
“Ada apa denganmu? Oma Tessa bertanya pada cucunya. “Dari semalam kau sepertinya banyak melamun.”
“Gak ada apa-apa kok, Oma.” Adelia dengan cepat menggeleng. “Cuma lagi banyak pikiran saja.”
“Mau banyak pikiran apa?” Oma Tessa tak segan mengejek. “Kamu itu tidak kuliah, menikah juga masih lama. Apa yang mau dipikirkan?”
“Dunia?” jawab Adelia. “Bukankah hidup kita di dunia ini juga perlu dipikirkan? Hidup ini kan susah dan berat, jadi kita perlu berpikir bagaimana menjalani hari.”
Oma Tessa tertawa mendengar hal itu. Yang dikatakan cucunya tidak salah, malah sangat benar. Setiap orang, pasti punya tantangan tersendiri dalam menjalani hidup. Siapa pun itu orangnya.
“Lalu bagaimana hasil pemikiranmu? Sudah dapat pencerahan?” Oma Tessa kembali bertanya dan cucunya langsung menggeleng.
“Masalahnya tidak sulit sih, tapi entah kenapa aku sangat kepikiran.” Adelia tidak ragu untuk mengungkapkan isi hatinya, tapi dia juga tidak ingin mengatakan terlalu detail.
“Tidak usah dipikirkan terlalu keras, nanti kamu malah sakit. Lebih baik, pikirkan saja pernikahanmu yang masih lama itu. Pikirkan dengan baik apa yang kamu mau nanti, lalu kita bisa mulai menyiapkan semuanya.” Oma Tessa bangkit dari tempatnya duduk, setelah mengatakan semua itu.
Adelia hanya tersenyum tipis, ketika melihat sang Oma yang meninggalkan dirinya sendirian di ruang tengah. Hari sudah agak malam, tapi Adelia masih ingin berpikir sebentar.
***
“Kau ini kenapa sih? Ngajak ketemu, tapi malah melamun terus.” Marcel dengan cepat menegur temannya itu.
“Aku butuh teman untuk melamun.” Adelia menjwab dengan tatapan menerawang. “Itulah gunanya sahabat kan?”
“Sahabat itu buat tempat curhat. Bukan teman melamun.” Poppy tidak segan menoyor lengan teman perempuannya itu dengan keras.
“Aduh! Lembut dikit napa sih, Pop? Nanti kulitku bisa biru-biru nih. Bisa kelihatan jelek waktu nikahan nanti.” Adelia jelas saja akan memprotes.
“Jangan lebay deh. Nikahanmu kan masih setahun lagi.” Kali ini Marcel yang berbicara.
__ADS_1
“Ya masih lama, tapi aku terus kepikiran.” Adelia menghela nafas, setelah mengatakan hal itu.
“Apa ada yang kam pikirkan tentang Daddy-mu itu?” Poppy bertanya dengan raut wajah serius. “Apa jangan-jangan dia lelaki brengsek ya?”
“Jangan bicara sembarangan.” Adelia tentu saja dengan segera membantah. “Daddy Delano itu orang yang baik. Dia tidak seperti papaku.”
“Jangan percaya pada lelaki, Del. Mereka kebanyakan buaya, apalagi kamu kan cantik, kaya dan pintar.” Marcel mengatakan itu, seolah dirinya bukan lelaki saja.
Adelia kembali menghela nafas. Dia juga tidak bisa banyak berkata-kata tentang hal itu karena sudah melihat sendiri dua orang lelaki brengsek dalam hidupnya. Aditya Lesmana, ayahnya sendiri dan Aris Wisesa. Dua-duanya berinisial A dan mereka menyebalkan.
Lalu sekarang, ada Delano Widjaja. Lelaki yang jauh lebih tua dari Adelia. Dia begitu baik pada awalnya, tapi sejak dua hari lalu Adelia mulai kebaikan itu. Ucapan lelaki itu sendirilah yang membuatnya berpikiran negatif.
“Sudahlah.” Tiba-tiba saja, Adelia berdiri dari tempatnya duduk. “Kurasa sekarang aku harus pergi dulu.”
“Yang benar saja.” Marcel jelas saja akan protes. “Kau memanggil kami hanya untuk menemanimu melamun dan sedikit berbicara? Ini bahkan belum sejam.”
“Maaf, tapi rasanya aku perlu pergi menyendiri dulu.” Adelia meringis, tapi tetap memutuskan untuk pergi. “Nanti setelah merasa lebih baik, kita bakal nongkrong bareng lagi kok.”
Tahu temannya sedang banyak pikiran, mau tidak mau Marcel dan Poppy merelakan saja. Itu tentu saja membuat Adelia merasa lega, tapi kelegaan itu hanya berlangsung sebentar saja. Gangguan datang tak lama kemudian, ketika dia memutuskan berjalan-jalan sebentar di mal.
“Ini adalah kesialan.” Adelia tidak segan untuk memaki.
“Menurutku, ini sebuah keberuntungan.” Aris membalas dengan percaya diri dan dengan lebih santai dari biasanya. “Mau jalan bareng?”
“Tentu saja tidak.” Adelia dengan tegas menolak.
“Tapi aku punya sesuatu yang perlu kuberitahu padamu. Sesuatu tentang pacarmu.”
Balasan dari Aris itu tentu membuat Adelia langsung menoleh. Dia yang sedang berpikiran negatif tentang Delano, tentu saja langsung tertarik.
“Apa yang ingin kamu katakan?” Pada akhirnya, Adelia bertanya juga.
“Mungkin kita perlu berkeliling mal dulu. Lebih baik memperlihatkan secara langsung, dari pada hanya dengan ucapan saja.” Aris mengatakan itu dengan senyuman.
__ADS_1
“Kalau tidak ada yang mau katakan, aku pergi saja.” Tanpa berbasa-basi lagi, Adelia langsung berbalik. Sayangnya, Aris segera menahan.
“Kali ini aku serius, Adelia. Tadi aku melihat Delano di mal ini. Kurasa dia sedang menunggu seseorang.” Aris mencoba untuk membujuk.
Adelia melipat kedua tangannya. Dia tampak sedang berpikir, apakah harus memercayai dosennya atau tidak. Aris terlihat jujur, tapi siapa yang tahu kan.
“Aku akan menjaga jarak denganmu.” Sang dosen yang berumur kurang dari tiga puluh itu kembali membujuk. “Kita bisa berjalan bersama ke tempat tadi aku melihat pacarmu sendiri-sendiri. Aku akan berjalan di depan dan kamu bisa mengikuti dari jarak aman.”
“Baiklah.” Setelah berpikir dengan cepat, Adelia akhirnya setuju juga. “Pak Aris bisa jalan duluan. Saya mengikuti dari belakang.”
“Jangan sampai ketinggalan.” Aris masih sempat mengatakan itu, sebelum dia mulai berjalan.
Rasanya sangat aneh, ketika berjalan bersama seorang dosen di mal. Lebih aneh lagi karena mereka berjalan berjauhan, seolah sedang bermusuhan (padahal memang musuhan). Tapi demi menuntaskan rasa penasarannya, Adelia ikut saja.
“Bertahanlah sedikit saja, Adelia.” Perempuan mungil itu bergumam dalam hati. “Kau bisa langsung pergi, setelah melihat apa yang perlu dilihat.”
“Apa masih jauh?” Adelia yang tidak sabaran, bertanya dengan suara yang lebih keras. “Pak Aris?” Dia memanggil karena yang diajak bicara sepertinya tidak mendengar.
“Oh, maaf. Aku tidak mendengar.” Yang empunya nama pun berbalik.
“Apa masih jauh atau kamu hanya menipuku?” Adelia kembali bertanya, kali ini dengan terus terang.
“Aku tidak menipumu.” Aris mengatakan itu dengan suara yang sedikit lebih keras karena jarak dan sedikit bising. “Aku tadi melihat mereka masuk ke kafe sana, bisa saja mereka sudah pindah tempat.”
“Tiba-tiba saja aku ragu.” Adelia berjalan mendekat, agar dia tidak perlu berteriak. “Kamu seperti sedang mengulur waktu saja.”
“Aku tidak seperti itu.” Terus menerus dituduh, membuat Aris merasa geram. Untung saja apa yang dia cari kini sudah terlihat.
“Nah, itu dia.” Lelaki berkaca mata itu, kini menunjuk ke dalam kafe. “Itu dia pacarmu, sedang berbicara dengan Bella.” Aris sengaja mengulang untuk menegaskan.
Tentu saja Adelia dengan cepat maju lebih dekat, untuk melihat tempat yang ditunjuk sang dosen. Awalnya agak sulit melihat karena tempat yang dimaksud agak ramai, tapi kini Adelia bisa melihatnya. Delano yang sepertinya baru pulang kerja, duduk berdua dan mengobrol santai dengan Bella.
“Yang benar saja,” gumam Adelia pelan.
__ADS_1
***To be continued***