Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Pertengkaran


__ADS_3

 “Daddy,” Adelia memanggil dengan senyum meringis di wajahnya. “Jangan marah.”


Delano tidak menjawab, tapi dia melirik perempuan mungil di depannya dengan tatapan marah. Seumur-umur, dia belum pernah merasakan kemarahan seperti sekarang dan ini pertama kalinya. Aneh, tapi itulah kenyataan.


 “Daddy.” Adelia yang kembali merajuk membuat Delano menghela nafas panjang.


 “Aku kan sudah bilang teleponnya jangan diangkat.” Delano pada akhirnya hanya bisa menegur pelan.


 “Tapi pada kenyataannya, Kak Natasya perlu bantuan kan?”


 “Itu sebenarnya bukan urusan kita.” Delano membulatkan mata karena masih agak marah. “Aku bisa membantu dengan memanggil ambulans, tapi tidak dengan cara seperti ini.”


 “Sudah terlanjur juga.” Adelia membalas dengan hati-hati. “Lagi pula, Kak Natasya kan kasihan juga. Dia hanya sendirian dan tidak ada yang menemani.”


 “Jadi sekarang kamu ingin aku menemani mereka juga?” Jelas saja Delano akan melotot ketika mengatakan hal itu. Untung saja Adelia menggeleng sebagai jawaban.


 Delano kembali menghela nafas. Dia kini menatap ke arah sang mantan berada dan perempuan itu sedang berbicara dengan seorang dokter.


 Tadi Natasya menelepon karena panik ayahnya pingsan, saat hanya ada mereka berdua di rumah. Dia meminta pertolongan karena panik dan bingung, lalu Adelia dengan cepat mengiyakan. Itulah yang membuat mereka semua kini berada di ruang IGD. Lebih tepatnya, Adelia dan Delano hanya melihat dari luar ruangan saja.


 “Terima kasih karena sudah mau membantu.” Natasya yang sudah keluar dari ruang IGD mengatakan hal itu.


 “Jadi bagaimana Om?” Adelia yang bertanya.


 “Serangan jantung ringan, tapi untuk sekarang sudah baik-baik saja. Papa juga akan segera dipindahkan ke ruang rawat.” Natasya mengatakan itu, sembari tersenyum tipis.


 “Syukurlah kalau begitu.” Adelia menghela anfas lega mendengarnya.


 “Itu artinya kami pulang saja. Tidak apa-apa kan?” Tentu saja Delano mengatakan itu hanya untuk basa-basi saja, dia sedari awal memang tidak ingin berada di sana.


 Bukannya tidak ingin menolong, tapi bagi Delano tidak etis rasanya membantu Natasya saat dia sudah bersama Adelia. Terutama ketika hal itu bersifat agak pribadi, seperti mengantar ke rumah sakit. Hari ini pengecualian karena Adelia.


 “Apa ... aku boleh bicara sebentar denganmu?” tanya Natasya pada lelaki di depannya dengan ragu-ragu.


 “Maaf, tapi aku harus mengantar Adelia pulang. Sudah malam.”

__ADS_1


 “Kalau kalian ingin bicara, biar aku menunggu di tempat lain.”


 Pasangan itu berbicara nyaris bersamaan. Itu membuat Natasya sedikit bingung, juga lucu saat bersamaan. Sayangnya, Delano  agak kesal dengan apa yang dikatakan sang tunangan.


 “Tidak apa-apa.” Adelia mengembangkan senyumnya. “Kalian bisa bicara, asalkan tidak terlalu lama. Aku akan menunggu di sana.”


 “Terima kasih,” bisik Natasya pelan, sebelum gadis muda itu pergi.


 “Tolong cepatlah sedikit.” Delano mengucapkan itu dengan nada agak kesal. “Aku bisa dimarahi kalau terlalu lama mengantar Adelia pulang.”


 “Dia kan bawa mobil. Kau tidak perlu khawatir,” balas Natasya yang juga terlihat sedikit kesal.


 “Mau dia bawa mobil atau tidak, aku tetap akan mengantarnya pulang.”


 “Kau itu kenapa sih?” Kini sang mantan tak segan menumpahkan kekesalannya. “Kau sendiri setuju kalau kita masih bisa berteman, tapi kenapa sekarang menghindariku?”


 “Karena kau meminta terlalu banyak, Natasya.” Delano tidak segan menghardik. “Mengantarmu dan keluargamu ke rumah sakit itu sudah terlalu pribadi. Aku tidak bisa melakukan itu karena ada perasaan yang harus kujaga.”


 “Sesuka itukah kau padanya?” tanya Natasya dengan tatapan sedih. “Sudah benar-benar tidak ada harapan untukku?”


 “Tapi buktinya hari ini kau membantuku.” Sayangnya Natasya tidak mau kalah. “Lagi pula, kau kan sangat menyukaiku. Aku bahkan mendengar kau terus mencariku.”


 “Itu dulu.” Kali ini Delano tidak segan menghardik. “Tapi sekarang tidak lagi. Berhentilah berharap padaku karena aku akan menikah dengan Adelia.”


 “Dia masih anak-anak.” Perempuan yang tengah panik itu masih ingin mencoba peruntungannya. “Memangnya apa yang bisa kau dapatkan dari anak manja seperti dia? Dia ....”


 “Banyak hal.” Kesal dengan sang mantan, Delano menyela kalimat perempuan itu. “Setidaknya dia baik, tidak seperti kau yang hanya bisa menjelekkan orang yang telah membantumu.”


 “Kebaikanku hari ini karena dan atas permintaan Adelia. Tanpa dia, mungkin sekarang kau masih menangisi papamu yang sekarat itu.”


 Delano tahu kalimatnya itu terdengar kasar, tapi dia tidak peduli. Harus ada yang bisa membuat Natasya sadar dan kalimat kasar harusnya sudah cukup untuk itu. Terbukti karena sang mantan kini mematung di tempat dan memberikan kesempatan Delano untuk pergi.


 


 ***

__ADS_1


 


 “Mereka ngobrol apa sih?” Adelia yang menunggu agak jauh, menatap tunangannya dan si mantan terindah.


 Tadi Adelia memang mengizinkan mereka berdua berbicara, tapi sejatinya dia tidak serela itu. Dia masih merasakan sedikit kecemburuan dan punya rasa penasaran yang besar. Terutama ketika Delano terlihat marah.


 “Ayo kita pulang.” Tiba-tiba saja, Delano menarik tangan Adelia. Sedikit kasar, tapi tidak menyakitkan.


 “Daddy sudah selesai ngobrol? Emang tidak apa-apa kita pulang begitu saja?” Adelia dengan polosnya bertanya.


 “Kita sudah harus pulang, Adelia.” Delano berhenti melangkah dan menatap sang tunangan dengan raut wajah tidak suka. “Ini sudah sangat malam dan Oma Tessa mungkin akan khawatir.”


 Untung saja kali ini Adelia tidak banyak bicara dan hanya mengangguk saja. Setelah itu pun, Delano bersikap sedikit lebih lembut dan dia pula yang membawa mobil sang tunangan untuk pulang.


 “Maaf.” Setelah cukup lama berkendara dalam keadaan sunyi, akhirnya Delano duluan yang buka suara.


 “Maaf untuk apa?” Tentu saja Adelia merasa bingung dengan permintaan maaf lelaki yang sedang menyetir di sebelahnya.


 “Tadi aku kasar dan berteriak padamu.”


 “Oh, tidak apa-apa.” Adelia sedikit meringis ketika mendengar pernyataan itu. “Aku juga yang salah karena tadi sempat memaksa Daddy.”


 “Lain kali jangan diulangi lagi ya.” Tanpa terduga, Delano menegur. “Aku tidak ingin tiba-tiba saja lepas kendali dan memarahimu lebih parah dari hari ini.”


 “Jujur saja, Daddy cukup seram kalau marah.” Adelia mengatakan itu, hanya karena ingin sang tunangan tahu. “Daddy tidak pernah marah. Tapi sekalinya marah, tatapan Daddy saja sudah cukup membuatku merinding.”


 Kali ini Delano yang meringis mendengar apa yang dikatakan sang tunangan. Dia tidak begitu banyak bicara lagi karena mereka sudah dekat dengan rumah Oma Tessa. Hanya ada sesekali senda gurau atau pertanyaan, sampai akhirnya mereka sampai.


 “Oma ada tamu jam segini?” Delano menanyakan hal itu, ketika melihat mobil lain parkir di halaman rumah.


 “Itu mobilnya Papa.” Adelia bergegas turun karena tiba-tiba saja perasaannya jadi tidak enak.


 “AKU BILANG KEMBALIKAN ANAKKU.” Suara teriakan itu terdengar diiringi suara kaca pecah dan membuat dua orang yang baru sampai itu bergegas masuk.


 

__ADS_1


***To be continued***


__ADS_2