
Di suatu tempat, dengan ruangan yang berukuran tidak terlalu luas. Ada seorang wanita yang tengah terikat di kursi dengan mata yang tertutup kain hitam dan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ruangan tersebut terasa sangat pengap karena hanya ada satu jendela kecil sebagai tempat keluar masuknya udara.
Ruangan tersebut juga hanya memeliki satu pencahayaan yang tidak terlalu terang dari lampu yang menggantung di atas kepala sang wanita yang tengah terikat kuat.
Huh...
Helaan nafas ringan terdengar dari wanita tersebut, wanita itu baru sadarkan diri setelah leher bagian belekangnya dipukul keras dengan benda tumpul.
Sshhh...
Wanita itu meringis merasakan sakit, karena tangan dan kaki nya terikat kuat.
"Si..al.." desis wanita tersebut saat mengetahui kondisinya sekarang.
"Kau sudah sadar, Kim Aeri?" suara seorang pria yang datang mendekat ke arah Aeri.
"Siapa kau, baj*ngan? Lepaskan aku!!!" tanya Aeri dengan membentak.
"Aku adalah Han Jong-un. Appa Han Hyun-ri." jawab Jong-un dengan dingin.
Satu jam lalu, Aeri di culik oleh anak buah Jong-un. Bukan tanpa alasan Jong-un menculik dan menyekap Aeri, ia tidak punya pilihan lain untuk mengetahui keberadaan Hyun-ri.
Semua rencana Hyun-ri dan Hye-mi gagal, karena Hyun-ri tidak membawah ponsel dan tasnya. Dimana di ponsel dan tas Hyun-ri sudah terpasang alat pelacak.
Hyun-ri ingin menangkap Gun-yo, jika memang terbukti Gun-yo memiliki rencana jahat dan dengan sengaja mendekatinya. Itulah sebabnya ia menyusun rencana bersama Hye-mi dengan memasang alat pelacak saat ia akan menemui Gun-yo.
Hyun-ri yakin, jika Gun-yo memiliki rencana jahat, Gun-yo akan membawah Hyun-ri ketempat jauh untuk menyekapnya. Namun, semuanya gagal tidak sesuai rencana awal. Dimana Hyun-ri tanpa sadar telah meninggalkan tas dan ponselnya di apartemen rahasianya.
Selama 1jam Hye-mi tidak melihat pergerakan dari alat pelacak tersebut, yang seharusnya pelacak tersebut sudah Hyun-ri bawah untuk pergi bersama Gun-yo 1jam lalu.
Dengan sedikit panik dan khawatir Hye-mi langsung pergi ke apartemen Hyun-ri. Namun, yang ia dapat hanya apartemen yang kosong tidak ada siapapun. Itulah sebabnya, Hye-mi langsung menghubungi Jong-un untuk meminta bantuan. Walaupun berakhir ia mendapatkan amukan dari Jong-un karena tidak memberitahu Jong-un lebih awal.
"Apa mau mu pak tua.. Lepaskan aku!!" bentak Aeri kembali dengan mata masih tertutup.
Plak...
Sora tiba-tiba datang dan masuk keruangan. Ia datang dengan penuh amarah dan langsung menampar Aeri yang masih terikat di kursi kayu.
"Katakan padaku, kemana Gun-yo membawah putriku?!" tanya Sora dengan nada penuh penekanan.
"Ah.. Jadi kalian menyekapku karena kalian ingin mencari tahu keberadaan putri kalian? Hahaha..." jawab Aeri dengan diakhiri tawa lantang.
"Kalian tidak perlu repot-repot mencarinya. Tunggu saja.. Gun-yo pasti segera mengirim putri kalian kembali. Tapi.. Sebagai mayat yang terbujur kaku!" lanjut Aeri dengan menekan ucapan terakhirnya dan tertawa mengejek.
Plak...
Sora menampar kembali pipi Aeri dengan keras. Ia benar-benar marah sekarang, karena perkataan yang dilontarkan Aeri.
"Jika kau tidak memberitahuku sekarang. Aku akan membunuhmu sekarang juga!" ucap Sora dengan menyodorkan pistol ke kening Aeri.
Dor....
*******
__ADS_1
Mansion Hwan-ki...
Mereka bertiga kini tengah duduk diruang santai lantai atas. Seok Gwan dan Seo Yoon masih meyakinkan Hwan-ki untuk tidak pergi ke New York, lebih tepatnya Seok Gwan yang terus menerus meyakinan Hwan-ki. Bagaimana pun juga menurut mereka berdua, dengan pergi menjauh sama saja ingin merenggangkan hubungan persahabatan mereka.
"Batalkan penerbangannya, sekarang." ucap dingin Seok Gwan yang sudah kesekian kalinya.
"Aku tidak bisa. Aku sudah bilangkan, aku akan segera kembali. Dan, jangan berfikir jika aku pergi karena aku tidak bisa melihatmu dan Hyun-ri.." jawab Hwan-ki tenang, "Kekanak-kanakan sekali kalian. Jika berfikir aku pergi ke New York gara-gara hal seperti itu." lanjut Hwan-ki.
"Jika memang begitu, tetaplah disini." ucap Seok Gwan
"Sudah ku bilang, aku harus mengurus perusahaanku yang disana. Jadi aku harus kesana untuk beberapa waktu." jawab jengah Hwan-ki kesekian kalinya.
"Pembohong."
"Bisakah kita berhenti mendebatkannya?" sahut Seo Yoon yang sudah mulai jengah akan perdebatan kepergian Hwan-ki.
"Kau suruh dulu sahabatmu itu, untuk membatalkan penerbangannya ke New York." jawab Seok Gwan dingin dengan bersendekap dada.
"Dia juga sahabatmu, dan kau sedari tadi sudah menyuruhnya untuk hal itu." jawab jengah Seo Yoon.
"Kau katakan pada sahabatmu itu, jika aku pergi ke New York karena urusan pekerjaan." sahut Hwan-ki dingin dengan bersendekap dada menghadap Seok Gwan yang duduk di depannya.
"Huh.. Dia juga sahabatmu, dan kau sudah menjelaskan itu juga. Sedari tadi." jawab Seo Yoon lelah, karena dirinya merasa sebagai penyampai pesan di antara kedua sahabatnya itu.
Seok Gwan dan Hwan-ki hanya diam dengan saling bertatapan dingin.
Huft...
Seo Yoon menghela nafas kasar saat melihat kedua sahabatnya yang saling menatap dingin.
"Kau juga sama dinginnya, jika kau lupa." ucap datar Seok Gwan dan Hwan-ki bersamaan dengan menoleh ke arah Seo Yoon yang duduk di single sofa di antara tempat duduk mereka.
"Terserah." jawab datar Seo Yoon dengan mengangkat kedua tangannya ke atas seolah ia menyerah menghadapi kedua sahabatnya itu.
Drrtt...drrtt...drrtt...
Getar ponsel Seok Gwan yang berada di atas meja mengalihkan atensi ke tiganya untuk menatap ponsel Seok Gwan.
"Jong-un appa.." ucap Seok Gwan dan langsung menjawab panggilannya.
"Hallo appa.."
Bip....
Jong-un menutup panggilannya secara sepihak, setelah 5menit berlangsung.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Hwan-ki dengan kening mengkerut melihat perubahan raut wajah Seok Gwan.
Rahang Seok Gwan mengeras dan menggenggam kuat ponselnya setelah menerima panggilan dari Jong-un. Itu membuat Hwan-ki dan Seo Yoon menatapnya penuh tanya.
"Gun-yo mengajak Hyun-ri pergi. Kita harus menemui Jong-un appa sekarang." jawab Seok Gwan dingin dan langsung beranjak dari duduknya meninggalkan ruang santai.
Hwan-ki dan Seo Yoon yang mendengar itupun juga memasang wajah penuh amarah. Mereka berdua pun langsung mengikuti Seok Gwan untuk menemui Jong-un bersama-sama.
"Batalkan penerbanganku." ucap dingin Hwan-ki saat menelfon sekertaris pribadinya.
\*\*\*\*\*\*\*
"Apa kau takut sekarang?" tanya Sora setelah melepaskan satu tembakan ke atas langit-langit ruangan tersebut.
Tubuh Aeri bergetar takut karena mendengar dentuman tembakan yang memekakkan telinga. Aeri mengira jika ia benar-benar akan mati tertembak di tangan eomma Hyun-ri.
"Katakan padaku. Kemana Gun-yo membawah putriku pergi?" tanya Sora sekali lagi penuh penekanan dengan mendekatkan moncong pistol di kepala Aeri.
"To..tolong. Am..ampuni aku.." mohon lirih Aeri, "Aku.. Aku hanya diberitahu, jika Gun-yo oppa akan menyekap Hyun-ri di apartemen rahasia Hyun-ri." jelas Aeri dengan takut.
Sora menatap Hye-mi yang berdiri di belakang suaminya bersama dengan dua pria berbadan tegap anak buah suaminya.
Hye-mi yang tahu akan tatapan Sora hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala pelan dan menunduk sedih. Bagaimanapun juga hanya Hye-mi dan Gun-yo saja yang tahu apartemen rahasia Hyun-ri.
"Kau berani membohongiku?"
"Yeobo, keluarlah. Biarkan aku dan kedua anak buahku yang akan membuatnya mengaku." sahut Jong-un dengan dingin dan menatap tajam ke arah Aeri.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*