Bunga Daisy Di Musim Dingin

Bunga Daisy Di Musim Dingin
Chapter 46


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, suasana malam di pinggaran hutan cukup sunyi dengan angin malam yang bertiup pelan cukup menenangkan untuk menikmati suasana malam hari.


Ceklek....


Gun-yo membuka pintu ruangan tempat ia menyekap Hyun-ri. Ia masuk seorang diri dan berjalan pelan mendekati Hyun-ri yang tengah menunduk dalam dan memejamkan matanya.


"Kau tidur?" tanya Gun-yo saat ia berdiri tegap di hadapan Hyun-ri.


Hyun-ri membuka matanya dan mendongakkan kepalanya perlahan, menatap Gun-yo.


Hyun-ri menatap Gun-yo dengan tatapan sendu dan kemudian menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Gun-yo.


"Apa kau haus? Atau kau lapar?" tanya Gun-yo


Hyun-ri menganggukkan kepalanya pelan, sebagai jawaban.


Sreeepp...


Gun-yo membuka lakban yang menutup mulut Hyun-ri sedari tadi. Gun-yo tersenyum tampan dan duduk berjongkok dihadapan Hyun-ri untuk mensejajarkan dirinya dengan Hyun-ri.


"Kau ingin minum atau makan?" tanya Gun-yo


"Mi..minum" jawab lirih Hyun-ri.


"Kalian dengar kan? Cepat bawahkan air untuknya." titah Gun-yo pada pria yang berdiri dibelakangnya.


"Baik tuan."


"Apa kau sudah menginggatku sekarang, Hyun-ria? Dan langit malam diluar cukup indah sekarang, sayang sekali kau tidak bisa melihatnya." tanya dan ungkap Gun-yo dengan mengelus pelan pipi Hyun-ri.


"Siapa kau?"


"Kenapa kau melupakan kakak sepupumu, keponakanku sayang?" sahut tiba-tiba seorang wanita yang berdiri di ambang pintu dengan bersendekap dada.


Hyun-ri memandang wanita tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya, bingung dan tidak mengerti tentang situasi apa yang tengah membelenggunya sekarang.


"Sepupu? Keponakan?"


"Iya, aku adalah bibimu. Istri dari pamanmu, kakak dari ayahmu, Han Jong-ryu. Kau masih mengingat nama pamanmu bukan?" jelas wanita tadi.


Tentu saja Hyun-ri mengingat nama pamannya, karena setiap tahun keluarga mereka memperingati hari kematian pamannya itu. Namun, Hyun-ri tidak mengingat istri dari sang paman bahkan anaknya.


"Jadi, bi..bi.. Istri dari paman Jong-ryu?"


"Iya, dia adalah eommaku, Han Rana dan aku Han Hyon anak pertama dari Han Jong-ryu dan Han Rana." sahut Gun-yo.


"Bukan Han Rana, tapi Lee Rana. Aku bukan bagian dari keluarga Han lagi." sahut Rana dingin.


Hyun-ri masih tidak percaya akan pengakuan Gun-yo dan wanita tersebut. Hyun-ri benar-benar tidak mengenal mereka, atau memang Hyun-ri yang sudah melupakan mereka.

__ADS_1


"Ke..kenapa kalian menculikku seperti ini?" tanya lirih Hyun-ri.


"Tentu saja untuk membalaskan dendamku. Appa dan eomma mu telah membuat suamiku itu meninggal. Appa dan eomma mu telah merenggut semua kebahagiaanku dan anak-anakku."


Hyun-ri tertegun dengan ucapan Rana bibinya. Apa maksudnya? Kenapa bibinya mengatakan hal itu, bahwa sang appa dan eommanya telah membuat pamannya meninggal.


"A..apa.. Maksud bibi?"


"Appa dan eomma mu lah, yang menjadi penyebab kematian suamiku." ucap geram Rana dengan menatap tajam ke arah Hyun-ri.


"Sekarang kau yang harus membayar semuanya. Nyawa di balas nyawa." lanjutnya.


Hyun-ri menangis mendengar perkataan sang bibi, ia tidak tahu menahu tentang apapun masalah yang terjadi antara orang tua nya dan paman bibinya. Yang Hyun-ri tahu, jika sang paman meninggal karena penyakit jantung, itulah yang diceritakan dulu oleh sang appa.


Rana berjalan mendekat ke arah Hyun-ri dengan tatapan tajam. Ia berdiri dihadapan Hyun-ri dengan menatap penuh dendam dan kebencian, lalu ia mengeluarkan pistol dan menodongkannya ke arah Hyun-ri tepat pada jantung Hyun-ri.


"Kau harus membayar semua perbuatan orang tuamu." ucap Rana penuh penekanan.


Hyun-ri bergetar takut dengan tangisnya, ia menggelengkan kepalanya pelan dan tak sanggup mengatakan apapun lagi.


"Eomma.." panggil pelan Gun-yo,


"Jangan menghentikan, eomma Gun-yo." bentak Rana pada Gun-yo.


"Aku tidak menghentikan, eomma." jawab Gun-yo mendekat ke sang eomma, "Ada mobil yang memasuki jalan area menuju mansion, sepertinya mereka adalah orangtua Hyun-ri dan ketiga sahabatnya. Aku akan menghentikan mereka, kau bisa mengurus Hyun-ri disini." lanjut Gun-yo menjelaskan dengan berbisik pelan.


Rana yang mendengar itupun tersenyum lebar, dan menatap Gun-yo dengan mata berbinar senang.


Gun-yo pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menatap Hyun-ri sebentar dengan sunggingan senyum jahatnya.


"Tetap berjaga disini." titah Gun-yo pada anak buahnya dan berlalu pergi dengan membawah pistolnya.


********


Sedang di luar sana ketiga sahabat Hyun-ri beserta Jong-un appa nya sudah mendekati area mansion Gun-yo, mereka berempat juga membawah serta anak buah mereka untuk berjaga-jaga apa bila Gun-yo juga mengerahkan anak buahnya untuk menghadang mereka.


Setelah mendapatkan pengakuan dari Aeri, Hwan-ki langsung menghubungi kedua sahabatnya dan juga Jong-un. Itulah sebabnya mereka sudah berada di Busan sekarang.


"Stop!! Aku akan turun disini." ucap Seok Gwan pada Hwan-ki yang tengah menyetir.


"Kenapa?" tanya Hwan-ki dan Seo Yoon bersamaan.


"Aku akan masuk ke mansion itu secara diam-diam. Aku yakin sekali, Gun-yo akan menghentikan mobil kita. Jadi lebih baik aku kesana dengan berjalan." jelas Seok Gwan.


"Seok Gwan, benar. Selagi kita menghadapi Gun-yo, biarkan Seok Gwan lebih dulu yang masuk secara diam-diam." sahut Jong-un menyetujui.


Hwan-ki menghentikan mobilnya dan Seok Gwan langsung turun dan langsung mencari jalan pintas lainnya menuju mansion.


*****

__ADS_1


Seperti dugaan Seok Gwan tak lama setelah Hwan-ki melajukan kembali mobilnya menuju mansion Gun-yo, mobil yang mereka tumpangi di hadang oleh mobil anak buah Gun-yo.


Mereka bertiga pun turun dari mobil dan diikuti anak buah mereka juga. Perkelahian pun tak terhindarkan.


Sedangkan Seok Gwan terus berjalan menuju mansion, dan sudah di ambang gerbang utama. Seok Gwan memantau keadaan sekitar mansion, untuk mengetahui seberapa ketat penjagaannya.


"Baiklah, aku akan masuk sekarang." ucap Seok Gwan dan berjalan dengan tenang menuju gerbang utama mansion.


Gerbang utama hanya dijaga oleh dua orang penjaga, dan Seok Gwan langsung menumbangkan kedua penjaga tersebut.


Seok Gwan berjalan memasuki mansion dengan mengendap-endap. Dan melihat ada beberapa penjaga yang berada dihalaman mansion.


Bugh...


Seok Gwan memukul tengkuk salah satu penjaga hingga kehilangan kesadarannya. Hingga para penjaga yang lain menyadarinya, dan langsung menghadang Seok Gwan. Para penjaga berjumlah 6 orang menyerang Seok Gwan secara bersamaan, namun mereka semua kalah melawan Seok Gwan dan kehilangan kesadaran mereka.


"Katakan, dimana tuanmu menyekap Hyun-ri?" tanya Seok Gwan pada salah satu penjaga yang masih sadar.


"Ru..ruang bawah tanah.." ucap lirih penjaga tersebut sambil menunjuk halaman samping mansion.


******


"Eo..eomma, per..pergi dari sana.." ucap Gun-yo saat menelfon eommanya.


"Apa maksudmu? Kau kenapa?" tanya Rana panik mendengar suara Gun-yo yang lemah.


"Aku dan anak buahku tidak bisa menahan mereka.. Aku..aku diserang, dan..mendapatkan luka tusuk dari anakbuah mereka."


Rana yang mendengar itupun menggenggam ponselnya kuat dan menatap nyalang ke arah Hyun-ri.


"Pergi dari sana, dan pergi ke tempat itu. Eomma akan menyusul nanti."


Bip....


"Kau harus mati Han Hyun-ri." ucap geram Rana setelah memutus panggilannya dengan Gun-yo.


Rana menodongkan pistol ke arah Hyun-ri yang sudah menangis takut dan memejamkan matanya rapat. Hingga...


Dor...


"Suara tembakan. Tidak, tidak. Hyun-riaa.." ucap Jong-un panik, yang baru saja memasuki mansion Gun-yo.


Mereka bertiga pun langsung berlari menuju arah suara tembakan tersebut.


****


Nafas Hyun-ri tersenggal, ia mendengar jelas suara tembakan yang di loloskan oleh bibinya. Namun, ia tidak merasakan sakit apapun pada tubuhnya.


Dengan pelan Hyun-ri membuka matanya perlahan, dan...

__ADS_1


"Seok Gwan oppa..." ucap lirih Hyun-ri.


******


__ADS_2