Sayang sekali, Delano menggeleng pelan. Dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Kepalanya sedang kacau dan ini semua karena perkataan Adelia tadi siang, ditambah dengan perempuan itu yang tidak membalas pesannya sama sekali. Apalagi Delano di larang datang ke rumah sakit.


 “Jangan bilang kau jadi seperti ini karena tunangan kecilmu itu.” Betsy tiba-tiba saja menebak dengan sangat akurat. “Jangan bilang kalau dia tiba-tiba berubah pikiran?”


 “Entahlah, tapi aku memang sedikit kepikiran karena hal itu.” Tahu tidak ada gunanya menghindar, Delano memilih untuk jujur saja.


 “Ini luar biasa.” Farhan tentu saja akan terkejut. “Ini pertama kalinya seorang Delano galau karena perempuan.”


 “Kali kedua lebih tepatnya.” Betsy segera mengoreksi. “Tapi kali ini sepertinya lebih parah karena dia sampai meminum alkohol.”


 “Jangan sentuh minumanku.” Tanpa diduga, Delano merebut botol minuman yang ada di meja dari tangan sahabat perempuannya. Sesuatu hal lain yang tidak biasa terjadi.


 “Wow. Kali ini kau mungkin sudah benar-benar tergila-gila padanya.” Farhan jelas saja akan berkomentar.


 “Aku tidak gila, aku hanya sedang banyak pikiran saja.” Delano dengan cepat membantah.


 “Kurasa dia sudah mabuk.” Kali ini Betsy yang berbicara, sambil menggeleng. “Untung saja kita datang tepat waktu. Kalau tidak, dia mungkin sudah akan pingsan.”


 “Aku tidak mabuk.” Delano malah marah dan kembali menuang isi botol minumannya ke dalam gelas.


 “Ayo kawan. Kurasa kau sudah harus pulang.” Farhan menepuk punggung sahabatnya dengan pelan.


 “Aku tidak mau pulang. Aku masih harus di sini karena bisa saja Adelia menghubungiku untuk menemaninya di rumah sakit.” Lelaki yang sudah mabuk itu kembali menolak.


 “Karena itu kami ke sini.” Giliran Betsy yang menepuk punggung sahabatnya. “Kau tidak mengangkat telepon dan Adelia meminta kami datang menjemputmu.”


 “Sungguh?” Mendengar nama Adelia disebut, Delano dengan cepat bangkit berdiri.


 

__ADS_1


 ***


 


 Hal pertama yang dirasakan Delano ketika bangun adalah sakit kepala yang amat sangat. Dia tidak begitu ingat apa yang terjadi dan di mana dia sekarang karena sakit kepala itu. Bahkan lelaki yang senantiasa baik itu, kini memaki karenanya.


 “Rupanya alkohol dan perempuan membuatmu benar-benar jadi gila ya.”


 Delano terlonjak mendengar suara yang tidak seharusnya ada di dalam kamarnya. “Mama?” sahut lelaki itu dengan penuh keterkejutan.


 “Oh, akhirnya kau sadar juga?” Monic menarik senyum miring di wajahnya. “Kupikir kau akan terus memaki dalam mimpimu.”


 “Maaf, tapi ... kenapa Mama ada di kamarku?” Tentu saja Delano akan bertanya, walau malu juga karena ketahuan memaki cukup keras.


 “Ah, aku menarik ucapanku lagi.” Kali ini Monic menggeleng. “Kau rupanya belum cukup sadar untuk mengenali tempat ini.”


 Mendengar ucapan sang mama, Delano beralih menatap sekitarnya. Dia pun langsung meringis ketika menyadari di mana dirinya sekarang berada. Rupanya, lelaki itu berada di rumah orang tuanya. Lebih tepatnya, di dalam kamar masa remajanya.


 Kamar itu sama sekali tidak berubah dari dulu. Masih bersih dengan warna dominan putih dan ada sedikit hitam, dengan ranjang besar di tengah ruangan dan nyaris tanpa hiasan apa pun. Terlihat besar dan mewah, sangat berbeda dengan kamar kos yang biasa dia tempati.


 “Kau mabuk dan dua orang temanmu membawamu pulang ke sini. Kau tahu siapa yang mama maksud kan?” tanya Monic kini mendekati sang putra.


 Tentu saja Delano akan mengangguk. Hanya teman-teman dari sekolahnya saja yang tahu di mana rumah orang tuanya berada.


 “Ada apa lagi denganmu dan Adelia? Kalian bertengkar?” tanya Monic setelah membuang nafas dengan agak kasar.


 “Dari mana lagi Mama dengar itu?” Tiba-tiba saja, Delano mengendus tubuhnya sendiri dan mengernyit karena masih tertinggal bau alkohol di tubuhnya.


 “Farhan dan Betsy yang memberi tahu. Mereka mengatakan kalau kau menyebut-nyebut nama Adelia dan rumah sakit,” jawab Monic dengan senang hati. “Omong-omong, siapa yang sakit?”


 “Papanya Adelia dan kami tidak bertengkar.” Tentu saja Delano akan menyanggah hal itu karena baginya memang seperti itu.


 “Lalu kenapa kau terdengar begitu nelangsa ketika Adelia tidak membaca atau membalas teleponmu? Kau bahkan menatap ponsel dengan tatapan nelangsa yang sama.”


 Delano langsung menggeram mendengar penjelasan sang mama. Lelaki itu bahkan bersumpah untuk tidak lagi menyentuh alkohol. Cukup yang kemarin saja dan itu akan jadi yang pertama dan terakhir baginya.


“Kau tidak mau menjelaskan karena ingin menyelesaikan masalah sendiri? Atau kau memang tidak ingin berbagi?” Monic kembali bersuara.

__ADS_1


 “Aku hanya merasa tidak ada masalah.” Akhirnya, Delano memilih untuk jujur saja. Tidak ada gunanya juga disembunyikan.


 “Kalau memang tidak ada masalah, Adelia tidak mungkin akan menjauhimu. Jadi pasti ada sesuatu yang tidak kau sadari, tapi tentu saja Mama tidak akan memaksa kalau kau tidak mau cerita.”


 Delano menghembuskan nafas cukup keras ketika mendengar pernyataan sang mama. Dia juga sebenarnya tahu kalau ada yang salah dengan Adelia, tapi tidak begitu tahu apa yang terjadi. Yang jelas, itu terjadi ketika kemarin mereka berbicara di kantor dan Delano tidak keberatan bercerita, dia memang butuh saran.


 “Apa kau gila?” tanya Monic setelah putranya selesai bercerita. “Setelah semua yang kau rasakan dan kau masih tidak tahu juga?”


 “Masalahnya, aku tidak merasakan apa-apa,” jawab Delano dengan kedikan bahu ringan.


 Dia kini sudah rapi dan sedang duduk untuk sarapan, di meja makan yang juga terlihat mewah. Delano memang mandi dulu, baru memutuskan untuk curhat.


 “Astaga!” Monic memukul keningnya, tidak menyangka kalau sang putra akan menjadi begitu bodoh. “Apa bergaul dengan para office boy membuatmu jadi bodoh atau tidak berperasaan? Atau ini karena kau terlalu lama berhubungan dengan Natasya?”


 “Itu semua tidak ada hubungannya.” Delano jelas saja akan menggeram kesal.


 “Tapi kenapa kau jadi bodoh begitu?” tanya Monic masih tidak habis pikir. “Setelah apa yang terjadi dan kau masih tidak tahu bagaimana perasaanmu?”


 Dengan polosnya Delano menggeleng. Itu jelas saja membuat sang mama makin kesal melihat putranya itu. Entah bagaimana, sang putra sekarang jadi tumpul perasaannya. Monic yakin, ini karena si sialan Natasya.


 “Lalu, bagaimana perasaanmu pada Natasya?” tanya Monic, mencoba membuat putranya sadar. “Apa kau masih menyukainya.”


 “Aku sudah beberapa kali bertemu dengan dia, tapi ... rasanya tidak seperti dulu lagi. Aku kasihan, tapi jelas tidak lagi menyukainya,” jawab Delano setelah berpikir sejenak.


 “Lalu, bagaimana ketika kau saat bersama Adelia? Apakah sama saat dulu kau bersama Natasya?”


 Kali ini, Delano butuh waktu lebih lama untuk berpikir. Dia perlu mengingat apa yang dulu dia rasakan ketika saat bersama dengan Natasya dan ketika dia bersama Adelia. Serupa, tapi jelas tak sama.


 “Dan sekarang kau dalam masalah besar.” Belum juga putranya menjawab, Monic sudah kembali berbicara. “Kau masuk dalam berita.”


 “Maksudnya apa?” Delano jelas saja bingung, sembari menerima tablet pintar milik sang mama. Matanya langsung melebar ketika melihat tulisan besar di layar.


 ‘Putra konglomerat bersembunyi dengan menyamar jadi OB. Apakah strategi baru untuk mencuri data perusahaan lain?’


 


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2