Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Sebuah Kecupan


__ADS_3

 Delano pikir masalah sudah selesai, setelah dia menyogok Dahlia untuk berhenti mengikuti keinginan Bella. Tapi rupanya itu belum cukup. Kini ada gangguan lain yang datang padanya dalam bentuk mantan. Natasya entah bagaimana, datang ke kantornya.


 “Aku tidak menyangka kau benar-benar bekerja di sini.” Perempuan cantik yang tadi duduk di sofa ruang tamu kini bangkit. “Kau rupanya sudah punya pekerjaan yang bagus, walau tidak masuk akal juga kau kerja di sini.”


 “Apalagi maumu?” Delano bertanya dari jarak yang agak jauh. Dia tidak mau terlalu dekat, agar tidak ada orang yang salah paham. Biar bagaimana, ini perusahaan Oma Tessa dan Om Bayu.


 “Kau kenapa sih, No?” tanya Natasya terlihat begitu sakit hati. “Kau menghindari seperti virus saja.”


 “Maaf harus mengatakan ini, tapi bagiku kau memang virus.” Kali ini, Delano memilih untuk sedikit kasar. Kalau tegas saja tidak membuat Natasya menjauh, maka kali ini Delano akan mencoba untuk menjadi kasar.


 “Kenapa kau jadi kasar? Sebelum ini kau tidak pernah kasar sama sekali.” Tentu saja sang mantan akan terkejut setengah mati. “Sepertinya sejak bersama dengan anak bau kencur itu, kau jadi kasar.”


 “Kau yang membuatku menjadi kasar,” jawab Delano dengan cepat. Tidak senang kalau tunangannya diejek seperti itu, walau kenyataan memang seperti itu.


 “Aku sudah jelas-jelas menolakmu sebanyak dua kali dan kau masih saja bebal. Jadi satu-satunya cara, jelas dengan menjadi kasar,” lanjut Delano kini bersandar di daun pintu ruang tamu yang terbuka lebar.


 Perusahaan tempatnya bekerja, punya beberapa ruang tamu yang bisa dipakai semua orang. Walau ruang tamunya bisa terlihat karena hanya menggunakan sekat kaca dan bisa terlihat dari mana saja, tapi Delano tidak mau mengambil resiko.


 “Tapi bukan berarti kau harus mengejekku dan menyebutku virus.” Natasya tetap saja tidak terima.


 “Bukan aku loh yang bilang begitu, tapi kau sendiri. Aku hanya membenarkan saja,” balas Delano dengan santainya. Dia sama sekali tidak merasa bersalah.


 Tentu saja Natasya akan menggeram kesal. Kalimatnya tadi tidak persis seperti itu, tapi memang kurang lebih pernyataannya memang terdengar seperti mengejek diri sendiri. Memalukan, tapi sudahlah. Sekarang dia punya tujuan lain.


 “Baiklah aku minta maaf.” Natasya mencoba untuk menyerah saja dulu, demi untuk membujuk lelaki di depannya.


 “Jangan minta maaf padakku karena kau tidak bersalah padaku. Minta maaf pada Adelia.” Tanpa sungkan, Delano mengatakan itu. Dia masih merasa kesal karena tunangannya diejek bau kencur.


 “Kenapa juga aku harus minta maaf sama dia?” sentak sang mantan tampak tidak senang. “Aku gak bikin salah apa-apa.”


 “Sepertinya emang percuma ya ngomong sama kamu. Bebal.” Kini Delano menggeleng dan bersiap untuk pergi.

__ADS_1


 “Oke, baiklah.” Natasya memilih untuk mengalah saja. Kali ini dia mengalah, untuk masa depan dan kemenangannya nanti.


 “Aku akan meminta maaf, tapi aku kan tidak punya nomor telepon pacarmu itu,” lanjut Natasya yang terdengar sangat menyesal, tapi tentu saja itu hanya bohongan. Dia jelas punya niat lain.


 “Oke. Kalau begitu, nanti aku akan kasih tahu Adelia. Sekarang aku harus pergi karena banyak kerja.”


 “Eh, Delano. Tung ....” Natasya yang sebenarnya masih mau bicara memanggil. Sayang sekali karena Delano tidak mau peduli dan memilih untuk pergi begitu saja.


 


 ***


 


 Jemari Delano mengetuk dashboard sepeda motornya dengan gelisah. Dia sudah berada di depan rumah Oma Tessa, tapi hanya duduk di atas moto yang masih terparkir di depan teras. Delano masih berpikir soal permintaan Natasya siang tadi.


 “Daddy. Kok bengong terus di situ. Gak masuk?” Ucapan bernada tanya itu menyentak lelaki yang dipanggil barusan.


 “Dari tadi aku sudah liat Daddy datang loh dari jendela kamar. Udah ditungguin juga, tapi malah gak nongol dan harus dijemput dulu,” keluh Adelia dengan bibir mencebik.


 “Maaf.” Hanya itu yang bisa dikatakan Delano, dengan tangan yang refleks mengelus puncak kepala tunangannya.


 “Ih, Daddy apa-apaan sih?” Adelia dengan cepat memegang dan menjauhkan tangan sang tunangan dari kepalanya. “Aku kan bukan anak kecil lagi, jangan perlakukan aku seperti anak kecil!”


 “Eh? Memangnya mengelus kepala itu untuk anak kecil saja?” Delano mengatakan hal itu, sambil mengikuti perempuan yang kini berjalan sambil mengentakkan kakinya itu.


 Adelia memutar bola matanya dengan gemas. Dia benar-benar tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari mulut tunangannya. Harusnya Delano tidak perlu bertanya karena itu sudah sangat jelas.


 “Padahal bagiku itu bukan untuk anak-anak saja loh.” Delano menambahkan karena sepertinya Adelia masih terlihat kesal. Menggemaskan, tapi Delano tidak ingin perempuan itu lama-lama marah.


 “Kalau bukan untuk anak-anak, lantas untuk siapa saja?” tantang Adelia yang masih terlihat sangat kesal. Dia benar-benar tidak suka dianggap anak-anak, terutama oleh Delano.

__ADS_1


 Sebenarnya aneh kalau Adelia berpikiran seperti itu karena dia memang jauh lebih muda dari lelaki itu. Selisih usia mereka empat belas tahun dan wajar kalau Delano menganggap tunangannya anak kecil hal yang sangat wajar, tapi Adelia tidak mau. Setidaknya, sampai Adelia mendengar apa yang dikatakan lelaki itu.


 “Mengelus kepala itu salah satu tanda sayang. Gak pandang gender dan usia. Aku mengelus kepalamu karena sayang.”


 “Sorry?” Merasa telinganya salah dengar, Adelia mengatakannya dengan nada tanya.


 “Aku bilang aku sayang sama kamu.” Delano mencubit pelan kedua pipi perempuan mungil di depannya.


 Harusnya perlakuan itu bisa membuat Adelia kesal, tapi ternyata tidak juga. Sebaliknya, perempuan itu merasa senang. Hatinya berbunga-bunga dan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Aneh, tapi Adelia ingin mendapat perlakuan sayang lagi.


 “Ka ... kalau memang sayang, harusnya bukan begitu.” Setelah berpikir dengan cukup cepat, akhirnya Adelia memberanikan diri untuk berbicara.


 “Lalu seperti apa?” Delano tak segan untuk bertanya karena dia memang ingin tahu. Apalagi Adelia makin menggemaskan ketika sedang gugup seperti itu.


 “Sebentar.” Tiba-tiba saja Adelia menjadi gugup. “Biarkan aku menyiapkan mental dulu.”


 “Menyiapkan mental?” Tentu saja Delano akan bingung dan juga tertawa di waktu bersamaan. “Memangnya kau mau melakukan apa sampai harus menyiapkan mental segala?”


 “Melakukan ini.” Tanpa bisa diduga, Adelia menarik lengan tunangannya itu.


 Adelia tentu bukan hanya sekedar menarik dan membuat Delano terkejut. Perempuan mungil itu rupanya memberanikan diri untuk mengecup pipi sang tunangan dengan mata yang memejam erat.


 “Kalau sayang sebagai calon istri, seharusnya seperti itu,” ucap Adelia dengan lebih berani setelah beberapa detik menempelkan bibir di pipi tunangannya.


 Awalnya Delano terkejut. Dia bahkan masih terkejut, bahkan mengedipkan mata beberapa kali. Namun, baru sebentar saja menatap sang tunangan, tiba-tiba saja dia menginginkan yang lain.


 “Kalau sayang sebagai calon pasangan bukan seperti itu,” bisik Delano tanpa bisa dia cegah. “Tapi seperti ini.” Kali ini Delano menunduk dan tanpa bisa diduga menempelkan bibirnya pada bibir sang tunangan.


 


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2