Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Mulai Menggoda


__ADS_3

 Delano menatap sekitarnya dengan tatapan lelah. Dirinya sudah sampai di kantor dan melihat semua orang berbisik di belakangnya, pastilah berita itu sudah tersebar.


 “Selamat pagi.” Walau terasa canggung, Delano tetap menyapa rekan satu ruangannya.


 “Selamat pagi.” Hanya ada satu yang menyahut dengan sama canggungnya.


 “Delano.” Belum juga yang empunya nama duduk, dia sudah dipanggil kepala bagian. “Bos besar memanggilmu ke ruangannya.”


 “Oh, baiklah.” Tanpa menyimpan tasnya, Delano segera beranjak pergi lagi.


 “Bu Feli. Apa dia akan dipecat?” Belum juga benar-benar pergi, seseorang bertanya pada kepala bagian.


 “Kalau yang kau maksud adalah Delano, maka itu sudah pasti.” Feli menjawab dengan tegas. “Siapa yang mau membiarkan saingan bekerja di perusahaannya.”


 “Tapi Delano kan baik.”


 “Dia mungkin punya niat baik, tapi tidak semua orang percaya itu.” Feli kembali menegaskan. “Dan lebih baik kalian bekerja saja.”


 Lelaki yang sedang dibicarakan itu menghela nafas pelan, kemudian perlahan-lahan menutup pintu ruangan yang masih sedikit terbuka. Ternyata diragukan itu terasa sangat tidak menyenangkan, padahal orang-orang itu baru juga menjadi rekannya dalam dua bulan terakhir.


 “Sudahlah, Delano.” Lelaki itu menepuk pipinya, tepat di depan ruangan Oma Tessa. “Lebih baik kau pikirkan saja nasibmu dan Adelia. Mereka pasti marah.”


 “Kenapa kau tidak masuk dan malah bicara sendiri di depan pintu?”


 Delano tersentak mendengar suara yang sudah dia kenali itu. Rupanya, Oma Tessa baru saja tiba dengan para ajudannya dan kini tengah menatap dirinya dengan bingung. Tidak terlihat marah, tapi siapa yang tahu kan?


 “Pagi Oma.” Delano memilih untuk menyapa dengan lebih santai.


 “Pagi juga dan masuklah ke dalam.” Oma Tessa menarik lengan lelaki muda di depannya. “Kita tidak mungkin bicara di sini kan?”

__ADS_1


 Hanya ringisan saja yang bisa diberikan Delano sebagai jawaban. Dia jelas tidak bisa banyak bicara karena tahu kalau dirinya bersalah, apalagi setelah melihat ekspresi wajah Om Bayu. Tidak seperti sang ibu, lelaki paruh baya itu tampak marah.


 “Apa maksudnya berita yang tersebar itu?” tanya Om Bayu, tepat setelah pintu ruangan tertutup dan menyisakan mereka bertiga saja di sana.


 “Saya tidak akan menyangkal, Om.” Tentu saja Delano akan jujur dan sopan. “Sebagian dari berita itu memang benar, tapi saya datang ke sini bukan untuk mencuri apa pun. Sulit dipahami, tapi saya jujur.”


 “Lalu? Untuk apa kau menyamar?” Kali ini Oma Tessa yang bertanya dengan nada tenang.


 “Kalau diceritakan, ini agak memalukan dan anda berdua pasti akan mencap saya bodoh. Tapi saya tentu tidak keberatan bercerita.” Setelah itu, Delano benar-benar bercerita.


 Dia menyebut Natasya dan kepergiannya. Menjelaskan kenapa dia masih bertahan dengan menyamar sebagai orang miskin, sampai akhirnya baru-baru ini menerima tawaran pekerjaan yang lebih baik. Sayangnya, kali ini Oma Tessa terlihat tidak suka.


 “Kau ingin menikahi cucuku, tapi masih terikat dengan masa lalu?” tanya perempuan tua itu dalam geraman.


 “Saya tidak terikat lagi dengan masa lalu, Oma.” Delano membela diri, tapi entah akan berhasil atau tidak.  


 “Waktu berkenalan dengan Adelia, saya memang belum lepas dari masa lalu. Saya sudah memberitahu Adelia dan dia tidak keberatan, tapi sekarang berbeda. Saya bahkan sudah merasa marah dengan mantan saya itu,” lanjut Delano benar-benar mengungkapkan kejujuran.


 “Adelia menyaksikan bagaimana aku menolak perempuan itu,” jawab Delano dengan sangat yakin. “Dia melihat bagaimana saya enggan menolong mantan saya lagi.”


 “Jadi sekarang, kau mau apa?” tanya Oma Tessa, setelah menghembuskan nafas cukup keras. “Semua ini menyakiti Adelia dan dia bahkan tidak mau menikah denganmu lagi.”


 “Saya akan membujuk Adelia,” balas Delano tanpa keraguan sedikit pun. “Sekarang saya sadar kalau saya menyukai Adelia.”


 Oma Tessa kembali menghembuskan anfas dengan kasar. Dia juga bisa melihat kalau Delano memang punya perasaan pada cucunya, tapi Adelia sudah terlanjur marah. Anak perempuan itu akan sulit ditaklukkan kalau sudah terlanjur marah.


 “Aku tidak mau tahu lagi.” Oma Tessa mengangkat tangan tanda menyerah. Dia tahu akan sulit meyakinkan orang yang sedang jatuh cinta. “Kau saja yang membujuk Adelia kalau mau. Oma tidak mau ikut campur.”


 “Ma, kok gitu sih?” Om Bayu langsung protes. “Dia itu sudah bohong loh.”

__ADS_1


 “Tapi Delano berbohong bukan untuk kejahatan.” Tentu saja Oma Tessa akan menghardik putranya. “Lagi pula, mereka yang akan menjalani nanti. Biar mereka sendiri yang menentukan. Yang jelas, Delano tidak bisa lagi bekerja di sini.”


 “Terima kasih sudah mau memberi kesempatan.” Delano membungkuk, dengan senyum terulas di wajahnya.


 “Asal kau tahu saja. Adelia kalau sudah marah, tidak akan mendengar siapa pun. Oma juga tidak bisa memberitahu di mana dia karena nanti Adelia akan makin marah. Kau urus sendiri.”


 Hanya itu yang dikatakan Oma Tessa, sebelum mengusir lelaki muda di depannya. Namun, itu sudah cukup untuk Delano. Sebagai lelaki, Delano memang merasa perlu menyelesaikan masalah yang dia buat sendiri.


 “Tapi aku harus cari dia di mana?” Delano menggaruk kepala, ketika menemukan kalau ponsel Adelia tidak bisa dihubungi. “Apa ke rumah sakit saja ya?”


 Delano melihat jam di ponselnya. Hari masih termasuk pagi dan jam besuk belum dimulai. Dia akhirnya memutuskan untuk membeli buah tangan dulu, sebelum pergi ke rumah sakit. Sekalian saja berbenah diri untuk terlihat lebih baik lagi. Itu adalah hal yang disyukuri Delano nantinya.


 “Apa yang kau lakukan?” Delano bertanya, ketika melihat gelagat Bella.


 “Apa yang kau lakukan di sini?” Bella tersentak ketika menyadari ada seseorang yang berdiri di pintu.


 “Aku ke sini datang menjenguk,” jawab Delano dengan kening berkerut. “Aku juga sudah mengetuk, tapi tidak ada yang menjawab. Makanya aku masuk.”


 Bella menggeram mendengar itu. Hampir saja kelakuannya untuk mencabut jarum infus ketahuan. Itu mungkin tidak akan membuat Aditya langsung mati, tapi setidaknya bisa mencegah pria paruh baya itu mendapat obat dari infus dan memperburuk kondisinya.


 “Oh, ya.” Bella mengangguk agak panik. “Tentu saja kau datang untuk menjenguk, tapi sayang sekali Adelia tidak ada. Dia pergi meninggalkan ayahnya begitu saja.”


 “Adelia tidak meninggalkan siapa pun,” balas Delano dengan tegas. “Kalau dia ingin meninggalkan, dia tidak akan datang saat kau menelepon.”


 “Maksudku bukan begitu.” Tiba-tiba saja Bella menjadi lebih centil. “Maksudku, dia pergi saat papanya sedang tidur. Itu kan tidak sopan.”


 “Kalau begitu, apa kau tahu dia pergi ke mana?” Delano duduk di kursi samping ranjang, tanpa perlu ada yang menyuruh. “Adelia tidak ada di rumah Oma Tessa.”


 “Oh, itu ... aku juga tidak tahu,” jawab Bella dengan senyum tipis yang coba dia sembunyikan. “Dia tidak bilang apa-apa, tapi tenang saja. Ada aku di sini. Aku bisa menemanimu melakukan apa pun.”

__ADS_1


 


***To be continued***


__ADS_2