Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Melarikan Diri


__ADS_3

 “Apa maksudnya saya tidak boleh masuk?” Delano bertanya dengan sopan, pada satpam yang sedang bertugas.


 “Kami sudah diberikan instruksi, kalau kamu dilarang masuk.” Pak satpam yang mengatakan itu, menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


 Delano meringis melihat fotonya dan Adelia ada di sana. Dia tidak tahu kapan dan di mana itu diambil, tapi fotonya sangat jelas.


 “Saya tidak akan melakukan apa-apa. Hanya ingin ....”


 “Akhirnya kau datang juga.” Belum juga Delano menyelesaikan kalimatnya, seseorang menyela.


 Seorang perempuan dengan dandanan lengkap, datang mendatangi Delano. Perempuan itu bahkan menarik lengan Delano dengan cukup kasar.


 “Kenapa terlambat?” tanya perempuan itu dan tentu saja membuat Delano bingung. Lelaki itu sama sekali tidak mengenali perempuan di depannya. “Cepat masuk sana, kalau tidak gajimu dipotong.”


 “Ini karyawan anda?” Si satpam bertanya dengan kening berkerut.


 “Ya. Ada masalah dengan itu?” tanya si perempuan dengan ketus.


 “Tidak, saya pikir dia orang yang tidak diizinkan masuk itu.” Tentu saja si satpam akan membela diri.


 “Mereka memang mirip, tapi orang yang berbeda. Sekarang kami harus pergi karena klien saya menunggu.” Perempuan itu dengan cepat menarik Delano masuk ke dalam lobi hotel dan memaksanya berjalan dengan cepat.


 Walau kebingungan, tapi Delano tetap berjalan masuk. Dia memang butuh masuk ke dalam gedung itu dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


 “Terima kasih atas bantuannya.” Delano mengatakan itu, setelah mereka tidak terlihat oleh pandangan satpam tadi.


 “Aku tadi yang mengirim pesan untukmu.”


 “Ah, yang make-up artist-nya Adelia.” Delano langsung menepukkan kedua tangannya. “Aku pikir tadi siapa.”


 “Pergilah. Dia menunggumu.” Tanpa banyak bertanya, si MUA tetap mengusirnya.


 “Terima kasih.” Delano kembali mengucapkan itu, ketika dia sudah mendapatkan lokasi jelasnya.


 Delano yang tampak begitu tenang, menyusuri koridor hotel tanpa terburu-buru. Dia sendiri, sebenarnya masih merasa cukup ragu dengan apa yang dia lakukan sekarang.


 “Kau hanya sedang menyelamatkan seseorang dari bencana, Delano.” Lelaki itu bergumam sendiri untuk membuat dirinya yakin, sebelum membuka pintu yang tertutup.


 Setelah mengatakan itu, Delano membuka pintu ruangan yang disewa untuk acara. Bukan ruangan besar karena yang diundang juga hanya sedikit.

__ADS_1


 Delano bisa melihat Adelia di depan sana, dengan gaun putih sederhana yang cantik. Entah bagaimana, itu membuatnya merasa sedikit sesak.


 “Adelia.” Panggil Delano tanpa dia sadari, hanya saja suaranya terlalu kecil. Karena itu Delano mengulang sekali lagi.


 “ADELIA.”


 “Daddy.” Yang empunya nama langsung menyahut dengan gembira.


 “Kamu mau ke mana?” Aris langsung menahan lengan pengantinnya yang sudah hendak pergi.


 “Lepas.” Tentu saja Adelia mencoba untuk memberontak, walau itu nyaris tidak mungkin. Kekuatannya nyaris tidak ada, apalagi dia belum makan.


 “Seseorang, usir dia dari sini.” Aditya yang akhirnya menyadari apa yang terjadi, segera bertindak.


 “Papa tidak boleh mengusir dia.” Tanpa sadar, Adelia memanggil sang ayah dengan sopan. Padahal, dia sudah berniat untuk memberontak.


 “Maaf kalau mengganggu, tapi ... boleh saya bicara sebentar dengan Adelia?” tanya Delano berusaha untuk sopan dan tenang.


 “Kau pikir kami sebodoh itu?” Aris yang bertanya dengan nada tenang.


 “Kamu boleh ikut kalau merasa tidak percaya,” jawab Delano dengan percaya diri.


 “Ini ada apa sih?” Perempuan yang merupakan ibu Aris, akhirnya bersuara setelah cukup lama diam.


 “Kenapa banyak sekali masalah?” tambah perempuan paruh baya itu dengan raut wajah kesal. “Kalau seperti ini, lebih baik batal saja.”


 “Ma.” Tentu saja Aris akan langsung menegur ibunya. “Jangan seperti itu.”


 “Habisnya bagaimana. Perempuan ini terlihat tidak normal dan ada lelaki yang datang mengejarnya juga. Ini jelas tidak masuk akal.” Ibu dari Aris kembali berbicara.


 “Ma, aku kan sudah menjelaskan sebelumnya.” Aris tidak sadar melepas tangan perempuan yang harusnya dia nikahi itu. “Adelia itu berbeda dan masih ada orang yang mengejarnya.”


 “Ya dan aku lebih memilih orang yang mengejarku,” gumam perempuan dengan gaun pengantin itu, mengambil kesempatan untuk melarikan diri.


 “Tunggu, Adelia.” Aris mengulurkan tangan, tapi terlambat.


 Adelia sudah melempar buket bunga pada ayahnya, kemudian mengangkat gaun dan berlari kencang. Tentu saja dia menghampiri Delano dan segera menarik lelaki itu pergi. Delano yang terkejut, hanya bisa ikut saja.


 “Daddy, ayo larinya yang kencang.” Adelia sempat meneriakkan kalimat itu.

__ADS_1


 “Tapi kita mau ke mana?” Delano menjawab juga dalam teriakan.


 “Lari saja dulu, nanti saja pikirkan itu.” Adelia menarik lelaki yang datang menjemputnya itu ke arah tangga darurat. Menunggu lift terlalu lama, lagi pula mereka tidak setinggi itu.


 “Oh, ini sangat mengganggu.” Baru juga menuruni beberapa anak tangga, Adelia langsung mengeluh.


 “Ada apa?” tanya Delano agak merasa khawatir.


 “Sepatu ini mengganggu.” Adelia mengatakan itu, sembari melepas sepatu hak tinggi yang dia gunakan dan membuangnya begitu saja.


 “Kamu ingin membuangnya?” tanya Delano merasa agak menyayangkan hal itu. Sepatu itu terlihat agak mahal.


 “Tidak apa-apa, lagi pula itu bukan punyaku.” Adelia kembali menarik tangan lelaki yang datang menjemputnya itu, setelah mengangkat roknya tinggi-tinggi.


 “Kamu mengangkat rokmu terlalu tinggi.” Delano masih sempat mengatakan hal itu, sementara mereka berlarian menuruni tangga.


“Astaga, Daddy! Bisakah kau tidak banyak bertanya?” Pengantin yang sedang kabur itu mulai tampak kesal melihat pacar bayarannya. “Lari saja karena kita sudah hampir sampai.”


 Hanya beberapa langkah kemudian, mereka menemukan pintu yang menuju ke bagian belakang hotel. Tapi sampai di sana, Adelia tiba-tiba saja menjadi bingung. Kini dia tidak tahu harus pergi ke mana.


 “Kita tidak boleh ke arah sana.” Delano menarik pacar pura-puranya yang sudah ingin berbelok ke kiri. “Itu menuju ke bagian depan hotel dan mereka pasti mencari ke sana. Kita harus ke kanan.”


 “Oh, dari mana Daddy tahu?” Walau bertanya, Adelia tetap mengikuti.


 “Aku ... pernah bekerja di sini. Cuma sebentar.” Hanya itu yang dikatakan Delano dengan sedikit ekspresi panik di wajahnya. Untung saja Adelia tidak memperhatikan itu.


 “Kita sepertinya harus cepat mencari kendaraan kan?” tanya Adelia menatap ke sekelilingnya. “Orang-orang mulai memperhatikanku.”


 “Tentu saja kamu akan diperhatikan dengan penampilan seperti itu. Aku akan coba panggil taksi online.”


 “Kalau menunggu taksi online, kita mungkin akan tertangkap. Lebih baik kita naik angkot saja.” Adelia menunjuk bus yang baru saja melaju tak jauh dari mereka. Jujur saja, itu membuat Delano merinding.


 “Kamu ingin naik bus menggunakan gaun?” tanya Delano dengan mata melotot. Sekarang saja dia sudah mulai merasa malu karena ada beberapa orang yang mengambil video, apalagi kalau di dalam bus.


 “Tentu saja. Itu lebih cepat karena aku sudah bisa mendengar suara teriakan papaku.”


 “ADELIA.” Bertepatan dengan selesainya kalimat Adelia, suara teriakan lain terdengar nyaring.


 

__ADS_1


***To be continued***


__ADS_2