Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Nikah Yuk


__ADS_3

 “Daddy Delano kenal mereka?” Tentu saja Adelia akan bertanya.


 Rasanya aneh melihat seorang office boy kenal dengan notaris dan pengacara yang sepertinya terkenal. Jangankan Adelia, ayahnya dan Bella saja sampai tidak jadi keluar dari pintu.


 “Kamu kenal dengan Delano?” Betsy bertanya dengan nada tidak suka, pada anak kliennya itu.


 “Ya. Dia pacarku,” jawab Adelia tanpa canggung. “Justru Saya yang heran, kenapa kamu kenal dengan Daddy?”


 “Pacar dan dipanggil Daddy?” tanya Farhan terlihat seperti ingin menahan tawa.


 “Maaf, saya terlambat.” Delano tiba-tiba saya mengatakan itu dengan senyuman lebar. “Wawancaranya belum selesai kan?”


 “Wawan ....” Betsy sudah ingin menghardik, tapi melihat kode mata Delano. Apalagi Farhan juga menyikutnya dengan pelan.


 “Belum. Tentu saja belum,” jawab Farhan dengan senyum lebar.


 “Syukurlah kalau begitu.” Setelah mengatakan itu, barulah Delano beralih pada kekasih kontraknya. “Aku ke sini melamar pekerjaan. Kebetulan yang punya tempat ini adik kelas waktu SMA.”


 Bibir Adelia membentuk huruf o. Perempuan mungil itu langsung percaya begitu saja, tanpa melihat pelototan mata Farhan. Si pengacara terlihat agak kesal, tapi masih bisa menyembunyikannya dengan baik.


 “Kalau Adel mau menunggu, nanti kita pulang sama-sama saja,” gumam Delano memasang senyumannya.


 “Ya sudah. Tapi Daddy jangan lama-lama ya.” Adelia sengaja ingin menunggu karena melihat Bella dan ayahnya masih menatap dari pintu keluar.


 Setelah mengangguk pelan, Delano mengikuti dua orang yang sepertinya petinggi di firma hukum itu. Setidaknya, itu yang ada di pikiran Adelia saat ini. Perempuan muda polos itu, sama sekali tidak menaruh kecurigaan.


 


 ***


 


 “Melamar kerja, gundulmu.” Farhan langsung menggertak ketika mereka sudah berada di dalam ruang kerjanya yang tertutup rapat.


 “Hanya itu penjelasan paling masuk akal yang bisa kuberikan,” ucap Delano terlihat sangat tenang.


 “Kau bisa mengatakan kalau kami ini temanmu.” Kali ini Betsy yang berbicara tanpa sopan santun. “Atau kami sudah tidak dianggap teman?”


 “Jangan gila. Mana ada office boy  yang punya teman pengacara dan notaris?” tanya Delano dengan mata mendelik.


 “Memangnya, sampai kapan kau ingin melakukan permainan gila ini? Seumur hidup?” Giliran Farhan yang mendelik menatap temannya itu. “Itu tidak mungkin kan?”


 Mendengar pertanyaan itu, Delano terdiam. Sejujurnya, dia juga tidak tahu sampai kapan harus seperti ini. Rasanya dia baru melakukan sandiwara ini beberapa waktu lalu, tapi rasanya sudah cukup lama juga. Sampai semua orang sudah mengeluh.

__ADS_1


 “Sudahlah. Sekarang apa maumu ke sini?” Farhan yang bertanya.


 “Kau tahu untuk apa aku ke sini,” jawab Delano dengan cepat.


 “Demi Tuhan, Delano.” Mendengar yang dikatakan temannya itu, Betsy langsung mengeluh. “Kau masih mencari dia?”


 Hanya senyuman tipis yang diberikan Delano sebagai jawaban. Itu saja harusnya cukup untuk memberitahu dua orang di depannya. Delano masih dan mungkin akan terus mencari orang itu.


 “Sadarlah sedikit.” Betsy menggeram karena gemas sekali melihat temannya itu. “Dia sudah meninggalkanmu hanya karena kau berpura-pura, menjadi OB.”


 “Tapi dia bilang pergi untuk mengejar cita-cita.” Delano masih membantah.


 “Itu hanya alasan, No. Dia memang pergi meninggalkanmu,” tegas Farhan untuk menyadarkan temannya itu.


 Delano menghembuskan nafas dengan pelan. Dia mencoba meresapi apa yang dikatakan teman-temannya, tapi sampai sekarang masih belum mengerti. Kalau memang cinta, seharusnya tidak pergi walau apa pun situasinya kan?


 “Begini saja.” Si pengacara kembali berbicara. “Bagaimana kalau mencoba pacaran serius dengan bocah itu.”


 “Dengan Adelia Lesmana?” Betsy kembali memekik. “Apa kau gila? Dia masih anak-anak.”


 “Kan cuma pacaran. Bukan nikah.” Farhan membalas dengan kesal. “Surat wasiatnya juga tidak mengharuskan langsung menikah kan?”


 “Adelia datang ke sini untuk pembacaan surat wasiat?” Delano agak terkejut mendengar hal itu.


 “Aku tahu dia akan mendengar pembacaan wasiat, tapi tidak tahu kalau dia akan ke sini.”


 “Lupakan saja masalah itu.” Sang pengacara mengibaskan tangannya. “Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah move on. Adelia mungkin bisa membantumu.”


 Delano tidak menjawab. Dia hanya bisa menatap wajah yakin Farhan dan wajah kesal Betsy. Setelahnya, dia turun dan kembali menemui Adelia di lobi.


 “Daddy. Gimana wawancara kerjanya?” Gadis mungil itu segera menyambut dengan riang. “Berhasil gak?”


 “Entahlah.” Yang ditanya hanya mengedikkan bahunya. “Aku juga tidak yakin.”


 “Tapi Daddy sudah melakukan yang terbaik kan?” Adelia kembali bertanya dengan riang. “Kalau begitu, Daddy tidak perlu khawatir. Kamu pasti berhasil.”


 Senyum terbit di wajah Delano melihat keceriaan perempuan di depannya itu. Adelia yang mungil dan polos, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan dia.


 “Mereka sangat berbeda,” gumam Delano sangat pelan. “Bagaimana bisa aku lupa kalau begini?”


 “Daddy ngomong sesuatu?” Perempuan mungil yang menggandeng tangan kekasih kontraknya itu bertanya dengan ceria.


 “Tidak ada.” Delano dengan cepat menggeleng. “Adelia mau ngapain habis ini?”

__ADS_1


 “Sebenarnya pengen menyendiri sih.” Perempuan mungil itu meringis ketika menjawab.


 Hal itu membuat Delano berhenti berjalan. Dia tahu kalau perempuan yang menggandengnya belum selesai bicara jadi Delano menunggu.


 Adelia pun tidak langsung melanjutkan. Dia masih terlihat sangat bimbang karena biar bagaimana, Delano adalah orang asing baginya. Tentu  tidak mudah mengungkapkan semuanya.


 “Daddy tahu kan kalau hari ini adalah pembacaan wasiat mama,” gumam Adelia pelan-pelan.


 “Ya, lalu?”


 “Mama mewariskan semuanya untukku, tapi dengan syarat menikah.”


 Kedua alis Delano terjungkit naik mendengar hal itu. Ini pertama kali dalam hidupnya, dia mendengar hal seperti itu.


 “Jadi pada akhirnya kamu akan dijodohkan? Atau kamu meminta saya jadi pacar karena menghindari perjodohan?”


 Adelia dengan cepat menggeleng untuk menjawab. “Aku baru tahu soal perjodohan itu dan aku juga bisa memilih calon sendiri.”


 “Kamu bingung harus memilih siapa?” Delano menebak dengan akurat.


 “Iya.” Adelia dengan cepat mengangguk. “Aku tidak mau membiarkan Bella atau papa mendapat warisannya.”


 “Kalau Bella saya masih bisa mengerti, tapi papamu?” Untuk yang satu itu, Delano jelas bingung.


 “Kalau papa yang dapat, pasti Bella akan memerasnya,” jawab Adelia dengan sangat yakin. “Aku  tidak mau itu terjadi.”


 Delano mengangguk mengerti. Yang diaktakan Adelia barusan memang masuk akal. Dia memang merasa Bella bukan perempuan yang baik. Tidak ada perempuan baik yang akan mengambil ayah sahabatnya kan?


 “Kalau kamu berkenan, aku punya ide.” Tiba-tiba saja Delano punya ide yang cemerlang.


 “Apa itu?”


 “Bagaimana kalau kamu pergi bertanya pada ibumu saja?” tanya Delano dengan senyum cerah.


 “Bagaimana mungkin? Mama kan sudah meninggal.” Jelas saja Adelia akan memekik kesal.


 “Aku tahu.” Delano tersenyum melihat reaksi kekasih pura-puranya itu. “Tapi kamu kan bisa ke sana dan berdoa. Meminta petunjuk istilahnya.”


 Adelia tercenung mendengar ide brilian itu. Dia saja tidak terpikirkan sampai ke sana, tapi lelaki asing di depannya itu bisa memikirkannya. Apakah ini juga merupakan petunjuk baginya?


 “Daddy Delano. Daddy mau gak nikah sama aku saja?” tanya Adelia dengan spontan.


 

__ADS_1


***To be continued***


__ADS_2