
“Dia gak balas.” Delano menggumamkan itu pada dirinya sendiri, sembari menatap layar ponsel.
“Kenapa dari tadi liat HP terus?” Salah seorang rekan kerja lelaki Delano bertanya.
“Kalau dilihat dari tampangnya sih, dia lagi nunggu chat.” Rekan kerja perempuan yang menyambung. “Mungkin lagi bertengkar dengan pacar.”
Delano meringis mendengar hal itu. Pernyataan yang tidak salah, tapi dia enggan mengakui. Apalagi Adelia adalah cucu pemilik perusahaan.
“Kalau memang sedang ada masalah sama pacarnya, kamu boleh pulang duluan.” Tanpa bisa diduga, kepala bagian Delano mengatakan hal itu.
“Hah? Yang benar, Bu?” Delano jelas saja akan terkejut.
“Ya. Soalnya sejak ada kamu, kerjaan kita di sini jadi lebih cepat selesai. Lebih rapi juga, jadi kurasa tidak ada masalah.” Kepala bagian keuangan itu tidak segan mengangguk.
“Ah, pilih kasih nih.” Tentu saja itu menimbulkan kericuhan, tapi bukan hal yang serius. Apalagi, Delano tidak benar-benar langsung pulang.
Setidaknya, Delano menunggu sampai jam pulang kerja. Itu juga bertepatan dengan Adelia yang akhirnya menelepon dan memberi kabar untuk dijemput. Itu membuat Delano lega, tapi juga menjadikannya bulan-bulanan di kantor.
“Cie, yang udah gak marahan.” Kalimat itu yang mengiringi kepulangan Delano yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
***
Adelia menghela nafas. Setelah berpikir nyaris dua puluh empat jam, akhirnya perempuan itu memutuskan untuk berbicara berdua saja dengan sang tunangan. Karena itulah dia meminta Delano datang ke kafe yang biasa dia kunjungi.
“Maaf, apa menunggu lama?” Suara bariton yang terdengar itu, membuat Adelia mendongak.
“Tidak,” balas Adelia disertai gelengan dan senyum yang sangat tipis.
“Aku sudah keluar lebih cepat, tapi jalanan macet.” Delano yang baru duduk, menjelaskan dengan lebih detail.
“Ya, tidak masalah.” Adelia masih menjawab seadanya.
“Apa kamu masih marah?” Delano tidak tahan untuk tidak bertanya.
__ADS_1
“Aku datang ke sini untuk mencari tahu,” jawab Adelia dengan kening yang sedikit berkerut.
“Kalau begitu, bertanyalah. Aku akan menjawab apa pun itu dengan jujur.” Entah kenapa, Delano merasa sedikit cemas.
“Bisakah kau menjelaskan apa ini?” Tanpa basa-basi, Adelia langsung menunjukkan foto yang dia dapatkan dari Bella.
“Oh, itu aku sedang berbicara dengan Natasya.” Delano menjawab dengan santainya. “Kami kebetulan bertemu waktu itu dan dia mengajak bicara.”
“Hanya itu saja?” Adelia agak bingung dengan jawaban yang santai itu. Padahal tadi dia pikir Delano akan membantah atau mengelak.
“Sebenarnya hal yang dibicarakan agak ....” Delano menggantung kalimatnya karena tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal itu.
“Kemarin itu sebenarnya aku janjian dengan Bella. Bukan pembicaraan yang menyenangkan dan sebelum itu aku kebetulan dengan Natasya. Dia mengatakan kalau ... dia masih ingin kembali padaku,” lanjut Delano benar-benar mengatakan kejujuran.
“Kau serius mengatakan itu?” tanya Adelia dengan kedua mata yang melotot.
“Ya dan itu adalah kenyataannya.”
Mata Adelia makin membulat mendengar jawaban tunangannya. Jujur saja, dia sangat terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut sang tunangan. Walau jujur, rasanya Adelia tidak siap untuk mendengar hal seperti itu.
Bukannya apa, tapi sebenarnya Adelia merasa minder. Perempuan cantik nan mungil itu, sejatinya merasa insecure karena Natasya terlihat luar biasa di matanya. Sang mantan terlihat berkelas dan dewasa, sangat berbeda dengan Adelia yang kekanakan.
“Maaf.” Adelia jelas saja akan meringis ketika mendengarkan hal itu. “Bukannya aku tidak mau percaya, tapi rasanya aneh saja mendengar hal itu.”
“Aneh memang, tapi begitulah adanya.” Delano mengedikkan bahu. “Aku tidak pernah berbohong padamu.”
“Lalu Daddy bilang apa?” Kini Adelia jadi ingin tahu apakah lelaki di sebelahnya itu masih belum move on seperti mantanya atau tidak.
“Aku bilang kalau permintaannya itu terlalu berat untukku. Untung saja dia bisa mengerti.” Helaan nafas lega Delano terdengar begitu jelas. Dia sepertinya benar-benar lega karena bisa menolak sang mantan dengan baik.
“Kenapa?” Tanpa disadari, kata tanya itu meluncur dari mulut Adelia. “Padahal dia cantik, pintar, mapan, dewasa dan sepertinya dia mantan yang terindah. Tapi kenapa Daddy tidak mau balikan?”
Delano tidak langsung menjawab. Lelaki itu terlihat berpikir untuk sesaat, sebelum akhirnya menggeleng pelan. Sesuatu yang membuat Adelia sedikit lega.
“Entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana, tapi rasanya aku tidak ingin lagi terlalu dekat dengannya. Perasaanku yang dulu, sepertinya sudah benar-benar hilang,” jawab Delano juga terlihat sedikit kaget.
__ADS_1
“Jujur ini agak mengejutkan karena kupikir akan terus teringat padanya, tapi ternyata tidak juga. Sekarang aku tidak lagi merasa terikat dengan Natasya.” Delano melanjutkan dengan senyum lega.
Hati Delano benar-benar merasa lega dan pikirannya pun terasa lebih bebas. Dia seperti baru saja melepas beban yang sangat berat dan membuat pundaknya jadi lebih rileks. Itu jelas sesuatu yang perlu dirayakan, apalagi jika teman-temannya sampai tahu.
“Hari ini pesan saja apa yang kamu mau.” Delano tanpa segan mengutarakan itu pada tunangannya. “Biar aku saja yang bayar.”
“Eh? Bukannya Daddy belum gajian ya?” Adelia terkejut mendengar hal itu. “Biasanya juga aku yang bayar kan?”
“Ya, tapi mulai hari ini biar aku yang akan membayar. Biar bagaimana, nanti kamu akan jadi istriku. Tentu aku juga ingin memberikanmu sesuatu, walau itu hanya makanan saja.” Delano menjawab dengan senyum lebar yang membuat perempuan di sebelahnya ikut tersenyum.
“Aku tidak tahu apa yang bikin Daddy punya mood yang bagus, tapi baiklah. Hari ini aku memutuskan untuk makan banyak,” jawab Adelia penuh semangat.
“Ya, makan yang banyak. Kamu terlalu kurus.” Delano mengatakan itu, sembari memegang lengan sang tunangan yang memang kurus.
“Apa itu artinya Daddy suka dengan yang lebih berisi?” Jujur saja, Adelia merasa sedikit tersinggung diperlakukan seperti itu. Dia bahkan mencebik kesal karenanya.
“Bukan suka yang lebih berisi, tapi rasanya kamu terlalu kurus. Aku takut kamu akan mudah sakit kalau seperti itu, apalagi pola makanmu sepertinya tidak begitu sehat.”
“Ih, Daddy nyebelin deh.” Dengan lengan kurusnya, Adelia memukul lelaki yang duduk di sampingnya itu.
Mereka berdua tertawa cukup keras, sampai menarik perhatian pengunjung. Sayangnya, tawa bahagia mereka tidak berlangsung lama. Tawa itu harus terhenti ketika dering ponsel Delano terdengar cukup nyaring.
“Loh? Kenapa tidak diangkat?” Adelia bertanya ketika melihat sang tunangan mematikan panggilan teleponnya.
“Itu tadi Natasya.” Delano meringis ketika mengatakannya. “Aku sedang tidak ingin mengangkat teleponnya, terutama karena ada kamu di sini.”
“Angkat saja gak apa-apa.” Tanpa diduga Adelia mengatakan hal itu. “Itu dia sampai menelepon dua kali.”
Delano menoleh ketika sang tunangan menunjuk pada ponselnya. Di sana memang tertulis nama Natasya yang kembali menelepon. Delano bersyukur karena kemarin sudah mengubah nama yang tersimpan di dalam ponselnya.
“Kalau Daddy tidak mau angkat, biar aku saja.” Tangan kurus Adelia bergerak cepat menggeser tombol hijau.
“Adelia.” Tentu saja Delano menegur, tapi jelas sudah terlambat. Mode speaker bahkan sudah menyala.
“Delano?” Suara isakan dari ponsel terdengar. “Delano tolong aku.”
__ADS_1
***To be continued***