Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Cewek Matre


__ADS_3

 “Kamu habis dari mana?” Delano bertanya pada tunangannya dengan mata membesar.


 “Tanda tangan prenup. Katanya punya Daddy akan menyusul dalam waktu dekat. Orang sana bilang, kalau bisa secepat mungkin,” balas Adelia sambil mengikir kukunya agar terlihat lebih mengkilap.


 Helaan nafas terdengar dari samping perempuan mungil itu. Tentu saja sang tunangan yang menghela nafas dan membuat Adelia refleks menoleh. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.


 “Ada apa? Apa aku tidak boleh tanda tangan?” tanya Adelia agak panik.


“Kamu membaca isi perjanjiannya kan?” Bukannya menjawab, Delano malah balas bertanya.


 “Aku hanya membaca sedikit saja.” Perempuan mungil itu mengedikkan bahu dengan santai. “Sepertinya tidak ada yang aneh.”


 Lagi-lagi Delano menghela nafas. Dia tidak seharusnya membiarkan Adelia tidak tahu penawaran yang diberikan Bella beberapa hari lalu. Sekarang, sepertinya sudah agak terlambat.


 “Lain kali, baca semua perjanjiannya sampai habis. Siapa tahu ada pasal aneh terselip di tengah-tengahnya.” Delano mengatakan itu, sembari mengelus kepala sang tunangan.


 “Pasal aneh seperti apa memangnya?” tanya Adelia dengan kening berkerut bingung.


 “Sesuatu yang seperti ....” Delano agak kebingungan juga menjelaskan karena dia juga tidak tahu yang seperti apa.


 “Oh, aku tahu.” Tiba-tiba saja Delano mendapat ide. Lelaki itu lalu meminta sang tunangan untuk mendekat, agar dia bisa berbisik.


 Awalnya Adelia tidak tahu apa yang dimaksud. Gadis polos itu perlu mencerna dalam waktu yang agak lama, sebelum wajahnya berubah merah.


 “Walau agak aneh, tapi nanti kita akan menikah. Aku bisa dong meminta hal seperti itu,” lanjut Delano dengan senyum mengejek.


 “DADDY.” Adelia berteriak dengan wajah yang lebih memerah dan membuat Delano tertawa keras.


 


 ***


 


 Delano membalik lembar demi lembar tumpukan kertas yang ada di depannya. Dia membaca dengan sangat cermat apa yang tertulis di sana, kata demi kata. Baris demi baris. Sampai membuat perempuan di depannya berkeringat dingin.


 Setelah kemarin Adelia didatangi untuk tanda tangan, maka kini giliran Delano. Kali ini pun mereka memilih bertemu di luar.


 “Semuanya sudah tertulis dengan benar, Pak.” Perempuan yang tempo hari menghubungi, mencoba membuat Delano tidak perlu membaca. “Pak Delano tinggal tanda tangan saja.”

__ADS_1


“Maaf, tapi saya punya kebiasaan membaca sebelum tanda tangan.” Delano mengatakan itu dengan senyum tipis yang masih terlihat sopan.


 “Sok bos banget sih,” desis perempuan yang mengaku sekretaris notaris itu, dalam suara yang sangat rendah.


 “Itu hanya kebiasaan baik yang harus terus dipertahankan, tanpa memandang kedudukan. Sekarang banyak penipu.” Delano tanpa segan mengkritik dengan tajam, walau dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya.


 “Apa Anda baru saja mengatakan kantor kami penipu?” tanya perempuan yang duduk di depan Delano itu.


 “Apa saya pernah menyebut nama sebuah perusahaan?” Tentu saja Delano akan membela diri, dengan memberi pertanyaan lain.


 “Saya adalah pegawai dari kantor pengacara dan notaris FB. Meragukan saya, artinya meragukan atasan saya.” Perempuan tadi dengan tegas memberikan pembelaan.


 “Kamu memang pegawai di sana, tapi apakah hati dan pikiranmu benar-benar bekerja untuk Farhan dan Betsy?” tanya Delano tak kenal takut dan tidak lagi ingin berbicara terlalu sopan.


 Perempuan yang menemani Delano itu terdiam. Dia tiba-tiba saja tampak gelisah dan membuat Delano tertawa karenanya. Perempuan yang mengaku sekretaris itu, terlalu mudah ditebak.


 “Apa Bella menyuruhmu melakukan sesuatu?” Dari pada basa-basi, Delano lebih baik langsung menyerang. “Apa yang dia janjikan padamu?”


 “Apa maksudmu?” Perempuan yang tadi memperkenalkan diri sebagai Dahlia, kini bertanya dengan panik.


 “Aku tahu Bella menawarkan sesuatu karena dia juga menawarkan hal serupa padaku.” Delano tidak ragu untung mengungkap apa yang terjadi.


 “Berapa yang ditawarkan Bella untukmu?” Bukannya menjawab, Delano malah balas bertanya.


 “Seratus juta. Dia bilang akan memberi lebih kalau bisa selesai dalam minggu ini.” Merasa mendapat teman, Dahlia tidak segan bercerita.


 “Berapa yang ditawarkan Bella padamu?” Kini giliran Dahlia yang bertanya. “Kamu kan tunangan si Adelia ini, jadi pasti lebih besar kan?”


 “Satu milyar.”


 “APA?”


 Teriakan itu membuat seisi kafe tempat mereka bertemu menoleh. Jelas saja itu membuat Dahlia yang sudah berdiri karena kaget, langsung terduduk di tempatnya.


 “Bagaimana dia bisa menawarkan sebanyak itu padamu?” desis Dahlia benar-benar merasa ditipu.


 “Tanyakan itu padanya.” Delano hanya mengedikkan bahu dengan santainya.


 “Kurang ajar.” Dahlia mendesis kesal. “Berani-beraninya dia merendahkanku.”

__ADS_1


 Delano mendengus mendengar kalimat itu. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang punya ego setinggi itu dan merendahkan orang lain.


 “Begini saja.” Setelah berpikir secara kilat, Delano mempunyai ide yang menurutnya cukup lumayan. “Bagaimana kalau kamu jadi dual agen saja?”


 “Maksudnya aku bekerja untuknya, tapi bekerja juga untukmu?” Dahlia balas bertanya dengan nada mencemooh. Dia jelas merendahkan lelaki di depannya yang tampak seperti karyawan biasa saja.


 “Kamu mungkin tidak percaya, tapi saya bisa bayar kamu lebih dari yang diberikan Bella,” ucap Delano yang segera mengundang tawa perempuan di depannya.


 “Kamu yang hanya pegawai biasa?” tanya Dahlia masih sambil menahan tawa. “Bisa membayarku lebih dari seratus juta? Yang benar saja.”


 Delano tidak menanggapi cemoohan itu. Dia hanya duduk dengan kedua tangan terlipat, sambil menatap perempuan di depannya dengan tenang. Sangat tenang malah, sampai membuat Dahlia sedikit goyah.


 “Oke.” Sang sekretaris akhirnya mengangguk dengan ragu. “Katakan saja kamu punya seratus juta hasil dari menabung, walau itu juga agak mustahil. Tapi kamu yakin mau memberikan hasil tabunganmu padaku?”


 “Aku punya tabungan lebih dari itu,” jawab Delano masih bisa bersikap sangat santai.


 “Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?”


 “Tanya saja Betsy atau Farhan. Mereka akan memberitahu dengan senang hati,” jawab Delano kali ini terkesan agak menyombong. “Yah, walau aku juga tidak keberatan memperlihatkan sebagian isi tabunganku sih.”


 Mata Dahlia terlihat menyipit. Dia benar-benar ingin meragukan apa yang dikatakan oleh lelaki di depannya. Tapi entah kenapa, Delano terlihat begitu meyakinkan dengan kata-katanya.


 “Apa karena dia terlihat tampan dan rapi?” tanya Dahlia di dalam hatinya. “Ah, tapi kalau seperti itu saja sepertinya tidak mungkin. Tapi kalau beneran, kan aku bisa rugi,” lanjutnya masih di dalam hati.


 “Begini saja.” Akhirnya Dahlia memutuskan. “Coba kamu transferkan uang DP seratus juta ke rekeningku. Setelah itu baru aku akan bekerja sepenuhnya untukmu. Soalnya aku merasa tidak etis melihat isi rekening orang.”


 “Berapa nomor rekeningmu?” tanya Delano sambil mengambil ponselnya.


 Adelia membalik berkas yang dia bawa dan menggunakan bagian yang putih untuk menulis. Sekarang berkas itu tidak terlalu berharga lagi baginya karena sudah ada penawaran yang lebih lumayan dari penawaran Bella.


 Lalu selang tiga menit setelah nomor rekening diberikan pada Delano, ponsel Dahlia berdenting pelan. Itu adalah notifikasi uang masuk dan perempuan itu melotot karenanya.


 “Dua ratus lima puluh juta?” gumam Dahlia terlihat sangat terkejut.


 “Kalau kamu mau bekerja sama dengan baik dan mengikuti segala arahanku, kamu akan dapat lagi,” balas Delano dengan santainya, seolah uang itu bukan apa-apa.


 


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2