Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Prenup


__ADS_3

 “PAPA.”


 Adelia berteriak ketika melihat kekacauan yang terjadi di ruang tengah. Ada vas bunga yang jatuh dan pecah, menyebabkan kaca berhamburan di mana-mana. Untung saja sepertinya tidak ada yang terluka parah.


 “Adelia.” Aditya dengan cepat mendekati anaknya yang baru datang itu. “Sekarang kamu ikut Papa pulang.”


 “Aku tidak mau.” Perempuan mungil itu dengan cepat menghindar dan bersembunyi di balik punggung Delano.


 “Adelia jangan membantah.” Pria paruh baya yang sedang marah itu membentak. “Dia punya pacar yang lain selain dirimu. Orang kaya juga dan itu jelas karena dia ingin memeras.”


 “Saya tidak punya pacar selain Adelia.” Tentu saja Delano akan bingung mendengar hal itu.


 “Apa kamu akan membantah setelah melihat bukti ini?” Aditya menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan foto Delano dengan seorang perempuan yang adalah Natasya.


 “Foto itu lagi.” Delano memutar bola matanya dengan gemas. “Sebenarnya dari mana semua orang mendapat foto itu sih?”


 “Aku mendapatnya dari Bella.” Adelia menyahut dari belakang tubuh tunangannya.


 Mendengar hal itu, Delano menghembuskan nafas lelah. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa bisa Bella segigih itu ingin mengganggu Adelia. Padahal dia sudah mendapat Aditya yang juga cukup kaya kalau yang dia inginkan hanya harta.


 “Itu mantannya Daddy Delano. Aku sudah ketemu juga.” Adelia mengatakan itu karena melihat tunangannya tidak berniat untuk menjelaskan.


 “Dia masih berhubungan dengan mantannya dan kau masih ingin bersama dengan lelaki brengsek ini?” tanya Aditya benar-benar tidak percaya dengan sang putri.


 “Daddy tidak berhubungan dengan kak Natasya lagi. Kami bertemu karena kau yang ingin dan Daddy-ku sudah dengan jelas menolak Kak Natasya.” Masih Adelia yang menjelaskan.


 “Jangan mudah percaya pada lelaki.” Aditya menghardik putrinya. Dia merasa kalau sang putri pasti sudah terkena guna-guna atau sejenisnya.


 “Kalau begitu, Adelia juga tidak harus percaya pada Om kan?” Setelah sempat diam, akhirnya Delano berbicara juga. “Om juga lelaki kan? Spesies yang tidak boleh dipercaya.”


 Aditya menggeram marah mendengar itu. Dia tidak menyangka kalau omongannya, justru akan berbalik untuk menyerang dirinya. Ini sangat memalukan, apalagi Oma Tessa terlihat sudah akan tertawa.

__ADS_1


 “Pikirkan lagi dan Papa akan menjemputmu lusa.” Akhirnya Aditya hanya bisa menyerah dan pergi begitu saja.


 “Oma tidak apa-apa?” Adelia mendekat ke arah sang nenek, setelah papanya tidak terlihat lagi.


 “Tidak apa-apa.” Oma Tessa menjawab dan segera melirik pada Delano. “Kau ternyata lumayan juga ya.”


 “Lumayan apa?” Delano yang tengah membereskan pecahan kaca dengan hati-hati, mendongak dengan tatapan bingung.


 “Caramu melawan Aditya tadi cukup lumayan.” Kali ini, Oma Tessa memberikan jempol juga pada lelaki yang jauh lebih muda darinya itu.


 Mendengar itu, tentu saja Delano akan meringis. Dia tidak menyangka akan mendapat pujian seperti itu dari Oma Tessa. Rasanya membanggakan, sekaligus sedikit memalukan karena yang dia lawan tadi adalah orang tua.


 “Jujur saja, saya merasa sedikit berdosa pada orang tua.” Delano tak ragu untuk mengaku dosa. “Apalagi beliau itu calon mertuaku.”


 “Tidak perlu merasa bersalah, ketika dia duluan yang berbuat jahat pada calon istrimu. Lagi pula, dia juga sudah banyak memfitnahmu dan tinggalkan pecahan kaca itu.” Setelah hanya melihat selama beberapa waktu, akhirnya Oma Tessa menghardik juga.


 “Apa kau pikir di sini tidak ada orang yang bisa membersihkan semua kekacauan ini?” lanjut Oma Tessa dalam kalimat tanya. “Jangan mentang-mentang kau mantan office boy dan terbiasa disuruh-suruh, lantas kau berinisiatif untuk membersihkan.”


 “Jadi bagaimana dengan mantanmu itu?” Oma Tessa kembali bertanya. “Kau benar-benar memperkenalkannya pada Adelia?"


 “Kami bertemu, tapi tidak benar-benar berkenalan. Hanya ngobrol basa-basi sedikit karena kebetulan dia meminta bantuan Daddy tadi.” Adelia yang menjelaskan.


 “Minta bantuan seperti apa?” Tentu saja Oma Tessa akan merasa heran.


 Adelia tentu saja tidak keberatan menjelaskan, walau Delano terlihat tidak terlalu nyaman dengan itu. Namun, lelaki itu sadar kalau lebih baik jujur saja. Jika tidak, nanti Oma Tessa bisa salah paham.


 “Bagaimana kau bisa mendapatkan orang-orang yang luar biasa?” tanya Oma Tessa, setelah mendengar bagaimana deskripsi Natasya dari cucunya.


 “Tapi kalau dilihat dari wajah dan sifatmu, semua perempuan juga pasti akan terlena. Oma saja tertarik padamu, sayangnya kau terlalu muda,” lanjut perempuan tua itu, diiringi dengan candaan.


 “Oma.” Bukan Delano yang menegur, tapi Adelia. Entah bagaimana, dia merasa sedikit tidak senang mendengar apa yang dikatakan sang oma. “Daddy memang tampan, tapi Oma tidak boleh suka padanya.”

__ADS_1


 “Oma terlalu berlebihan.” Kali ini, Delano yang berbicara. Dia merasa malu juga, terutama setelah dipuji sang tunangan. “Lagi pula, dari pada membahas masa lalu, lebih baik kita membahas masa depan.”


 “Memangnya apa yang mau dibahas?” Bukan hanya Oma Tessa yang bingung, tapi juga Adelia.


 “Setelah tadi mendengar apa yang dikatakan Om Aditya, aku merasa harus membuat perjanjian pra nikah. Tentu saja itu kalau Adelia dan Oma setuju,” balas Delano yang kini terlihat begitu serius.


 “Aku ingin pemisahan harta, agar Om Aditya tidak terus-terusan mengatakan aku hanya mengincar harta,” lanjut lelaki itu dengan sangat tenang. “Kalau bisa, itu dibuat sejak sekarang saja.”


 Delano sudah agak lupa apakah mereka pernah membicarakan hal ini, jadi lebih baik dia ungkapkan saja lagi. Lagi pula, ini juga demi kebaikan bersama.


 “Maaf ya. Papaku memang keterlaluan.” Adelia langsung menjadi merasa bersalah.


 “Kamu tidak perlu meminta maaf, Del. Aku sebenarnya tidak tersinggung, tapi hanya ingin membuat semua orang merasa percaya saja. Lagi pula, bukan kamu yang salah.”


 “Duh.” Tiba-tiba saja Adelia mengeluh. “Kenapa Daddy baik banget sih? Padahal aku saja kesal sama papaku, tapi Daddy sepertinya masih bisa sesantai ini.”


 “Menurutku ini hal yang biasa saja.” Delano mengangkat kedua bahunya dengan santai, seolah memang perlakuan sang calon mertua bukan apa-apa.


 “Ya sudah. Nanti Oma coba hubungi notaris untuk prenup-nya.”


 “Bagaimana kalau kita pakai notaris yang kemarin mengurus warisan mamaku saja?” Adelia memberikan usul. “Kebetulan sekali aku dan Daddy sudah mengenal notarisnya dan sepertinya tempat itu terpercaya.”


 “Tentu saja. Itu ide yang bagus.” Tentu Delano tidak akan menolak. Dia juga sudah ingin mengusulkan tempat itu, walau Adelia tidak mengusulkan.


 “Oma mengenal orang yang kau maksud. Besok biar Oma yang hubungi mereka.”


 Oma Tessa juga setuju dan ingin menjadi perantara. Siapa yang sangka kalau notaris yang dimaksud bergerak cukup cepat dan menelepon Delano hanya selang beberapa jam setelah Oma Tessa menelepon.


 “Dengan Bapak Delano Widjaja? Kami dari Firma Hukum dan Notaris FB. Besok kita sudah bisa membicarakan soal prenup yang diinginkan.”


 ***To be continued***

__ADS_1


 


__ADS_2