
“Apa yang kau lakukan di sini?” Alih-alih Delano, justru sang mama yang bereaksi.
“Oh, ada Tante Monic juga.” Perempuan yang tadi memanggil, tiba-tiba saja jadi segan.
“Apa kalian saling kenal?” Adelia yang tampak bingung, tentu saja langsung bertanya.
“Dikatakan saling kenal juga tidak, tapi dibilang tidak kenal juga tidak.” Masih Monic yang menjawab dengan nada ketus.
“Ma.” Delano yang merasa tidak nyaman, menarik ujung baju ibunya. “Jangan cari gara-gara di tempat umum.”
“Justru kau yang jangan macam-macam, Delano.” Monic perlu mendesis pelan pada putranya itu.
“Delano tidak akan macam-macam, jadi Mama bisa tenang.” Satu-satunya lelaki di meja itu, ikut mendesis pelan.
“Maaf ya.” Pada akhirnya, Delano menoleh juga pada perempuan yang tadi memanggilnya. “Mama mungkin agak sensitif, apalagi kami ada pertemuan penting.”
“Kalau ini memang kenalan kalian, bisa disuruh ikut gabung mungkin.” Oma Tessa segera menambahkan karena melihat suasana yang sangat canggung.
“Oh, tidak.” Perempuan tadi dengan cepat menggeleng. “Saya juga sudah ada janji dan hanya menyapa saja. Soalnya, sudah lama tidak melihat Delano.”
Yang dibicarakan hanya bisa tersenyum tipis saja. Dia benar-benar terlihat canggung, terutama karena perempuan tinggi dan cantik itu meliriknya bergantian dengan Adelia. Adelia pun sepertinya melakukan hal yang sama pada pacar bayarannya dan juga perempuan asing tadi.
“Kalau mungkin kamu penasaran, ini adalah calon istri Delano.” Monic yang juga memperhatikan gelagat perempuan tadi, pada akhirnya bersuara.
“Oh, begitu ya.” Perempuan tadi hanya bisa mengangguk. “Sepertinya saya mengganggu, silakan lanjutkan lagi. Saya harus ke sana.”
Tidak ada yang berbicara ketika perempuan asing itu pergi ke meja lain. Hanya pandangan mata penasaran semua orang yang mengikuti, terutama Adelia. Dia yang terlihat paling penasaran.
***
“Menurut kalian, kalau lelaki tidak bisa melepas pandangan dari perempuan, itu artinya apa?” Adelia menanyakan hal itu pada kedua sahabatnya, saat menghabiskan waktu di kafe dekat kampus.
“Kenapa? Daddy-mu seperti itu?” Marcel dengan cepat menebak.
“Entahlah aku juga tidak tahu.” Bukannya menjawab, Adela malah mengedikkan bahu.
__ADS_1
“Apa pun masalahmu, tapi kalau dia seperti itu, maka hanya ada dua kemungkinan.” Kali ini, Poppy yang bersuara.
“Apa itu?” Kini Adelia tampak antusias, bahkan sampai mencondongkan tubuhnya ke arah temannya yang tomboy itu.
“Pertama.” Poppy mengeluarkan jari telunjuknya. “Dia jatuh cinta pada perempuan itu. Kedua.” Kali ini Poppy menambahkan jumlah jarinya. “Dia belum move on.”
Adelia tercenung mendengar hal itu. Entah kenapa, perasaannya menjadi tidak enak mendengar itu. Dia tidak bisa membayangkan hal seperti itu terjadi pada Delano yang begitu polos. Bukannya merendahkan, tapi rasanya Delano bukan tipe orang yang akan menjalin hubungan, ketika dia belum selesai dengan masa lalu.
“Tapi untuk sementara, lupakan dulu masalahmu ini.” Tiba-tiba saja Marcel melambaikan tangannya. “Apa kau tahu kalau semenjak kau tiba-tiba cuti kuliah, Pak Aris juga cuti?”
“Itu sama sekali bukan urusanku.” Adelia dengan cepat membantah. “Kenapa juga kau menanyakan itu padaku?”
“Karena ini terlalu kebetulan. Masa kalian berdua tiba-tiba cuti bersamaan. Aku jadi curiga.” Marcel menyipitkan mata, bahkan mengelus dagunya dengan penasaran.
“Aku juga merasa curiga. Bisa saja kalian berdua sebenarnya pacaran diam-diam dan malah menikah diam-diam juga. Kayak yang di film-film gitu loh.” Poppy ikut menambahkan.
Adelia tidak menyahut. Dia tampak berpikir sebentar, apakah harus menceritakan peristiwa beberapa saat lalu pada kedua sahabatnya. Itu adalah sesuatu yang bersifat pribadi, tapi rasanya Adelia juga ingin bercerita.
“Tebakanmu hampir benar.” Pada akhirnya Adelia memilih untuk bercerita.
“Gila. Papamu benar-benar melakukan itu.” Marcel tentu saja akan bereaksi secara berlebihan.
“Ya. Tapi entah kenapa, aku merasa Bella ada di balik semua ini. Dia yang terlihat paling bahagia waktu itu.” Adelia menambahkan dengan nada tegas.
“Tapi untuk apa?” Giliran Poppy yang bertanya. “Memangnya dia bisa dapat apa kalau memaksamu menikah?”
“Untuk yang satu itu, aku juga tidak tahu.” Adelia mengedikkan bahunya dengan santai, seolah yang dia bicarakan saat ini bukanlah apa-apa.
“Jangan-jangan, Pak Aris punya kelainan jiwa lagi. Mungkin dia terobsesi sama kamu.” Marcel dengan kurang ajarnya, menakut-nakuti. “Dia jangan-jangan tidak mau melepasmu, apa pun yang terjadi.”
“Hei, jangan menakuti gitu dong.” Poppy yang protes. “Bulu kudukku jadi berdiri nih.”
“Siapa tahu saja, nanti Pak Aris malah pakai guna-guna loh. Saking terobsesinya dia.” Bukannya diam, Marcel malah makin menakut-nakuti.
Adelia melipat kedua tangan mendengar hal itu. Seandainya benar, kenapa pula Aris terobsesi pada dirinya? Masih banyak perempuan cantik, kaya dan pintar di luar sana. Jadi kenapa harus dia?
__ADS_1
“Zaman sekarang, masih pakai guna-guna ya?” Pertanyaan dari Poppy, membuat Adelia tersentak sadar dari lamunannya.
“Aku dengar sih masih banyak yang pakai gituan. Apa kau tidak dengar gosipnya? Si Devi dari jurusan sebelah yang playgirl itu, katanya pakai susuk loh.” Marcel menambahkan dengan penuh semangat.
“Berhenti menggosipkan orang.” Adelia menyentil kening teman kemayunya itu. “Selama tidak ada bukti, aku tidak akan percaya.”
“Masalahnya, yang seperti itu tidak pernah bisa dibuktikan. Terlalu sulit.” Poppy langsung menggeleng.
“Karena itu aku tidak percaya.” Adelia tersenyum lebar.
“Tapi menurutku kau tetap harus hati-hati.” Marcel kembali memberitahu dengan raut wajah serius dan bukan sedang bermain-main.
“Lelaki pendiam yang terlalu terobsesi, bisa menjadi sesuatu yang berbahaya,” lanjut lelaki kemayu itu.
“Kau terlalu banyak nonton film psikopat.” Poppy tidak ragu memukul kepalan teman kemayunya. “Berhenti membuat Adel takut.”
“Aku tidak membuatnya takut.” Tentu saja Marcel akan menghardik dengan gaya yang lucu. “Aku hanya memperingatkan.”
“Itu jelas-jelas bukan peringatan, tapi menakut-nakuti.” Poppy masih memukuli Marcel yang sibuk menghindar.
Adelia tidak memberi tanggapan apa-apa. Dia hanya menatap dua orang yang tengah bertengkar itu dengan tatapan serius. Adelia rupanya menanggapi dengan serius apa yang dikatakan sahabatnya tadi.
Aris sudah berani bekerja sama dengan Aditya untuk menculiknya. Bukan tidak mungkin dia akan melakukan kejahatan yang lain kan? Jujur, itu membuat Adelia merinding.
“Oh, ini membuatku merinding.” Tiba-tiba saja Marcel bersuara.
“Apa lagi yang membuatmu merinding?” tanya Poppy terlihat begitu kesal. “Tadi kau sendiri yang menakuti Adelia, tapi kau yang takut.”
“Masalahnya itu.” Marcel menunjuk ke suatu arah. “Dia datang.”
Bingung dengan reaksi temannya, dua perempuan tulen itu berbalik ke arah yang ditunjuk oleh Marcel. Di sana, Aris Wisesa yang sepertinya baru datang, tengah menatap Adelia dengan intens.
“Bagaimana dia bisa ada di sini?” Masih Marcel yang berbicara. “Dia terlihat seperti stalker.”
***To be continued***
__ADS_1