Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Kapan Menikah?


__ADS_3

 “Satu masalah belum selesai, malah muncul masalah lain.” Adelia berdesis kesal dengan tatapan yang sama kesalnya. “Dan ini semua gara-gara perempuan yang bernama Bella.”


 Tanpa diduga, perempuan mungil itu meletakkan sendok yang dia pegas ke atas piring dengan cukup keras. Bunyi benturannya, membuat semua orang yang ada dalam ruangan tersentak. Termasuk si pasien, Aditya Lesmana yang baru saja sadar hampir seminggu lalu.


 “Maaf,” cicit Aditya agak merasa takut dengan putrinya. Walau mereka sering bertengkar, tapi baru kali ini Adelia terlihat semarah itu. Tentu saja waktu perselingkuhan ayahnya terbongkar, belum dihitung.


 “Dua minggu yang lalu, dia dorong Papa sampai jatuh. Sekarang, dia malah bunuh diri di hotel dan mencelakai adikku.” Adelia tidak berhenti mengomel. “Dasar perempuan tidak guna.”


 “Maaf.” Lagi-lagi, hanya itu yang bisa Aditya katakan.


 “Kenapa Papa yang minta maaf terus?” hardik Adelia dalam nada tanya dan mata melotot. “Memangnya Papa yang salah?”


 Aditya sudah ingin membuka mulutnya untuk mengatakan maaf lagi, tapi segera membatalkan niatnya. Dia tidak mau mendengar omelan Adelia lebih lama lagi. Rasanya, itu lebih menyiksa dibanding harus diinfus karena sakit.


 “Untung saja dia tidak benar-benar mati dan anaknya juga tidak apa-apa. Kalau tidak, aku akan mematahkan lehernya, setelah dia melahirkan.”


 Ekspresi Adelia, membuat dua orang lelaki yang ada di dalam kamar rawat inap itu menelan ludah. Delano jadi berpikir  tentang masa depannya nanti. Dia harus sangat berhati-hati, agar tidak membuat Adelia marah.


 “Jadi ... di mana Bella sekarang.” Aditya yang sembuh dengan lebih cepat berkat perawatan terbaik, bertanya dengan nada penasaran. Biar bagaimana, perempuan muda itu adalah ibu dari anaknya.


 “Sementara ini di rawat di rumah sakit ini juga.” Delano yang menjawab karena dia yang mengurusinya. “Setelah itu, mungkin akan dites dulu kejiwaannya dan jika hasilnya jelek dan tidak mengganggu kehamilan, rencananya akan dipindah ke rumah sakit jiwa. Om tidak keberatan kan?”


 Delano merasa dia perlu menanyakan kesediaan Aditya. Biar bagaimana, Bella adalah istri Aditya dan sedang mengandung anaknya. Tentu saja pendapat pria paruh baya itu tetap diperlukan.


 “Rasanya itu yang paling baik. Mungkin lebih baik dibanding penjara,” jawab Aditya dengan anggukan kepala yang sangat pelan. Seolah sudah sangat yakin kalau istrinya memang sakit.


 “Syukurlah kalau begitu. Aku sempat pikir Papa tidak mau dia masuk rumah sakit jiwa.” Kali ini, Adelia yang berbicara.


 “Orang sakit ya diobati, Adelia. Tidak ada gunanya juga dia masuk penjara dengan mental seperti itu. Yang ada, dia malah makin rusak di dalam sana. Apalagi dalam kondisi hamil.”


 “Tumben bijak banget.” Adelia tidak segan untuk mengejek sang ayah.


 “Karena pada akhirnya Papa sudah sadar,” gumam si pasien dengan raut wajah bersalah. “Harusnya, sudah dari dulu Papa mendengar perkataan Mamamu dan juga perkataanmu.”

__ADS_1


 “Mau menyesal sekarang juga percuma.” Adelia benar-benar tidak segan untuk menegur sang ayah, walau dengan kalimat yang menusuk sekali pun.


 “Tidak akan ada yang berubah, sekali pun Papa menyesal dan minta maaf. Sekarang, Papa harus lebih fokus dengan masa depan saja,” tambah Adelia yang kini benar-benar terdengar sangat bijak.


 “Sejak kapan sih putri Papa jadi bijak begini?” Kini giliran Aditya yang mengejek sang putri.


 “Sejak aku pacaran dengan om-om,” jawab Adelia dengan santainya, tidak peduli kalau nanti sang kekasih akan merasa tersinggung.


 Untung saja Delano yang baik itu hanya tertawa mendengarnya. Entah mengapa, dia tidak lagi terlalu kesal dipanggil om. Tentu saja, hal itu hanya berlaku bagi Adelia saja. Ketika dia dipanggil om oleh orang lain, Delano tetap merasa kesal.


 “Omong-omong.” Tiba-tiba saja Aditya berbicara lagi dengan raut wajah lebih serius. “Kapan kalian mau menikah?”


 


 ***


 


 Sepasang kekasih yang sedang duduk di dalam mobil itu terdiam. Mereka memutuskan pulang karena Mbok Darmi yang akan menginap, ditemani seorang pekerja lelaki dari rumah. Namun, sejak dari rumah sakit sampai di rumah Adelia,  sejoli itu tetap terdiam.


 “Kurasa tidak.” Delano dengan cepat dan tegas menolak. “Kurasa jantung dan otakku tidak akan baik-baik saja kalau tinggal seatap denganmu.”


 “Dih, kebelet nikah ya, Pak?” Adelia menanyakan itu untuk mengejek, tapi siapa sangka kalau Delano tidak menampiknya.


 “Ya.” Lelaki yang masih duduk di belakang setir kemudi mobil mewah itu tak ragu untuk mengangguk. “Sebenarnya sekarang ini aku memang kebelet nikah, tapi jelas tidak mungkin dalam waktu dekat ini.”


 “Loh, kenapa?”


 “Ya karena papamu kan sedang sakit.” Delano bingung dengan keterkejutan sang kekasih. “Kita harus tunggu dia lebih baik dulu dong.”


 “Oh, ya.” Giliran Adelia yang mengangguk, walau terlihat canggung. “Harus tunggu papaku dulu.”


 “Jadi kamu mau kapan?” Delano kembali bertanya.

__ADS_1


 “Apanya?”


 “Menikah.”


 Adelia tidak langsung menjawab pertanyaan sang kekasih. Kalau mau jujur, dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Pertama, karena Adelia tidak tahu kapan papanya cukup sehat untuk menghadiri pernikahannya. Kedua, Adelia juga tidak tahu apakah dia bisa mengurus pernikahan sambil kuliah.


 “Sebenarnya, aku mau lanjut kuliah lagi,” gumam Adelia setelah berpikir cukup lama. “Aku merasa sudah cukup banyak tertinggal.”


 “Tidak masalah.” Delano mengangguk penuh keyakinan.


 “Tapi aku tahu Daddy juga tidak mungkin menunggu aku lulus kan?”


 “Sebenarnya itu juga tidak masalah.” Kali ini Delano menggeleng. “Aku bisa menunggu, setidaknya sampai kamu selesai ujian akhir.”


 Adelia mendengus mendengar hal itu. Yang dikatakan sang kekasih justru terdengar sangat terburu-buru di telinganya. Seolah Delano tidak ingin menunggu selama itu. Sidang akhir untuknya masih cukup lama. Mungkin satu atau dua tahun lagi, bahkan mungkin lebih karena dia sempat cuti.


 “Cari waktu saja saat liburan panjang.” Akhirnya Adelia memutuskan. “Aku tidak keberatan menyandang status sebagai istri orang saat kuliah nanti.”


 “Serius?” tanya Delano tampak tidak percaya. “Aku tidak mau kalau kamu tiba-tiba menarik ucapanmu lagi loh.”


 “Iya. Aku serius. Kita bisa menikah ketika kampus libur cukup lama dan papaku sudah sehat,” tegas Adelia dengan penuh keyakinan.


 “Kamu tidak akan menyesal karena menikah muda kan?” tanya Delano hanya untuk memastikan. “Walau aku tidak akan mengekangmu, tapi duniamu sedikit banyak pasti akan berubah.


 “Aku amat sangat yakin,” jawab Adelia dengan menatap lurus ke mata sang kekasih. “Soalnya, aku hanya bisa sama Daddy saja dan Daddy sudah kebelet nikah.”


 Bukannya tersinggung, Delano malah tertawa mendengar itu. Dia merasa Adelia yang sekarang ini sangat menggemaskan dan rasanya ingin dia terkam saja. Tapi tentu saja Delano masih mengingat janji yang dia buat dengan Oma Tessa.


 “Boleh aku menciummu?”


 Kedua alis Adelia terangkat mendengar pertanyaan kekasihnya. Dia terkejut mendengar pertanyaan frontal itu, tapi pada akhirnya mengangguk. “Asal jangan sampai keterusan saja,” gumamnya pelan.


 

__ADS_1


***To be continued***


__ADS_2