Bunga Daisy Di Musim Dingin

Bunga Daisy Di Musim Dingin
Chapter 12


__ADS_3

"Hyun-ria!!! Buka pintunya" panggil Hwan-ki saat di depan pintu kamar Hyun-ri.


Ceklek...


"Kau akan mengurung diri terus, seperti ini?" Ucap Hwan-ki ketika Hyun-ri membukakan pintu dan menghampiri Hyun-ri yang sudah duduk lesu di tepi ranjang.


"Aku masih nyaman berdiam didalam kamar, oppa"


Huh...


Hwan-ki menghela nafas kasar. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sikap kekanak-kanakan Hyun-ri.


"Setidaknya keluarlah untuk makan. Kau hanya memakan sandwich buatanku saja tadi siang"


"Aku belum lapar, oppa"


"Lapar atau tidak, sekarang ayo keluar dari kamar ini. Kau harus makan malam" Ucap tegas Hwan-ki.


"Nanti aku akan makan, jika aku sudah merasa lapar, oppa"


"Aku tidak menerima penolakan, Han Hyun-ri" Ucap Hwan-ki dengan nada dinginnya.


Hyun-ri pun menganggukkan kepalanya dan menurut. Mengikuti langkah Hwan-ki dan turun kebawah untuk makan malam.


"Akhirnya kau keluar juga dari kamar itu, anak kucing" Ucap Seo Yoon yang sudah berada di ruang makan.


"Oppa, berhenti memanggilku anak kucing" Jawab Hyun-ri sedikit kesal.


"Kau memang seperti anak kucing sekarang. Yang ditelantarkan oleh induknya." Sahut Hwan-ki membenarkan.


"Oppa!!!!! Kau sama saja" kesal Hyun-ri dan bersendekap dada.


"Sudahlah. Makan dan habiskan makananmu." perintah Hwan-ki


"Seok Gwan oppa?" ucap lirih Hyun-ri, saat tidak melihat Seok Gwan bersama mereka.


"Dia sedang menghabiskan waktunya dengan meminum anggur dan wine. Bahkan mungkin dia sudah terkapar tidak sadarkan diri sekarang" jelas enteng Seo Yoon.


"Makanlah, aku akan mengurus Seok Gwan nanti" ucap Hwan-ki pada Hyun-ri yang terlihat begitu murung.


Mereka bertiga pun makan malam tanpa Seok Gwan, dengan Hyun-ri yang masih murung dan tidak berselera makan.


*******


Hotel....


"Oppa!" panggil Aeri pada Gun-yo dan hanya di jawab dengan gumaman.


"Jadi, selama ini kau mendekati wanita itu hanya untuk memanfaatkannya saja?" tanya Aeri sambil memainkan jarinya diatas dada bidang Gun-yo.


"Iya. Jadi, mulai sekarang kau harus membantu ku baby. Untuk menjauhkan ketiga pria itu dari Hyun-ri"


"Apapun untukmu, oppa" Jawab Aeri dengan mengecupi leher Gun-yo.


Mereka berdua telah melewati hari mereka dengan panas. Saling meluapkan nafsu dan juga merencanakan hal jahat untuk menjauhkan Hyun-ri dari ketiga sahabatnya.

__ADS_1


*******


Huh...


Hembusan nafas kasar di keluarkan Hwan-ki saat melihat keadaan Seok Gwan yang sudah terkapar di sofa kamarnya karena terlalu banyak minum.


"Kau memang sahabatku yang paling bodoh, Gwan" ucap Hwan-ki sambil menatap dingin Seok Gwan.


"Hyun-ri.." ucap lirih Seok Gwan mengigau.


"Bodoh"


Hwan-ki pun meninggalkan kamar Seok Gwan begitu saja. Ia terlalu malas mengurus Seok Gwan. Baginya Seok Gwan adalah sahabatnya yang bodoh dan pengecut.


"Apa dia masih minum?" tanya Seo Yoon saat Hwan-ki bergabung duduk dengannya di ruang tengah.


"Dia sudah terlalu mabuk dan tertidur sekarang." Jawab Hwan-ki sambi menuang wine kedalam gelasnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi antara Seok Gwan dan Hyun-ri? Apa kau mengetahui sesuatu, yang tidak aku ketahui?"


"Aku tidak tahu" Jawab Hwan-ki acuh sambil menikmati minumannya.


Tanpa kedua orang itu sadari, Hyun-ri sedari tadi menguping mereka dibalik tembok penghubung ruang tengah dan dapur.


"Apa aku harus menemuinya?" Ucap lirih Hyun-ri dan berjalan keluar ke taman samping.


*******


Hyun-ri sedang duduk di kursi taman. Ia sedang bergelut dengan pikirannya. Hyun-ri ingin menemui Seok Gwan dan mengetahui bagaimana keadaan Seok Gwan saat ini. Tapi, Hyun-ri tidak tahu harus bicara apa saat ia datang menemui Seok Gwan lebih dulu. Apalagi, Hyun-ri telah menampar dan membentak Seok Gwan.


"Hyun-ri, tenangkan pikiranmu" ucap Hyun-ri menenangkan diri sendiri.


Dengan berkali-kali mengatur nafasnya untuk menghilangkan kegugupan, Hyun-ri pun memutuskan pergi ke kamar Seok Gwan.


Ceklek...


Hyun-ri membuka pelan pintu kamar Seok Gwan dan menyembulkan kepalanya untuk melihat kedalam kamar Seok Gwan.


Tap...


Tap...


Tap...


Dengan langkah pelan Hyun-ri mendekat ke arah Seok Gwan yang tertidur pulas di sofa.


"Kenapa kau minum terlalu banyak seperti ini, oppa?" ucap lirih Hyun-ri memperhatikan Seok Gwan dan botol minuman yang memenuhi meja.


"Apa aku terlalu kasar kepadamu, oppa?"


"Maafkan aku, karena tidak bisa mengendalikan amarahku" ucap lirih Hyun-ri mendekat ke arah Seok Gwan.


"Aku tidak bisa menyukai dan mencintai pria lain seperti aku menyukai dan mencintaimu, oppa" ucap lirih Hyun-ri sambil mengusap pelan pipi Seok Gwan yang tidak sengaja ia tampar.


"Aku hanya menyukai Gun-yo oppa karena rasa terimakasihku saja, oppa. Dan, aku sudah menyadari itu dari dulu. Tapi, karena aku berusaha ingin membunuh perasaanku kepadamu, aku berusaha untuk menyukai dan mencintai Gun-yo oppa dengan tulus. Tapi, ternyata aku tidak bisa. Aku tidak bisa menghilangkan semua perasaanku untukmu begitu saja, oppa"

__ADS_1


"Perasaanku kepada mu sudah terlalu dalam, oppa. Tapi aku takut, jika aku ungkap semua perasaanku padamu dan kau tidak memiliki perasaan yang sama padaku. Aku takut kau akan menghindariku dan hubungan persahabatan kita akan merengang." ucap Hyun-ri dengan isakan tertahan.


"Aku tidak bisa. Jika kau menjauh dariku, oppa. Aku mencintaimu, sangat."


Hyun-ri pun tidak mampu membendung air matanya lagi. Ia menangis terduduk dilantai disamping Seok Gwan. Ia menutup mulutnya agar isakannya tidak membangunkan Seok Gwan.


Cup...


Bibir hangat, Hyun-ri rasakan tengah mengecup keningnya. Seok Gwan terbangun dan mengecup keningnya lama. Kecupan Seok Gwan seolah menjadi obat penenang bagi Hyun-ri.


"Aku mencintaimu, Han Hyun-ri" Ucap Seok Gwan menatap lekat manik mata Hyun-ri.


*********


Suara kicau burung sudah terdengar, sinar matahari tanpa permisi masuk melewati cela-cela kelambu jendela yang sedikit terbuka.


Ugh...


Suara lenguhan Hyun-ri saat tidurnya terganggu akan sinar matahari yang menyelinap masuk, Hyun-ri membuka mata nya perlahan. Dengan kesadaran yang perlahan terkumpul ia memperhatikan sekitarnya dan membalik badannya.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!"


Dugh..


Bugh...


Akh....


Teriak melengking Hyun-ri terdengar menggema dan membangunkan seluruh penghuni Villa. Dengan cepat Hyun-ri menarik selimut menutupi badannya.


Bugh..


Bugh..


"Haish..." Ringis Seo Yoon yang terjatuh dari sofa bersamaan dengan Hwan-ki yang ikut jatuh juga dari atas sofa karena terkejut akan suara teriakan melengking milik Hyun-ri.


"Hyun-ri!!!!" Pekik Hwan-ki dan Seo Yoon bersamaan dengan saling tatap.


Mereka berdua pun tergopoh-gopoh menghampiri asal teriakan Hyun-ri, yang berasal dari kamar Seok Gwan. Tunggu!!! Seok Gwan?


Ceklek...


Brak....


"Apa yang terjadi?" Ucap Hwan-ki panik yang telah membuka kasar pintu kamar Seok Gwan.


"Oppa!!!!" panggil Hyun-ri terkejut dan makin beringsut ke kepala ranjang dengan menyembunyikan wajah merah meronanya.


"Oh!!! Kalian tidur bersama?" Ucap Hwan-ki dan Seo Yoon bersamaan saat melihat Hyun-ri berada di kamar Seok Gwan.


"Akh!!!!" ringis Seok Gwan bangun dari duduknya karena jatuh menyapa lantai, akibat ditendang Hyun-ri tiba-tiba.


"Kenapa kau menendangku, Hyun-ria? Punggung dan pantatku sakit karena kau menendangku tiba-tiba" ucap kesal Seok Gwan sambil mengelus pinggangnya.


"Kalian tidur bersama?" Ucap Hwan-ki dan Seo Yoon bersamaan lagi ketika tidak mendapat respon dan sedikit meninggikan suaranya meminta penjelasan.

__ADS_1


"Itu. Kita.."


******


__ADS_2