
“APA KALIAN BERDUA TIDAK TAHU MALU?”
Suara teriakan itu membuat Delano dan Adelia terlonjak. Mereka berdua sangat terkejut mendengar teriakan yang mereka tidak sangka-sangka bisa sekeras itu, apalagi yang berteriak adalah Oma Tessa.
“Apa yang orang-orang katakan kalau mengetahui cucuku memakai gaun pengantin berdiri di pinggir jalan, seperti seorang pengemis.” Oma Tessa sudah menurunkan intonasi suaranya, tapi dia masih terlihat sangat marah.
“Aku tidak terlihat seperti pengemis,” bantah Adelia dengan suara keras pada awalnya, tapi mengecil kemudian. “Mana ada perempuan dengan dandanan lengkap dan gaun pengantin terlihat seperti pengemis.”
“Bagiku terlihat seperti itu.” Oma Tessa melotot dan membuat cucunya tertunduk yang duduk di sofa, tertunduk dalam. Tentu Adelia sudah berganti pakaian, walau hanya seadanya karena mereka pulang ke rumah Oma.
“Tapi bukankah Oma tidak senang kalau Adelia harus menikah secara paksa?” Delano tiba-tiba saja membela diri, tapi juga mendapat pelototan tajam dan membuatnya ikut menunduk.
Terdengar suara helaan nafas dari Oma Tessa yang sedang berdiri di depan dua anak muda yang sedang duduk itu. Sejak tadi, dia memang berjalan mondar-mandir untuk merekan amarahnya. Itu perlu agar tekanan darahnya tidak tiba-tiba melonjak.
“Aku memang tidak suka jika cucuku dipaksa menikah, sampai diculik seperti ini.” Oma Tessa yang mulai tenang, akhirnya memilih duduk di sofa tunggal. “Tapi kalau kalian ingin lari, setidaknya buat persiapan lebih dulu. Minimal harus bawa mobil agar tidak terlalu memalukan.”
“Eh? Jadi Oma tidak marah?” tanya Adelia agak kaget mendengar pernyataan sang oma barusan.
“Tentu saja marah,” hardik Oma Tessa yang membuat sang cucu kembali terlonjak kaget. “Tapi tentu saja bukan marah pada kalian berdua. Kalian memalukan, tapi aku tidak semarah itu.”
“Syukurlah kalau begitu.” Delano langsung merasa lega mendengarnya. “Tapi, Oma kenapa bisa ada ddi daerah hotel tadi?”
Tadi Oma Tessa yang sedang bepergian, memang menemukan cucunya dengan gaun pengantin di pinggir jalan. Karena dia juga melihat menantunya mengejar, Oma Tessa memutuskan untuk membantu Adelia dan Delano. Walau sebenarnya dua orang itu sudah duluan masuk ke dalam mobil, tanpa diminta.
“Lalu sekarang kalian mau apa? Sudah kabur begini, pastinya sudah merencanakan sesuatu kan?” tanya Oma Tessa dengan tatapan tertuju pada Delano.
“Sebenarnya, kami belum merencanakan apa-apa.” Delano meringis ketika mengatakan itu.
“Oh. Ini agak mengejutkan, berhubung kau sudah bertanya padaku sejak beberapa hari lalu.” Kini tatapan oma Tessa menajam. Dia tampak tidak suka dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Apa ada sesuatu yang tidak kutahu?” Adelia yang bingung, langsung saja bertanya. Dia juga ingin tahu karena sepertinya ini menyangkut tentang dirinya.
__ADS_1
“Sekarang Oma ingin bertanya padamu.” Kini perempuan tua itu beralih pada cucunya. “Apa Delano sudah pernah bertanya tentang pernikahan padamu?”
Kening Adelia berkerut mendengar pertanyaan itu. Dia bingung apa hubungan semua ini dengan pernikahan dan Delano, tapi pada akhirnya perempuan mungil itu memilih untuk mengangguk saja. Lagi pula, mereka sudah pernah membicarakan hal ini.
“Ibunya Delano pernah menanyakan hal itu padaku, walau sepertinya beliau kurang suka padaku,” jawab Adelia dengan amat sangat jujur.
“Tidak suka karena apa?” Oma Tessa kembali beralih pada lelaki muda di sebelah sang cucu.
“Bukan hal yang serius.” Bukan Delano yang menjawab, tapi Adelia. “Sepertinya ibunya Delano menganggap aku terlalu muda dan masih tidak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik.”
“Ibu rumah tangga yang baik?!” Oma Tessa tampak makin tidak suka mendengar hal itu.
“Maksud mama saya bukan seperti itu.” Tahu kalau Oma Tessa mungkin salah paham, Delano segera meluruskan.
“Biar bagaimana saya kan sudah berumur.” Delano mulai menjelaskan. “Mama ingin segera punya cucu, sementara Adelia masih terlalu muda untuk itu.”
“Oh, itu rupanya.” Mendengar penjelasan seperti itu, Oma Tessa masih bisa mengerti. “Masuk akal sih.”
“Kau belum memberitahu dia?” Oma Tessa kembali beralih pada Delano. “Kenapa Adelia belum tahu.”
“Saya berencana memberitahu setelah pulang dari wawancara kemarin, tapi Adelia sudah keburu menghilang. Tapi sebelumnya saya sudah memberi petunjuk kok.”
“Oh, soal kita yang menikah?” tanya Adelia akhirnya mengingat apa yang pernah dikatakan oleh pacar bayarannya. “Artinya itu jadi? Kita jadi menikah?”
“Tentu saja jadi.” Oma Tessa yang menjawab. “Apalagi kau sudah kabur begini, jadi kau harus menikah dengan orang lain.”
“Baiklah kalau begitu.” Adelia mengangguk ragu-ragu. Entah bagaimana, perempuan mungil itu jadi ragu-ragu.
Memang, Adelia yang duluan menawarkan pernikahan pada Delano. Hanya saja, itu bukan keinginan Adelia yang sesungguhnya. Dia menawarkan hal itu, agar tidak dinikahkan dengan Aris Wisesa. Namun ketika pembicaraan itu naik ke permukaan, tiba-tib saja Adelia merasa ragu-ragu.
“Kalian ingin pesta yang bagaimana?” Tiba-tiba saja Oma Tessa bertanya. “Oma akan bantu urus untuk acara dan keperluan lainnya.”
__ADS_1
“Tapi ini tidak apa-apa kalau tidak ada papaku kan?” tanya Adelia hanya untuk mengulur-ulur waktu saja. Siapa tahu masih bisa batal.
“Kau tidak perlu khawatir soal itu.” Oma Tessa melambaikan tangannya dengan santai. “Biar nanti Oma yang urus semuanya. Kamu nanti tinggal mengurus diri sendiri saja.”
“Kalau kamu belum siap, kita bisa memikirkan ulang soal ini. Tidak perlu dipaksakan.” Tiba-tiba saja, Delano mengatakan hal itu pada perempuan mungil yang duduk di sebelahnya. Rupanya, dia menangkap keragu-raguan Adelia.
“Kok Daddy ngomong gitu sih?” Adelia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
“Kalau memang ragu, bilang saja ragu. Kamu tidak berbakat untuk berbohong karena terlihat jelas di wajahmu.”
Mendengar hal itu, Adelia langsung meringis. Padahal rasanya dia sudah berusaha sekuat tenaga menyembunyikan ekspresinya, tapi Delano memang peka. Lelaki itu masih bisa membaca ekspresi dengan akurat.
“Sebenarnya aku bukan ragu sama, Daddy ....” Adelia menjeda dengan menarik nafas cukup panjang. “Aku ... hanya belum siap. Kurasa yang dibilang mamanya Daddy Delano itu benar, aku belum siap.”
“Tidak apa-apa, berpikirlah lagi sebelum memutuskan.” Delano mengatakan itu, sembari mengusap kepala perempuan mungil di sebelahnya.
Perbuatan yang dilakukan Delano sebenarnya sederhana, tapi itu membuat Adelia tersipu malu. Hal itu, tentu saja dengan mudah dilihat oleh Oma Tessa. Membuat perempuan tua itu melirik pada dua orang muda itu, bertepatan dengan denting ponsel Delano.
“Ada apa?” Oma Tessa bertanya, ketika melihat wajah Delano yang tidak begitu baik.
“Tidak apa-apa.” Delano dengan cepat menggeleng dan tersenyum. “Hanya pesan nyasar.”
“Hapus saja. Jangan sampai itu pesan penipuan,” ucap Oma menasihati. “Nanti salah pencet kan bahaya.”
“Iya, Oma.” Delano dengan cepat menurut, tapi dia masih sempat membaca ulang pesan yang terpampang sebagian di layar ponselnya.
[+628xxxxxxxx: Del, apa kau ada waktu untuk bertemu?]
***To be continued***
__ADS_1