
Hyun-ri masih terdiam dengan tatapan sendunya. Ia masih tidak menyangka jika Hwan-ki memiliki perasaan seperti itu kepadanya. Namun, mau bagaimana lagi, Hyun-ri hanya mencintai Seok Gwan. Ia tidak bisa membalas perasaan Hwan-ki kepadanya, karena ia hanya menganggap Hwan-ki sebagai sahabat baiknya saja.
"Maaf.." ucap lirih Hyun-ri namun masih didengar oleh Hwan-ki.
"Hai, sudahlah. Sekarang, apa kau butuh sesuatu? Kau mau aku panggilkan dokter untuk memeriksamu?"
"Tidak oppa. Tapi aku ingin minum."
Hwan-ki tersenyum tampan kepada Hyun-ri, ia langsung membantu Hyun-ri untuk duduk bersandar di ranjang nya dan membantu Hyun-ri untuk minum.
"Apa kau sangat haus?" tanya Hwan-ki saat Hyun-ri menghabiskan air dalam gelas sampai tandas.
"Iya oppa." jawab Hyun-ri dengan cengirannya.
"Maaf, karena kemarin kami datang terlambat untuk menyelamatkanmu."
"Apa yang kau bicarakan, oppa? Justru kalian datang tepat waktu. Jika saja semalam kalian tidak datang maka aku.."
"Ssstt sudahlah, semuanya sudah berakhir. Kau aman sekarang." potong Hwan-ki menenangkan Hyun-ri dengan mengenggam tangan Hyun-ri.
"Lalu, bagaimana dengan bibi dan Gun-yo oppa?" tanya Hyun-ri dengan wajah senduh.
"Dia dipenjara dan Gun-yo, dia menjadi buronan sekarang." mulai Hwan-ki menjelaskan,
"Lalu kemarin sebelum kami sampai ke mansion itu, Gun-yo menghadang kami bersama anak buahnya dan perkelahian pun terjadi. Tapi, saat aku sedang menghadapi anak buah Gun-yo, aku melihat sekilas Gun-yo yang sedang lengah hingga ia dia serang dan mendapatkan luka tusukan dari anak buah kami." jelas Hwan-ki menceritakan kejadian semalam.
"Apa? Lu..luka tusuk?" tanya Hyun-ri terkejut.
"Iya. Bukan tanpa alasan kami menggunakan senjata, karena dari awal anak buah Gun-yo menghadang kami dengan membawah senjata. Jadi berakhirlah seperti itu."
"Lalu kemana kira-kira Gun-yo oppa pergi? Bagaimana dengan keadaannya sekarang?" tanya khawatir Hyun-ri
"Entahlah, semalam aku pikir dia akan kembali ke mansionnya, namun ternyata tidak." jawab datar Hwan-ki, "Sudahlah, jangan membahasnya lagi dan berhenti mengkhawatirkannya."
"Tapi, oppa. Bagaimana pun juga dia masih keluargaku."
"Tapi mereka jahat kepadamu dan hampir membuatmu celaka." jawab Hwan-ki sedikit kesal.
"Mereka melakukan itu, karena mereka dibutakan oleh kesalah pahaman saja oppa."
"Cukup, Hyun-ri. Aku tidak ingin membahas ini lagi." ucap final Hwan-ki tidak ingin berdebat lagi.
"Sekarang istirahatlah, selagi menunggu Seok Gwan dan Seo Yoon kembali. Aku ingin keluar dulu sebentar, mencari udara segar."
Hyun-ri hanya mengangguk menurut. Hwan-ki pun membantu Hyun-ri untuk kembali berbaring di ranjangnya. Setelah memastikan Hyun-ri nyaman, Hwan-ki pun beranjak untuk melangkah ke luar ruangan. Namun...
Grep..
Hyun-ri menahan tangan kanan Hwan-ki, dan menghentikan langkah Hwan-ki.
"Kenapa? Kau butuh sesuatu?" tanya Hwan-ki dengan menatap bingung ke arah Hyun-ri.
Hyun-ri memejamkan matanya dengan tangan masih memegang tangan Hwan-ki.
"Jangan pergi jauh dariku, oppa. Aku minta maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu, tapi aku mohon.. Tetaplah disini, jangan pergi kemanapun jangan menjauhiku,oppa." ucap lirih Hyun-ri dan tanpa sadar air mata Hyun-ri menetes begitu saja dengan mata yang masih terpejam.
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidak akan menjauh darimu." jawab Hwan-ki dengan senyum tipis dan menyeka air mata Hyun-ri.
__ADS_1
"Maaf, jika pengakuanku kemarin membuatmu terbebani. Istirahatlah."
Cup...
Tanpa sadar Hwan-ki mengecup hangat kening Hyun-ri dan mengelus sayang kepala Hyun-ri.
*******
"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Seo Yoon yang baru saja menghampiri Seok Gwan.
Bruk...
"Kau mau kemana? Kau tidak ingin sarapan bersama? Yaak!!! Seok Gwan." tanya dan panggil Seo Yoon saat Seok Gwan pergi begitu saja setelah memberikan kantong makanan kepadanya, "Ada apa dengannya?"
"Kau sudah kembali? Kenapa lama sekali?" tanya Hwan-ki saat baru saja membuka pintu ruang rawat inap Hyun-ri, "Dimana Seok Gwan?"
"Entah, saat aku selesai dari toilet dan menghampiri dia yang hanya berdiam diri di depan pintu sini, dia malah langsung pergi setelah memberikan sarapan ini kepadaku." jelas Seo Yoon.
Hwan-ki mengerutkan keningnya saat mendengarkan penjalasan dari Seo Yoon dan seketika ia menyadari sesuatu.
"Baiklah, kau masuk saja dan temani Hyun-ri sarapan. Aku ingin keluar sebentar." ucap Hwan-ki.
"Kemana?"
"Banyak tanya, sudah masuk sana."
*******
Hwan-ki turun ke lantai bawah dan mencari keberadaan Seok Gwan, lalu saat Hwan-ki melewati taman rumah sakit, ia tidak sengaja melihat Seok Gwan tengah duduk di kursi taman seorang diri.
"Kenapa kau malah disini? Kau tidak ingin menemani Hyun-ri makan?" tanya Hwan-ki yang sudah duduk disamping Seok Gwan.
"Bukan karena cemburu?"
Seok Gwan tidak menjawab dan tetap menatap lurus kedepan tanpa menoleh ke arah Hwan-ki.
"Jangan cemburu, aku hanya menenangkan Hyun-ri saja."
"Aku tahu, tidak perlu di bahas. Aku akan berpura-pura untuk tidak melihatnya." jawab Seok Gwan datar.
Ya, Seok Gwan melihat ketika Hwan-ki mencium kening Hyun-ri. Itulah sebabnya Seok Gwan memilih pergi untuk meredam rasa cemburunya. Seok Gwan tidak ingin cemburunya menguasai dirinya dan berakhir membenci Hwan-ki.
"Aku sudah memulai untuk menghilangkan perasaan ku untuk Hyun-ri. Tapi, aku akan tetap menyayangi Hyun-ri sebagai sahabatku." ucap Hwan-ki dengan menatap kosong hamparan rumput taman.
"Maaf, karenaku kau tidak bisa mendapatkan hati Hyun-ri."
"Kenapa kau meminta maaf? Kau gila atau bodoh? Yak.. Perasaan itu tidak bisa di paksakan, dan Hyun-ri memang sudah mencintaimu sejak lama. Jadi, untuk apa kau meminta maaf. Apa aku terlihat menyedihkan di hadapanmu, hingga kau meminta maaf?" jawab Hwan-ki dengan sedikit kesal.
"Wah, ternyata seorang Lee Hwan-ki mampu berucap panjang seperti itu." ucap Seok Gwan dibuat-buat.
"Haish, terserah kau saja."
Seok Gwan hanya tersenyum tipis dan perasaan cemburu yang mengusiknya tadi, tiba-tiba menguap hilang begitu saja setelah mengobrol dengan Hwan-ki.
"Kau beruntung mendapatkan Hyun-ri. Jaga dia baik-baik, jika tidak. Aku akan merebutnya darimu." ucap Hwan-ki dengan senyum tipis dan beranjak dari duduknya meninggalkan Seok Gwan.
"Yak, kau ingin mati. Aku tidak akan membiarkanmu merebut Hyun-ri." jawab Seok Gwan dengan sedikit berteriak.
__ADS_1
Seok Gwan pun tertawa kecil, saat melihat Hwan-ki hanya melambaikan tangannya dan tetap berjalan pergi meninggalkan taman.
*******
Hari sudah sore, Hyun-ri sedang duduk bersandar masih di ranjang pasiennya. Ia meresa bosan karena tidak melakukan apapun, sedang Seok Gwan yang menjaganya hanya fokus pada ponselnya.
"Oppa, kemana Hwan-ki oppa dan Seo Yoon oppa? Kenapa mereka tidak kembali kesini?" tanya Hyun-ri mencoba mengalihkan fokus Seok Gwan.
"Mereka ke penginapan, ada beberapa pekerjaan yang harus mereka selesaikan." jawab Seok Gwan dengan masih fokus pada ponsel di tangannya.
"Menyebalkan." ucap kesal Hyun-ri dengan lirih.
Seok Gwan yang masih bisa mendengar itupun, menaikkan alisnya sebelah lalu menatap Hyun-ri yang sudah memasang wajah cemberut.
"Kau kenapa?" tanya Seok Gwan sembari meletakkan ponselnya di atas meja.
"Tidak." jawab kesal Hyun-ri dengan wajah yang semakin cemberut.
"Lalu kenapa kau cemberut seperti itu?"
"Tidak ada, aku ingin tidur." jawab Hyun-ri dingin.
Hyun-ri pun langsung merebahkan badannya dan menenggelamkan badanya di dalam selimut dengan memunggungi Seok Gwan.
Seok Gwan yang melihat tingkah Hyun-ri itupun hanya tersenyum tipis.
"Kau marah?" tanya Seok Gwan, namun tidak mendapatkan jawaban, "Sepertinya kau memang sedang marah."
Tanpa permisi atau apa, Seok Gwan langsung menaiki ranjang Hyun-ri untuk ikut merebahkan dirinya dan langsung memeluk Hyun-ri dari belakang.
"Oppa, kenapa kau tidur diranjang ini juga? Bagaimana jika dokter atau perawat tiba-tiba masuk dan melihat kita?" ucap Hyun-ri dengan cepat, karena jantungnya sedang berdegup dengan kencang.
"Biar saja. Aku ingin tidur bersamamu dan memelukmu. Jadi, diam dan tidurlah." jawab acuh Seok Gwan.
Hyun-ri yang mendengar jawaban Seok Gwan itupun langsung membalikkan badan menghadap Seok Gwan.
"Oppa, jangan seperti ini." ucap Hyun-ri sedikit kesal.
"Lalu seperti apa?"
Grep...
"Seperti ini?"
Seok Gwan langsung mengungkung Hyun-ri dibawahnya. Kini posisi mereka begitu sangat intim, hingga membuat Hyun-ri merona dan jantungnya semakin berdegup kencang.
"O..oppa, aku..aku adalah pasien jika kau lupa." ucap Hyun-ri gugup tanpa menatap Seok Gwan yang ada diatasnya.
"Dan kau adalah kekasihku, jika kau lupa."
"Ta.."
Cup..
Belum selesai Hyun-ri mengucapkan kata-katanya, Seok Gwan langsung membungkam bibir Hyun-ri dengan lum*t*n kecil.
Hyun-ri pun hanyut dalam ciuman Seok Gwan dengan perlahan ia menutup matanya, mengalungkan tangannya dileher Seok Gwan dan juga membalas ciuman Seok Gwan dengan lum*t*n kecil.
__ADS_1
"Eugh.." satu lenguhan lolos dari bibir Hyun-ri di tengah-tengah ciuman mereka, dan membuat Seok Gwan tersenyum tipis.
******