
Jam sudah menunjukkan waktu untuk makan siang. Kini Hyun-ri dan Seo Yoon baru saja sampai di Mansion keluarga Lee.
"Oppa, cepat beritahu aku!!! Bagaimana kau tahu jika aku mencari dokumen itu?" tanya Hyun-ri
"Turun"
Seo Yoon benar-benar harus menahan kesalnya, ketika Hyun-ri terus mendesaknya dengan pertanyaan yang sama. Entah sudah berapa kali Hyun-ri menanyakan itu, kalau Seo Yoon ingat Hyun-ri menanyakan pertanyaan itu sedari mereka di kantor Hyun-ri hingga sampai di kediaman keluarga Lee.
"Oppa!!!!" panggil Hyun-ri mengerek dan mengikuti Seo Yoon turun dari mobilnya
"Oppa, katakan padaku, hum!! Kau pasti mengetahui sesuatu kan? Bagaimana bisa kau tahu jika aku mencari dokumen itu? Katakan padaku, oppa!!" rengek Hyun-ri lagi sambil berjalan cepat mengikuti langkah panjang Seo Yoon.
Seo Yoon hanya terus berjalan dengan wajah datarnya tidak memperdulikan rengekan Hyun-ri yang sedari tadi tidak ada habisnya.
"Oppa!!! Jelaskan padaku!" rengek Hyun-ri tapi masih tidak di gubris
Hyun-ri pun menghentikan langkahnya dan menatap kesal ke arah Seo Yoon dengan berkacak pinggang.
"Baiklah, jika kau tidak mau bicara. Lihat saja, kali ini kau pasti bicara" ucap Hyun-ri pelan dengan tersenyum licik.
"Seo Yoon oppa!!!!!" teriak melengking Hyun-ri memekakkan telinga dan langsung membuat Seo Yoon menghentikan langkahnya
Huh....
Seo Yoon menghela nafas kasar. Ia tidak habis pikir jika Hyun-ri akan memanggil namanya dengan berteriak kencang seperti itu.
"Yak!!! Dasar kau anak kucing!" ucap Seo Yoon sedikit membentak dengan menahan kesal.
"Kenapa kau berteriak kencang seperti itu? Kau bisa merusak gendang telinga orang-orang di Mansion ini!!"
Hyun-ri hanya memanyunkan bibirnya lucu, wajahnya bahkan memerah karena berteriak kencang.
"Salahmu sendiri tidak menjawabku dan mengabaikanku" ucap Hyun-ri semakin menekuk wajahnya
"Ada apa ini?" tanya Hwan-ki yang tiba-tiba datang dari dalam Mansion dengan wajah datarnya
Hyun-ri membulatkan matanya lucu dan mengedipkannya beberapa kali. Ia tidak menyangka jika Hwan-ki juga datang ke Mansion orang tuanya. Hyun-ri belum siap jika harus tenggelam dalam tatapan sendu Hwan-ki lagi.
"Anak kucing itu begitu cerewet sedari tadi, dengan mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku. Dan sekarang, dia kesal hingga berteriak memanggil namaku" jelas Seo Yoon dengan bersendekap dada menatap Hyun-ri jengah
"Memang apa yang dia tanyakan?" tanya Seok Gwan yang juga tiba-tiba datang dari belakang Hyun-ri
Mendengar suara Seok Gwan, mendadak tubuh Hyun-ri kaku. Kejadian yang Hyun-ri lihat di Lobby kantor Seok Gwan tadi sudah Hyun-ri coba lupakan dan tidak beranggapan negatif. Ia mencoba percaya pada Seok Gwan dan ia juga berfikir jika apa yang dia lihat mungkin hanya sebuah kesalahpahaman saja. Jadi, Hyun-ri memutuskan untuk tetap berfikir positif saja dan melupakannya sejenak.
Namun, lagi. Ia masih belum siap bertemu langsung dengan Seok Gwan. Entahlah, Hyun-ri takut saja jika ia berbicara atau bertemu dengan Seok Gwan, yang ada ia malah emosi dan berakhir bertengkar dengan Seok Gwan seperti di Jeju waktu lalu. Menenangkan hati dan pikiran lebih dulu tidak ada salahnya kan? Batin Hyun-ri berkecamuk.
"Kau bisa tanyakan, langsung ke anak kucing cerewet itu! Apa yang terus-terusan ia tanyakan padaku" jawab Seo Yoon datar menatap Seok Gwan yang berdiri disamping Hyun-ri
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul disini?"
__ADS_1
"Appa!!!!!" panggil Hyun-ri dengan sedikit berteriak dan membuat ketiga sahabatnya menghela nafas pelan. Hyun-ri mereka tidak berubah.
Hyun-ri dengan wajah sumringah langsung berlari dan memeluk sosok paruh baya yang baru saja keluar dari dalam Mansion.
"Aigo, Hyun-ri kita sudah dewasa sekarang" ucap seorang paruh baya itu sambil membalas pelukan Hyun-ri
"Appa, mereka bertiga jahat sama Hyun-ri" adu Hyun-ri yang masih dipelukan pria paruhbaya itu dan memasang wajah sedih
"Lihat anak kucing licik itu!!! Apa-apaan dia mengadu seperti itu!" ucap Seo Yoon menatap jengah ke arah Hyun-ri
"Dia memang masih bocah" ucap datar Seok Gwan
"Dia tidak berubah" sahut Hwan-ki
Mereka bertigapun sama-sama menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan Hyun-ri yang tidak pernah berubah.
"Benarkah? Biar nanti appa yang memberi mereka hukuman, karena sudah berani berbuat jahat kepada putri cantik appa ini" ucap gemas pria paruh baya itu sambil mencubit kecil hidung mancung Hyun-ri
"Hukum mereka dengan berat, Byun-wo appa" ucap Hyun-ri tersenyum menang dan menjulurkan lidahnya kepada ketiga sahabatnya untuk mengejek.
"Sudah ayo masuk"
"Baik appa" jawab Hyun-ri dengan riang dan melepas pelukannya dari Byun-wo, appa dari Hwan-ki
Hyun-ri mengikuti langkah Byun-wo untuk masuk keadalam Mansion, Hyun-ri bernafas lega karena bisa terbebas dari kedua pria sahabatnya yang belum ingin Hyun-ri temui untuk sementara waktu.
*******
"Brengsek!!!!" ucap Geram Aerin
"Berani sekali dia merendahkanku seperti itu! Kau lihat saja Seok Gwan-ssi aku akan membalas penghinaan mu"
Aeri sedang berada di Apartemennya, ia sedang emosi kepada Seok Gwan. Entah apa yang telah dilakukan Seok Gwan padanya, hingga membuat emosi Aeri membuncah.
Flasback on...
"Ke rumah sakit" ucap datar Seok Gwan pada sang supir,
"Tuan muda Kim, kaki ku hanya terkilir. Jadi, tidak perlu ke rumah sakit" ucap Aeri ketika ia berada didalam mobil Seok Gwan.
"Benarkah?" ucap Seok Gwan sambil menghadap ke arah Aeri dan mendekatkan wajahnya dengan Aeri.
Aeri dibuat gugup dengan jarak yang begitu dekat dengan Seok Gwan. Bahkan, deru nafas teratur Seok Gwan dapat Aeri rasakan.
"Tu-tuan muda Kim.."
Seok Gwan tersenyum tipis dengan menatap dalam Aeri.
" Kenapa? Jika kakimu hanya terkilir dan tidak parah. Kalau begitu kita tidak perlu ke rumah sakit. Tapi, bagaimana kalau kita ke tempat pemakaman?" ucap dan tanya Seok Gwan dengan smirk nya
__ADS_1
"Wanita jal*ng sepertimu, pantas dikubur hidup-hidup" lanjut Seok Gwan dan menjauhkan dirinya dari Aeri
"Kau!!" ucap Aeri
"Berhenti!! Dan seret jal*ng ini keluar" titah Seok Gwan tanpa menoleh lagi ke Aeri.
Mobil pun langsung dihentikan oleh sang supir dan Aeri langsung ditarik paksa untuk keluar dari mobil hingga ia jatuh tersungkur di jalanan.
Flasback off...
Dengan segala emosinya ia mengambil tas nya dengan kasar yang berada di atas meja yang tidak jauh darinya. Aeri kembali meninggalkan Apartemennya dengan emosi yang masih menyelimutinya.
"Kau mau kemana?" tanya Gun-yo yang berpapasan dengan Aeri saat ia akan pergi ke unit Aartemen Aeri.
"Oppa!! Kau datang kesini?" tanya Aeri sedikit terkejut karena kedatangan Gun-yo tiba-tiba tanpa mengabarinya
"Hm, kau mau kemana?"
"Aku baru saja ingin kekantormu, oppa. Tapi karena kau sudah datang kesini, kita bisa mengobrol di Apartemen ku saja"
Gun-yo hanya mengangguk pelan dan berjalan lebih dulu ke unit Apartemen Aeri.
"Kenapa kau ingin ke kantorku?" tanya Gun-yo saat ia telah duduk di ruang tengah Apartemen Aeri
"Seok Gwan telah menghinaku, oppa" adu Aeri dengan kesal
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya dia sudah tahu rencana kita, oppa"
"Bagaimana dia bisa tahu? Dia bahkan tidak mengenalmu"
"Tapi dia tahu namakukan?"
"Bukankah di negara kita begitu banyak orang, yang memiliki nama sama sepertimu? Apa kau memberitahu namamu kepadanya?"
"Tidak, aku bahkan baru memulai untuk mendekatinya. Jadi, dia belum tahu namaku!!" jawab kesal Aeri
"Aku benar-benar membencinya, oppa. Dia pria brengsek!! Aku tidak terima dengan penghinaannya, oppa!" keluh Aeri.
Gun-yo pun tersenyum tipis, ia mengelus pelan pipi kiri Aeri.
"Kita akan membalasnya, sayang. Jangan khawatir" ucap Gun-yo dengan tersenyum licik
"Jika rencana kita untuk mendekati Seok Gwan gagal. Maka kita gunakan rencana kita yang terakhir"
Aeri pun langsung tersenyum lebar, ia tahu rencana terakhir mana yang dimaksud Gun-yo. Dengan senyum merekah Aeri memeluk Gun-yo erat, Aeri senang karena ia akan menyukai permainan Gun-yo yang satu ini.
********
__ADS_1