
“Bisa kita bicara sebentar?” Aris tanpa basa-basi, langsung menghampiri meja yang ditempati Adelia dan kawan-kawan.
“Bapak sudah bicara.” Adelia menjawab dengan ketus. Kali ini, dia memilih bicara dengan sopan. Biar bagaimana, mereka masih bisa dibilang berada di area kampus.
“Maksud saya, bicara berdua.” Aris dengan cepat mengoreksi. “Saya perlu bicara berdua saja dengan kamu.” Ulang sang dosen, menatap dua orang lain yang ada di meja itu.
Adelia tidak langsung menjawab. Dia terlebih dulu berpikir, sambil melihat kedua temannya yang tampak khawatir. Biar bagaimana, omongan Marcel tadi membuat semua orang cemas.
“Tapi saya tetap ingin di tempat ramai dan bisa diawasi dua teman saya ini.” Adelia pada akhirnya setuju untuk bicara berdua.
“Setidak percayakah itu pada saya?” Aris mengerutkan kening tanda tidak suka.
“Setelah apa yang terjadi, kamu pikir saya masih percaya?” tanya Adelia dengan sebelah alis terangkat. “Kamu dan papaku merencanakan penculikan dan itu tindakan kriminal loh.”
Aris menggeram mendengar itu. Yang dikatakan Adelia benar dan dia jadi tidak punya pilihan lain, selain menuruti permintaan perempuan muda di depannya.
“Jadi apa yang Pak Aris mau bicarakan?” tanya Adelia setelah mereka sudah duduk berdua saja. “Kalau bisa, jangan terlalu lama karena setelah ini saya punya janji.”
“Kamu ingin bertemu dengan office boy itu?” Aris tertawa meringis, ketika mengatakan hal itu. “Apa hebatnya dia dibanding aku.”
“Pertama. Daddy Delano bukan office boy lagi.” Adelia mulai menjelaskan. “Kedua. Dia tidak pernah melakukan tindakan kriminal. Dia juga tidak pernah memaksakan kehendak padaku.”
“Aku minta maaf untuk yang satu itu, tapi bukan berarti pacarmu itu tidak akan melakukan hal yang sama.” Aris mencoba untuk merayu. “Dia itu miskin, diberi sedikit uang saja dia pasti mau disuruh apa saja.”
“Aku juga memberi dia uang,” balas Adelia dengan tenang. “Selama uang yang kuberikan lebih besar, Daddy Delano akan lebih mendengar padaku.”
“Tapi bukan berarti tidak ada tawaran yang lebih tinggi kan?” tanya Aris penuh percaya diri. “Masih banyak orang yang mau membayar mahal, untuk lelaki seperti dia.”
Kening Adelia mengerut mendengar itu. Entah kenapa, kalimat yang dikeluarkan sang dosen terdengar agak aneh di telinganya. Sayang sekali, Adelia tidak bisa menafsirkan dengan benar dan lelaki itu sudah berdiri dari duduknya.
“Aku hanya ingin mengatakan berhati-hati pada dia.” Aris kembali berbicara, sebelum benar-benar pergi. “Ada orang yang akan selalu ingin kau tidak bahagia dan akan menggunakan cara apa pun untuk melakukan itu. Lalu aku, masih akan mencoba untuk mendekatimu.”
“Kalau cara paksa tidak berhasil, aku akan berusaha lebih lembut lagi,” lanjut Aris dengan senyum tipis di wajahnya.
__ADS_1
Mendengar itu, Adelia hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia tidak mungkin melarang Aris punya perasaan padanya dan dia juga tidak bisa menegur lagi. Itu hak Aris dan dia juga cukup bebal.
“Tidak apa-apa, Adelia. Daddy tidak sejahat itu dan Aris juga pasti akan sadar.” Perempuan itu bergumam dalam hati.
***
“Wah, kerjaan kamu rapi ya.” Seseorang memuji.
“Rasanya itu berlebihan. Saya cuma bekerja sesuai arahan saja.” Delano merendah seperti biasanya.
“Tidak. Ini memang rapi dan laporannya juga tidak ada yang salah, paling cuma typo sedikit saja.” Orang lain lagi yang memuji.
Senyum Delano makin lebar mendengar itu, sekaligus wajahnya juga sedikit bersemu merah. Padahal, dia benar-benar mengerjakan sesuai arahan saja.
“Oma ikut senang karena ternyata kamu sepertinya betah dan pekerjaanmu bagus.” Oma Tessa yang menyempatkan diri untuk melihat Delano, ikut memuji.
“Oh, berhentilah merendah.” Oma Tessa langsung melambaikan tangannya. “Aku tahu kamu itu sebenarnya cemerlang, hanya saja berada di tempat yang salah.”
“Terima kasih pujiannya, tapi saya rasa itu tetap berlebihan.” Delano masih rendah diri.
“Biarkan saja dia, Ma. Kurasa anak ini lebih suka disebut tidak becus.” Om Bayu pada akhirnya memilih untuk melucu, walau itu tidak lucu sama sekali.
“Dasar kau ini.” Oma Tessa jelas akan menegur. “Selera humormu sama sekali tidak bagus.”
“Ya sudah.” Kini Oma Tessa beralih pada lelaki muda yang berdiri di depannya. “Kamu pasti masih banyak pekerjaan dan ini juga sudah mendekati jam pulang. Kamu boleh pergi.”
Delano langsung menghela nafas lega ketika mendengar itu. Dia sebenarnya belum punya cukup banyak pekerjaan, tapi jam pulang sudah hampir tiba. Hari ini, dia sudah punya janji dengan Adelia dan perlu pulang tepat waktu.
“Oi, No.” Pak Jamal si pemilik kos, memanggil ketika Delano baru saja sampai di depan pintu kos. “Baru pulang?”
__ADS_1
“Iya, pak. Tapi ini mau pergi lagi.” Walau tahu itu hanya basa-basi, Delano tetap menjawab dengan sopan.
“Tapi itu ada tamu buat kamu.” Pak Jamal mengatakan itu dengan tatapan curiga. “Perempuan. Lagi hamil.”
Tentu saja kening Delano mengerut mendengar itu. Padahal tadi dia pulang ke tempat kos, hanya untuk mengambilkan Adelia barang yang sudah lama tertinggal. Lalu tiba-tiba, ada ibu hamil yang menjadi tamunya.
“Bella?” Delano memanggil dengan ragu-ragu, ketika dia melihat siapa yang menjadi tamunya.
“Senang kamu masih mengingatku. Delano kan?” tanya Bella dengan senyum lebar.
“Mau apa ya ke sini?” Delano balas bertanya. “Adelia sudah tidak tinggal di sini. Dia tinggal di rumah omanya.”
“Saya tahu.” Bella mengangguk pelan. “Karena itu saya datang ke sini untuk bertemu kamu. Saya mau bicara empat mata saja. Ada waktu kan?”
“Maaf, tapi sepertinya tidak bisa.” Delano dengan cepat menolak. Dia bahkan tidak repot-repot duduk di ruang tamu bersama yang ada di lantai satu kosnya itu. “Saya ada janji.”
“Hanya sebentar saja dan ini juga menyangkut dengan Adelia dan kehidupan kalian ke depannya.”
Kening Delano langsung berkerut mendengar penuturan tamunya barusan. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bella itu. Bagaimana bisa perempuan hamil itu bisa menentukan masa depannya.
“Aku ingin mengajukan kesepakatan denganmu,” gumam Bella lebih lirih karena ini memang sesuatu yang bisa dibilang rahasia.
“Apa pun itu, saya rasa saya tidak akan tertarik.” Delano dengan cepat menolak, walau belum mendengar apa pun.
“Walau itu berupa dana milyaran rupiah?” tanya Bella dengan hati-hati.
“Apa maksudmu?” tanya Delano terlihat makin bingung saja.
“Saya menawarkan uang milyaran rupiah untukmu, Delano,” balas Bella dengan senyum penuh kemenangan. Dia merasa kalau lelaki yang jauh lebih tua darinya itu, sudah mulai tergiur.
“Cukup bantu aku sedikit dan kamu bisa mendapatkan sebagian dari harta warisan Adelia,” lanjut ibu hamil itu dengan senyum yang semakin lebar karena Delano terlihat goyah.
__ADS_1
***To be continued***