Bunga Daisy Di Musim Dingin

Bunga Daisy Di Musim Dingin
Chapter 19


__ADS_3

Jam sudah menujukkan pukul 10 pagi. Tapi suasana pagi sedang sedikit mendung membuat sinar matahari tidak terlalu terik dan membuat udara semakin segar dengan angin yang berhembus pelan. Hyun-ri dan Hwan-ki sedang berjalan berdampingan untuk kembali ke kantor Hyun-ri. Mereka tadi sengaja berjalan kaki untuk pergi sarapan bersama agar bisa menikmati suasana pagi hari yang mendung.


"Hyun-ria, terimakasih sudah menemaniku sarapan" ucap Hwan-ki memulai obrolan.


"Kau seperti dengan orang asing saja, oppa. Kapan pun kau ingin ditemani untuk makan, aku akan siap untuk menemanimu, oppa" jawab Hyun-ri dengan tersenyum hangat.


"Hyun-ria, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Katakan, oppa!!"


"Apa kau mencintai Seok Gwan?"


Tap...


Pertanyaan Hwan-ki langsung menghentikan langkah Hyun-ri. Ia menatap nanar punggung Hwan-ki yang mendahuluinya karena ia behenti tiba-tiba. Bagaimana bisa Hwan-ki mengajukan pertanyaan itu kepadanya? Harus menjawab apa ia? Hyun-ri terus berkelut dengan pikirannya, harus menjawab seperti apa pertanyaan tiba-tiba dari Hwan-ki.


Hwan-ki yang menyadari Hyun-ri tidak menjawab dan tidak berjalan di sampingnya itupun, menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Hwan-ki melihat Hyun-ri yang menatapnya bingung.


"Kenapa? Apa terlalu sulit untuk menjawabnya?" ucap Hwan-ki sambil mendekat ke arah Hyun-ri.


"Aku mengetahui semuanya, Hyun-ria" ucap Hwan-ki dengan sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya dihadapan wajah Hyun-ri.


"Oppa.." ucap lirih Hyun-ri sedikit gugup karena wajah mereka begitu dekat.


"Kau dan Seok Gwan, kalian menjalin hubungan lebih dari sahabatkan?"


"Oppa.."


"Aku tahu Hyun-ria. Jangan mencoba menutupinya dariku. Aku mengetahui semuanya" ucap Hwan-ki sambil menegakkan badannya dan memasukkan tanganya kesaku celananya.


Hyun-ri hanya bisa diam dan terus menatap Hwan-ki dengan sorot mata sendu merasa bersalah karena menyembunyikannya dari Hwan-ki.


"Ayo!!! Aku harus segara kekantor" ajak Hwan-ki dengan senyum setelah melihat jam di tangan kirinya.


"Oppa.."


"Kau tidak perlu menjawabnya. Ayo!!!" ajak Hwan-ki lagi dengan senyum hangat dan mengusak pelan rambut Hyun-ri.


Hwan-ki yang melihat Hyun-ri masih diam itupun langsung menyatukam jemari tangannya dan tangan Hyun-ri. Mereka melanjutkan kembali berjalan menuju kantor Hyun-ri, dengan berdampingan tanpa ada obrolan lagi.


******


"Kau dari mana?" tanya dingin Seok Gwan yang sudah duduk ganteng di sofa ruangan Hyun-ri.


"Op..oppa. Kau, kau disini?" tanya Hyun-ri sedikit terkejut.


"Kenapa wajahmu sedih seperti itu? Ada apa?" tanya Seok Gwan saat sedari tadi memperhatikan raut wajah sedih Hyun-ri saat memasuki ruangannya.


"Ti-tidak. Tidak apa, oppa.."

__ADS_1


Seok Gwan pun mendesah pelan, ia tahu Hyun-ri sedang tidak baik-baik saja. Ada hal yang tengah mengganggu pikirannya.


"Duduklah!" perintah Seok Gwan sambil menepuk tempat disampingnya.


Hyun-ri pun berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya disamping Seok Gwan.


"Kau dari mana? Kau belum menjawabku!! Aku sudah menunggumu selama 30menit" tanya Seok Gwan kembali dengan menatap penuh penjelasan ke Hyun-ri.


"Maaf oppa, aku tadi pergi keluar sebentar" jawab Hyun-ri tanpa menoleh ke Seok Gwan.


"Pergi kemana? Sekertarismu bahkan tidak mengetahui, jika kau meninggalkan kantor" Cerca Seok Gwan dengan datar.


"Sarapan. Bersama Hwan-ki oppa" jawab lesu Hyun-ri.


"Hwan-ki? Dia kesini?"


Hyun-ri hanya diam tak menjawab. Entah kenapa, Hyun-ri terus memikirkan tatapan sendu Hwan-ki kepadanya. Ada apa dengan Hwan-ki? Kenapa sorot matanya terlihat penuh kesedihan dan kekecewaan? Dan bagaimana ia tahu tentang hubungannya dan Seok Gwan.


Hyun-ri terus larut dalam pikirannya dan menatap kosong lurus kedepan, tanpa memperdulikan Seok Gwan yang berada disampingnya.


Huh..


Seok Gwan menghela nafasnya kasar, melihat Hyun-ri yang sedang larut dalam pikirannya. Hingga Hyun-ri mengabaikannya.


"Han Hyun-ri!!!" panggil Seok Gwan dingin dengan menguncang kedua bahu Hyun-ri.


"Oh, oppa. Ada apa?"


"Ma-maaf oppa. Aku, aku hanya sedikit lelah. Aku dan Hwan-ki oppa, berjalan kaki untuk ke Restauran terdekat. Maaf oppa" jelas Hyun-ri sedikit merasa bersalah pada Seok Gwan.


"Begitukah? Kalau begitu, kau istirahat saja. Aku akan kembali ke kantor"


"Secepat ini?" tanya Hyun-ri cepat


"Hum, kau istirahatlah"


"Tapi.."


"Istirahatlah. Dan besok malam aku akan menjemputmu untuk menghadiri pesta yang diadakan tuan Kang" Ucap Seok Gwan yang sudah berdiri dari duduknya dan mengelus sayang kepala Hyun-ri.


Grep..


Hyun-ri langsung memeluk erat Seok Gwan, ia benar-benar merasa bersalah karena mengabaikan Seok Gwan.


"Maaf, oppa. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu" ucap Hyun-ri dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Seok Gwan.


"Tidak apa, aku mengerti" jawab Seok Gwan dengan membalas pelukan Hyun-ri.


"Bisakah kau disini lebih lama?"

__ADS_1


*******


Saat seseorang mampu tersenyum menyembunyikan segala kesedihan dan kekecewaan yang di rasakannya, dan mampu menipu orang disekitarnya. Tapi, belum pasti seseorang itu bisa menyembunyikan kesedihan dan kecewanya lewat sorot matanya.


Sorot mata yang tidak pernah bisa menipu, sorot mata yang tidak bisa disembunyikan dari senyum yang dipaksakan. Sorat mata yang hanya mampu berkata jujur tanpa bisa disembunyikan. Semua akan terlihat jelas saat seseorang yang tulus menatap lekat sorot mata kesedihan dan kekecewaan yang sengaja disembunyikan lewat senyum palsu itu. Hanya orang yang tulus dan benar-benar peduli yang mampu melihat dan merasakan sorot mata penuh kesedihan dan kekecewaan yang sengaja ditutupi.


******


"Hwan-ki Oppa!!!!" panggil Aeri yang berjalan mendekat ke hadapan Hwan-ki.


Aeri mendatangi gedung perusahaan Hwan-ki. Ia sengaja menunggu Hwan-ki di parkiran basement gedung.


"Pergi, aku tidak ada urusan denganmu" ucap dingin Hwan-ki.


"Kau masih saja dingin, oppa. Kau tidak pernah berubah"


Hwan-ki dengan raut wajah datarnya berjalan kembali melewati Aeri yang berada dihadapannya.


"Hyun-ri" ucap Aeri sambil membalikkan badannya dan menyunggingkan senyumnya.


Mendengar Aeri menyebut nama Hyun-ri itupun, langsung membuat Hwan-ki menghentikan langkahnya. Hwan-ki dengan sorot mata tajamnya membalikkan badannya dan menatap nyalang ke arah Aeri yang berjalan mendekat kepadanya.


"Sepertinya kau begitu menyanyangi sahabatmu itu, Hwan-ki oppa" ucap Aeri sambil membenarkan posisi dasi Hwan-ki.


Plak...


Hwan-ki langsung menepis tangan Aeri yang menyentuh dasinya.


"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu, Jal*ng" ucap geram Hwan-ki.


Aeri yang mendengar Hwan-ki memanggilnya jal*ng itupun langsung tertawa kencang. Ia bahkan menyeka ekor matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.


"Oppa, kau tidak pernah berubah sedikitpun. Kau masih saja menganggapku jal*ng. Dan, jal*ng ini masih tergila-gila padamu, oppa" ucap Hyun-ri dengan tersenyum manis.


Aeri melangkah mendekat ke arah Hwan-ki dan mendekatkan wajahnya kehadapan Hwan-ki.


"Aku akan menghancurkan hidup, Hyun-ri. Sahabat yang kau sayangi itu" ucap lirih Aeri tepat ditelinga Hwan-ki.


Grep...


Akh...


Dengan geram Hwan-ki mencengkeram kedua pipi Aeri. Iya mendekatkan bibirnya tepat di bibir Aeri.


"Dengar baik-baik jal*ng. Jika kau mendekati Hyun-ri 1cm saja. Maka aku akan pastikan, tubuh jal*ngmu ini akan terbujur kaku" ucap Hwan-ki dengan geram dan penuh penekanan.


Dengan kasar ia melepas cengkramannya pada kedua pipi Aeri dan berjalan meninggalkan Aeri. Ia tidak perduli walau pipi Aeri memerah memar karena cengkramannya. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Hyun-ri.


"Aku akan membalasmu, oppa. Dan.. Aku juga akan mendapatkanmu"

__ADS_1


******


__ADS_2