Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Ancaman


__ADS_3

 “Kenapa kamu ada di sini?” Aditya bertanya, setelah terbangun dari tidurnya.


 “Karena saya ingin menjenguk,” jawab Delano dengan santainya. “Sebagai tambahan informasi, istri Om tadi turun untuk beli kopi.”


 “Kopi? Siapa yang mau minum kopi?” Aditya merasa bingung karena Bella sedang benci mencium bau kopi, selama masa kehamilannya. Jelas dia juga tidak mengonsumsi cairan hitam itu saat sakit.


 “Entah.” Delano mengedikkan bahu tanpa merasa bersalah. “Tadi aku hanya sempat menyebut kopi saat mengirim pesan pada Adelia dan dia langsung pergi begitu saja.”


 Aditya menghela nafas pelan. Dia tahu kalau Delano memang mengerjai istrinya, tapi tidak bisa mengatakan banyak hal. Bella dibenci semua orang dan dia masih bisa mengerti alasannya, walau kesal akan hal itu.


 “Adelia tidak ada,” gumam pria yang terbaring itu dengan suara serak. “Rasanya aneh saja kalau kau menjenguk tanpa putriku. Kau seperti ingin melakukan atau mengatakan sesuatu yang rahasia.”


 “Ternyata mudah ditebak ya.” Delano tersenyum tipis.


 “Kalau kau masih mau meminta putriku, maka aku akan tetap menolak.” Delano bahkan belum mengatakan apa pun, tapi Aditya sudah menolak. “Keputusanku tidak mungkin goyah hanya karena kau orang baik.”


 “Om menolak karena masa depanku yang bisa dibilang suram kan?” tanya Delano, tanpa mau berbasa-basi lagi.


 “Masa depanmu kan memang suram,” jawab Aditya yang juga enggan berkata-kata indah. “Adelia itu terbiasa hidup dengan nyaman. Dia mungkin tahan tinggal di kos selama beberapa bulan, tapi tidak seterusnya.”


 “Lalu kalau ternyata saya bisa sukses, bagaimana? Apakah Adelia boleh untuk saya?”


 Aditya mendengus pelan mendengar kalimat penuh percaya diri si penjenguk. Dia bahkan sudah nyaris tidak bisa menahan tawa. Untung saja rasa serak karena lama tidak minum, membuat Aditya kesulitan tertawa.


 “Maaf, bukannya mau menghina. Tapi sekali pun sukses, memang bisa sesukses apa?”


 “Bagaimana kalau sedari awal saya memang orang sukses yang menyamar jadi orang susah?” Delano yang merasa kasihan pada pria paruh baya di depannya, mengulurkan sebotol air mineral. Lengkap dengan sedotan.


 “Terima kasih.” Tentu saja Aditya menerima pertolongan itu karena memang perlu. “Kalimat yang bagus, tapi dari film mana lagi kau mengambil kalimat itu?” lanjutnya setelah meneguk air.


 “Itu kenyataan, Om. Bukan film.” Ringisan mengikuti kalimat Delano. Dia tidak tersinggung, hanya merasa miris saja karena memang terdengar seperti sinetron.


 “Memang seperti sinetron, tapi bagaimana kalau itu benar?” Delano kembali bertanya. “Ini seandainya saja.”


 Aditya tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir selama beberapa saat, sebelum menatap Delano penuh arti. Pertanyaan yang agak sulit baginya, tapi tetap harus dijawab kan?


 “Itu terserah pada Adelia saja. Tapi kalau benar begitu, kurasa akan sulit. Adelia bukan orang yang suka dibohongi, terutama setelah ibunya pergi.”


 “Saya tahu itu,” bisik Delano merasa sangat bersalah.

__ADS_1


 


 ***


 


 Adelia menatap layar ponselnya yang berpendar pelan. Untuk kesekian kalinya, dia hanya membiarkan telepon dari Delano begitu saja. Perempuan mungil itu enggan berbicara dengan sang tunangan, tapi enggan juga memblokir nomor lelaki itu. Tapi, dia masih membaca pesan lelaki itu.


 [Daddy Delano: Adelia, please!]


 [Daddy Delano: Aku tahu aku melakukan kesalahan besar, tapi tolong izinkan aku untuk menjelaskan. Setidaknya beri aku satu kesempatan.]


 “Menyebalkan.” Adelia melempar ponselnya ke sembarang arah dan mendarat tepat di pinggir ranjang yang sedang dia duduki.


 “Kalau tahu salah kenapa dilakukan?” tanya Adelia sama sekali tidak sadar kalau dia bertemu dengan Delano saat sudah menjadi OB.


 “Lagi pula, apa yang mau dijelaskan?” lanjut perempuan mungil itu dengan raut wajah kesal. “Aku bisa menebak kalau kau melakukannya untuk menguji mantan sialanmu.”


 Adelia kembali menatap ponselnya yang berdering. Ada getaran yang mengiringi dan membuat benda pipih itu mulai tergelincir turun dari ranjang.


 “Kalau ini dia lagi, sumpah aku akan meneriakinya.” Walau memaki, Adelia tetap mengambil ponselnya.


 “ADELIA.” Belum juga yang empunya ponsel mengucapkan salam, teriakan itu sudah terdengar.


 “Lupakan gendang telingamu. Sekarang kami punya berita yang mengejutkan.” Suara melambai Marcel terdengar sangat heboh.


 “Apa sih? Kalau tidak mengejutkan, aku akan marah.” Walau kesal, Adelia tetap menjawab.


 “Kau tahu tidak.” Masih Marcel yang berbicara. “Ternyata, Daddy-mu itu irang kaya.”


 “Oh, itu toh.”


 “What? Jangan bilang kau sudah tahu?” Kini giliran Poppy yang memekik.


 “Aku sudah tahu sejak beberapa hari lalu.” Dengan sangat enggan, Adelia yang malas membahas hal ini, menjawab. “Makanya aku bersembunyi di salah satu rumah Oma.”


 “Oh, kau marahan dengan pacarmu karena ini?” Kembali  Marcel yang bersuara.


 “Wajar sih. Dia sudah membohongimu dan kau malah tahu ini dari media sosial,” lanjut Poppy penuh pengertian.

__ADS_1


 Adelia tidak menjawab dan hanya bisa menghela nafas saja. Dia yang sedang tidak ingin banyak bicara, hanya mendengar kedua sahabat mengutuki Delano.


 “Terus, bagaimana dengan Pak Aris?” Tiba-tiba saja, Marcel mengubah pembicaraan.


 “Kenapa malah bahas dia?” Tentu saja Adelia akan bingung.


 “Apa kau tidak dengar?” tanya Poppy mulai terdengar antusias. “Per bulan depan, dia sudah resign. Katanya mau urus bisnis keluarga.”


 “Terus?” Adelia makin tidak mengerti saja.


 “Kurasa, dia tidak mau kalah dari Daddy-mu.”


 Jawaban dari Marcel itu, membuat Adelia memutar bola matanya. Apa yang dikatakan sang sahabat, terdengar sangat tidak masuk akal baginya. Sekali pun iya Pak Aris mau bersaing, memangnya bisa? Bukannya apa, tapi Adelia sudah mencari tahu selama beberapa hari ini.


 Keluarga Delano itu bisa dibilang old money. Keluarga pengusaha kaya raya yang sudah banyak makan asam dan garam. Pastinya berbeda dengan keluarga Pak Aris. Oma Tessa saja masih kalah.


 “Sudahlah. Aku sedang tidak ingin membahas itu.” Setelah membiarkan dua sahabatnya berceloteh cukup lama secara bergantian, Adelia akhirnya bosan juga.


 “Ah, tidak asik.” Jelas saja Marcel akan mengeluh. “Padahal kita kan mau tahu lebih banyak.”


 “Aku sendiri belum tahu banyak, jadi jangan berharap. Sudah ya. Aku ngantuk.” Setelah mengatakan itu, Adelia mematikan teleponnya.


 Baru juga Adelia mematikan telepon, benda pipih itu kembali berdering dan bergetar. Kali ini, nama Delano terpampang nyata di sana.


 “Aku tidak akan mengangkat teleponmu,” desis Adelia yang langsung mematikan panggilan dari sang Daddy, membuat lelaki itu mengirimkan pesan.


 [Daddy Delano: Kau menolak teleponku dan menerima telepon orang lain? Kau serius akan terus menolak ajakanku?]


 “Dia kenapa sih?” Adelia terlihat bingung membaca pesan penuh amarah itu.


 [Daddy Delano: Baiklah!]


 [Daddy Delano: Kau yang meminta ini, jadi jangan salahkan aku kalau terjadi sesuatu yang akan membuatmu malu.]


  “Dia mengancamku?” gumam Adelia dengan nada terkejut, sekaligus kesal. “Sialan.”


 [Adelia Lesmana: Silakan saja kalau kau mau mempermalukan aku. Aku tidak peduli!]


 Bukannya mengalah, Adelia malah makin menantang.

__ADS_1


 


***To be continued***


__ADS_2