
“Kenapa aku tidak bisa masuk?” tanya Bella dengan penuh amarah. “Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi? Aku pacarnya Delano.”
“Maaf, Bu.” Si resepsionis meringis. “Gedung ini punya banyak perusahaan yang berkantor, jadi anda harus menyebutkan nama perusahaannya dulu. Setelah itu, baru bisa kami bantu sampaikan ke tempat terkait.”
“Untuk apa menyebut nama perusahaan, kalau yang punya gedung ini itu Delano Widjaja?” tanya Bella makin kesal saja.
Bella bukan asal datang saja. Dia sudah mencari tahu beberapa hal dan menemukan gedung yang dia datangi milik perusahaan yang disebut-sebut sebagai milik keluarga Delano. Perusahaan yang juga berkantor di gedung yang sama, tapi dia lupa namanya dan malas untuk melihat lagi.
“Maaf, Bu. Kami hanya mengikuti aturan saja. Kalau pun mau bertemu dengan pemilik gedung, Ibu harus punya janji dulu.” Si resepsionis dengan baik hati memberi tahu.
“Tidak bisakah kau menelepon saja dan mengatakan Bella datang mencarinya?” tanya ibu hamil yang kini terlihat antusias itu. “Katakan saja aku ibu tirinya Adelia Lesmana.”
Resepsionis itu terlihat ragu, sebelum akhirnya bersedia membantu. Setidaknya, dia hanya akan menelepon saja dan bertanya. Apa yang terjadi nanti, dia tidak mau tahu lagi.
“Katanya tunggu sebentar ya, Bu.” Resepsionis yang tadi meringis ketika mendengar jawaban dari atas. “Nanti Ibu akan turun sendiri.”
“Hah? Kok Ibu sih? Bukannya yang punya gedung ini Delano Widjaja ya?” tanya Bella agak bingung. “Apa dia sudah menikah?”
“Untuk yang satu itu, saya tidak tahu.” Hanya itu yang bisa dikatakan si resepsionis. “Saya juga masih baru di sini.”
Bella berdecak mendengar hal itu. Dia jelas tidak bisa terus bertanya pada karyawan yang masih baru. Biasanya mereka memang tidak tahu apa-apa dan dengan terpaksa, hanya bisa menunggu saja. Sayang sekali, orang yang menemui Bella tidak sesuai harapan.
“Kau yang mencariku?” Monic menatap ibu hamil di depannya dengan tatapan bingung. “Kau ibu tirinya Adelia?”
“Ya, tapi siapa ya?” Bella jelas saja bingung karena belum pernah bertemu Monic sebelumnya. Atau mungkin tidak memperhatikan kehadiran perempuan paruh baya itu.
“Kau meminta untuk bertemu pemilik gedung kan?” tanya Monic dengan kening yang masih berkerut bingung. “Aku pemilik gedungnya.”
“Bukannya pemilik gedung itu Delano?”
__ADS_1
“Anakku hanya bertugas menjalankan perusahaan,” jawab Monic dengan kening yang makin berkerut. Baginya, Bella itu sangat aneh. “Pemiliknya ya tetap aku.”
“Oh, anda ibunya ya.” Tiba-tiba saja sikap Bella jadi makin lembut dan sopan. “Maaf saya tidak tahu. Kenalkan saya Bella.”
“Aku sudah tahu kau Bella dan kau ibu tirinya Adelia.” Monic hanya menatap uluran tangan di depannya. “Tapi apa maumu mencari putraku?”
“Oh, anda salah dengar. Saya bukan ibu tiri Adelia.” Entah apa yang ada di pikiran Bella, tapi dia malah mengelak. “Saya sahabat baik Adelia dan sudah sangat dekat dengan keluarganya, sampai menganggap ayah dan ibunya sebagai orang tua sendiri.”
“Apa kau pikir aku tuli dan bodoh?” tanya Monic dengan dengusan nafas yang cukup keras. “Kau jelas mengiyakan ketika aku bertanya soal ibu tiri dan resepsionis juga mengatakan hal yang sama. Itu jelas bukan kebetulan atau salah dengar.”
Bella menggeram dengan sangat pelan. Dia menyesali kecerobohannya tadi. Harusnya, tadi dia menyebut diri sebagai teman baik Adelia saja. Tapi kini dia jelas tidak bisa mengelak lagi.
“Iya, maksud saya begitu.” Pada akhirnya, Bella dengan tergagap mengakuinya. “Maaf, tapi saya terlalu malu untuk mengakui itu. Apalagi dengan keadaan saya yang sekarang.”
“Kau malu hanya karena hamil dengan ayah sahabatmu?” Kini nada bicara Monic terdengar mencemooh. “Kenapa harus malu kalau itu bukanlah aib?”
“Apa kau ingin mengatakan kalau itu anak Delano?” tanya Monic menebak dengan sangat tepat.
“Bagaimana anda tahu?” Bella benar-benar tampak terkejut karena rencananya dengan mudah terbaca.
“Karena bukan hanya kau yang datang padaku dengan bualan tidak masuk akal itu,” jawab Monic dalam cibiran dan ekspresi marah luar biasa.
“Kau pikir ini kali pertama aku menghadapi perempuan gila yang ingin menipu?” tanya perempuan paruh baya itu dengan tatapan yang benar-benar marah dan dia mendekati Bella yang mulai ketakutan.
“Dengar anak muda,” desis Monic tepat di hadapan wajah lawan bicaranya. “Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi denganmu dan Adelia, tapi jangan coba mengganggu putraku.”
“Sebenarnya kau juga tidak boleh mengganggu Adelia karena dia yang nanti akan menjadi menantuku, tapi itu biarlah jadi urusan Delano saja. Jadi aku peringatkan sekali lagi, jangan cari gara-gara dengan keluarga kami.”
Setelah puas mengatakan hal itu, Monic segera berbalik. Dia sudah cukup mengintimidasi perempuan muda yang tengah hamil itu. Sayangnya, Bella belum menyerah juga. Dia masih mencoba sekali lagi.
__ADS_1
“Anda mungkin tidak tahu, tapi Adelia sepertinya batal menikahi Delano,” teriak Bella membuat beberapa orang yang ada di lobi menoleh.
“Kau tidak perlu khawatir tentang itu anak muda,” jawab Monic tanpa menoleh ke belakang. “Delano punya cara sendiri untuk mengatasinya dan kau bisa melihat itu sebentar lagi.”
“Cukup lihat media sosial dan televisi saja dan kau akan tahu. Lalu, sebaiknya kau urusi saja bayimu itu. Tidak perlu mengurusi orang lain,” lanjut Monic yang dengan cepat berlalu setelahnya.
“Bu Monic.” Belum juga sampai di depan lift yang akan membawanya naik, seseorang memanggil. “Persiapannya sudah siap dan akan segera dimulai.”
“Kalau begitu, ayo kita ke sana. Aku ingin dengar apa yang akan dikatakan oleh bocah bucin itu.” Kini Monic tersenyum lebar.
Sementara itu, di tempat lain Delano sedang duduk dengan mata tertutup. Dia sudah beberapa hari merencanakan ini, tapi setelah waktunya dekat. Delano tetap saja merasakan kegugupan yang tidak pernah dia rasakan selama ini.
Saking gugupnya, kaki lelaki itu tidak berhenti bergoyang. Ini juga akan jadi sesuatu yang agak memalukan untuknya, tapi apa boleh buat. Adelia tidak mau berbicara dengannya, jadi ini satu-satunya cara yang bisa Delano pikirkan.
“Mas Bos.” Gilang muncul dengan pakaian yang lebih rapi. “Semuanya sudah siap.”
“Kenapa sudah siap?” Delano jelas saja akan mengeluh. “Aku sama sekali belum siap.
“Ah, Mas Bos ini gimana sih?” tanya Gilang dengan gelengan kepala pelan. “Ini gak bisa diundur lagi loh. Lagian, Mas Bos sendiri yang punya ide.”
“Iya sih, tapi ....” Delano terdiam, tapi pada akhirnya mengangguk. “Kau benar. Ini ideku, jadi harus kuselesaikan.”
Delano pada akhirnya berjalan mengikuti arahan Gilang. Begitu keluar dari pintu, lampu kamera semua menyorot dirinya. Suara teriakan penuh nada tanya pun, saling memburu dengan lampu flash. Orang-orang yang melakukan itu, sama sekali tidak punya kesabaran sama sekali.
“Terima kasih untuk kehadiran semuanya di sini. Sekarang, saya akan mulai menjelaskan apa yang beredar di media sosial dan akan mengumumkan hal lainnya,” gumam Delano di depan mikrofon.
***To be continued***
__ADS_1