
Hyun-ri membuka perlahan matanya, ia melihat Seok Gwan di hadapannya dan langsung membuat jantungnya bedetak cepat.
"Seok Gwan oppa.." panggil lirih Hyun-ri.
"Lepaskan!!" bentak Rana pada Seok Gwan yang menggenggam tangannya kuat dan mengarahkan pistolnya ke atas langit-langit ruangan tersebut.
Seok Gwan datang tepat waktu dan berhasil menghalau tembakan yang di lepaskan Rana, sehingga melesat menambak ke langit-langit ruangan.
Srek..
Seok Gwan berhasil mengambil alih pistol dari tangan Rana dan langsung membuang jauh pistol tersebut. Hingga membuat Rana menatapnya nyalang penuh amarah.
"Kau!!" ucap geram Rana pada Seok Gwan lalu menatap tajam ke arah Hyun-ri.
Saat Rana hendak berlari mendekat ke arah Hyun-ri, Seok Gwan langsung menghadangnya dan mendorong tubuh Rana hingga jatuh terduduk. Namun, Rana tetap berusaha untuk mendekat ke Hyun-ri dan melawan Seok Gwan dengan belati yang sudah ada di tangan Rana.
"Jika kau menghalangiku, kau juga akan ikut mati bersamanya." ucap geram Rana.
"Tidak, jangan bibi. Jangan melukainya." sahut lirih Hyun-ri dengan isakan.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti, Hyun-ri" jawab geram Seok Gwan.
Rana pun mengayunkan tangannya dan mulai menyerang Seok Gwan dengan belatinya. Hyun-ri hanya mampu menangis dan takut jika sesuatu terjadi pada Seok Gwan atau bibinya.
"Hentikan ini, Lee Rana." teriak Jong-un yang baru datang.
Rana pun menghentikan serangannya dan tersenyum tipis melihat kedatangan Jong-un. Sedang Seok Gwan langsung mengambil kesempatan tersebut untuk melepaskan ikatan Hyun-ri.
"Kau sudah datang rupanya. Ah, memang lebih baik kau melihat secara langsung, bagaimana putrimu itu tewas di tanganku." ucap Rana dengan nada penuh penekanan.
"Hentikan semua ini, Rana. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti putriku."
"Nyawa harus dibalas dengan nyawa, Han Jong-un."
"Apa maksudmu?"
"Hahaha..apa maksudku, katamu? Kau pura-pura lupa atau memang kau melupakannya? Kau!!!" Ucap geram Rana dan menjeda ucapannya, "Kau telah membunuh suamiku." lanjut Rana
"Apa maksudmu Rana? Kakakku meninggal karena serangan jantung." jawab Jong-un dengan geramnya.
Ya, Jong-ryu kakak dari Jong-un telah meninggal dan penyebab kematiannya karena serangan jantung. Namun, Rana selalu menyalahkan kematian Jong-ryu karena kesalahan Jong-un.
"Kau yang membunuhnya!!!" teriak Rana, "Jika waktu itu kau mau membantu perusahaan kakakmu yang sedang mengalami masalah, dia masih tetap disini bersamaku dan anakku."
"Kau salah Rana. Aku sudah membantu kakakku, namun kakak selalu menolak dan mengembalikan uang yang sudah aku kirim ke perusahaan kakak. Kau sudah salah paham selama ini, sadarlah." jelas Jong-un
"Tidak!! kau.. Kau yang sudah membunuh suamiku. Sekarang kau juga harus kehilangan orang yang kau sayang." ucap Rana dan langsung berbalik akan menyerang Hyun-ri yang berada dipelukan Seok Gwan. Namun...
Bugh...
Jong-un memukul tengkuk Rana, hingga membuat Rana kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
"Bawah dia ke kantor polisi." titah Jong-un pada anak buahnya.
*****
Seok Gwan masih memeluk Hyun-ri erat, ia juga mencoba menenangkan Hyun-ri yang sedari tadi menangis karena takut. Namun, Seok Gwan merasa ada sesuatu dari Hyun-ri. Ia tidak merasakan tubuh Hyun-ri yang bergetar takut, bahkan isakan Hyun-ri juga sudah tidak ia dengar.
"Hyun-ria.. Hyun-ria!!!" Seok Gwan panik saat melihat Hyun-ri tidak sadarkan diri dengan wajah yang pucat pasi dan suhu badan yang panas.
"Apa yang terjadi?" tanya Jong-un yang mendekat, "Hyun-ria bangun.." ucap Jong-un.
"Kita bawah ke rumah sakit." ucap Hwan-ki.
Mereka pun langsung membawah Hyun-ri ke rumah sakit terdekat, agar segara mendapatkan penanganan medis.
*********
Ketika Jong-un dan ketiga sahabat Hyun-ri, menuju perjalanan ke rumah sakit. Di sebuah rumah sederhana di tengah desa kecil, terdengar suara rintihan kesakitan. Rumah itu adalah rumah persembunyian Gun-yo, ia sekarang tengah mengobati luka tusuknya seorang diri. Ia sedang membersihkan lukanya dan menjahit lukanya sendiri untuk menutup luka tusuknya.
"Sshhh... Sedikit lagi." ucap Gun-yo dengan ringisan saat menjahit lukanya.
Setelah selesai Gun-yo langsung menutup lukanya dengan kasa, dan ia pun langsung berbaring di kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
"Kenapa eomma belum datang?" ucap Gun-yo saat sudah menunggu sang eomma selama 3 jam. Hingga getar ponselnya mengalihkan atensi nya.
"Hallo." ucap Gun-yo menjawab panggilan masuk di ponselnya.
"Maaf tuan muda, saya baru bisa memberi kabar."
"Nyonya dibawah pergi oleh tuan Han. Maaf saya tidak bisa membawah nyonya pergi."
Praakk....
Gun-yo dengan amarah membanting ponselnya ke lantai hingga pecah. Ia mengepalkan tangannya kuat menahan emosinya.
"Bertahanlah eomma. Aku akan memulihkan diriku lebih dulu. Setelah itu, aku akan menjemputmu."
********
Langit malam sudah berganti dengan langit cerah pagi hari, namun masih belum membangunkan Hyun-ri dan ketiga sahabatnya.
Hyun-ri masih berbaring tertidur di ranjang rumah sakit, setelah semalam mendapatkan penanganan dari dokter. Hyun-ri menghabiskan malamnya di rumah sakit dengan tertidur pulas dan tangan yang di infus.
"Eugh.." Hyun-ri melenguh pelan, dan perlahan membuka matanya.
Hyun-ri mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyusaikan cahaya ruangan tersebut.
"Apa aku di rumah sakit?" tanya Hyun-ri dalam hati ketika melihat ruang putih disekitarnya dengan bau khas rumah sakit.
Hyun-ri merasa kebas dengan tangan kirinya yang bebas dari infus. Ia merasa tangannya di genggam dan di tindih sesuatu, hingga ia melihat kesisi ranjang kirinya dan seketika membuatnya tersenyum manis.
"Apa dia menjagaku semalaman?" batin Hyun-ri.
__ADS_1
Dengan perlahan Hyun-ri memiringkan tubuhnya menghadap kesamping. Ia menatap lamat-lamat wajah Seok Gwan yang terlihat semakin tampan saat tertidur.
Seok Gwan tertidur di samping ranjangnya dalam posisi tengkulap dengan duduk dikursi. Seok Gwan juga mengenggam erat tangan Hyun-ri dan menjadikannya bantal.
"Tampan." ucap lirih Hyun-ri sembari mengelus pelan rambut Seok Gwan.
"Aku memang sudah tampan sejak lahir." ucap Seok Gwan tiba-tiba dan langsung membuat Hyun-ri memejamkan matanya kembali, berpura-pura tidur.
Tak...
"Akh..." ringis Hyun-ri ketika Seok Gwan menyentil kening Hyun-ri.
"Oppa!! Kenapa kau menyentil keningku. Sakit tahu.." ucap kesal Hyun-ri sembari mengelus keningnya.
"Kenapa kau pura-pura tidur? Padahal kau sudah bangun dari tadi." tanya datar Seok Gwan.
"Tidak, aku tidak pura-pura tidur. Justru kau membangunkanku, dengan menyentil keningku." jawab Hyun-ri dengan cemberut dan malu.
Tak...
"Akh.. Oppa!!!" ringis dan pekik Hyun-ri lagi dengan kesal.
"Masih saja berbohong."
"Kau sudah bangun, Hyun-ria?" tanya Hwan-ki yang terbangun karena pekikan kesal Hyun-ri.
"Bagaimana keadaanmu, Hyun-ria?" tanya Seo Yoon yang juga ikut terbangun.
Hyun-ri tertegun melihat Hwan-ki berada di hadapannya. Dengan tiba-tiba, rasa bersalah dan sedih merundung Hyun-ri, hingga membuatnya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Hwan-ki dan Seo Yoon.
"Hyun-ria. Kau kenapa?" tanya Seok Gwan dengan mengonyangkan pelan bahu Hyun-ri untuk menyadarkan Hyun-ri dari keterdiamannya.
"Oh, aku.. Aku lapar." bohong Hyun-ri.
"Huh.. Aku pikir kau kenapa. Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan belikan makanan untukmu di bawah." ucap Seok Gwan,
"Aku ikut bersamamu." sahut Seo Yoon dan di angguki oleh Seok Gwan.
********
"Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Hwan-ki yang sudah duduk di kursi samping ranjang Hyun-ri.
"Aku sudah lebih baik, oppa. Dan.. Oppa aku minta ma.."
"Sstt.. Jika kau ingin membahas pengakuanku kemarin, maka lupakan. Aku tidak ingin membahasnya."
Hyun-ri diam menurut dengan tatapan sendu dan tersenyum tipis.
"Aku akan menghilangkan perasaan cinta ini. Tapi, aku akan tetap menyayangimu sebagai seorang sahabat."
******
__ADS_1