Bukan Sugar Baby (Mommy)

Bukan Sugar Baby (Mommy)
Mantan Terindah


__ADS_3

 “Daddy kenapa lambat sekali sih?” Adelia merajuk ketika melihat lelaki yang sejak tadi dia tunggu datang.


 “Maaf, tadi aku agak telat keluar kantor dan jalanan juga macet.” Delano mengatakan itu dengan senyum tipis, berharap dia akan dimaafkan dengan mudah.


 “Iya, tapi harusnya daddy bisa beritahu dulu kek. Aku kan capek juga berdiri terus.” Adelia masih saja merajuk dengan bibir mencebik yang menggemaskan.


 “Iya, maaf. Aku yang salah, jadi sebagai gantinya aku traktir deh.” Lelaki yang masih dalam balutan kemeja kerjanya itu mencoba untuk merayu. “Adel suka green tea latte kan?”


 “Ih, kok Daddy tahu sih?” Adelia luluh dengan mudahnya. “Aku juga mau New York Cheesecaake.”


 Delano langsung tersenyum mendengar hal itu. Dia sangat senang karena Adelia adalah perempuan yang mudah dibujuk, tapi tidak mudah terjebak. Setidaknya, perempuan itu masih bisa bertahan di kehidupan yang begitu jahat.


 “Omong-omong, boleh aku tanya beberapa hal?” Delano bertanya, setelah mereka melaju di keramaian lalu lintas yang sangat padat.


 “Boleh. Daddy mau tanya apa? Apa uang yang kukirim kurang?” Adelia dengan cepat menebak.


 “Bukan itu.” Lelaki yang tengah mengemudikan motor itu meringis pelan, tapi sama sekali tidak tersinggung. “Ada hal lain yang ingin kutanyakan. Soal keluargamu kalau tidak keberatan.”


 Adelia tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sebentar dan Delano masih bisa memaklumi. Walau nantinya akan menikah, tapi urusan keluarga bukanlah sesuatu yang mudah diungkapkan. Terutama pada orang yang menjalin hubungan berdasar keuntungan masing-masing.


 “Daddy pasti mau tanya soal papaku dan istri mudanya kan?” Pada akhirnya, hanya itu yang bisa dikatakan oleh perempuan muda yang tengah dibonceng itu.


 “Itu pun kalau kamu tidak keberatan.”


 “Aku tidak keberatan kok.” Adelia dengan cepat menggeleng. “Justru sudah waktunya Daddy tahu karena kita akan jadi keluarga. Tapi mungkin nanti saja aku ceritakan. Saat kita sudah di tempat nongkrong, biar aku tidak haus dan nyaman bercerita.”


 “Tentu saja.”


  Begitu sampai di gerai kopi kesukaan Adelia, perempuan mungil itu mulai bercerita. Dia tentu saja menyingkat beberapa hal yang menurutnya tidak perlu diceritakan. Akan sangat panjang ketika harus menceritakan semua itu.


 “Jadi sekarang, kamu benar-benar tidak berhubungan lagi dengan papamu?” Delano menanyakan itu, setelah mendengar cerita lengkapnya.

__ADS_1


 “Ya, tapi aku sebenarnya tidak sejahat itu.” Adelia menjawab, setelah menyesap minuman dinginnya. “Aku tidak keberatan bicara dengan papa, tapi tidak dengan Bella.”


 “Tapi tidakkah si Bella ini tahu terlalu banyak tentang hidupmu?” Delano kembali bertanya, kali ini dengan raut wajah lebih serius. “Maksudku, bisa saja dia malah mengumbar aib yang kamu tutupi.”


 “Mungkin saja sih.” Adelia mengatakan itu, sembari menerawang. “Tapi tidak ada aib yang perlu ditutupi. Aku tidak pernah melakukan hal yang membuat malu seperti dia.”


 “Tapi kamu bilang, dia tahu soal warisanmu.”


 Adelia mengangguk dengan cepat ketika mendengar hal itu. “Dia tahu, tapi memangnya apa yang dia bisa lakukan? Dia tidak bisa melakukan apa-apa.”


 “Tapi bisa saja dia menghasut, aku mungkin?” Lelaki tampan dengan kemeja putih polos itu bertanya dengan hati-hati. “Dia bisa memanfaatkan siapa saja kan?”


 “Iya, sih. Tapi Daddy  gak mungkin dimanfaatkan.” Adelia melambaikan tangan tanda tidak setuju dengan santainya. “Daddy  kan orang baik.”


 “Jangan menilai semua orang adalah orang baik.” Tanpa diduga, Delano membalas seperti itu. “Tidak semua orang yang terlihat baik, hatinya juga baik. Termasuk aku.”


 Adelia tercenung mendengar hal itu. Jujur saja, dia agak terkejut dengan pernyataan kekasih bayarannya itu. Selama ini, Delano biasanya tidak akan membalas seperti itu. Biasanya dia hanya akan mengelak atau tersenyum malu. Rasanya sangat aneh.


 “Sudahlah.” Melihat tunangannya bingung, Delano memilih untuk mengalihkan pembicaraan. “Tidak perlu bingung. Aku hanya ingin kamu hati-hati saja. Jadi sekarang, kita bahas hal lain saja.”


 “Omong-omong soal menikah.” Delano tiba-tiba saja teringat sesuatu. “Apa kamu mau buat perjanjian lagi atau bagaimana?”


 “Untuk apa perjanjian?” tanya Adelia agak kaget mendengar ide itu. “Kita kan benar-benar akan menikah, jadi untuk apa ada perjanjian?”


 “Untuk jaga-jaga saja.” Delano mengedikkan bahunya dengan santai. “Zaman sekarang rata-rata orang-orang seperti itu kan?”


 “Benarkah?” tanya Adelia yang terlihat masih bingung.


 “Ya, apalagi kamu masih muda. Akan lebih baik kalau kita membuat perjanjian, agar nanti masa depanmu terjaga.”


 Kening Adelia berkerut mendengar hal itu. Dia pernah membaca novel dan menonton Infotainment yang membicarakan soal perjanjian pra nikah para artis, tapi apa hubungannya dengan masa muda?

__ADS_1


 “Maksudnya, mungkin kamu masih mau menikmati masa muda dulu.” Delano mulai menjelaskan. “Kamu bisa menuliskan keinginanmu dan aku tidak akan mengganggunya, setidaknya sampai kamu sudah benar-benar siap menjadi seorang istri.”


 “Misalnya kalau kamu tetap ingin kuliah, kerja, ingin main ke luar negeri atau mungkin tidak ingin punya anak. Tuliskan apa pun dan aku akan menurutinya,” lanjut Delano yang membuat Adelia makin berkerut.


 Tawaran itu sebenarnya cukup masuk akal, tapi entah kenapa rasanya aneh. Delano tampak seperti seseorang yang ingin mengantisipasi sesuatu dan Adelia kurang suka itu. Ini membuat Adelia jadi berpikiran negatif.


 “Sebelum menjawab hal itu, boleh aku tahu sesuatu dulu?” tanya Adelia yang baru teringat sesuatu.


 “Tanyakan apa saja.” Delano tentu saja tidak keberatan.


 “Perempuan yang menyapamu waktu kita makan malam itu siapa?” tanya Adelia terlihat begitu serius. “Kalian sepertinya saling mengenal baik.”


 Delano langsung terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia tentu saja tahu siapa perempuan yang dimaksud. Bukannya tidak ingin menjawab, tapi lidah Delano menjadi kelu seketika.


 “Daddy tidak bisa menjawab atau tidak mau menjawab?” Karena sudah cukup lama menunggu, Adelia kembali bertanya.


 “Tidak keduanya.” Delano yang baru tersadar, segera menggeleng. “Aku hanya kaget karena kamu menanyakan itu.”


 “Sepertinya perempuan itu punya masa lalu dengan Daddy ya?” Adelia menebak dengan asal saja. “Soalnya Daddy Delano sampai kaget dan tidak bisa bicara seperti itu.”


 Walau agak ragu, pada akhirnya Delano mengangguk pelan sebagai jawaban. “Kamu mungkin benar.”


 “Benar yang seperti apa?” Adelia tentu saja masih penasaran dan tidak puas dengan jawaban singkat seperti itu.


 “Perempuan yang kemarin itu bernama Natasya,” jawab Delano tanpa ragu. Dia pikir, mungkin memang sudah saatnya Adelia diberi tahu, sebelum mereka menikah tahun depan. “Dia mantanku.”


 “Mantan?” tanya Adelia agak tidak percaya mendengar itu.


 “Ya.” Delano kembali mengangguk. “Mantan yang sebenarnya sudah hampir aku nikahi.”


 Adelia makin terdiam mendengar kejujuran yang baru saja dikatakan oleh Delano itu. Kejujuran yang amat sangat mengejutkan untuk dirinya.

__ADS_1


 


***To be continued***


__ADS_2