Bunga Daisy Di Musim Dingin

Bunga Daisy Di Musim Dingin
Chapter 38


__ADS_3

Malam telah berganti pagi, cuaca pagi ini begitu cerah, Hyun-ri juga telah bangun dari tidurnya. Dengan wajah sembab dan mata yang membengkak karena terlalu lama menangis, ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Aku harus pulang, aku pasti membuat appa dan eomma khawatir." ucap Hyun-ri di bawah guyuran air.


Ia berencana akan pulang ke mansion keluarganya setelah menyegarkan badannya.


"Aku harap semua baik-baik saja." ucap Hyun-ri saat memandang dirinya sendiri dipantulan kaca di kamar mandinya.


Setelah selesai menyegarkan badannya, kini ia akan bersiap untuk pulang ke mansion dan menyiapkan hati nya juga, jika saja ia bertemu dengan Seok Gwan hari ini.


"Ayo kita pulang, Hyun-ria." ucap Hyun-ri dengan senyum cantiknya dan berjalan keluar dari apartemennya.


*******


Mansion Han...


"Yeobo, bagaimana? Apa masih belum ada kabar tentang keberadaan Hyun-ri?" tanya Sora pada Jong-un yang baru saja memasuki kamar mereka.


Huh...


Jong-un menghela nafas panjang dan mengacak-acak frustasi rambutanya.


"Belum, orang suruhanku belum menemukan keberadaan Hyun-ri." jawab pelan Jong-un dengan menunduk dalam.


"Bagaimana jika Hyun-ri bersama Gun-yo? Aku takut jika Gun-yo akan membahayakan, Hyun-ri."


"Tidak, Hyun-ri tidak menemui Gun-yo. Orang suruhanku sudah memastikan itu, karena mereka selalu mengawasi pergerakan Gun-yo." jelas Jong-un.


"Sebenarnya kemana putri kita, Yeobo." ucap Frustasi Sora dan langsung dipeluk hangat oleh Jong-un untuk menenangkan.


Drrt..drrt..


Getar ponsel Sora mengalihkan atensi nya dan Jong-un. Ia langsung melepaskan pelukan sang suami dan mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan membuka pesan yang masuk.


"Hyun-ri." ucap Sora dan membuat Jong-un merapat ke Sora untuk ikut membaca pesan yang dikirim Hyun-ri.


"Eomma maaf, jika semalam aku membuat eomma dan appa khawatir. Aku baik-baik saja dan aku sedang diperjalanan untuk pulang."


Huh....


Jong-un dan Sora sama-sama menghela nafas lega, karena Hyun-ri memberi kabar jika ia baik-baik saja.


"Dia anak yang nakal." ucap Jong-un dengan senyum hangatnya.


"Iya, dia memang selalu hebat untuk membuat orang disekitarnya khawatir." sahut Sora dengan tawa kecilnya.


"Baiklah, kita tunggu putri kita yang nakal itu." ucap Jong-un dengan merangkul istrinya sayang.


"Aku akan mengirim pesan ke Seok Gwan untuk memberitahunya, kalau Hyun-ri akan pulang." batin Sora.


******


"Terima kasih pak." ucap Hyun-ri saat akan turun dari taxi.


Hyun-ri menatap pagar tinggi mansionnya, ia menarik nafas dalam dan berjalan mendekat ke arah pagar mansionnya.


"Tolong buka gerbangnya!" ucap Hyun-ri pada penjaga gerbang.

__ADS_1


"Nona muda, anda.."


"Bisa tolong bukakan gerbangnya sekarang?"


"Baik nona, maaf."


Penjaga gerbang pun membukakan gerbang untuk Hyun-ri.


"Saya akan menghubungi supir untuk menjemput anda disini, nona." ucap penjaga gerbang.


"Tidak perlu, aku sedang ingin berjalan. Permisi." jawab Hyun-ri dengan senyum hangat dan berlalu pergi dari area gerbang utama.


Hyun-ri berjalan sambil menikmati suasana pagi yang asri di area mansion keluarganya. Ia merasa sedikit tenang setelah kegugupannya untuk mempersiapkan diri jika saja ia bertemu Seok Gwan. Hingga..


Grep...


Seok Gwan memeluk Hyun-ri dari arah belakang, Hyun-ri dapat merasakan nafas Seok Gwan yang terengah-engah.


"Apa dia berlari?" batin Hyun-ri


Hyun-ri masih diam tidak bergerak sedikitpun dan menunggu Seok Gwan melepaskan pelukannya.


"Maaf, tolong maafkan aku." ucap lirih Seok Gwan semakin mempererat pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hyun-ri.


"Hyun-ria. Tolong maafkan aku, aku bisa jelaskan semuanya. Tolong percaya padaku, Hyun-ria."


"Aku memaafkanmu. Tolong lepaskan pelukanmu." jawab Hyun-ri dingin.


Seok Gwan hanya menggelengkan kepalanya pelan dan semakin mempererat lagi pelukannya, takut jika Hyun-ri meninggalkannya.


Plak..


"Maaf,"


Seok Gwan pun melepas pelukannya dan membalik badan Hyun-ri untuk menghadapnya.


"Hyun-ria, aku.."


"Aku tidak ingin membahasnya, oppa." potong Hyun-ri dengan manatap lekat kedua mata sendu Seok Gwan.


"Apa kau tidak tidur semalaman?" tanya Hyun-ri saat melihat lingkar hitam mata Seok Gwan.


Seok Gwan menggeleng pelan dan menunduk dalam dengan menggenggam erat tangan Hyun-ri.


"Kau baik-baik saja, Hyun-ria?" tanya pelan Seok Gwan,


"Tidak, aku tidak baik." jawab Hyun-ri tenang.


"Aku tidak baik, karena melihatmu seperti ini, oppa." lanjut Hyun-ri menatap sendu Seok Gwan yang masih setia menundukkan kepalanya.


Grep...


Hyun-ri memeluk erat Seok Gwan. Ia terisak dalam pelukannya. Ia merasa bersalah karena meninggalkan Seok Gwan begitu saja dan membuat Seok Gwan kehilangan jam istirahatnya.


"Tolong jangan menangis, aku tidak ingin kau menangis, Hyun-ria. Maafkan aku." ucap Seok Gwan pelan dengan memeluk erat Hyun-ri.


"Kenapa kau bodoh, oppa. Apa kau mencariku semalaman, hum?"

__ADS_1


"Aku khawatir padamu. Maafkan aku, karena membuatmu salah paham dan sakit."


"Aku percaya padamu, oppa. Maafkan aku yang tidak mau mendengar penjelasanmu lebih dulu." ucap Hyun-ri melepas pelukannya dan tersenyum hangat.


"Pulang dan istirahatlah, oppa. Aku tidak ingin kalau kau sampai sakit." ucap Hyun-ri,


"Tidak, aku.."


"Oppa. Jika kau seperti ini, aku tidak mau menemuimu lagi." ancam Hyun-ri dengan bersendekap dada.


"Baiklah. Tapi, aku akan kembali nanti siang. Aku sangat merindukanmu."


"Tentu, sekarang pulang dan istirahatlah."


Seok Gwan memeluk Hyun-ri kembali, ia sedikit merasa tenang karena Hyun-ri memaafkannya dan percaya padanya. Namun, ada sesuatu yang ganjal dalam benak Seok Gwan, dengan sikap Hyun-ri yang langsung memaafkannya tanpa mendengar penjelasan darinya.


"Aku pulang. Jangan pernah berfikir untuk pergi dariku, Hyun-ria." ucap pelan Seok Gwan masih memeluk Hyun-ri.


"Tidak oppa. Pulanglah." jawab Hyun-ri dan membalas pelukan Seok Gwan.


Seok Gwan melepas pelukannya dan tersenyum hangat untuk Hyun-ri.


"Aku pulang." pamit Seok Gwan dan hanya di angguki oleh Hyun-ri.


Seok Gwan pun berjalan kembali ke arah gerbang utama dimana ia meninggalkan mobilnya begitu saja untuk mengejar Hyun-ri.


Hyun-ri menatap punggung Seok Gwan yang telah menjauh dari nya. Ia menatap sendu kepergian Seok Gwan, entah apa yang ada dibenak Hyun-ri hingga ia dengan mudah memaafkan dan tidak membahas lagi kesalah pahaman yang terjadi.


"Aku akan mencari tahu semuanya." batin Hyun-ri


********


"Oppa." panggil Aeri yang baru saja memasuki ruangan Gun-yo.


"Kenapa kau kesini pagi-pagi sekali?" tanya Gun-yo,


Aeri berjalan mendekat ke arah meja kerja Gun-yo, ia tanpa malu langsung mendudukan dirinya di pangkuan Gun-yo.


"Kau kemana semalam? Kenapa tidak menjawab panggilanku?" tanya Aeri dengan nada manja.


"Diapartemen. Kenapa?"


"Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan." ucap Aeri dengan smirk.


"Katakan."


"Hyun-ri.."


"Hyun-ri? Kenapa?" tanya Gun-yo ingin tahu, dengan kerutan didahinya.


"Hyun-ri dan Seok Gwan. Mereka tidak hanya bersahabat, tapi mereka juga menjalin hubungan sebagai kekasih." jawab Aeri dengan senyum tipis.


"Kekasih? Apa maksudmu?"


"Oh oppa, harusnya semalam kau melihat tatapan penuh kesakitan seorang Han Hyun-ri. Itu sangat menyenangkan, hahaha." jawab Aeri dengan tawanya.


"Jelaskan padaku, semuanya."

__ADS_1


Aeri pun menceritakan semuanya pada Gun-yo. Saat ia berhasil membuat Hyun-ri salah paham akan dirinya dan Seok Gwan, hingga membuat Hyun-ri menangis sakit hati melihat dirinya yang memeluk Seok Gwan dengan mesra.


"Sepertinya akan semakin menarik." ucap Gun-yo dengan smirk.


__ADS_2