
“Hei, apa yang kau lamunkan?”
“Tidak ada.” Delano dengan cepat menjawab rekan kerjanya.
“Kalau begitu, kenapa sedari tadi melamun?” Wulan kembali bertanya dan duduk di kursi kosong sebelah Delano.
Sekarang sedang jam istirahat dan itu yang membuat dua office boy itu punya waktu luang untuk melamun dan ngobrol. Lalu hari ini adalah hari terakhir Delano bekerja sebagai office boy.
“Mentang-mentang sudah mau resign, kamu jadi lebih sering melamun ya.” Wulan mengatakan itu dengan nada mengejek.
“Bukan seperti itu. Aku cuma lagi banyak pikiran.” Delano meringis ketika mengatakan hal itu.
“Kenapa? Bertengkar dengan pacar mudamu yang manja itu?” Wulan dengan cepat menebak.
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” tanya Delano dengan kening berkerut. “Kami sama sekali tidak bertengkar. Aku hanya punya masalah lain.”
“Orang tuamu tidak setuju dengan dia?” Wulan kembali menebak dan Delano tentu akan kembali menggeleng.
Itu masih terjadi sekali lagi, sampai akhirnya Delano menegur, “Kenapa kamu selalu menebak sesuatu yang buruk tentang Adelia?”
“Aku sama sekali tidak menghina. Aku hanya bertanya apakah kalian bertengkar dan apakah dia atau kau diterima dalam keluarga masing-masing.” Wulan mengedikkan bahunya dengan santai.
Mendengar itu, Delano hanya bisa menghela nafas. Baginya, apa yang ditanyakan Wulan itu masih berkonotasi negatif. Tapi sudahlah, dia sedang tidak ingin bertengkar. Terutama pada hari terakhirnya bekerja.
Sudah cukup lama berlalu sejak kejadian melarikan diri dari pernikahan dan tahu-tahu Delano sudah akan berhenti jadi office boy. Adelia pun kini tinggal bersama Oma Tessa. Itu tentu hal yang baik karena akan mengurangi gosip, tapi Adelia masih terus mengirimi Delano uang.
“Bagaimana kalau hari ini kita mengadakan perpisahan?” Tiba-tiba saja, Wulan berbicara lagi dan itu mengejutkan Delano.
“Maaf, tapi sepertinya tidak bisa. Aku sudah punya janji lain.” Dengan terpaksa, Delano menggeleng.
“Kenapa? Sudah ada janji dengan pacarmu itu?” Wulan kali ini berbicara dengan nada ketus. “Dia minta ditraktir di restoran mahal ya?”
“Saya memang ada janji dengan dia, tapi saya yang ditraktir. Lebih tepatnya, keluarganya dia yang mentraktir.” Delano tidak segan untuk berbicara jujur karena ingin rekan kerjanya itu berhenti berpikiran negatif tentang Adelia.
“Oh, sudah berkenalan dengan keluarga rupanya.” Wulan jadi canggung ketika mendengarkan hal itu.
“Ya. Akan ada pembicaraan penting antar keluarga.” Delano menambahkan.
__ADS_1
“Pembicaraan penting?” Entah kenapa, Wulan langsung terkejut. “Apa kalian akan menikah?”
“Eh? Siapa yang mau menikah?”
Tiba-tiba saja, seisi ruang istirahat berbalik. Tidak banyak orang di sana, tapi karena ruangannya kecil, semua orang bisa mendengar dan pada akhirnya menimbulkan keributan.
***
“Kenapa kau terlambat?” Monic dengan cepat menghardik putranya, ketika mereka berdua akhirnya bertemu.
“Maaf, tadi teman-teman kantor ada byat acara perpisahan.” Hanya itu yang bisa dikatakan Delano.
“Tapi kita kan sudah punya janji, jadi seharusnya mau tetap pulang lebih cepat.” Monic masih mengomel.
“Tapi kenapa Mama tampak berlebihan?” Kali ini, Delano yang mengomel. Itu pun sambil melihat ibunya dari atas sampai bawah.
“Apanya yang berlebihan?” Monic langsung menghardik. “Mama ini Cuma pakai kemeja biasa dan celana biasa.”
Delano memutar bola matanya dengan gemas. Memang semuanya terlihat biasa, tapi Delano yakin itu semua bermerek mahal. Mungkin tidak banyak yang ada tahu, tapi lelaki muda itu tetap khawatir.
“Sudahlah, lebih baik kita segera masuk. Nanti mereka menunggu lama.” Monic dengan cepat memakai kacamatanya.
“Kau kan meminta Mama menyamar.” Monic mengedikkan bahu dengan santai. “Ini bentuk penyamaran dan perlu karena sekarang kita berada di restoran mewah. Siapa tahu ada yang mengenaliku.”
Sekali lagi, Delano memutar bola matanya tanpa mengatakan apa pun. Dia hanya mengikuti sang mama yang sudah duluan masuk ke tempat mereka akan bertemu Oma Tessa. Pada akhirnya, Adelia memilih menikah saja. Walau sebenarnya dia masih ragu.
“Selamat malam. Maaf saya terlambat.” Delano langsung bersuara ketika melihat Oma Tessa.
“Tidak masalah, Oma tahu kalau kau pasti punya acara sendiri dengan teman kantor lebih dulu.” Oma Tessa tersenyum lebar, sebelum beralih pada perempuan di sebelah Delano.
“Selamat malam, Tante.” Kali ini, Adelia yang menyapa sesopan mungkin. “Mari, silakan duduk.”
“Saya dengar, akhirnya Adelia dan Delano memutuskan serius?” Monic langsung bertanya, tanpa berbasa-basi.
“Ya, tapi sebelumnya boleh saya bertanya?” Oma Tessa bertanya dengan sangat hati-hati. “Apa papanya Delano tidak datang?”
“Pertanyaan yang sama bisa saya lontarkan pada Anda,” jawab Monic dengan tegas. “Ke mana orang tua Adelia, sampai Omanya yang datang mewakili?”
__ADS_1
“Ma.” Delano jelas saja langsung menegur, begitu pun dengan Adelia yang menyikut sang Oma.
Dua orang tua itu kemudian saling pandang dengan sebelah alis yang terangkat. Cukup lama, sampai membuat dua orang muda di sebelah mereka agak panik.
“Papanya Delano sudah lama meninggal.” Akhirnya, Monic yang duluan mengalah dan memberitahu. “Jadi sudah pasti hanya ada saya saja dan mungkin kakeknya.”
“Kalau dari pihak saya, agak susah menjelaskan bagaimana. Intinya, mama Adelia sudah tidak ada dan papanya brengsek.” Oma Tessa membalas diikuti helaan nafas panjang.
“Kalau begitu, kita bisa dibilang imbang kan?” tanya Monic mengedikkan bahu dengan santainya. “Jadi mungkin kita bisa mulai saja? Waktu terlalu berharga.”
“Tentu saja.” Oma Tessa tersenyum, tapi dia sedikit mengerutkan kening. Entah mengapa, dia merasa ada yang aneh dengan Monic.
Pembicaraannya berlangsung cukup lancar. Apalagi baik Delano mau pun Adelia tidak menginginkan pesta yang meriah.
“Yakin mau acara yang biasa saja?” tanya Monic terlihat agak bingung. “Biasanya kan anak muda suka yang mewah.”
“Ah, itu tidak perlu.” Adelia dengan cepat menggeleng. “Kebetulan saya lebih senang yang biasa saja.”
“Ini bukan karena status kami yang bukan orang kaya kan?” Masih Monic yang bertanya dengan mata menyipit tajam.
“Tidak ada yang seperti itu.” Oma Tessa yang membantah. “Yang penting cucuku bahagia dan Delano baik, itu sudah cukup.”
“Kalau seperti itu terserah saja, tapi saya minta pernikahannya tidak buru-buru.”
“Loh? Kenapa seperti itu?” Oma Tessa agak terkejut mendengar hal itu.
“Soalnya saya kan baru mau masuk kerja ke perusahaan Oma.” Kali ini Delano yang menjawab. “Rasanya aneh saja masuk sebagai suami Adelia. Nanti saya bisa dikira KKN.”
“Oh, rupanya karena itu.” Oma Tessa mengangguk mengerti. “Padahal tidak masalah, tapi kalau mau seperti itu tidak masalah juga.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau sekitar setahun lagi?” Monic bertanya. “Saya rasa itu sudah cukup, kalau mau lebih pun tidak masalah.”
“Setahun saja,” jawab Oma Tessa tak ingin menunda lebih lama. “Itu harusnya sudah cukup untuk mempersiapkan Adelia. Tanggal pastinya, bisa dibicarakan lagi lain waktu.”
Oma Tessa mengulurkan tangannya. Itu hanya kebiasaan saat berbisnis, tapi rupanya Monic menyambut dengan baik. Bahkan jabatannya tangan Monic bisa dibilang tegas dan Oma Tessa suka itu.
“Loh? Delano bukan?” Ketika proses jabat tangan itu selesai, terdengar suara perempuan yang memanggil dan membuat yang empunya nama kehilangan senyum.
__ADS_1
***To be continued***