Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Ditipu


__ADS_3

 “Daddy, ayo kita kawin lari.”


 Delano langsung menyemburkan isi mulutnya yang penuh dengan makanan ketika mendengar kekasih pura-puranya mengatakan hal itu. Dia bahkan sampai terbatuk-batuk karena makanan yang kali ini dimakan adalah sesuatu yang pedas. Lebih tepatnya teokpokki super pedas.


 Kebetulan Adelia meminta makan di restoran Korea sepulangnya sang kekasih bayaran dari kantor. Dia agak sedikit memaksa, jadi Delano tidak bisa menolak.


 “Kamu barusan bilang apa?” tanya si office boy setelah reda dari batuk-batuknya.


 “Ayo kawin lari.” Adelia dengan senang hati mengulang. “Kalau perlu, hamili saja aku dan kita bisa benar-benar menikah.”


 Mendengar kalimat vulgar itu, jelas saja akan membuat Delano panik. Dia bahkan melihat ke sekeliling untuk memastikan kalau tidak ada yang mendengar Adelia berbicara. Untung saja tidak ada yang mendengar hal itu.


 “Adelia, saya rasa candaan kamu sedikit keterlaluan.” Setelah menenangkan diri, Delano mulai berceramah. “Hal seperti itu, tidak bisa dibuat bercanda.”


 “Aku tidak bercanda.” Perempuan yang malam ini mengenakan terusan bernuansa bunga dengan panjang selutut itu, menatap lelaki di sebelahnya dengan sangat serius. “Ayo kita kawin lari.”


 “Ini tidak lucu, Adelia.” Sayangnya, Delano masih tidak merasa itu sungguhan. “Hal seperti itu tidak mungkin dilakukan, walau kamu serius sekalipun.”


 “Kenapa tidak mungkin? Banyak kok orang di luar sana yang melakukan itu.” Suara perempuan muda nan imut itu kini menjadi sedikit lebih tinggi


 “Tentu saja tidak karena aku tidak mungkin melakukan itu,” tolak Delano dengan tegas. “Pernikahan itu bukan untuk main-main, apalagi tanpa persetujuan orang tua.”


 “Jadi kalau anaknya yang tidak setuju tidak apa-apa?” Adelia membalas dengan cepat.


 “Ya, tidak seperti itu juga.” Kini lelaki berumur tiga puluhan itu menjadi bingung. “Tapi tidak bisa juga tanpa restu orang tua.”


 “Jadi Daddy lebih senang kalau aku dipaksa menikah dengan orang tuaku dan berakhir tidak bahagia?” Sekali lagi perempuan mungil bergaun bunga-bunga itu bertanya dengan tatapan serius.


 “Tapi kamu kan belum mencoba. Bagaimana bisa tahu kalau tidak bahagia?” Delano membalas dengan pertanyaan lain.


 “Pernikahan itu bukan mainan, Daddy. Gak ada yang namanya test drive, seperti mobil.” Tanpa bisa diduga, Adelia mengembalikan kalimat pacar bayarannya itu.


 Delano langsung menggaruk kepala mendengar hal itu. Dia jelas-jelas saja sudah kalah dengan perempuan mungil yang memang sangat pintar bersilat lidah itu. Rasanya siapa pun akan kalah melawan Adelia, kecuali mungkin Aris yang keras kepala dan obsesif.


 “Baiklah.” Delano mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Biar kudengar dulu kenapa kamu tidak suka dengan dosenmu yang terlihat baik itu.”

__ADS_1


 Senyum di wajah Adelia langsung menghilang ketika mendengar lanjutan kalimat menyerah itu. Padahal dia pikir Delano sudah benar-benar menyerah dan akan membawanya kabur, tapi ternyata tidak seperti itu.


 “Aku benar-benar heran sama, Daddy.” Walau kesal, Adelia tetap tidak keberatan untuk menjelaskan. “Bagaimana Daddy bisa bilang Pak Aris baik? Padahal jelas-jelas saja dia menyebalkan. Daddy lihat sendiri loh.”


 Kini Delano meringis mendengar pacar pura-puranya itu. Dia memang pernah mengatakan Aris menyebalkan, jadi rasanya aneh dia kini mengatakan lelaki itu baik. Yah, walau Delano juga punya alasan untuk itu.


 “Aku sudah pernah bilang kan. Siapa tahu saja dia hanya terlihat ketus karena kamu dengan aku.”


 “Pak Aris sejahat itu karena ada Daddy.”


 Dua orang itu berucap bersamaan dan membuat keduanya sampat tertegun karena hal itu. Hal yang sangat lucu, apalagi wajah Adelia memang sangat menggemaskan. Mereka berakhir dengan tertawa bersama.


 “Daddy nybelin deh.” Adelia menggerutu ketika tawanya mereda. “Padahal orang lagi serius juga.”


 “Aku juga lagi serius, Adelia.” Lelaki yang dipanggil daddy itu, menjawab dengan nada gemas. Ingin sekali dia menggigit pipi pacar pura-puranya itu.


 “Tapi aku sungguh tidak mau menikah dengan Pak Aris.” Adelia kembali menggumamkan hal yang sama dan dengan wajah yang lesu.


 Melihat hal itu, mau tidak mau Delano menjadi prihatin juga. Hatinya tergerak untuk menolong, tapi juga merasa enggan untuk membawa lari anak orang.


 “Daddy mau kawin lari denganku?” Kedua bola mata Adelia langsung berbinar mendengar hal itu.


 “Hei, jangan bicara keras-keras.” Sang office boy menempelkan telunjuk di bibirnya dan berdesis pelan. “Lagi pula, aku tidak berniat membawamu lari.”


 “Tapi kalau tidak seperti itu, mana bisa kita menikah.” Perempuan manis itu langsung mencibir. “Papa pasti akan melarang.”


 “Tapi kamu bisa membujuk Oma Tessa untuk berada di pihakmu kan?”


 Senyum Adelia kembali mengembang ketika mendengar hal itu. Dia langsung mengangguk keras dengan senyum lebar mendengar ide kekasih bayarannya itu. Oma Tessa cenderung akan membelanya, ketimbang sang papa. Itu sudah pasti.


 “Kalau begitu kita sepakat ya.” Gadis manis dengan rambut kecokelatan itu mengulurkan jari kelingkingnya. “Setelah Daddy diterima bekerja, kita akan membicarakan pernikahan dengan Oma Tessa.


 “Sepakat.” Delano dengan cepat menautkan jari kelingkingnya dan itu membuat sang kekasih tersenyum makin cerah.


 Sang office boy pun tersenyum tipis. Dia sejujurnya tidak terlalu yakin dengan janji itu karena merasa dirinya pasti akan langsung ditolak.

__ADS_1


 “Ayo, Daddy.” Adelia menyenggol pacar bayarannya itu. “Dimakan lagi dong makanannya.”


 “Kamu juga makan.” Alih-alih mengambil makanan untuk dirinya, Delano mengambil untuk sang kekasih.


 Mereka berdua asyik makan, tanpa menyadari kalau ada yang mengamati. Tanpa tahu kalau mungkin mereka akan berpisah.


 ***


 “Adelia.”


 “Papa?” Yang empunya nama bingung ketika menemukan sang papa berada di kampusnya, terlebih pada saat jam kerja.


 “Kenapa Papa bisa ada di sini?” Dengan terpaksa, Adelia meninggalkan kedua sahabat dan menghampiri sang ayah.


 “Ada apa dengan pertanyaanmu itu?” Aditya menggeleng dengan senyum lebar. “Memangnya seorang ayah tidak boleh menjemput anaknya?”


 “Boleh sih, tapi ... aneh aja.” Kening gadia muda itu berkerut bingung. “Soalnya papakan sudah punya anak baru yang harus diperhatikan.”


 “Anak itu kan belum lahir.” Aditya mendesah pelan. “Lagi pula, Papa menikah dengan Bella hanya untuk tanggung jawab.”


 Kening Adelia makin berkerut mendengar hal itu. Rasanya ada yang aneh, tapi untuk sementara dia mengangguk pelan dan percaya begitu saja.


 Lagi pula, ini kan ayahnya. Tidak mungkin Aditya macam-macam kan? Adelia juga perlu membujuk sang papa untuk menerima Delano, jadi dia harus baik pada pria paruh baya itu.


 “Kebetulan hari ini aku tidak bawa mobil, jadi aku bisa ikut sama Papa saja.”


 “Kebetulan juga Papa belikan kopi kesukaanmu.” Aditya menyodorkan kantongan kecil yang sedari tadi dia pegang.


 “Tumben Papa ingat minuman kesukaanku.”


 Aditya tidak menjawab kalimat putrinya dan hanya tersenyum penuh arti. “Maafin Papa, Del. Ini demi kebaikanmu. Papa tidak mau kamu sengsara dengan lelaki tak berguna itu,” gumamnya dalam hati.


 


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2