Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Menantang


__ADS_3

 "Ini beneran?" Adelia menaikkan kedua alis ketika menatap lelaki di depannya itu. “Pak Aris yang dijodohkan dengan saya?"


 "Ya, benar." Sang dosen memperlihatkan ponsel sebagai bukti. Di sana ada pesan yang dikirimkan oleh si pengacara.


 Adelia langsung mendesah melihat isi chat yang dia baca. Ini benar-benar tidak dia duga. Dosennya, ternyata adalah lelaki yang dijodohkan dengannya. Tidakkah ini seperti novel?


 “Jadi bagaimana?” Aris bertanya dengan raut wajah serius, setelah pesanannya datang.


 “Bagaimana apa ya, Pak?” Bukannya menjawab, Adelia malah balik bertanya.


 “Soal kita yang dijodohkan? Kamu mau apa tidak?”


 Perempuan yang hari ini mengenakan kemeja putih dan jeans biru itu menaikkan sebelah alisnya. Dia cukup terkejut dengan pertanyaan frontal sang dosen.


 “Jujur, saya merasa tidak nyaman dengan hal ini,” jawab Adelia yang merasa perlu untuk menjawab dengan sama beraninya.


 “Kenapa tidak nyaman? Bukankah kita sudah saling mengenal? Bukankah itu harusnya membuatmu lebih ... santai?”


 “Sama sekali tidak.” Adelia berusaha untuk tidak meringis ketika mengatakan itu.


 Raut wajah Aris terlihat tidak begitu senang mendengar mahasiswanya. Keningnya berkerut dan tatapannya bertanya. Seolah yang barusan dia dengar adalah sesuatu yang sangat aneh.


 “Kita mungkin saking mengenal, tapi tidak benar-benar tahu satu sama lain,” lanjut Adelia dengan serius. “Apalagi Pak Aris itu dosen saya. Rasanya aneh kalau kita dijodohkan.”


 “Saya tidak merasa aneh,” balas Aris dengan cepat.


 “Tapi saya merasa aneh.” Adelia juga membalas dengan cepat.


 “Kalau begitu begini saja.” Aris melipat kedua tangannya di depan dada. “Bagaimana kalau kita mencoba untuk saling mengenal lebih jauh dulu, sebelum memutuskan harus seperti apa.”


 “PDKT gitu?” tanya Adelia dengan kening berkerut. “Tapi saya sudah punya pacar loh,” lanjutnya, ketika menerima anggukan sebagai jawaban.


 “Kita kan hanya pengenalan dulu, bukan langsung pacaran.” Tanpa diduga, Aris mengatakan hal itu.


 Jujur saja, Adelia agak terkejut dengan pernyataan itu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau si dosen killer bisa mengatakan hal egois seperti itu. Itu jelas membuat Adelia illfeel.


 Setelah apa yang terjadi pada ibunya, Adelia jelas tidak akan senang dengan lelaki yang serupa sang ayah. Walau itu hanya sekedar pacar atau pendekatan, bahkan hubungan kontrak.


 “Maaf. Saya tidak bisa,” tolak si mahasiswi dengan tegas. “Saya orang yang setia dan tidak akan mau menjalin hubungan lain, selama saya masih berpacaran dengan orang lain.”

__ADS_1


 “Tapi kita kan hanya mencoba saling mengenal dulu kan?” tanya Aris terlihat bingung.


 “Tapi tujuannya kan untuk ke hal yang lebih serius, jadi saya sama sekali tidak bisa.” Adelia kembali menolak dengan tegas.


 “Lalu, kalau tidak ada lagi yang ingin dikatakan, saya permisi. Kebetulan saya sudah dijemput,” lanjut perempuan bertubuh mungil itu, setelah melirik sekilas ke arah ponselnya.


 “Apa yang membuatmu betah dengan dia?” Aris bertanya, setelah melihat lelaki yang baru saja turun dari motor, dari jendela besar di sebelahnya.


 Adelia tidak langsung menjawab. Dia terlebih dulu menengok dan tersenyum pada Delano yang melambai padanya. Senyum lelaki yang masih menggunakan seragam office boy itu, begitu tulus. Walau sedetik kemudian berubah datar karena melihat Aris.


 “Dia hanya seorang office boy. Walau tampan, tidak ada yang menarik dari dirinya.” Aris melanjutkan, sambil terus menatap lelaki yang menjadi saingannya itu.


 “Kenapa semua orang meremehkan dia hanya karena pekerjaannya,” dengus si mahasiswi cantik, mulai kesal juga.


 “Ya karena memang seperti itu.” Aris mengedikkan kedua bahu dengan santainya, seolah itu bukan apa-apa.


 Mendengar itu, Adelia mendengus pelan. Sungguh, dia tidak menyangka kalau dosennya yang keras itu, ternyata sangat merendahkan orang lain.


 “Terima kasih atas undangannya hari ini, saya harus pergi.” Pada akhirnya, Adelia memilih untuk segera pergi saja.


 Perempuan muda itu berjalan dengan wajah kesal, dia pun tidak peduli dengan lelaki yang memanggilnya. Sungguh, Adelia benar-benar illfeel.


 “Sudah.” Adelia mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. “Daddy sendiri? Aku gak ganggu kan?”


 “Gak.” Lelaki dengan seragam itu menggeleng. “Kebetulan hari ini selesai lebih cepat, kamu sendiri tidak menunggu lama kan?”


 “Gak. Soalnya ternyata aku cukup lama di dalam.”


 Adelia meringis ketika menyadari kalau dia cukup lama bersama Aris. Lebih tepatnya, lebih banyak terdiam karena dia terkejut kalau sang dosen yang dijodohkan dengan dirinya.


 “Yuk pulang. Aku mau naik motor.” Adelia dengan cepat menarik lelaki yang lebih tua darinya itu.


 “Loh, lalu mobilmu?” Delano menunjuk mobil mungil berwarna merah yang dia kenali.


 “Tinggalin saja deh. Aku mau naik motor.” Perempuan mungil berambut cokelat itu menggeleng.


 “Tapi saya tidak bawa motor karena berpikir kamu tadi bawa mobil,” jawab si office boy dengan senyum cerah.


 Melihat senyum itu, Adelia mau tidak mau memilih untuk mengalah. Dia pada akhirnya merogoh tas untuk mencari kunci, tapi tidak menemukannya.

__ADS_1


 “Mencari ini?”


 Adelia langsung menoleh mendengar suara yang dia kenali. Perempuan mungil itu, bisa melihat sang dosen sedang memegang kunci mobilnya.


 “Kembalikan.” Adelia merampas barang miliknya itu, tapi sang dosen menolak untuk memberikan.


 “Biar aku saja yang membawamu pulang.” Aris mengatakan itu dengan senyum lebar


 “Tidak perlu.” Adelia jelas saja akan menolak dengan tegas. “Aku bisa bawa mobil sendiri.”


 “Masa perempuan yang bawa mobil.” Aris mengatakan itu, sembari melirik Delano yang berdiri di belakang mahasiswinya.


 “Memangnya kenapa kalau aku yang bawa? Aku saja tidak masalah.” Adelia menumpukan kedua tangan di pinggang untuk menantang.


 “Tentu saja itu tidak enak untuk dilihat.” Aris masih melirik Delano dengan senyuman tipis.


 Mau tidak mau, Delano pun menatap lelaki yang sama tinggi dengannya itu. Dia sendiri tidak mengatakan apa-apa karena bingung dengan lelaki yang mungkin adalah teman Adelia itu.


 “Sekarang tolong kebalikan kunci saya, Pak.” Kali ini, Adelia mengulurkan tangannya. “Mumpung saya masih meminta baik-baik.”


 Sayangnya, Aris  tidak memberi tanggapan. Dia malah terus menatap Delano dengan tatapan menyelidik, sampai akhirnya lelaki yang dia tatap memberikan reaksi.


 “Bisa tolong berikan kuncinya?” tanya Delano dengan sopan, bahkan disertai senyuman. “Kami sudah harus pulang.”


 “Memangnya kamu bisa menyetir mobil?” Aris malah balik bertanya.


 “Tentu saja saya bisa,” jawab Delano benar-benar terlihat santai.


 “Yakin? Apa kamu dukunya sopir angkot?” Aris kembali bertanya tanpa terdengar terlalu merendahkan.


 “Pak Aris.” Merasa pacar kontraknya direndahkan, Adelia langsung menegur. Dia benar-benar tidak suka dengan dosennya itu.


 “Saya tidak pernah jadi sopir angkot.” Berlainan dengan sang kekasih kontrak, Delano menjawab dengan tenang.


 “Tapi  saya tahu menyetir dan kalau kamu perlu bukti, saya bisa mengatar kamu pulang,” lanjut si office boy dengan senyum lebar


 


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2